Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB VI
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Di tengah jalan sepi yang dikelilingi hutan lebat, rombongan saudagar kaya itu melaju dengan tenang, sama sekali tak menyadari bahaya yang sudah mengintai di balik pepohonan. Saat kereta kuda semakin mendekat, Luna memberi isyarat singkat, seketika itu juga, ia dan anak buahnya melompat keluar, menyerang dengan cepat dan ganas. Para pengawal yang menemani hampir tak sempat bereaksi, dalam waktu singkat semuanya sudah berhasil dilumpuhkan.
Luna melangkah maju, pandangannya tajam mengawasi tumpukan peti berisi emas, permata, dan barang berharga yang kini menjadi milik mereka. Namun saudagar tua itu tidak menyerah begitu saja. Dengan wajah merah padam karena amarah, ia mencabut pedangnya dan menerjang ke arah Luna dengan niat membunuh. Tapi bagi Luna, gerakan pria tua itu terlalu lambat dan kasar. Ia mengelak dengan gesit, memutar tubuhnya seolah menari, lalu dengan satu ayunan tajam senjatanya, ia menancapkannya tepat di dada saudagar itu. Pria itu jatuh terjerembap, napasnya terhenti selamanya.
Senyum licik dan dingin terbit di bibir Luna. “Sekali lagi, tugas ini selesai dengan begitu sempurna,” gumamnya pelan, penuh kemenangan.
Ia lalu berjalan menuju kereta kuda yang saudagar kaya itu tunggangi, dimana untuk memastikan tak ada yang terlewat. Di sana, di sudut ruang kereta yang gelap, ia melihat sosok kecil meringkuk ketakutan, seorang anak perempuan, mungkin berusia sekitar tujuh atau delapan tahun, yang kini menangis tersedu-sedu karena melihat seluruh kejadian mengerikan itu.
Mata Luna menatap anak itu tanpa sedikit pun belas kasih. Baginya, saksi mata adalah hal yang harus dimusnahkan tanpa ragu. Ia melangkah mendekat, kemudian menarik tubuh anak itu keluar dari kereta hingga anak itu terjatuh ke tanah, yang mana kemudian ia mengangkat pedangnya perlahan, namun di bibirnya terukir senyum yang terlihat ramah namun jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.
“Jangan menangis, sayang… kau tak perlu takut,” ucapnya dengan nada lembut yang dibuat-buat, namun matanya tetap sedingin batu. “Ini hanya rasa sakit sebentar, sangat kecil. Setelah ini, kau akan segera bertemu ayahmu di alam sana, kan?” Ia tertawa kecil, tawa yang kosong dan jahat, lalu mengayunkan pedangnya hendak menghabisi nyawa anak tak berdosa itu.
Namun, sebelum ujung pedang itu sempat menyentuh kulit anak itu, sebuah bayangan hitam melesat datang dengan kecepatan luar biasa. Wusss! Sebuah serangan keras menghantam bilah pedang Luna, membuatnya terpental mundur beberapa langkah.
Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda. Tubuhnya tinggi besar, tegap dan gagah, dengan wajah yang sangat tampan namun tatapannya tajam penuh kewaspadaan dan kemarahan. Di tangannya tergenggam sebilah pedang panjang yang terlihat biasa saja, namun memancarkan kekuatan yang tak bisa diremehkan. Ia segera merangkul anak perempuan itu ke belakang punggungnya, melindunginya sekuat tenaga.
“Dasar wanita berhati iblis! Berani-beraninya kau menyakiti anak kecil!” bentak pemuda itu, lalu tanpa buang waktu ia langsung menyerang Luna.
Luna menyeringai, semangat bertarungnya tiba-tiba membara. Ia membalas serangan itu dengan gerakan cepat dan mematikan. Bunyi benturan besi bergema keras, saling bertubrukan satu sama lain. Aneh rasanya, selama ini, hampir tak ada orang yang mampu mengimbangi gerakan dan kekuatannya, namun pria di hadapannya ini ternyata setara dengannya. Setiap serangan yang ia lancar selalu berhasil diblokir atau dielakkan, dan setiap serangan balik pria itu memaksanya untuk bertahan sekuat tenaga. Kekuatan mereka seimbang, tak ada yang bisa mengalahkan atau menjatuhkan satu sama lain.
Melihat tuannya kesulitan, beberapa anak buah Luna segera berlari mendekat dan ikut menyerang secara bersamaan. Terdesak oleh banyaknya musuh, pemuda itu tahu ia tak akan bisa bertahan lama jika terus bertarung. Ia melirik ke arah anak perempuan yang masih gemetar ketakutan di dekatnya. Dengan satu gerakan yang lincah, ia memutar tubuhnya, menangkis serangan terakhir, lalu melompat mundur menjauh, membawa anak itu dalam gendongannya.
“Kita belum selesai!” teriaknya, lalu dengan cepat ia menghilang di balik semak-semak sebelum sempat dikejar.
Luna hendak mengejar, namun ia tahu jika ia meninggalkan barang rampasan, semua hasil kerja keras ini bisa hilang begitu saja. Ia berhenti di tempat, napasnya sedikit memburu, matanya menatap ke arah kepergian pemuda itu dengan tatapan penuh tanda tanya sekaligus rasa penasaran yang dalam.
Siapa dia? Sejak kapan ada orang sekuat itu di daerah ini? batinnya bertanya-tanya. Selama ini ia merasa tak unggul, tapi hari ini untuk pertama kalinya ia bertemu lawan yang setara.
“Lupakan! Ambil semua harta dan kita pergi!” perintahnya dengan nada dingin, lalu ia berbalik badan, berjalan menjauh bersama anak buahnya yang membawa tumpukan emas dan permata. Meski kembali pulang dengan membawa hasil yang melimpah, bayang-bayang sosok pemuda tampan dan perkasa itu terus tertanam di pikirannya, seolah firasat bahwa pertemuan mereka ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Di Markas
Sesampainya di markas, tumpukan harta rampasan itu dikumpulkan di tengah-tengah ruangan. Dimana emas, permata, logam dan barang berharga itu jumlahnya jauh melebihi hasil perampokan mana pun yang pernah mereka lakukan selama ini. Cheng serta kedua paman Luna tampak sangat gembira dan bangga, memuji kehebatan serta kecerdikan gadis itu. Segera mereka memerintahkan anak buah untuk menyiapkan pesta besar sebagai perayaan kemenangan ini. Sepanjang malam, suara tawa, nyanyian, dan denting gelas memenuhi seluruh ruangan. Semua orang minum, menari, dan bersukacita tanpa batas, tenggelam dalam kenikmatan sesaat.
Di tengah keramaian itu, Luna ikut hadir, namun senyum yang terukir di bibirnya sama sekali tak menyentuh hatinya. Di balik tatapan dingin dan tenangnya, ia sudah menyusun rencana gelap yang telah lama ia simpan. Ia berniat membunuh kedua pamannya sendiri, orang yang ikut membesarkan, melatih, dan memberinya tempat bernaung selama ini. Bagi Luna, rasa terima kasih, kasih sayang, atau ikatan keluarga adalah hal yang tak ada artinya. Ia sudah lama meyakini bahwa memiliki hati nurani sama saja dengan memiliki kelemahan, dan ia sama sekali tak mau menjadi orang yang lemah. Ia hanya menunggu waktu yang paling tepat, saat semua orang lengah dan tak siap.
Malam semakin larut, pesta pun usai. Tubuh semua orang terasa berat karena lelah dan pengaruh minuman, hingga akhirnya seluruh markas menjadi sunyi senyap, semua orang terlelap dalam tidur yang lelap.
Saat itulah Luna bergerak. Langkahnya senyap bagai bayangan, tanpa suara sedikit pun, ia melangkah menuju kamar kedua pamannya. Di tangannya sudah tergenggam pedang yang sangat tajam, niatnya bulat dan tak tergoyahkan. Ia masuk perlahan mendekat ke tempat tidur mereka, namun tepat saat ia hendak mengayunkan senjatanya, salah satu pamannya yang masih memiliki sedikit sisa kesadaran tiba-tiba terbangun. Melihat sosok Luna dan kilatan senjata di tangannya, ia segera berteriak kaget.
Pertarungan pun tak terelakkan. Meski mereka bangun dan berusaha melawan, kemampuan bertarung Luna kini jauh melampaui mereka. Ia bertarung dengan kejam, ganas, dan penuh amarah yang terpendam, seolah mereka adalah musuh terbesar yang harus dimusnahkan. Tak lama kemudian, jeritan terhenti, kedua pamannya itu terbaring tak bernyawa di lantai, tewas dengan luka yang mengerikan, meninggal dalam keadaan tak percaya sama sekali atas apa yang dilakukan oleh anak yang selama ini mereka didik.
Suara benturan itu akhirnya membangunkan seluruh penghuni. Dalam sekejap, kamar itu dipenuhi orang-orang yang mengelilingi Luna dengan wajah marah dan penuh dendam, bersiap untuk menghabisinya. Di antara kerumunan itu ada Cheng, ayah angkatnya. Ia berdiri kaku, matanya menatap gadis yang telah ia anggap seperti putrinya sendiri itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan, campuran antara rasa sakit, kekecewaan, dan ketidakpercayaan.
“Luna… bagaimana kau bisa melakukan ini? Mereka adalah paman-pamanmu, orang yang membesarkanmu bersama ku… bagaimana hatimu menjadi seperti ini?” tanya Cheng dengan suara parau.
Wajah Luna tetap datar, dingin seperti batu, tak ada satu pun ekspresi penyesalan atau duka. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam dan lantang berkata, “Bukankah dulu Ayah sendiri yang bilang, supaya aku bisa memilih jalan hidupku sendiri? Inilah jalan yang aku pilih. Siapa saja yang menghalangi jalanku, siapa saja yang menjadi beban atau penghalang… akan aku habisi, tak peduli siapa pun itu.”
Ucapan itu membuat hati Cheng hancur. Dan saat Luna mengangkat senjatanya, seolah siap untuk menyerang ayahnya sendiri, para rekannya yang marah segera menerjangnya. Cheng masih memiliki hati nurani dan kasih sayang, ia sama sekali tak sanggup mengangkat senjata untuk membunuh Luna, namun orang lain tidak demikian.
Pertarungan besar pun terjadi. Luna dikepung dari segala arah, namun meski sendirian, kemampuannya sungguh luar biasa. Ia bertarung habis-habisan, sekuat tenaga, mengalahkan satu demi satu lawan yang mendatanginya. Namun jumlah mereka terlalu banyak, dan lama-kelamaan tubuhnya mulai menanggung banyak luka.
Tanpa disangka, di tengah kekacauan itu, pedang Cheng justru menancap kuat di perut Luna. Gadis itu tersentak mundur, darah segar seketika menyembur keluar, ia juga memuntahkan darah yang membuat tubuhnya semakin lemah, namun anehnya, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, masih terbit senyum jahat dan menantang di wajahnya. Melihat putrinya terluka parah, hati Cheng teriris sakit, air mata menetes di wajahnya. Ia masih berusaha menyerang, tapi bukan untuk membunuh, melainkan ia malah berdiri di depan Luna, melindungi tubuhnya dari serangan orang lain, lalu tiba-tiba berbalik menyerang rekan-rekannya sendiri.
“Minggir! Jangan sentuh dia!” teriaknya dengan suara yang pecah.
Cheng bertarung melawan semua orang yang dulu ia sebut teman dan rekannya, membela Luna dengan seluruh tenaga dan nyawanya. Ia membunuh siapa saja yang berani mendekat hingga akhirnya, tak lama kemudian, tak ada satu pun orang yang tersisa hidup di sana, semua orang sudah mati bersimbah darah.
Kini tinggal mereka berdua saja di tengah-tengah mayat dan bau amis darah itu. Luna yang terhuyung karena sakit mendekat ke arah Cheng, napasnya tersengal-sengal.
“Kenapa… kenapa Ayah melakukannya? Kenapa Ayah malah melindungiku?” tanyanya pelan dengan suara gemetar karena sakit.
Cheng mengusap lembut rambut dan wajah putri angkatnya dengan tangan yang gemetar, matanya basah oleh air mata.
“Ayah sangat bangga padamu, Luna… Ayah bahagia melihatmu tumbuh menjadi gadis yang kuat, tangguh, dan mampu menentukan jalan hidupmu sendiri. Namun dengarkan pesan Ayah ini untuk yang terakhir kalinya. Kekuatan yang kau miliki itu bukanlah untuk menyakiti orang lain, juga bukan untuk berbuat kejahatan. Kau harus gunakan seluruh kemampuanmu itu demi melindungi mereka yang lemah. Jadilah orang yang baik, mengerti… berjanjilah pada Ayah ya.”
Dengan sisa tenaganya yang tinggal sedikit, Cheng mengeluarkan belati lalu meletakkan gagangnya di genggaman tangan Luna yang penuh darah.
“Nak… selesaikan ini. Habisilah Ayah. Biarkan Ayah yang menjadi penghalang terakhir bagimu.”
Tangan Luna gemetar hebat, tubuhnya kaku. Untuk pertama kalinya, ia merasa tak sanggup melangkah lebih jauh, ia tak sanggup melukai orang yang paling menyayangi dan mendukungnya seumur hidup ini. Melihat keraguannya, Cheng perlahan mengangkat tangan Luna sendiri, lalu membantu mengarahkan ujung belati itu ke arah dadanya, dan dengan dorongan itu, ia berhasil membuat tangan Luna sendiri yang mengakhiri nyawanya.
Cheng jatuh perlahan ke dalam pelukan Luna, napasnya terhenti untuk selamanya, namun wajahnya masih tersimpan senyum yang tulus dan damai, menatap putrinya sampai detik terakhir nyawanya.
Luna terdiam terpaku, menatap wajah ayahnya yang kini telah membeku. Tanpa disadarinya, butiran bening perlahan menetes dari sudut matanya, jatuh dan bercampur dengan noda darah di wajahnya. Air mata itu mengalir begitu saja untuk pertama kali, setelah bertahun-tahun ia yakin bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hati. Keheningan pun melanda, dalam kesunyian, Luna hanya terpaku diam saat ia benar-benar telah kehilangan satu-satunya orang yang tulus menyayanginya seumur hidup ini.