Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Penasaran
Suasana kamar Arvano terasa tenang setelah makan siang datang.
Cahaya matahari sore mulai masuk dari celah tirai besar, menciptakan bayangan lembut di lantai kamar yang rapi dan luas itu. Pendingin ruangan menyala pelan, membuat udara terasa sejuk.
Di atas meja kecil dekat ranjang, mangkuk bubur sudah hampir kosong. Gelas air tinggal setengah.
Dan Arvano kini duduk bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan Aurel yang sedang membereskan sendok perlahan.
Tidak ada suara lain selain dentingan kecil alat makan. Namun entah kenapa, suasana di antara mereka terasa berbeda.
Tidak terlalu canggung seperti sebelumnya. Seolah perlahan, ada tembok yang mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Aurel sesekali melirik diam-diam, kemudian cepat-cepat menunduk lagi. Karena sejak tadi, tatapan Arvano terasa aneh. Tidak sedingin biasanya. Dan itulah justru membuat jantung Aurel makin tidak tenang.
“Mas.” Aurel akhirnya membuka suara pelan.
Arvano masih menatapnya. “Hm?”
Aurel menggigit bibir sebentar. Seperti ragu ingin bertanya. Namun rasa penasarannya sejak rumah sakit benar-benar tidak bisa ditahan lagi. “Itu…”
Arvano menunggu.
“Kenapa waktu itu Mas nggak mau disuapin Mbak Erika.....” Aurel berhenti sebentar. “…..tapi malah mau disuapin saya?”
Arvano tidak langsung menjawab, tatapannya justru berubah lebih dalam. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
Aurel langsung panik sendiri. “Eeh, kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa kok,”
“Karena gue enggak suka dia.” Jawaban itu keluar begitu saja, dengan cepat dan datar.
Namun cukup membuat Aurel langsung diam. “Hah?”
Arvano memalingkan wajah sebentar ke arah jendela, lalu berkata lagi, “Hubungan gue sama Erika, bukan hubungan yang gue mau.”
Aurel mengerutkan kening kecilnya. “Maksudnya?”
Arvano menarik napas pelan. Untuk pertama kalinya, mulai bercerita tentang sesuatu yang selama ini tidak pernah dibahas pada siapa pun di rumah itu. “Orang tua gue dan orang tua dia kerja sama bisnis.”
Aurel diam mendengarkan.
“Papa sama ayahnya Erika ingin hubungan perusahaan lebih kuat.”
“Jadi dijodohin?” Ucap Aurel.
Arvano mengangguk kecil. “Awalnya cuma dikenalin, lama-lama semua orang nganggep kami pacaran.”
“Tapi Mas nggak mau?” Ucap Aurel yang penasaran.
“Enggak pernah mau.”
Aurel sedikit terdiam.
Entah kenapa, dadanya terasa aneh mendengar itu. “Tapi Mbak Erika kayak sayang sama Mas.”
Arvano tertawa kecil yang pendek dan dingin. “Itu yang semua orang lihat.”
Aurel menatapnya bingung.
Arvano melanjutkan, “Dia bukan sayang sama gue.”
“Terus?”
“Dia lebih tertarik sama nama belakang gue.” Kata itu membuat suasana langsung berubah sedikit lebih serius.
Aurel perlahan duduk di kursi dekat ranjang. “Mas tahu dari mana?”
Tatapan Arvano berubah tajam. “Gue nyuruh orang nyelidikin dia.”
Aurel langsung membulatkan mata. “Hah?!”
“Teman-teman Gue bantu.”
“Mas Alga?” Sahut Aurel.
“Iya. Sama Devon dan Fero.”
Aurel terdiam.
Aurel tidak menyangka Arvano bisa melakukan hal seperti itu diam-diam.
Arvano kembali bersandar. Wajahnya datar. “Ternyata dia selingkuh.” Ucapan itu keluar ringan, tapi terasa berat. “Dia dekat sama laki-laki lain dari awal hubungan.”
Aurel langsung tidak tahu harus bereaksi bagaimana. “Terus, Mas gimana?”
“Gue, ya biasa saja.”
“Hah?” Sahut Aurel yang heran.
Arvano meliriknya. “Gue memang enggak pernah cinta sama dia.” Jawaban itu begitu tenang dan begitu dingin. Namun justru membuat Aurel tidak bisa berkata-kata.
Karena dari cara Arvano bicara, terlihat jelas. Arvano benar-benar tidak punya perasaan apa pun dengan Erika. “Papa tetap mau kerja sama bisnis jalan,” lanjut Arvano. “....Makanya hubungan itu belum benar-benar selesai.”
Aurel perlahan mengangguk. Sekarang semuanya mulai masuk akal. Kenapa Arvano selalu datar kalau membahas Erika ? Dan kenapa Arvano menolak perhatian dari wanita itu ?
Suasana kamar kembali hening beberapa saat.
Namun di dalam hati Aurel, ada sesuatu yang berubah pelan. Entah kenapa, setelah mendengar semuanya Ia justru merasa lega. Padahal itu bukan urusannya.
Padahal seharusnya Aurel tidak perlu memikirkan hubungan Arvano dan Erika, tapi tetap saja ada rasa ringan yang muncul di dadanya.
Dan itu membuat Aurel sendiri bingung. “Kenapa aku malah lega sih…” batinnya.
Sementara itu, Arvano diam-diam memperhatikan ekspresi Aurel dan untuk pertama kalinya, merasa nyaman menceritakan sesuatu pada orang lain.
Biasanya, Arvano selalu menutup diri. Tidak suka menjelaskan apa pun. Namun bersama Aurel, semuanya terasa lebih mudah.
Tak lama kemudian, Arvano akhirnya menghabiskan makanannya. Aurel langsung berdiri mengambil mangkuk dan gelas. “Nanti obatnya jangan lupa diminum lagi ya.”
“Hm.”
Aurel tersenyum kecil, lalu berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar.
“Aurel.” Ucap Arvano memanggilnya pakai nama.
Aurel langsung menoleh. “Iya?”
Tatapan Arvano tertahan beberapa detik pada wajahnya Aurel, lalu berkata pelan, “Makasih.”
Aurel langsung membeku, karena itu pertama kalinya Arvano mengucapkan terima kasih. padanya dengan nada setulus itu.
Wajah Aurel langsung memanas. “I-iya.” Dan ia buru-buru keluar sebelum jantungnya makin kacau.
Begitu sampai di bawah, suasana rumah terasa tenang. Indah dan Bagaskara sedang duduk di ruang tamu sambil berbicara pelan.
Begitu melihat Aurel turun membawa nampan kosong, Indah langsung menoleh. “Sudah makan?”
Aurel mengangguk cepat. “Sudah, Bu.”
“Obatnya?”
“Sudah diminum juga.”
Indah tersenyum kecil lega. “Nurut juga ternyata.”
Bagaskara yang sejak tadi diam ikut bicara, “Dia memang keras kepala kalau sakit.”
Aurel tersenyum canggung kecil. “Iya.” Namun dalam hati, Ia justru teringat sisi lain Arvano tadi.
Sisi yang tidak semua orang tahu.
Setelah semua pekerjaan selesai, Rumah kembali tenang. Feni beristirahat di dapur belakang.
Satrio sedang di pos depan. Indah masuk ke ruang kerjanya. Dan Aurel akhirnya duduk di taman samping rumah.
Angin sore bertiup pelan. Aurel memeluk lututnya sendiri sambil memikirkan banyak hal. Tentang Arvano, entang Erika, dan tentang dirinya sendiri.
Kenapa akhir-akhir ini, jantungnya selalu aneh setiap dekat Arvano?
Sementara itu di lantai atas, Arvano masih belum tidur. Arvano berdiri di dekat jendela kamar. Tatapannya mengarah ke taman bawah, dan dari sana Arvano bisa melihat Aurel duduk sendirian, dengan diam, dan tenang.
Arvano memperhatikan tanpa sadar, lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Sangat tipis.
Namun belum sempat pikirannya tenang, Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama di layar membuat ekspresinya langsung berubah dingin. Erika Calling.
Arvano menatap layar itu beberapa detik, kemudian mengangkatnya perlahan. “Kenapa?”
Suara Erika terdengar pelan dari seberang. “Aku cuma mau bilang…” Hening sesaat. “…aku nggak akan tinggal diam lihat pembantu itu dekat sama kamu.”
Tatapan Arvano langsung berubah tajam. Dan di taman bawah, Aurel sama sekali belum tahu bahwa dirinya baru saja menjadi target utama seseorang.