NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pemandangan dari Sangkar Emas

Udara di ruang kerja itu terasa membeku. Jantung Aletta berdebar begitu keras hingga ia yakin Xavier bisa mendengarnya. Jarak mereka tak lebih dari satu jengkal. Pria itu mengurungnya, menatapnya dengan kilat mata kelabu yang memancarkan badai, sementara jejak kemerahan di rahangnya menjadi bukti nyata dari tamparan Aletta.

​Alih-alih membalas tamparan itu atau mencekiknya, Xavier perlahan menarik wajahnya menjauh. Pria itu menunduk, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang terlampau tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Aletta meremang.

​"Simpan sisa tenagamu, Sayang," ucap Xavier dingin, tanpa menatap Aletta. Pria itu berjalan kembali ke arah meja kerjanya dan menekan sebuah tombol interkom. "Greta, masuk ke ruanganku sekarang."

​Hanya dalam hitungan detik, pintu ganda itu terbuka. Kepala pelayan paruh baya yang tadi menyambut Aletta melangkah masuk dan menunduk hormat. "Ya, Tuan Xavier?"

​"Bawa istriku ke kamarnya," perintah Xavier mutlak, seraya menuangkan kembali wine ke dalam gelasnya. "Pastikan dia tidak keluar selangkah pun dari ruangan itu malam ini. Jika sampai dia berhasil kabur, aku akan meminta pertanggungjawaban dari nyawamu dan seluruh penjaga yang bertugas."

​Nyonya Greta menelan ludah, wajahnya sedikit memucat. "Baik, Tuan." Ia segera menoleh pada Aletta. "Mari, Nona."

​Aletta menatap punggung tegap Xavier dengan dada bergemuruh. Ia ingin merutuk, menjerit, dan memaki pria brengsek itu. Namun, ancaman Xavier tentang nyawa ayahnya kembali terngiang di telinganya. Dengan langkah berat dan kepalan tangan yang memutih, Aletta akhirnya berbalik dan mengikuti langkah Nyonya Greta.

​Mereka menyusuri lorong sayap kanan mansion yang sunyi senyap. Setiap sepuluh meter, berdiri pengawal berpakaian hitam yang berjaga dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada jalan keluar. Tempat ini benar-benar benteng dengan pengamanan tingkat tinggi.

​Nyonya Greta membuka sebuah pintu berukir putih dan mempersilakan Aletta masuk. "Ini kamar Anda, Nona. Pakaian ganti dan perlengkapan mandi sudah disiapkan di dalam walk-in closet. Selamat istirahat."

​Tanpa menunggu jawaban Aletta, Nyonya Greta menutup pintu dari luar. Terdengar bunyi klik yang berat—pintu itu dikunci dari luar.

​Aletta mematung di tengah ruangan. Kamar itu luar biasa luas, mungkin besarnya seukuran seluruh apartemen lamanya. Lantainya dilapisi karpet bulu tebal berwarna krem, ranjang berukuran king-size dengan pilar dan kelambu sutra berada di tengah, serta sebuah balkon besar dengan pintu kaca tebal.

​Gadis itu berlari menuju balkon, mencoba membuka pintunya. Terkunci. Ia menempelkan wajahnya di kaca, menatap ke luar. Hujan masih turun deras. Dari posisinya yang berada di lantai tiga, ia bisa melihat halaman belakang mansion yang sangat luas, dikelilingi pagar beton setinggi empat meter dengan kawat berduri dan kamera pengawas di setiap sudut. Bahkan, ia bisa melihat anjing-anjing penjaga jenis Doberman berpatroli bersama beberapa pria bersenjata laras panjang.

​Lutut Aletta seketika melemas. Tubuhnya merosot ke lantai, menempel pada kaca balkon yang dingin. Pertahanannya akhirnya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menangisi ayahnya yang entah bagaimana kondisinya sekarang, menangisi nasibnya, dan menangisi kebebasannya yang direnggut paksa hanya dalam waktu satu malam.

​"Ayah..." isak Aletta pelan sambil memeluk lututnya sendiri.

​Namun, Aletta bukan wanita lemah. Setelah menangis selama hampir satu jam, ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia bangkit berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya memerah dan rambutnya berantakan.

​"Kau tidak boleh terlihat menyedihkan, Aletta," bisiknya pada dirinya sendiri, menyuntikkan keberanian. "Menangis tidak akan melunasi hutang dua triliun itu. Kau harus kuat. Setidaknya, sampai kau bisa memastikan ayahmu aman."

​Malam itu, Aletta membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk tersebut. Meskipun kasur itu terasa seperti awan, matanya tak kunjung terpejam. Kewaspadaannya terus menyala, mengantisipasi jika sewaktu-waktu iblis itu mendobrak masuk. Namun, hingga pagi menjelang, pintu kamar itu tidak pernah terbuka.

​Ketukan di pintu membangunkan Aletta dari tidur singkatnya yang tak nyenyak. Sinar matahari pagi menembus celah gorden raksasa.

​Pintu terbuka, menampilkan Nyonya Greta dan dua pelayan muda yang membawa nampan berisi gaun dan kotak perhiasan.

​"Selamat pagi, Nyonya," sapa Greta, kali ini dengan panggilan yang berbeda. "Tuan Xavier meminta Anda bersiap. Beliau menunggu Anda di ruang makan utama dalam waktu tiga puluh menit."

​Aletta menghela napas panjang. Ia menatap gaun midi berbahan silk berwarna biru safir yang dibawa pelayan. Sangat elegan dan mahal.

​Tiga puluh menit kemudian, Aletta melangkah turun ke ruang makan utama. Ruangan itu tak kalah megahnya, dengan meja makan panjang dari marmer yang bisa menampung dua puluh orang. Namun, hanya ada satu orang di sana.

​Xavier duduk di ujung meja, mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi yang membuatnya terlihat luar biasa berwibawa, berbahaya, sekaligus memabukkan. Pria itu tengah menyesap kopi hitam sambil membaca sesuatu di tabletnya.

​Mendengar langkah kaki Aletta, Xavier mengangkat wajah. Tatapan matanya yang tajam memindai tubuh Aletta dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gaun safir itu melekat sempurna di tubuh ramping Aletta, mengontraskan kulit putih bersihnya. Ada kilatan kepuasan di mata pria itu, namun wajahnya tetap datar.

​"Duduk," titahnya singkat.

​Aletta menarik kursi yang letaknya berlawanan arah dengan Xavier, sejauh mungkin dari pria itu. Namun, sebelum ia sempat duduk, suara berat Xavier menghentikannya.

​"Di sebelahku."

​Aletta menegang. Ia menatap Xavier dengan sorot menantang. "Meja ini cukup besar untuk membuat kita tidak perlu bernapas di udara yang sama."

​Xavier meletakkan cangkir kopinya. Bunyi dentingan keramik itu menghentikan seluruh pergerakan pelayan di ruangan, atmosfer mendadak berubah tegang. Pria itu menatap Aletta lekat. "Jangan membuatku mengulangi perintahku, Aletta. Duduk. Di. Sebelahku."

​Tidak ada nada membentak, namun dominasi dalam suaranya mutlak dan tak terbantahkan. Menyadari bahwa berdebat hanya akan memperburuk situasi, Aletta mengalah. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi tepat di sebelah kanan Xavier.

​Xavier menyeringai tipis, lalu menggeser tablet yang sejak tadi dipegangnya ke hadapan Aletta.

​Napas Aletta tercekat melihat layar tablet tersebut. Itu adalah tayangan kamera pengawas (CCTV) secara live. Di dalam layar, terlihat ayahnya sedang tidur di atas ranjang rumah sakit yang mewah, lengkap dengan perban di kepalanya, diawasi oleh dua pria berjas hitam di depan pintu ruang rawat.

​"Ayahku..." bisik Aletta, matanya berkaca-kaca menatap layar itu.

​"Dia mendapatkan perawatan medis terbaik pagi ini," ucap Xavier santai, memotong daging steak di piringnya. "Dia aman, kenyang, dan dirawat dengan baik. Tapi ingat, Aletta..."

​Xavier mencondongkan tubuhnya ke arah Aletta, aroma maskulinnya menginvasi indra penciuman gadis itu.

​"...keamanan ayahmu bergantung sepenuhnya pada tingkah lakumu. Jadilah istri yang patuh di siang hari, dan jadilah wanitaku yang penurut di malam hari, maka ayahmu akan tetap bernapas."

​Aletta mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan amarah yang mendidih. Ia menoleh, menatap tepat ke dalam mata kelabu pria itu.

​"Kau iblis, Xavier," desis Aletta tajam. "Aku mungkin akan mematuhimu karena keadaan. Tapi ingat ini... sampai mati, kau tidak akan pernah bisa mengendalikan pikiranku, apalagi mendapatkan hatiku."

​Bukannya marah, bibir Xavier justru melengkung membentuk sebuah senyuman penuh arti. Tangannya terulur, menyelipkan anak rambut Aletta ke belakang telinga gadis itu dengan sentuhan yang ironisnya terasa lembut, namun mematikan.

​"Kita lihat saja nanti, Sayang. Waktu kita masih sangat panjang," bisik Xavier, sebelum kembali memotong sarapannya seolah percakapan menegangkan itu tidak pernah terjadi.

​Perang dingin di antara mereka baru saja dimulai.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!