NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PARFUM BARU YANG "BERDOSA"

Langkah kaki Anaya terhenti tepat di depan cermin toilet kantor. Dia memandangi pantulan dirinya, lalu merogoh tas kerjanya untuk mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berwarna hitam dengan aksen gliter yang elegan.

Yves Saint Laurent Black Opium.

Parfum itu adalah modal utamanya untuk nanti malam. Setelah jam kantor selesai\, Anaya sudah berjanji untuk menghadiri acara reuni kelulusan diploma tiganya di sebuah restoran estetik di daerah Senopati. Mengingat di sana bakal banyak mantan gebetan dan teman-teman yang hobi memamerkan pencapaian hidup\, Anaya menolak untuk tampil dengan aroma "dapur kue" seperti biasanya. Aroma manis vanilla kue yang polos harus diganti dengan sesuatu yang lebih intimidatif\, dewasa\, dan*—menurut ulasan di internet—*sedikit "berdosa" karena menggoda.

Semprot. Semprot.

Anaya menyemprotkan cairan itu ke kedua pergelangan tangan dan area leher jenjangnya. Seketika, udara di dalam toilet dipenuhi oleh perpaduan aroma kopi yang pekat, sensasi feminin dari white flowers, dan sentuhan vanilla cedarwood yang jauh lebih gelap, sensual, serta berkelas.

"Oke, begini baru namanya sekretaris mandiri, bukan robot pembuat jadwal berjalan," gumam Anaya puas, lalu melangkah kembali menuju meja kubikelnya.

Sementara itu, di dalam ruangan CEO, Bima sedang mencoba fokus memeriksa draf laporan keuangan pra-publikasi. Namun, begitu pintu kaca luar terbuka dan Anaya berjalan melewati koridor menuju kubikelnya, molekul udara di sekitar Bima mendadak bergeser.

Aroma manis vanilla lembut yang biasanya menenangkan indra penciumannya lenyap. Sebagai gantinya, sebuah keharuman baru yang sangat provokatif menyelinap masuk melalui celah bawah pintu ruangannya. Aroma kopi yang berpadu dengan kehangatan sensual langsung menyergap hidung Bima.

Deg.

Bima langsung menegakkan punggungnya. Pena montblanc di tangannya terhenti di udara. Mata elangnya melebar, menghirup udara ruangan dengan dahi berkerut rapat.

"Wangi apa ini?" bisik Bima pada kesunyian ruangan.

Itu bukan wangi vanilla banyuwangi buatan rumahan yang biasa dipakai Anaya. Ini wangi yang... berbahaya. Wangi yang biasa dipakai oleh wanita dewasa yang siap pergi ke kelab malam atau janji temu romantis kelas atas. Pikiran Bima langsung berputar liar. Apakah Anaya mau pergi kencan setelah ini? Dengan siapa? Cowok mana yang berani mencicipi aroma ini dari tubuh sekretarisnya?

Darah Bima mendadak mendidih oleh rasa cemburu yang tidak beralasan. Gengsi dan sisi posesifnya langsung berkolaborasi, menolak membiarkan Anaya duduk tenang di luar sana dengan aroma yang begitu memicu kerja jantung.

Bima menekan tombol intercom dengan ketukan berisik. "Anaya. Masuk."

Di luar, Anaya yang baru saja mendudukkan diri langsung menghela napas. Dia berdiri dan membuka pintu ruangan Bima. "Ya, Pak Bima? Ada dokumen yang kurang?"

Begitu Anaya melangkah masuk, aroma Black Opium itu langsung meledak, menjajah seluruh sudut ruangan CEO. Bima menahan napas sesaat, matanya menyapu penampilan Anaya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada yang berbeda. Anaya memakai sedikit riasan mata yang lebih tegas, dan bibirnya dipulas lip cream sewarna merah bata yang terlihat... sangat ranum.

Bima berdeham keras, mencoba menetralisasi getaran aneh di suaranya. "Kamu... ganti parfum?"

Anaya berkedip, agak heran dengan kepekaan hidung bosnya yang mirip hidung pelacak. "Eh? Iya, Pak. Kok tahu? Penciuman Bapak tajam banget ya, mirip..." Anaya menahan kalimatnya agar tidak mengucap kata 'guguk'. "Saya pakai Black Opium. Enak kan wanginya, pak?"

"Gak enak," bohong Bima ketus, padahal di dalam hatinya dia sedang menjerit frustrasi karena wangi itu membuat konsentrasinya hancur berkeping-keping. "Wewangian seperti itu terlalu agresif untuk lingkungan korporat. Bisa mengganggu produktivitas staf lain."

"Staf lain kan gak ada yang masuk ke ruangan Bapak, dan kubikel saya jaraknya jauh dari divisi lain," sahut Anaya santai, melipat kedua tangannya di depan dada. "Lagi pula, nanti malam saya mau ada reuni D3, Pak. Jadi harus wangi dong, biar gak dikira tersiksa kerja di bawah pimpinan manusia purba."

Mendengar kata 'reuni', rahang Bima langsung mengeras. "Reuni? Mau pamer apa kamu di sana? Pamer cincin dari Mama saya?"

"Ya enggaklah, Pak! Cincinnya kan saya umpetin di dompet," jawab Anaya panik sambil memegang tasnya. "Sudah ya pak, kalau nggak ada urusan penting, saya ijin mau lanjut ketik draf revisi."

"Siapa bilang gak ada urusan penting?" potong Bima cepat, otaknya langsung memutar otak mencari alasan paling tidak masuk akal sedunia agar Anaya tidak cepat-cepat keluar dari ruangannya. Mata Bima melirik ke arah cermin di sudut ruangan, lalu melihat dasi sutra hitam yang melingkar di kerah kemeja hitamnya.

Bima berdiri, sengaja menarik sedikit ujung dasinya hingga posisinya bergeser miring dari garis tengah kemeja.

"Sini," perintah Bima, nadanya dibuat sedatar mungkin. "Rapikan dasi saya. Posisinya agak miring satu milimeter. Saya ada pertemuan virtual dengan investor Singapura sepuluh menit lagi. Penampilan saya harus perfeksionis."

Anaya melongo, menatap dasi Bima yang sebenarnya terlihat sangat baik-baik saja. "Satu milimeter, Pak? Serius? Bapak punya tangan dua, kan? Tinggal ditarik dikit ke kiri juga beres."

"Saya gak mau merusak simetris kerah kemeja saya kalau narik sendiri, Anaya. Ini perintah atasan. Cepat," desis Bima, memasang wajah angkuh andalannya, padahal itu murni cuma modus tingkat tinggi agar bisa menghirup aroma tubuh Anaya dari jarak dekat.

Dengan gerutuan pelan yang sengaja disuarakan, Anaya melangkah maju. Dia berdiri tepat di hadapan Bima. Jarak mereka kini terkikis drastis, menyisakan ruang kurang dari tiga puluh sentimeter. Tinggi tubuh Anaya yang hanya sebatas dada bidang Bima membuat wanita itu harus sedikit mendongak.

Anaya mengulurkan kedua tangan rampingnya, memegang simpul dasi di leher Bima.

Detik itu juga, aroma Black Opium dari leher Anaya langsung menyapu wajah Bima seperti ombak hangat. Dari jarak sedekat ini, Bima bisa melihat dengan sangat jelas bulu mata lentik Anaya, serta bagaimana kulit leher wanita itu bergerak halus setiap kali dia menelan ludah karena gugup.

Bima sengaja menurunkan pandangannya, mengunci matanya tepat pada bibir merah bata Anaya yang berjarak sangat dekat dari dadanya. Napas Bima mendadak memberat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat bising, melakukan gerakan tak beraturan yang melanggar seluruh hukum kedokteran.

"Bapak... jangan napas keras-keras deh," bisik Anaya tiba-tiba, suaranya mendadak bergetar halus saat jemarinya merapikan simpul dasi tersebut. "Dada Bapak naik turunnya kencang banget, saya jadi susah fokus."

Bima terkekeh rendah\, sebuah suara serak yang terdengar begitu seksi dan intim di telinga Anaya. Tanpa diduga\, Bima menurunkan kedua tangannya\, lalu mencengkeram pelan pinggang Anaya dari samping*—tidak terlalu erat\, namun cukup kuat untuk mengunci posisi wanita itu agar tidak bisa mundur.*

Deg!

Anaya langsung membeku, tangannya yang masih memegang dasi Bima mendadak kaku. "Pak... Pak Bima, tangannya kondisikan ya. Ini pelecehan terselubung namanya."

"Saya cuma menyeimbangkan tubuh saya, Anaya," bisik Bima tepat di atas kepala Anaya, membuat kehangatan napasnya menyapu puncak rambut sang sekretaris. Pria itu memajukan wajahnya, menyurukkan hidung mancungnya sedikit ke arah ceruk leher Anaya, menghirup aroma kopi dan vanilla gelap itu dengan rakus dalam satu tarikan napas dalam.

"Parfum ini... bener-bener sialan," gumam Bima, suaranya terdengar sangat parau dan posesif. "Saya melarang kamu pergi ke acara reuni itu nanti malam."

"Lho? Gak bisa gitu dong, Pak! Itu hak asasi saya setelah jam kantor!" protes Anaya, mencoba mendorong dada bidang Bima, namun cengkeraman tangan Bima di pinggangnya justru terasa semakin posesif.

"Saya nggak peduli," bisik Bima lagi, matanya kini menatap lurus ke dalam manik mata Anaya dengan binar mata predator yang sangat lapar. "Kalau kamu tetap nekat pergi dengan wangi berdosa kayak gini... saya gak menjamin kamu bisa keluar dari mobil Porsche saya dengan selamat besok pagi, Anaya."

Ketegangan romantis yang bergulir lambat selama lima tahun ini mendadak mencapai titik didihnya, meninggalkan Anaya yang hanya bisa terengah-engah dengan wajah merah merona di bawah kungkungan sang bos narsis.

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!