Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perisai di Balik Bayang-Bayang
Satu Bulan Kemudian
Pagi di pinggiran kota dekat Pemakaman Umum Giriloyo selalu diawali dengan kabut tipis. Udara sedingin es itu membawa aroma tanah basah yang pekat, bercampur lamat-lamat dengan wangi magis sisa kembang kamboja yang gugur.
Bagi Sekar, kabut itu seperti tirai yang memisahkan masa lalunya yang kelam dengan hidupnya yang baru. Sudah satu bulan lamanya ia menyandang status sebagai istri Bramantyo. Meski hanya lulusan SMA, didikan keras kemiskinan masa lalu justru membentuk Sekar menjadi wanita yang tangguh. Pengalaman pahit memutar otak agar uang koin yang tersisa cukup untuk makan esok hari, menjadikannya sangat teliti. Kini, saat Bramantyo memberikan kepercayaan penuh untuk memegang seluruh keuangan, Sekar mengelolanya dengan sangat hati-hati, jauh dari kata royal.
Di dalam toko kelontong yang merangkap agen sembako itu, Bramantyo sedang menyusun kardus-kardus mi instan ke atas rak. Sesekali, gerakannya terhenti. Matanya melirik hangat ke arah sang istri yang sedang menyapu lantai semen.
Sekar makin hari makin terlihat cantik. Dulu, kecantikan itu terkubur di balik pakaian lusuh dan wajah kusam akibat penderitaan. Namun sejak menikah, Bramantyo memastikan istrinya mendapatkan pakaian yang layak. Ia bahkan membelikan kosmetik dan meminta Bu RT mengajari Sekar merawat diri. Kini, kulit Sekar tampak bersih berseri, memancarkan pesona alami yang membuat Bramantyo tak bisa berpaling. Ia menatap istrinya dengan dada yang bergemuruh oleh rasa syukur dan kekaguman.
Tiba-tiba, benak Bramantyo terlempar ke sore kelabu satu bulan lalu.
Saat itu, ia baru saja melangkah keluar dari gerbang TPU Giriloyo dengan hati hancur. Ia baru selesai menaburkan bunga di atas pusara mendiang istri pertamanya, Dania Kusuma, yang tewas tragis dalam kecelakaan. Kehilangan istri tercinta, yang beberapa tahun kemudian disusul kebangkrutan bisnis miliknya dan pengkhianatan Rania, istri keduanya yang berselingkuh, telah membuat hidup Bramantyo hancur seketika.
Namun di tengah keputusasaan sore itu, kupingnya menangkap jeritan histeris dari balik semak-semak jalan setapak sepi dekat makam. Dua preman kampung sedang mencengkeram dan mencoba mengoyak pakaian seorang gadis. Tanpa pikir panjang, sisa-sisa amarah dan harga diri Bramantyo yang membuncah membuatnya menerjang kedua bajing-an itu. Membuat kedua preman itu lari tunggang-langgang. Gadis yang diselamatkannya hari itu adalah Sekar.
"Mas Bram..." panggilan lirih itu seketika memutus lamunan Bramantyo.
Sekar sudah berdiri di sampingnya, membuat wajah Bramantyo melembut. Ada rona merah yang selalu terbit di pipi Sekar setiap kali wanita itu memanggilnya 'Mas'. Panggilan itu terlalu eksklusif, rahasia manis yang hanya boleh diucapkan saat mereka benar-benar berdua.
Jangankan orang luar, para pekerja di toko pun tidak ada yang tahu bahwa mereka telah menikah. Bramantyo sengaja menutup rapat rahasia pernikahan ini demi keselamatan Sekar dari kejaran masa lalunya.
Sekar sama sekali tidak keberatan.
Bagi Sekar, diselamatkan dan dijadikan istri sah oleh pria sehormat Bramantyo adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Malahan, di depan orang lain, Sekar merasa lebih aman memanggilnya 'Pak Bram'. Panggilan formal itu setidaknya bisa menyembunyikan detak jantungnya yang selalu berdegub kencang setiap kali Bramantyo menatapnya.
"Itu... kopi hitamnya kenapa dianggurin saja, Mas?" tanya Sekar, menunjuk cangkir seng di atas meja kasir yang mulai berhenti mengepulkan asap.
Bramantyo tersenyum tipis. Ia menurunkan gulungan lengan kemejanya, lalu melangkah mendekat. "Terima kasih, Sayang."
DEG.
Jantung Sekar serasa melompat.
Panggilan itu selalu berhasil membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah kian merona.
Namun, tajamnya tatapan Bramantyo tidak bisa dibohongi oleh senyuman malu-malu istrinya. Ada gurat kecemasan yang mendalam di mata wanita itu. Bramantyo mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut hitam legam Sekar yang masih agak basah akibat ulahnya semalam.
"Ada apa? Sejak subuh tadi kamu kelihatan gelisah. Apa kamu mimpi buruk, Sayang?" tanya Bramantyo, suaranya berat dan menenangkan.
Sekar menghela napas berat. Jemarinya meremas kuat-kuat ujung gagang sapu lidi yang dipegangnya hingga kukunya memutih. "Semalam... waktu saya mau mengunci pintu belakang, saya melihat ada mobil hitam mewah parkir agak jauh di bawah pohon beringin seberang jalan. Mobil itu... mirip sekali dengan mobil milik Pak Darman."
Mendengar nama itu, rahang Bramantyo mengeras seketika. Tatapannya mendadak sedingin es.
Darman.
Berdasarkan cerita Pak RT, Darman adalah pengusaha properti kelas menengah yang terobsesi pada Sekar. Lamaran pria tua itu sudah berkali-kali ditolak mentah-mentah karena Sekar tidak sudi dijadikan istri ketiganya.
Bramantyo sangat yakin, dua preman di pemakaman sebulan lalu adalah orang suruhan Darman untuk menculik Sekar, namun karena Sekar melawan, kedua preman itu berniat memperkosanya. Beruntung Bramantyo datang tepat waktu. Sayangnya, hingga saat ini Bramantyo belum punya bukti hukum yang kuat untuk menyeret Darman ke penjara.
"Tenang, Sayang," ucap Bramantyo, jemarinya beralih mengusap pipi Sekar yang mendadak dingin. "Dia tidak akan berani macam-macam di sini. Ada Mas, Ada Pak Joko dan warga kampung yang selalu berjaga."
"Mas tidak tahu seberapa licik dan nekatnya Pak Darman," suara Sekar mulai bergetar, kelopak matanya menggenang oleh air mata yang siap tumpah. "Dia punya uang, dia punya anak buah yang banyak. Saya takut... saya takut kalau dia sampai tahu kalau kita sudah..." Sekar menelan ludah, tidak sanggup melanjutkan kata 'menikah'.
Melihat ketakutan istrinya, insting protektif Bramantyo mendidih. Ia maju satu langkah, mencengkeram kedua bahu Sekar dengan tangan kekarnya yang kokoh. Sentuhan itu menyalurkan kehangatan dan kekuatan luar biasa, karisma seorang mantan bos besar Dirgantara Group yang sempat padam, kini menyala kembali.
"Dengarkan aku," bisik Bramantyo dengan suara rendah, namun penuh penekanan yang mutlak. "Sekarang kamu adalah istriku. Tanggung jawabku penuh. Darman mungkin punya uang untuk membeli preman, tapi dia tidak tahu dengan siapa dia sedang berurusan. Selama aku masih bernapas, seujung rambutmu pun tidak akan kubiarkan disentuh olehnya!"
Ada kilat berbahaya di mata Bramantyo.
Kehilangan Dania dan Elang telah menghancurkan separuh jiwanya di masa lalu. Kini, ia bersumpah demi langit dan bumi, ia tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya direnggut lagi untuk kedua kalinya.
TIIIIIT! TIIIIIT!
Keheningan toko pecah seketika. Suara klakson mobil yang nyaring, panjang, dan tidak sabaran memekakkan telinga dari arah depan toko.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam berhenti melintang, tepat di depan toko kelontong. Posisinya yang arogan sengaja memblokir jalan sempit kampung hingga beberapa warga yang ingin melintas terpaksa berhenti dengan wajah kesal.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria turun dengan setelan jas necis yang tampak sangat kontras dan mencolok di tengah lingkungan kumuh pinggiran makam Giriloyo. Pria itu memakai kacamata hitam, perutnya yang buncit menyembul di balik kancing kemeja, dan sebuah senyum meremehkan tercetak menjijikkan di bibirnya.
Darman telah datang. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap dengan wajah sangar penuh tato mengawal dengan ketat.
"Wah, wah, wah... jadi di sini tempat persembunyianmu, Sekar?" Suara Darman menggelegar sombong. Tanpa permisi, ia melangkah masuk ke dalam toko, membuat debu-debu jalanan ikut terhempas masuk.
"Kamu tidak perlu jadi babu rendahan di toko rongsok ini kalau butuh uang, Sekar. Cukup kamu terima tawaranku yang kemarin, hidupmu akan mewah jadi istri ketigaku!"
Mata Darman menyapu sekeliling rak barang dengan pandangan jijik, sebelum pandangan mesumnya terkunci pada Sekar. Ketakutan, Sekar langsung melangkah mundur, menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik punggung lebar Bramantyo.
Bramantyo tidak bergeming.
Ia menggeser tubuhnya setinggi satu senti, memastikan tubuh Sekar terlindung sepenuhnya. Dengan perlahan, ia mengangkat dagunya, mengunci pandangannya langsung ke manik mata Darman dengan tatapan mengintimidasi yang membuat atmosfer toko mendadak mencekam.
"Maaf, Pak," suara Bramantyo terdengar sangat tenang, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Kalau Anda tidak ada keperluan untuk membeli barang, silakan keluar. Toko kami sedang sibuk."
Darman tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang parau itu sarat akan penghinaan yang menyengat telinga.
"Kamu siapa? Oh, tukang kelontong melarat yang mau sok jadi pahlawan?" Darman melangkah maju, menunjuk dada Bramantyo dengan ujung jarinya. "Dengar ya, Jagoan. Jangan cari penyakit sama saya. Sekar ini punya urusan yang belum selesai dengan saya. Lebih baik kamu diam dan jangan ikut campur!"
Darman kemudian mengalihkan pandangannya pada Sekar. Tatapan matanya berubah, penuh nafsu sekaligus intimidasi yang pekat. "Sekar, sudahlah. Jangan keras kepala. Ikut saya sekarang. Saya bisa beri kamu rumah mewah, mobil, dan uang bulanan yang tidak akan pernah habis. Lebih besar dari gajimu menunggu toko kelontongan busuk ini!"
Ketakutan, Sekar makin merapatkan tubuhnya di balik punggung kokoh Bramantyo. Jantungnya bertalu hebat, apalagi saat melihat kedua anak buah Darman melangkah maju. Gestur tubuh mereka mulai mengepung, tangan-tangan kekar itu siap bergerak untuk menarik Sekar secara paksa.
Melihat itu, rahang Bramantyo mengeras. Urat-urat di lehernya menegang dan tinjunya mengepal amat erat. Detik itu juga, ia siap melayangkan hantaman mematikan pada mereka.
Namun...
"Heh! Setop! Mau ngapain kalian di kampung orang?!" sebuah teriakan melengking yang sangat akrab tiba-tiba memecah barikade ketegangan dari arah luar toko.
Bu RT melangkah masuk dengan cepat. Tangannya memegang gagang sapu lidi dengan kokoh, lalu tanpa ragu langsung diarahkan secara membabi buta pada dua anak buah Darman. Kedua preman berbadan besar itu langsung ajleng-ajlengan, melompat-lompat panik menghindari tebasan sapu Bu RT yang menyasar wajah mereka.
Ternyata tak hanya Bu RT yang datang. Di belakangnya, Pak Joko sang ketua RT menyusul dengan langkah tegap, ditemani beberapa pemuda karang taruna. Para pemuda itu langsung berdiri rapat di ambang pintu toko, membentuk barikade hidup yang mengunci jalan keluar.
"Selamat pagi. Ada keperluan apa Bapak-Bapak sekalian datang ke lingkungan kami dengan cara seperti ini?" tanya Pak Joko. Nada suaranya terdengar tenang, namun sarat akan penekanan yang berwibawa. Dua preman tadi langsung mundur dengan wajah dongkol, berlindung di belakang punggung Darman.
Darman menoleh. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya dengan gestur meremehkan. "RT? Hmmm... Baguslah kalau kamu ada di sini. Saya hanya mau menjemput calon istri ketiga saya. Tolong kalian jangan ikut campur," ujarnya sambil menunjuk Sekar dengan dagunya.
"Heh! Aki-aki tujuh mulud yang mukanya sudah mirip lagu 37 B!" semprot Bu RT, mengacungkan sapunya tepat di depan hidung Darman. Wajah wanita paruh baya itu memerah menahan amarah. "Sekali lagi kau datang ke sini mau maksa Sekar jadi istri ketigamu, kupukul pantat budugmu dan burungmu yang burut itu sampai pecah!"
Kontan saja, Darman refleks memegang pantat dan bagian depan celananya dengan wajah pucat karena terkejut sekaligus malu.
"Saya ketua RT di sini, sekaligus tetangga Sekar," tegas Pak Joko, melangkah maju menengahi. "Saya tahu persis siapa Sekar, dan saya yakin dia tidak memiliki urusan apa pun dengan Anda."
Mendengar itu, Darman tersenyum sinis. Ia merapikan jas necisnya dengan santai, mencoba menguasai kembali harga dirinya. "Jiwa-jiwa miskin seperti kalian ini, pantas wilayahnya tidak maju-maju. Harusnya kamu bangga sebagai RT karena saya mau menjadikan Sekar istri ketiga. Dengan begitu, orang miskin di wilayahmu berkurang satu! Pria dermawan semacam saya ini harusnya diberi penghargaan, bukan malah dilarang-larang!"
Pak Joko tidak gentar sedikit pun. Ia melirik ke luar toko, di mana para pemuda kampung mulai melipat tangan di dada dengan tatapan dingin, siap bergerak jika situasi memanas.
"Kami tidak melarang Anda untuk menikah lagi, Pak Darman. Asalkan cara yang Anda lakukan lebih beradab. Sayangnya, Sekar sudah berkali-kali menolak Anda," sahut Pak Joko tenang namun menohok.
"Maka dari itu! Harusnya Anda sebagai RT membujuk Sekar agar mau menikah dengan saya! Saya yakin dia akan menurut kalau Anda yang bicara!" bentak Darman, mulai kehilangan kesabaran.
Pak Joko menghela napas, lalu berbalik menghadap Sekar. "Begini saja, mari kita tanyakan langsung pada yang bersangkutan. Nak Sekar, tadi kamu sudah mendengar sendiri apa maksud kedatangan Pak Darman. Sekarang, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu."
Sekar meremas jemari Bramantyo yang tersembunyi di balik tubuh suaminya. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari lubuk hati, ia bersuara, "Pak RT, teu sudi abrig-abrigan dijadikan istri katilu. Bahkan jika di dunia ini pria hanya tianggal Pak Darman saja. Saya sampai mati, tetap menolak dijaikan istri ketiga Pak Darman..."
"Jadi, Nak Sekar menolaknya?" tanya Pak Joko memastikan.
"Jelas saya tolak, Pak RT!" tegas Sekar, suaranya tidak lagi bergetar.
Pak Joko kembali memandang Darman yang wajahnya kini merah padam karena tengsin. "Anda sudah mendengar sendiri jawabannya, kan, Pak Darman?"
"Kalian benar-benar mencari masalah dengan saya..." ancam Darman, suaranya merendah, sarat akan dendam.
"Kami tidak mencari masalah, Pak," ucap Pak Joko, suaranya tetap stabil dan berwibawa. "Namun, lingkungan Giriloyo ini punya cara sendiri untuk menjaga ketertiban. Jika ada tamu tidak diundang yang memaksakan kehendak, warga kami tidak akan segan-segan bertindak kompak."
Pak Joko maju satu langkah lagi, membuat jarak di antara mereka terasa makin intimidatif. "Dan perlu Anda ingat. Saat ini kami bersama pihak kepolisian sedang menyelidiki kejadian tidak menyenangkan yang menimpa Sekar sebulan lalu di dekat pemakaman. Siapa pun yang terindikasi kuat sebagai dalang di balik percobaan itu, polisi akan segera menyeretnya ke penjara. Ya... paling tidak, kalau polisi belum bergerak hari ini, lihatlah ke belakang Anda. Warga kami sudah sangat siap."
Mendengar gertakan halus namun mematikan dari Pak Joko, ditambah situasi di luar toko yang kini benar-benar dikepung oleh warga kampung yang membawa tatapan permusuhan, Darman sadar ini bukan waktu yang tepat untuk memicu amukan massa. Menghadapi hukum tertulis mungkin perkara gampang bagi isi dompetnya, tetapi menghadapi amukan fisik warga di dekat pekuburan terpencil adalah kebodohan yang fatal.
Darman mundur dua langkah, memberi isyarat kepada kedua anak buahnya untuk menurunkan tangan mereka. Ia lalu menatap Bramantyo dengan pandangan penuh dendam yang dingin.
"Hari ini kalian boleh merasa aman di balik punggung warga kampung. Tapi ingat... urusan kita belum selesai. Saya tahu cara membuat tempat sekecil ini menjadi sangat tidak nyaman untuk ditinggali."
Tanpa menunggu jawaban, Darman berbalik arah dengan gusar. Ia masuk ke dalam mobil sedannya yang segera melesat pergi, meninggalkan kepulan debu tebal yang mengotori halaman depan toko kelontong.
Suasana di dalam toko mendadak hening seketika.
Sekar yang sejak tadi menahan napas dan ketakutan, langsung terduduk lemas di atas kursi plastik. Pertahanannya runtuh; air matanya luruh deras akibat syok yang teramat sangat. Melihat itu, Bramantyo dengan sigap berlutut di samping istrinya. Ia menggenggam erat jemari Sekar yang sedingin es, menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang luar biasa di hadapan Pak RT dan istrinya.
Pak Joko menghela napas panjang, lalu melambaikan tangan kepada para pemuda di luar agar membubarkan diri secara tertib.
Sementara itu, Bu RT dengan sigap melangkah ke balik tirai toko dan kembali membawa segelas air hangat.
"Pak Bram, Nak Sekar... orang seperti Darman itu tidak akan menyerah begitu saja," ujar Pak Joko.
Ia menggeser sebagian pintu toko hingga merapat, memastikan privasi percakapan mereka terjaga dari kuping-kuping yang penasaran.
"Langkah kita mengikat kalian dalam pernikahan satu bulan lalu sudah sangat tepat untuk membentengi status Sekar. Tapi sekarang, kita harus jauh lebih waspada terhadap taktik kotor lain yang mungkin dia gunakan."
Bu RT menyerahkan gelas hangat itu ke tangan Sekar yang masih gemetar, lalu mengusap punggung wanita muda itu dengan kelembutan seorang ibu.
"Benar, Pak Bram! Orang berduit begitu biasanya licik, muka tebalnya minta ampun! Dia tidak akan maju sendiri lagi setelah dipermalukan warga, tapi bisa saja pakai cara culas buat mengusik toko ini. Mulai hari ini, kalau Pak Bram harus kulakan barang ke kota, jangan sekali-kali tinggalkan Sekar sendirian. Biar saya atau ibu-ibu PKK yang gantian menemani di sini. Kita jagani bareng-bareng!"
Bramantyo mendongak.
Ia menatap Pak Joko dan Bu RT secara bergantian.
Di balik penampilannya yang bersahaja sebagai pemilik toko kelontong di pinggiran makam, sepasang mata Bramantyo memancarkan kilat yang mendadak berbeda, kilat tajam dan dingin yang sudah bertahun-tahun tenggelam dalam keputusasaan.
Darman mengira dia sedang berhadapan dengan rakyat jelata yang bisa ditindas sesuka hati. Pengusaha properti kelas menengah itu sama sekali tidak menyadari, bahwa pria yang baru saja diancamnya adalah seorang Dirgantara. Singa yang mungkin telah kehilangan wilayah kekuasaannya akibat kebangkrutan, namun insting bertarung dan cakar tak terlihatnya masih jauh lebih dari cukup untuk mencabik-cabik siapa saja yang berani mengusik miliknya.
"Terima kasih, Pak RT, Bu RT. Bantuan kalian hari ini sangat berarti bagi kami," ucap Bramantyo.
Nada suaranya mendadak berubah. Suara itu terdengar begitu berat, tegas, dan dipenuhi wibawa yang absolut. Sebuah intonasi yang sempat membuat Pak Joko tertegun sesaat, karena getaran suara itu sama sekali tidak terdengar seperti ucapan seorang pedagang pasar biasa, melainkan seperti titah seorang penguasa tinggi.
Bramantyo berdiri tegak, memancarkan aura dominan yang mencengkeram ruangan. "Saya pastikan, apa pun cara yang akan dia gunakan nanti, dia tidak akan pernah bisa menyentuh Sekar. Sedikit pun tidak akan saya biarkan."
like+ bunga🌹🤭
kalo berkenan mampir ya thor😉