NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu di Bawah Kaki Gunung

Langit di atas Gunung Qingyun belum sepenuhnya terang, masih menyisakan rona biru kelam yang menggigit tulang. Angin musim dingin bulan kedua belas berhembus liar bak pisau tak kasatmata, menyapu pelataran luar Sekte Pedang Awan Mengalir. Bagi para kultivator yang telah membuka Dantian mereka, hawa dingin ini bahkan tidak mampu menembus lapisan pelindung Qi di kulit mereka. Namun bagi manusia fana, angin ini cukup untuk membekukan darah di dalam nadi.

Di tengah udara beku tersebut, seorang pemuda berpakaian abu-abu lusuh tampak memanggul sebatang Kayu Besi Hitam sepanjang dua meter. Tubuhnya kurus, tertutup oleh jubah tipis yang sudah dipenuhi tambalan di sana-sini. Ia nyaris tampak rapuh di bawah beban kayu seberat tiga ratus kati itu.

Setiap langkahnya meninggalkan jejak dalam di atas tumpukan salju. Napasnya memburu, mengeluarkan uap putih tebal dari sela-sela bibirnya yang pucat pasi dan pecah-pecah.

Pemuda itu adalah Lin Ye.

Ia menggertakkan giginya, memaksa otot-otot kakinya yang sudah mati rasa untuk terus bergerak. Kayu Besi Hitam bukanlah kayu biasa; kayu ini sangat padat dan merupakan bahan bakar utama untuk menyalakan Api Tanah di paviliun alkimia sekte. Membawanya dari kaki gunung hingga ke pelataran luar adalah tugas yang biasanya dilakukan oleh keledai bertanduk, bukan manusia.

"Lebih cepat, Sampah! Jika tungku pil Penatua Li sampai kehabisan api sebelum fajar, bukan hanya kau yang akan dilempar ke tebing pelahap mayat, kami semua juga akan terseret!"

Sebuah suara serak dan penuh arogansi memecah kesunyian subuh.

Paaat!

Sebuah cambukan angin yang berasal dari energi Qi kotor menghantam punggung Lin Ye dengan telak. Jubah kainnya robek seketika, dan sebuah bekas luka merah memanjang langsung terbentuk di kulitnya, merembeskan darah segar yang langsung membeku terkena udara pagi.

Tubuh Lin Ye terhuyung ke depan akibat benturan itu. Lutut kanannya nyaris menghantam tanah berbatu yang tertutup salju. Namun, di detik terakhir, ia mengencangkan cengkeramannya pada Kayu Besi Hitam dan menancapkan tumitnya kuat-kuat ke tanah, menolak untuk jatuh.

Dia tidak menoleh. Dia juga tidak mengeluarkan suara rintihan, apalagi membalas dengan amarah. Mata hitamnya setenang dan sedingin danau mati pada musim dingin, tidak memancarkan kemarahan maupun keputusasaan. Dia hanya menarik napas panjang, menyesuaikan titik berat tubuhnya, dan kembali melangkah, bahkan sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Di belakangnya, seorang murid sekte luar bernama Wang Hao mendengus jijik. Ia menarik kembali cambuk kulit banteng di tangannya yang memancarkan pendar cahaya spiritual redup.

"Cih. Lihatlah anjing bisu ini. Meridian cacat bawaan, Dantian yang bocor, dan tulang fana yang rapuh. Di dunia sekuler di bawah gunung sana, orang cacat sepertinya mungkin masih bisa menjadi pengemis dan mendapat belas kasihan. Tapi di dunia kultivasi? Dia bahkan lebih rendah dari babi peliharaan dapur sekte," cemooh Wang Hao dengan suara keras, sengaja agar didengar oleh murid-murid lain.

Beberapa murid luar lainnya yang sedang berjaga dan berlatih pedang di kejauhan hanya melirik sekilas dan tertawa sinis. Tidak ada satu pun tatapan simpati di mata mereka.

Di Sekte Pedang Awan Mengalir—dan di seluruh hamparan Benua Awan Merah yang luas—hukum rimba adalah satu-satunya hukum yang diakui oleh surga. Yang kuat terbang di langit dan dihormati bagai dewa, sementara yang lemah diinjak menjadi debu dan lumpur. Kebaikan tanpa kekuatan adalah dosa terbesar di dunia ini.

Lin Ye sangat memahami hukum tersebut. Dia adalah debu itu.

Sepuluh tahun yang lalu, desanya di lembah selatan dihancurkan oleh gelombang Binatang Iblis tingkat rendah. Orang tuanya, kerabatnya, dan ratusan penduduk desa dirobek menjadi potongan daging dalam satu malam. Lin Ye yang saat itu berusia tujuh tahun diselamatkan secara kebetulan oleh seorang tetua Sekte Pedang Awan Mengalir yang sedang lewat.

Namun, keberuntungan itu berakhir di sana. Saat dibawa ke sekte dan diuji bakatnya, batu penguji meridian tidak memancarkan cahaya sedikit pun. Lin Ye divonis memiliki "Sembilan Nadi Tersekat"—sebuah kondisi tubuh langka namun tidak berguna, di mana tidak ada satu ons pun Energi Spiritual langit dan bumi yang bisa masuk ke dalam tubuhnya. Ia ditakdirkan untuk tidak pernah bisa berkultivasi.

Tetua yang membawanya langsung kehilangan minat dan meninggalkannya begitu saja di pelataran luar. Untuk bertahan hidup agar tidak dibuang ke hutan yang penuh binatang buas, Lin Ye rela menelan harga dirinya dan menjadi Pelayan Tungku, kasta paling hina di seluruh hierarki sekte.

Tiga jam kemudian, matahari akhirnya mengintip dari ufuk timur. Tugas Lin Ye usai setelah ia menyusun kayu terakhir di ruang tungku bawah tanah.

Menyeret kakinya yang terasa seperti diisi timah, Lin Ye berjalan tertatih-tatih kembali ke sebuah gubuk kayu reyot di pinggiran Hutan Bambu Hitam, area terpencil di sekte luar. Gubuk itu begitu kecil, berbau apak, dan dinding kayunya penuh dengan celah, nyaris tidak bisa menahan angin dingin yang masuk.

Begitu pintu reyot itu tertutup rapat, Lin Ye melepaskan Kayu Besi Hitam imajiner yang sedari tadi seperti masih membebani pundaknya. Ia duduk bersila di atas ranjang yang hanya terbuat dari tumpukan jerami kering.

Perlahan dan sambil meringis pelan, ia membuka jubahnya. Punggung dan bahunya adalah kanvas kengerian. Penuh dengan bekas luka yang memanjang dan saling tumpang tindih; ada luka lama yang menghitam, bekas luka bakar dari bara tungku alkimia, dan luka baru yang masih merembeskan darah dari cambukan Wang Hao tadi.

Namun, tidak ada air mata di wajah pemuda berusia tujuh belas tahun itu.

Ia mengambil sebuah toples tanah liat kecil dari bawah ranjangnya. Toples itu berisi salep herbal berwarna hijau pekat yang berbau menyengat—obat murahan yang ia buat sendiri dari sisa-sisa gulma spiritual yang dibuang oleh para murid alkimia. Dengan menggunakan sepotong kain lap, ia mengoleskan salep itu ke luka-lukanya. Rasa perih yang luar biasa menyengat sarafnya, tapi ia hanya menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah.

“Di dunia ini, kemarahan tanpa kekuatan hanyalah lelucon yang menghibur musuhmu,” gumam Lin Ye di dalam hati. Kalimat itu adalah mantra yang terus membuatnya waras selama sepuluh tahun terakhir.

Banyak pelayan fana lainnya yang memilih bunuh diri atau melarikan diri dari sekte karena tidak tahan dengan siksaan. Tapi Lin Ye menolak untuk mati. Setiap malam dia menutup mata, dia masih bisa mendengar jeritan ibunya dan auman binatang buas itu. Dia tahu usianya tidak akan panjang jika dia terus dipaksa bekerja melebihi batas manusia fana. Otot dan tulangnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan permanen. Dia harus mencari jalan keluar, meski surga telah menutup semua pintunya.

Saat dia mencoba menjangkau luka di belikat kirinya, tangannya sedikit gemetar. Tanpa sengaja, setetes darah kental yang menempel di ujung kain lapnya jatuh ke lantai.

Tetes.

Darah itu mendarat tepat di atas sebuah benda yang tergeletak di lantai kayu kotor di samping ranjangnya. Benda itu berukuran sekepalan tangan bayi, berwarna hijau kusam karena karat, dan tertutup tanah yang mengeras. Bentuknya menyerupai tiruan sebuah kuali tembaga murahan dengan tiga kaki, yang satu kakinya sudah patah separuh.

Lin Ye memungut benda itu tiga hari yang lalu saat ia diperintahkan membersihkan jurang pembuangan abu sisa pil beracun milik sekte. Dia membawanya pulang tanpa alasan khusus, hanya karena aura benda itu terasa aneh—sangat dingin, tidak seperti logam biasa, dan samar-samar mengingatkannya pada perapian batu di rumah masa kecilnya yang telah hancur.

Lin Ye menunduk, berniat mengelap darahnya agar tidak mengundang serangga. Namun, saat matanya tertuju pada kuali kecil itu, pupil matanya menyipit tajam.

Darah yang jatuh di atas permukaan logam berkarat itu... menghilang.

Darahnya tidak mengalir ke samping, tidak juga mengering. Setetes darah merah pekat itu seolah tersedot ke dalam logam berkarat tersebut, ditelan oleh mulut tak kasatmata.

Sebelum Lin Ye sempat memproses kemustahilan yang baru saja ia lihat, sebuah getaran pelan mulai menjalar dari kuali kecil itu. Getarannya sangat samar pada awalnya, menyebabkan debu di sekitarnya menari-nari pelan. Namun, di dalam gubuk yang sunyi ini, suara getaran itu perlahan menguat, terdengar seperti detak jantung purba raksasa yang baru saja terbangun dari tidur selama jutaan zaman.

Dug... Dug...

Udara di dalam gubuk mendadak menjadi sangat berat. Lin Ye merasa seolah-olah ada sebuah gunung tak terlihat yang menimpa dadanya, membuatnya kesulitan bernapas.

Retakan-retakan halus mulai muncul pada lapisan karat hijau di permukaan kuali. Dari balik retakan yang teramat halus itu, Lin Ye melihat sesuatu yang membuat akal sehatnya runtuh seketika.

Bukan cahaya emas suci yang menyilaukan mata, bukan pula aura magis lima warna seperti pusaka sekte yang pernah ia dengar dari dongeng para tetua. Di balik celah karat itu, Lin Ye melihat... kehampaan mutlak. Kegelapan yang sedemikian pekat, menyerupai langit malam tanpa batas, yang secara perlahan dihiasi oleh putaran lambat dari debu bintang dan galaksi purba. Kuali sekepal tangan itu seolah menampung seluruh alam semesta di dalam perutnya.

Pada saat yang bersamaan, sebuah tarikan energi hisap yang luar biasa mengerikan melonjak dari dalam kuali. Itu bukanlah tarikan angin, melainkan tarikan jiwa. Kuali itu mengunci esensi kehidupan dari tubuh kurus Lin Ye.

Tubuh Lin Ye tersentak hebat ke belakang. Matanya membelalak lebar, memancarkan kengerian saat ia merasakan aliran darah dan sisa-sisa tenaga kehidupannya disedot paksa.

Pandangannya mulai menggelap. Kesadarannya ditarik dengan kasar ke dalam pusaran kosmik di dalam kuali tersebut. Di ambang kematiannya, di tengah ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang mati, Lin Ye mendengar satu suara bergemuruh bergema di kedalaman jiwanya—suara kuno yang terdengar seperti ratusan gugusan bintang yang saling berbenturan.

"Darah fana yang begitu lemah... namun memiliki kehendak yang tak bisa dipatahkan. Sembilan Nadi Tersekat? Hmph, tubuh yang sempurna untuk menampung kekosongan."

Suara itu bergema, mengguncang fondasi jiwa Lin Ye.

"Mulai hari ini... kaulah kualinya, dan seluruh surga serta bumi adalah pilnya!"

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!