NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 // MBKCM

​Sinar matahari pagi yang hangat mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Kiana, menandakan hari baru telah dimulai. Kiana terbangun dengan kelopak mata yang terasa luar biasa berat. Semalaman dia hampir tidak bisa tidur dengan tenang karena rasa sakit hati yang terlalu dalam, terus-menerus menggerogoti ketenangannya. Air mata yang tumpah di atas ubin yang dingin seolah telah menguras habis sisa energinya.

​Namun, hidup harus tetap berjalan. Ada dua nyawa kecil di dalam rahimnya yang butuh diberi makan dan dilindungi. Sambil menghela napas panjang, Kiana beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia berkaca sebentar, menepuk-nepuk pipinya yang tirus, dan mencoba menata ekspresi wajahnya agar terlihat seolah tidak terjadi apa pun sebelum dia berhadapan dengan Saskia.

​Begitu keluar dari kamar untuk bersiap-siap, Kiana langsung berpapasan dengan Saskia di area dapur bersama. Tentu saja, Saskia yang memiliki kepekaan sangat tinggi tidak bisa dibohongi begitu saja. Dia langsung menangkap ada yang aneh dari penampilan sahabatnya. Wajah Kiana pagi ini tampak sangat pucat, dengan kedua mata yang bengkak dan sembap, jelas menunjukkan bahwa gadis itu baru saja melewati malam yang sangat berat.

​Saskia menghentikan aktivitasnya yang sedang mencuci piring bekas semalam, lalu melangkah mendekati Kiana dengan dahi berkerut cemas. "Kia... kamu habis nangis ya? Matamu bengkak begitu. Ada apa, Kia? Apa semalam si brengsek Dafa meneleponmu lagi, atau dia nekat datang kemari?"

​Kiana tersentak kecil, lalu buru-buru menggelengkan kepala sambil memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang kering. "Tidak, Sas. Bukan Dafa kok. Aku... aku baik-baik saja. Semalam aku tidak bisa tidur, jadi aku menonton film di ponsel. Ceritanya sedih banget, jadi aku keterusan nangis karena tiba-tiba teringat almarhum ayah dan ibu. Aku kangen mereka."

​Saskia mengembuskan napas lega, meskipun hatinya masih merasa ada yang janggal. Dia maju selangkah lalu merentangkan kedua tangannya. "Emmh... sini peluk dulu." Saskia mendekap tubuh kurus Kiana dengan erat, menepuk-nepuk punggung sahabatnya dengan penuh kasih sayang. "Jangan sedih lagi ya. Nanti kalau ada libur panjang, kita pulang ke Bandung sama-sama. Aku bisa pinjamkan ayah dan ibuku buat memeluk kamu deh, biar kamu gak merasa kesepian lagi. Anggap saja orang tuaku itu orang tuamu juga."

​Mendengar ketulusan Saskia, tenggorokan Kiana mendadak terasa tercekat oleh rasa haru. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat sebaik Saskia di saat dunianya sedang runtuh seperti ini.

​Saskia melepaskan pelukannya, lalu menatap perut Kiana dengan mata yang berbinar jenaka. "Oh iya, Kia! Kamu tidak sedang mengidam apa-apa begitu? Pengen makan apa gitu pagi ini? Ayo bilang, aku ini calon tante yang baik, loh. Aku siap memenuhi apa pun permintaan si kembar pagi ini!"

​Mendengar kata si kembar diucapkan dengan begitu lantang, mata Kiana langsung membelalak panik. Dia segera menjulurkan tangannya dan membekap mulut Saskia dengan rapat. "Ssshhh! Sas, jangan keras-keras! Nanti penghuni kos lain dengar. Kalau mereka tahu aku hamil di luar nikah, aku bisa diusir dari kosan ini sekarang juga, Sas," bisik Kiana dengan nada penuh kecemasan.

​Saskia langsung memegang tangan Kiana dan melepaskan bekapan itu, wajahnya tampak bersalah. "Ups, maaf, maaf... aku kelepasan karena saking semangatnya. Ya sudah, jadi bumil mau makan apa pagi ini?"

​Kiana terdiam sejenak, meraba perutnya yang mendadak mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring. Entah mengapa, rasa mual yang biasanya menyiksa di subuh hari, pagi ini agak bersahabat dan justru digantikan oleh rasa lapar yang amat sangat. "Makan bubur ayam di depan gang aja kayanya enak, Sas. Anget-anget gimana gitu," ucap Kiana, meloloskan sebuah keinginan kecil dari hatinya.

​"Nah, cocok! Ayo berangkat!" seru Saskia bersemangat.

​Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, sehingga suasana di sekitar area kosan masih terhitung sepi. Kiana dan Saskia berjalan keluar gerbang kos menuju jalan besar dengan pakaian santai hanya mengenakan kaos oblong dan celana kulot santai. Di sepanjang pinggir jalan besar, deretan pedagang makanan kaki lima sudah berjajar rapi menjajakan dagangannya, mulai dari nasi uduk, gorengan, hingga bubur ayam yang asapnya mengepul wangi.

​Mereka berdua berjalan menuju gerobak bubur ayam Sukabumi langganan mereka yang terletak di bawah pohon rindang. Setelah mencari tempat duduk plastik yang kosong, mereka langsung memesan dua porsi bubur ayam komplit dengan sate usus dan kerupuk yang melimpah.

​Saat mangkuk pertama dihidangkan, Kiana langsung menyantapnya dengan sangat lahap. Rasa hangat dari kaldu bubur seolah memberikan energi baru yang sangat dia butuhkan. Namun, hal aneh terjadi begitu suapan terakhir berpindah ke mulutnya. Kiana merasa perutnya masih sangat lapar dan kurang, padahal biasanya satu porsi bubur saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kenyang sampai siang.

​Saskia yang memperhatikan mangkuk Kiana sudah bersih mengkilap dalam waktu singkat, langsung menopang dagunya dengan tangan sambil tersenyum geli. "Kia... sepertinya keponakan-keponakanku di dalam sana sedang protes, deh. Kemarin-kemarin kan mereka belum menemukan makanan enak karena kamu mual terus. Sekarang mumpung nafsu makanmu lagi bagus, pesan lagi gih! Jangan khawatir, aku yang bayar hari ini."

​Kiana sempat merasa tidak enak, namun perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, Kiana memesan satu porsi lagi. Dan luar biasanya, setelah porsi kedua habis, Kiana masih memesan satu porsi lagi hingga membuat Saskia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya takjub. Kiana benar-benar mampu menghabiskan tiga porsi bubur ayam sekaligus tanpa merasa terlalu kenyang atau begah. Rasa lapar yang luar biasa itu seolah membuktikan bahwa ada dua nyawa kecil yang memang sedang aktif bertumbuh di dalam rahimnya.

​Namun, suasana lucu nan hangat di meja makan kaki lima itu mendadak kembali berubah menjadi tegang saat mereka berdua selesai makan dan sedang mengelap mulut dengan tisu. Kiana menatap Saskia dengan pandangan yang sangat serius, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara.

​"Sas... setelah menimbang banyak hal semalaman, aku rasa aku akan segera mengajukan surat resign dari Butik Elegance," ucap Kiana pelan namun penuh keputusan yang bulat.

​Saskia yang sedang meminum teh hangatnya seketika tersedak. Dia meletakkan gelas plastiknya dengan kasar di atas meja meja kayu. "Apa?! Resign, Kia? Kamu gila ya? Aku benar-benar tidak setuju!" seru Saskia dengan dahi berkerut dalam. "Kia, dengarkan aku. Di Butik Elegance karirmu sudah sangat bagus, Bu Ambar juga sangat menyukaimu karena kerjamu rajin. Gajinya juga lumayan besar, sangat bisa untuk kamu menabung demi mencukupi kebutuhan persalinan dan susu si kembar nanti. Kenapa tiba-tiba mau keluar?"

​Kiana menunduk, memainkan ujung tisunya dengan gugup. "Aku merasa harus mencari tempat baru, Sas. Aku... aku berencana akan kembali ke Bandung."

​"Tapi Kia! Rumah peninggalan orang tuamu di Bandung kan belum direnovasi sama sekali sejak peristiwa kebakaran lima tahun lalu. Kamu mau tinggal di mana di sana?" sanggah Saskia, mencoba mencari celah agar sahabatnya tidak pergi jauh.

​"Aku tidak akan kembali ke rumah lama itu, Sas," jawab Kiana tenang, matanya menatap Saskia dengan penuh keyakinan yang dipaksakan. "Aku akan mencari kontrakan atau sewa tempat yang agak strategis di sana, sekalian untuk membuka usaha kecil-kecilan. Aku masih punya sisa uang tabungan sedikit dari hasil kerjaku, ditambah uang gajian kemarin... dan uang sepuluh juta yang diberikan oleh Pak Ardan hari itu."

​Menyebut nama Ardan sebenarnya membuat luka di lubuk hati Kiana kembali berdenyut perih, membangkitkan memori hinaan keji semalam di dalam mobil hitam. Namun, Kiana mencoba sekuat tenaga untuk tetap tegar dan menahan air matanya agar tidak jatuh di depan umum.

​"Aku akan membuka toko bunga kecil-kecilan mungkin, Sas. Aku menyukai bunga, dan kurasa itu usaha yang tenang," lanjut Kiana, mencoba mengalihkan rasa perihnya.

​Kiana kemudian menggenggam tangan Saskia, mencoba memberikan alasan-alasan logis yang bisa diterima oleh akal sehat sahabatnya. "Sas, coba kamu pikirkan baik-baik. Semakin hari, kehamilanku ini pasti akan semakin membesar dan perutku akan membuncit nyata. Kalau aku tidak resign sekarang, lambat laun Bu Ambar pasti akan mempertanyakan kapan aku menikah, dan mengapa tidak ada sosok suami yang mendampingiku. Belum lagi teman-teman kerja kita yang lain di butik."

​Kiana menghela napas berat, matanya menatap lurus ke arah jalan raya. "Bukan cuma di tempat kerja, Sas. Tetangga kos kita di sini, warga sekitar... kalau mereka tahu aku hamil tanpa suami, mereka pasti akan mencibir dan mengusirku secara tidak terhormat. Aku tidak mau anak-anakku nanti harus mendengar hinaan orang-orang sejak mereka masih di dalam kandungan."

​Kiana memaparkan semua alasan logis itu dengan runtut, padahal di dalam hatinya yang paling dalam, alasan utama dan paling mutlak mengapa dia harus pergi adalah untuk menjauh sejauh mungkin dari radar Ardan Arkatama, pria kejam yang telah menghancurkan harga dirinya semalam, pria yang dengan angkuh memintanya untuk tidak pernah memunculkan wajah di hadapannya lagi atau membawa anak-anak itu untuk memeras hartanya.

​Kiana ingin membuktikan pada Ardan bahwa dia bukan sampah, dan dia mampu membesarkan darah dagingnya sendiri tanpa perlu mengemis sepeser pun uang dari keluarga besar Arkatama. Dia ingin mengubur rapat-rapat kisah kelam ini dan memulai lembaran baru di kota kelahirannya, demi masa depan si kembar.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!