Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hak Milik yang Mutlak
Mobil sedan hitam mewah itu berhenti dengan mulus di pelataran parkir dalam kediaman utama Asher—sebuah mansion megah berarsitektur gotik modern yang berdiri terisolasi di atas perbukitan pinggir kota. Penjagaan di tempat itu begitu ketat; setiap sudut dilengkapi dengan kamera pengawas dan puluhan pengawal bersenjata lengkap yang berpatroli tanpa henti. Di tempat inilah, hukum dunia luar tidak lagi berlaku. Hanya ada satu hukum di sini, yaitu titah mutlak dari Asher Sterling.
Kedua pria bertubuh besar yang menjemput Chloe segera turun. Dengan gerakan hati-hati namun cekatan, mereka mengangkat tubuh Chloe yang masih belum sadarkan diri akibat pengaruh obat bius, lalu membawanya masuk melalui pintu belakang mansion menuju sebuah kamar tamu di lantai dua.
Kamar tamu itu sangat luas, didominasi oleh warna-warna monokrom yang dingin; abu-abu, hitam, dan putih. Sebuah ranjang berukuran king size dengan seprai sutra abu-abu gelap berada di tengah ruangan. Kedua pria itu perlahan membaringkan tubuh mungil Chloe di atas ranjang tersebut. Wajah gadis itu tampak begitu kontras di atas seprai gelap—kulitnya yang seputih susu terlihat luar biasa murni, dengan helaian rambut cokelat gelap yang tersebar berantakan di sekitar bantal.
Tak lama setelah mereka mundur dua langkah dari ranjang, pintu kamar terbuka.
Asher masuk dengan langkah kaki yang tenang namun berwibawa, diikuti oleh Kenzo yang selalu setia berada satu langkah di belakangnya. Asher sudah melepaskan jas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih mahal yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura santai namun tetap mematikan. Pandangan mata kelabunya langsung tertuju pada sosok gadis yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Asher melangkah mendekat, berdiri di sisi ranjang. Dia menundukkan tubuhnya sedikit, mengamati wajah Chloe dengan saksama dari dekat. Sepasang mata rusa gadis itu masih terpejam rapat. Asher mengulurkan tangan kanannya, dengan ujung jari telunjuknya yang dingin, dia menyusuri garis rahang Chloe yang halus, lalu turun ke arah lehernya. Pria tua itu tidak berbohong; gadis ini memang memiliki kecantikan yang murni dan alami, tipe gadis yang belum pernah tersentuh oleh kekejaman dunia bawah tanah.
Namun, saat pandangan Asher turun ke bagian bahu Chloe yang terbuka karena kerah kemeja lusuhnya yang agak bergeser, gerakan tangannya mendadak terhenti.
Mata kelabu Asher seketika menyipit tajam. Di atas kulit putih mulus seputih susu itu, terdapat sebuah bekas kemerahan yang mulai berubah menjadi memar keunguan berbentuk bekas cengkeraman tangan yang kasar. Bekas itu tampak sangat kontras dan merusak keindahan kulit murni si gadis.
Atmosfer di dalam kamar itu mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Kenzo, yang memiliki insting sangat peka, langsung merasakan perubahan aura dari tubuh bosnya. Udara di sekitar mereka mendadak terasa begitu pekat dan menekan, sebuah pertanda bahwa sang iblis baru saja tersulut amarahnya.
Asher perlahan menegakkan kembali tubuhnya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tetap sedingin es, namun pancaran matanya begitu menghunus. Dia membalikkan badannya, menatap kedua pria bertubuh besar yang tadi menjemput Chloe. Kedua pria itu masih berdiri tegak di dekat pintu dengan sikap hormat.
Asher mengangkat tangan kanannya, lalu memberikan sebuah isyarat kecil dengan gerakan dua jarinya—memanggil kedua pria itu untuk melangkah mendekat ke arahnya.
Melihat isyarat tersebut, kedua pengawal itu maju tiga langkah tanpa menaruh rasa curiga, berpikir bahwa bos besar mereka mungkin ingin memberikan upah atau perintah lanjutan. Namun, begitu mereka berada dalam jangkauan jaraknya, Asher bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, nyaris tak terlihat oleh mata awam.
BUGH!
Sebuah pukulan mentah dan sangat keras dari kepalan tangan kanan Asher menghantam telak rahang pria yang berdiri di sebelah kiri. Suara tulang yang beradu terdengar begitu mengerikan di dalam kamar yang sunyi itu. Pria bertubuh besar itu langsung tersungkur ke lantai marmer, memuntahkan darah segar dari mulutnya akibat kekuatan pukulan Asher yang masif.
Belum sempat pria kedua mencerna apa yang terjadi, Asher sudah memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan samping yang sangat bertenaga tepat ke arah ulu hati pria kedua.
BRAKK!
Pria kedua terlempar ke belakang, menghantam dinding kamar dengan keras sebelum akhirnya jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang terasa remuk. Dia terengah-engah, wajahnya memerah menahan rasa sakit yang luar biasa hingga tidak sanggup mengeluarkan suara.
Kenzo yang menyaksikan kejadian spontan itu sempat tertegun di tempatnya. Sepasang matanya melebar sejenak karena rasa bingung yang mendalam. Sebagai tangan kanan yang sudah bertahun-tahun mendampingi Asher, Kenzo tahu betul bahwa bosnya tidak pernah mengotori tangannya sendiri untuk menghajar anak buah tingkat bawah, kecuali jika anak buah tersebut melakukan kesalahan fatal seperti pengkhianatan atau pencurian besar. Tapi kedua orang ini baru saja sukses menjalankan misi penjemputan dengan cepat. Kenapa Bos menghajar mereka? pikir Kenzo dalam hati, benar-benar tidak paham.
Asher perlahan menarik selembar sapu tangan dari saku celananya, menyeka buku-buku jarinya yang sedikit memerah tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. Dia menatap kedua pria yang kini mengerang kesakitan di atas lantai.
"Siapa di antara kalian berdua yang membuat bahunya memar?" tanya Asher. Suaranya sangat rendah, berat, dan tenang, namun justru nada suara seperti itulah yang paling ditakuti di seluruh organisasi. Itu adalah suara dari seorang predator yang sedang menuntut pertanggungjawaban atas wilayahnya.
Kedua pria itu gemetar hebat. Pria pertama yang terkena pukulan di rahangnya mendongak dengan susah payah, mengusap darah di bibirnya dengan tangan yang gemetar. Dengan sisa-sisa keberaniannya yang hampir habis karena teror psikologis, dia menunjuk rekannya yang masih berlutut memegangi perut. "D-Dia, Bos... Dia yang memegang bahu gadis itu saat membekapnya dengan kloroform di ruang tamu..."
Mendengar pengakuan itu, pandangan mata kelabu Asher langsung mengunci pria kedua yang dituduh.
Asher melangkah mendekat dengan santai, namun setiap ketukan langkah sepatunya terdengar seperti lonceng kematian bagi pria tersebut. Begitu sampai di depan pria itu, Asher mencengkeram kerah kemeja pria itu dengan satu tangan, lalu mengangkat tubuhnya yang kekar dengan mudah hingga pria itu terpaksa berdiri dengan bertumpu pada ujung jarinya.
BUGH! BUGH!
Dua pukulan beruntun kembali dilepaskan Asher tepat ke arah wajah pria kedua, membuat hidungnya patah seketika dan darah segar mengucur deras membasahi kemeja hitamnya. Asher melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh pria itu ambruk kembali ke lantai seperti karung goni yang dicampakkan.
Asher mundur satu langkah, berdiri tegak sembari memandang merendahkan ke arah kedua anak buahnya yang sudah babak belur.
"Dengar baik-baik, kalian semua," ucap Asher, suaranya menggema di seluruh penjuru kamar, dingin dan mutlak. Dia melirik sejenak ke arah Chloe yang masih pingsan di atas ranjang sebelum kembali menatap kedua pria di lantai. "Mulai detik ini, gadis ini adalah milikku. Dia adalah aset berharga yang menutupi kerugian ratusan ribu dolar organisasi."
Asher maju satu tapak, memberikan penekanan yang sangat menakutkan pada kalimat selanjutnya. "Tidak ada satu pun orang di dalam organisasi ini, termasuk kalian, yang boleh membuat barang milikku lecet atau terluka sedikit pun. Jika aku melihat ada satu bekas luka baru lagi di tubuhnya akibat kecerobohan kalian... maka nyawa kalian berdua yang akan menjadi gantinya untuk menutupi sisa utang ayahnya. Paham?"
Mendengar ultimatum yang begitu tegas dari mulut Asher, Kenzo yang berdiri di samping akhirnya memahami segalanya. Bosnya bukan sedang membela gadis itu karena rasa kasihan—karena kata itu tidak pernah ada dalam diri Asher. Bosnya menghajar mereka karena ego dan rasa kepemilikan yang sangat tinggi. Di dunia bawah tanah, merusak barang milik seorang penguasa tanpa izin adalah sebuah pelanggaran berat, sekecil apa pun bentuk kerusakannya.
Kenzo langsung mengangguk patuh, menyatukan kedua tangannya di depan tubuh. "Dimengerti, Bos. Kesalahan seperti ini tidak akan pernah terulang lagi," ucap Kenzo tegas.
Asher melirik Kenzo, lalu memberikan isyarat mata ke arah pria kedua yang masih mengerang di lantai. "Beri dia pelajaran tambahan agar dia selalu ingat bagaimana cara memperlakukan barang milikku dengan benar, Kenzo. Setelah itu, bawa mereka berdua keluar dari sini."
"Baik, Bos. Biarkan saya yang menyelesaikannya," jawab Kenzo tanpa ragu.
Kenzo melangkah maju, melepaskan jam tangan taktisnya dan menyimpannya di saku celana. Dengan wajah yang kembali dingin tanpa ekspresi, Kenzo mencengkeram rambut pria kedua itu dari belakang, menariknya berdiri, lalu melayangkan sebuah hantaman lutut yang sangat keras tepat ke arah rusuk pria tersebut hingga terdengar bunyi retakan yang memilukan.
Sementara itu, pria pertama yang berada di sudut ruangan hanya bisa diam terpaku dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia menatap ngeri ke arah rekannya yang sedang dijadikan sansak hidup oleh Kenzo. Rasa takut yang teramat sangat membuat pria itu bahkan tidak berani bernapas dengan keras atau mengedipkan mata. Dia sangat bersyukur bukan dialah yang memegang bahu gadis itu tadi pagi di rumah sederhana tersebut.
Asher sendiri sudah tidak memedulikan kegaduhan yang dibuat oleh Kenzo dan anak buahnya di sudut ruangan. Pria itu kembali membalikkan badannya menghadap ke arah ranjang. Dia menatap lekat-lekat sosok Chloe yang masih tertidur dengan tenang, seolah tidak terganggu oleh suara jeritan kesakitan dan cipratan darah yang terjadi hanya beberapa meter di dekatnya.
Seringai tipis yang kejam kembali muncul di sudut bibir Asher. Mainan barunya ini benar-benar murni, dan dia sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana mata rusa yang jernih itu akan dipenuhi oleh ketakutan dan keputusasaan saat gadis ini terbangun nanti dan menyadari bahwa kebebasannya telah direnggut sepenuhnya oleh seorang monster bernama Asher.