Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kuil Dewa Ular
Bau anyir menyengat langsung memenuhi ruangan pondok saat Zhao Ying meletakkan sebuah guci tanah liat kecil ke atas meja. Di sebelahnya, ia menaruh buntelan kain berisi bubuk kekuningan, beberapa pasak kayu berwarna kemerahan, dan segulung tali rami yang tebal.
"Kepala Desa mengira kita akan melakukan ritual untuk mengusir kesialan akibat kematian Kakek Wang," ucap Zhao Ying sambil mengibaskan debu dari pakaiannya. Bidadari yang dulunya hanya meminum embun pagi dari kelopak teratai surgawi itu kini berdiri dengan hidung berkerut menahan bau darah anjing hitam yang menyengat. "Aku mendapatkan semuanya, Zeng Niu. Darah anjing hitam liar ini masih hangat."
Zeng Niu menghentikan asahannya. Ujung golok karatan di tangannya kini sedikit lebih tajam, memantulkan cahaya redup dari pelita.
"Kerja bagus," sahut Zeng Niu. Ia bangkit, mengambil gulungan tali rami itu, lalu merendamnya ke dalam guci berisi darah anjing hitam.
Di dunia fana, anjing hitam liar diyakini memiliki elemen Yang yang sangat kuat karena mereka bertahan hidup dengan menyerap panas matahari dan insting buas murni. Darah mereka, jika dipadukan dengan bubuk belerang dan kayu persik, menciptakan efek pembakaran spiritual yang fatal bagi makhluk Yin tingkat rendah.
Zeng Niu mengangkat tali yang kini basah dan berwarna merah pekat, lalu menaburkan bubuk belerang ke atasnya hingga merata. Ia juga melumuri bilah goloknya dengan campuran yang sama.
"Di alam asalku, metode kasar seperti ini hanya digunakan oleh pengusir hantu jalanan yang menipu penduduk desa," gumam Zhao Ying, memperhatikan tangan cekatan Zeng Niu. "Melihatnya menjadi satu-satunya harapan hidup kita... terasa sangat ironis."
"Dewa yang jatuh harus belajar merangkak sebelum bisa kembali terbang," balas Zeng Niu santai. Ia menyelipkan golok berbau anyir itu ke pinggangnya dan mengaitkan gulungan tali ke bahunya. "Mari kita kunjungi kuil tua itu sebelum matahari benar-benar tenggelam. Entitas Yin paling lemah saat siang hari menuju sore."
Keduanya melangkah keluar dari pondok, menyusuri jalan setapak di pinggiran desa yang mengarah lurus mengikuti arus sungai.
Perjalanan yang dulunya hanya butuh dua kedipan mata menggunakan pedang terbang, kini harus ditempuh dengan berjalan kaki membelah semak berduri dan jalanan berlumpur. Bagi Zeng Niu, setiap langkah adalah ujian kesabaran. Luka di dadanya berdenyut pelan, mengingatkannya bahwa tubuh ini bisa kehabisan darah jika ia memaksakan diri.
Namun, dalam kelambatan perjalanan fana ini, Zeng Niu menyadari sesuatu yang dulu selalu ia lewatkan. Ia bisa mendengar suara gemerisik daun bambu, merasakan perbedaan suhu saat mereka memasuki area hutan pinus, dan melihat jejak-jejak binatang kecil di tanah basah. Dunia yang dulu hanya sekadar latar belakang pembantaiannya, kini terasa bernapas dan berdenyut di sekelilingnya.
Ini adalah pemahaman dasar dari Kehidupan. Sebuah wawasan yang diam-diam menyirami Biji Dao-nya yang baru tumbuh di tengah Dantian yang hancur.
Setelah dua jam berjalan dalam keheningan yang mencekam, langit sore mulai berubah warna menjadi jingga kelabu. Udara di sekitar mereka mendadak anjlok suhunya.
Di ujung jalan setapak, di balik rimbunnya pohon beringin raksasa yang akarnya melilit bebatuan sungai, berdirilah puing-puing sebuah bangunan kayu yang telah menghitam dimakan usia.
Kuil Sungai Dewa Ular.
Atapnya sudah rubuh separuh. Pilar-pilarnya dipenuhi lumut tebal, dan patung ular raksasa di halaman depannya telah kehilangan kepalanya. Atmosfer di sekitar kuil itu terasa sangat pekat, seolah ada selubung tak kasatmata yang menolak cahaya matahari untuk masuk.
"Tempat ini adalah titik kumpul Yin Qi alami," bisik Zhao Ying, instingnya masih tajam. "Aliran sungai di sini membentuk pusaran air mati. Energi sisa dari orang-orang yang tenggelam terbawa arus akan terakumulasi di kuil ini."
Zeng Niu memberi isyarat agar Zhao Ying tetap di belakangnya. Ia menggenggam gagang goloknya erat-erat, melangkah tanpa menghasilkan suara sedikit pun memasuk pelataran kuil.
Di dalam aula utama yang hancur, pemandangan mengerikan menyambut mereka.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah sumur batu tua. Dan duduk bersila di pinggir sumur itu adalah Pendeta Mayat dari semalam. Jubahnya yang compang-camping basah kuyup. Ia tidak sendirian. Di sekeliling sumur, terdapat tiga sosok mayat lain penduduk desa yang hilang beberapa tahun lalu, kini telah berubah menjadi pelayan Yin dengan tubuh membengkak dan membusuk.
Pendeta mayat itu memegang lonceng perunggunya, menyerap asap hitam pekat yang mengepul keluar dari dalam sumur.
"Mata Air Kematian," gumam Zhao Ying. "Sumur itu terhubung dengan titik nadi Yin di bawah bumi. Lonceng itu adalah artefak yang menyerap energi tersebut untuk memperkuat mayat-mayat ini."
"Tiga prajurit mayat dan satu pendeta. Formasi yang lumayan untuk sebuah desa fana," bisik Zeng Niu dingin. "Zhao Ying, ambil pasak kayu persiknya. Saat aku menarik perhatian mereka, tancapkan pasak itu di tiga titik pintu keluar. Kita akan mengunci mereka di dalam kuil ini."
"Kau akan melawan empat mayat hidup sendirian dengan golok karatan?!" Zhao Ying sedikit memucat.
"Aku tidak akan melawan mereka," Zeng Niu menyeringai tipis, sebuah senyum algojo yang sudah lama tidak terlihat. "Aku hanya akan membakar mereka."
Tanpa keraguan, Zeng Niu menendang pintu kayu lapuk di depannya hingga hancur berantakan.
BRAK!
Suara keras itu seketika memecah keheningan kuil. Keempat mayat hidup itu menoleh serentak. Mata mereka yang kosong dan membusuk menatap lurus ke arah Zeng Niu. Pendeta Mayat itu mengenali Zeng Niu, rahangnya terbuka mengeluarkan desisan amarah, mengingat mata kirinya yang ditusuk semalam.
Teng... Teng... Teng!
Pendeta itu menggoyangkan lonceng perunggunya dengan keras. Tiga mayat bengkak di sekeliling sumur langsung bangkit dan menerjang ke arah Zeng Niu dengan kecepatan buas layaknya binatang kelaparan!
"Datanglah," geram Zeng Niu.
Zeng Niu tidak mundur. Ia melemparkan gulungan tali rami yang telah direndam darah anjing dan belerang itu melintang di udara, lalu menancapkan salah satu ujungnya ke pilar kayu di sampingnya.
Mayat pertama yang menerjang ke arahnya tidak memiliki akal. Ia menabrak tali rami tersebut tepat di bagian dadanya.
ZSSSST!
"ARRRGHHH!"
Jeritan melengking yang bukan berasal dari pita suara manusia bergema di aula kuil. Darah anjing ber-elemen Yang ekstrem dan belerang bereaksi hebat dengan Yin Qi di tubuh mayat itu! Asap putih mengepul tebal, daging busuk mayat itu melepuh dan terbakar seketika seolah tersiram lahar panas.
Zeng Niu tidak tinggal diam. Memanfaatkan momentum mayat yang kesakitan itu, ia mengayunkan golok karatannya yang juga berlapis darah anjing tepat ke leher mayat tersebut!
CRAT!
Kali ini, dengan bantuan elemen Yang yang melemahkan energi spiritual mayat, tulang yang sekeras batu itu berhasil ditebas. Kepala mayat bengkak itu menggelinding ke tanah, tubuhnya ambruk dan mulai terbakar menjadi abu.
Satu tumbang. Sisa tiga.
Mayat kedua dan ketiga menerjang dari sisi kiri dan kanan, mencoba mengapit Zeng Niu. Di dunia fana, bertarung melawan banyak musuh sekaligus adalah hal tabu. Zeng Niu segera memutar tubuhnya, berguling di atas lantai kayu lapuk untuk menghindari cakar mematikan yang siap merobek punggungnya.
Luka di dadanya kembali menjerit, darah segar menembus perbannya. Namun adrenalin tempur menekan rasa sakit itu ke sudut terdalam pikirannya.
"Zhao Ying! Sekarang!" teriak Zeng Niu sambil merunduk menghindari sapuan tangan mayat bengkak.
Di ambang pintu, Zhao Ying bergerak dengan keanggunan masa lalunya meski tanpa kultivasi. Ia menancapkan tiga pasak kayu persik tua ke lantai membentuk formasi segitiga penutup jalan.
[Formasi Api Fana: Kunci Yang!]
Zhao Ying mengeluarkan batu pemantik, lalu melempar percikan api ke arah serbuk belerang yang telah ia taburkan di antara pasak-pasak tersebut.
WUUUSSH!
Api berkobar seketika, membentuk dinding api tipis yang memblokir pintu keluar kuil. Kayu persik tua memancarkan aura murni yang membuat mayat-mayat itu bergetar ketakutan.
Terjebak di dalam, Pendeta Mayat akhirnya turun tangan. Ia melesat dengan kecepatan jauh melampaui mayat lainnya, menerjang langsung ke arah Zeng Niu yang baru saja bangkit berdiri. Cakarnya yang panjang mengarah lurus ke jantung sang pemuda.
Zeng Niu memegang goloknya dengan kedua tangan, menahan cakar itu dengan sisi bilah golok.
TRANG!
Daya dorong pendeta mayat itu luar biasa kuat. Zeng Niu terseret mundur hingga punggungnya menghantam dinding kuil. Darah anjing di goloknya mulai menguap akibat intensitas Yin Qi dari sang Pendeta.
"Kau terlalu memaksakan diri, Mayat Busuk," geram Zeng Niu, urat-urat di lehernya menonjol.
Alih-alih terus menahan, Zeng Niu melepaskan tekanan goloknya secara tiba-tiba, membuat Pendeta Mayat itu kehilangan keseimbangan dan jatuh condong ke depan. Di detik yang sama, Zeng Niu menendang lutut mayat itu hingga patah, lalu melilitkan sisa tali rami berdarah anjing di tangannya langsung ke leher sang Pendeta!
ZSSSST! BLAAAAR!
Lilitan tali itu membakar leher Pendeta Mayat layaknya besi panas yang dililitkan ke kulit telanjang. Pendeta itu menjerit histeris, melepaskan lonceng perunggunya, dan meronta dengan liar.
Zeng Niu menarik tali itu sekuat tenaga dari belakang, menggunakan tubuhnya sebagai pemberat. Ini adalah pertarungan fisik murni, daya tahan seorang manusia melawan kebrutalan iblis.
"Terbakarlah dan kembali ke tanah!" raung Zeng Niu.
Tali rami itu akhirnya memutuskan leher Pendeta Mayat akibat reaksi pembakaran belerang yang ekstrem. Kepala pendeta itu jatuh ke lantai, dan tubuhnya seketika kehilangan nyala api kehidupan palsunya, terbakar menjadi arang hitam.
Dua mayat bengkak yang tersisa, melihat pemimpin mereka hancur, mencoba melarikan diri ke arah sumur. Namun Zhao Ying dengan sigap melemparkan sisa bubuk belerang ke dalam sumur dan menyalakan api pemantiknya.
Sumur Yin itu meledak dalam kobaran api fana, melahap dua mayat terakhir yang mencoba melompat ke dalamnya.
Keheningan perlahan kembali. Asap belerang dan bau daging terbakar memenuhi udara kuil tua tersebut.
Zeng Niu menjatuhkan goloknya yang kini sudah tumpul dan nyaris patah. Ia bersandar pada pilar kayu, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Darah menetes perlahan dari dada dan beberapa goresan kecil di lengannya.
"Kita berhasil," bisik Zhao Ying, berlari menghampiri Zeng Niu dan membantunya duduk. Mata gadis itu menyapu pelataran yang kini dipenuhi abu mayat. "Tanpa setitik pun Qi, kau membantai kelompok makhluk spiritual. Jika para jenius Sembilan Sekte melihat ini, mereka pasti akan mencungkil mata mereka sendiri karena malu."
Zeng Niu tertawa pelan di sela batuknya. "Ini jauh lebih melelahkan daripada membantai satu sekte."
Saat Zeng Niu bersiap untuk membalut lukanya, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di antara tumpukan abu Pendeta Mayat. Itu adalah lonceng perunggu tua yang jatuh tadi.
Anehnya, lonceng itu tidak berkarat sedikit pun. Benda itu memancarkan aura kuno yang sangat dalam, berbeda dengan Yin Qi murahan milik sang mayat.
Zeng Niu perlahan merangkak mendekat dan mengambil lonceng tersebut. Di permukaannya yang halus, terdapat sebuah ukiran aksara yang sangat rumit dan kuno.
Zhao Ying mendekat, menatap aksara itu. Ekspresi wajahnya seketika berubah. Dari lega menjadi sangat tegang.
"Itu... bukan aksara dunia fana," bisik Zhao Ying, suaranya bergetar pelan. Ia menunjuk ukiran tersebut. "Zeng Niu... aksara itu adalah Aksara Ketiadaan. Bahasa kuno dari duniaku... dari Tiga Puluh Tiga Surga."
Zeng Niu menghentikan gerakannya. Matanya menatap lonceng kecil di tangannya, lalu menatap ke arah sumur batu yang apinya perlahan mulai padam.
Bagaimana mungkin artefak dari Surga Atas bisa berada di tangan mayat tingkat rendah di Benua Selatan yang terisolasi ini?