NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan di Bawah Surya dan Jejak di Dunia Maya

  Siang itu, matahari bersinar sangat terik, menggantung tinggi di atas langit biru SMA Merdeka. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu yang paling sepi di sekolah. Para siswa sudah pulang, guru-guru sudah kembali ke ruangan atau ke rumah, dan lapangan olahraga biasanya hanya akan diisi oleh angin yang berhembus pelan dan debu yang beterbangan. Tapi hari ini, suasananya sangat berbeda.

Di tengah lapangan rumput yang mulai menguning karena panas, ada sekelompok anak muda yang sedang bergerak lincah. Ada sekitar sepuluh orang, terdiri dari teman-teman sekelas Dika dan beberapa anak kelas lain yang tertarik mengikuti ajakan latihan tambahan itu. Di antara mereka, ada Rio yang napasnya mulai terengah-engah tapi tetap berusaha kuat, ada Doni yang terus saja bercerita tapi tetap fokus, dan ada Raka yang tampak paling bersemangat, matanya tak lepas dari Dika seolah Dika adalah guru besar yang sedang mengajarkan ilmu rahasia kepadanya.

Dika berdiri di depan mereka, keringat sudah mulai membasahi dahi dan punggungnya, tapi tatapannya tetap tajam dan tenang. Di tangannya, ia memegang dua buah bola sepak, kakinya menggerak-gerakkan bola itu pelan seolah bola itu menempel sempurna pada sol sepatunya.

"Baiklah, teman-teman," suara Dika terdengar jelas dan tegas, membelah suara desiran angin, "Sebelumnya kita hanya latihan apa yang diperintahkan Pak Budi. Itu bagus dan mendasar. Tapi hari ini, kita akan belajar hal lain. Hal yang tidak diajarkan di buku pelajaran, tapi dipakai oleh para pemain terbaik dunia. Ingat satu hal: Sepak bola itu dimainkan dengan kepala. Kaki hanya alat pelaksananya."

Raka mengangkat tangan dengan antusias. "Maksudnya gimana, Dik? Kan kalau main bola ya pasti pakai kaki, kalau pakai kepala kan cuma waktu tandukan doang?"

Beberapa teman tertawa mendengar pertanyaan polos itu, tapi Dika justru tersenyum sabar. Ia mendekat ke arah Raka.

"Maksudku begini, Raka. Coba kamu ingat kemarin pas kamu bawa bola. Kamu lari kencang sekali, kan? Tapi pas kamu lari, kamu cuma lihat bola di kakimu dan gawang di depan. Kamu nggak sadar kalau ada dua temanmu yang lari kosong di sisi kiri dan kanan. Akhirnya kamu dikepung tiga orang, bola direbut, dan kita kena serangan balik. Betul nggak?"

Raka tertegun, lalu mengangguk malu. "Iya... iya, sih. Aku cuma mau langsung masuk aja soalnya percaya diri bisa lewat."

"Nah, itu dia. Pemain hebat itu, saat dia bawa bola, matanya tidak melihat ke bawah. Matanya melihat ke sekeliling, melihat posisi teman, melihat posisi lawan, menghitung jarak, menghitung kecepatan. Semua itu dipikirkan dalam hitungan detik. Jadi sebelum kaki kamu menendang atau menggiring, kepalamu sudah tahu mau ke mana bolanya pergi," jelas Dika dengan rinci, menggunakan pengetahuan taktis yang dia serap selama puluhan tahun menonton dan membaca tentang sepak bola di masa depan.

Dia lalu memberi contoh dengan menggiring bola berputar di antara kerumunan teman-temannya, matanya menatap lurus ke depan, tidak pernah sekalipun melirik ke bawah ke arah bola. Ia melewati satu, dua, tiga orang teman yang mencoba menghalangi dengan gerakan halus dan perubahan arah mendadak yang sangat rapi. Semua orang terpana melihatnya. Gerakan itu bukan sekadar lari cepat atau kuat, tapi sangat indah dan terukur.

"Wah... gila... kayak si Zidane deh gayanya," gumam Doni tak sengaja, teringat pemain legendaris yang sering ditontonnya di televisi.

"Nah, seperti itu contohnya," kata Dika berhenti tepat di depan Raka sambil tersenyum, "Sekarang kita latihan sederhana. Namanya latihan pandangan luas. Caranya: kita buat segitiga. Raka di sini, Doni di sana, aku di tengah. Kita oper bolanya satu sama lain, tapi syaratnya, saat mengoper, kepala harus menoleh ke arah orang lain dulu baru menendang. Jangan lihat bola, jangan lihat siapa yang dikasih. Rasakan saja posisi temanmu. Latihan ini buat melatih insting dan pemetaan lapangan di kepala kita."

Latihan pun dimulai. Awalnya sangat berantakan. Bola sering salah sasaran, ada yang mengoper ke tempat kosong, ada yang menendang terlalu keras sampai bola melayang jauh keluar lapangan. Rio yang kebetulan jadi satu kelompok dengan Raka, beberapa kali sampai mengeluh sambil tertawa.

"Aduh, Rak! Jangan main hajar saja dong! Kalau dikasih bola rasanya kayak kena lempar batu! Tulang aku bisa copot nih kalau begini caranya!" seru Rio sambil mengusap dadanya yang baru saja kena tendangan bola keras dari Raka.

Raka cengengesan malu. "Maaf, maaf! Kebiasaan soalnya, kalau nendang suka pakai tenaga penuh."

Dika segera mendekat, memperbaiki posisi kaki Raka. Ia memegang pergelangan kaki Raka, mengarahkan sudut kakinya, dan menjelaskan dengan sabar.

"Raka, kekuatan itu bagus, tapi kalau nggak ada kendalanya, itu jadi senjata makan tuan. Lihat... kalau mau oper pendek datar, kakinya dikunci, sentuh bolanya di tengah, dan ayunannya pendek saja. Kekuatan itu nanti kita pakai kalau sudah jauh dari gawang atau kalau mau lewati penjaga gawang. Ingat, Kontrol adalah raja."

Dika mendemonstrasikannya sekali lagi. Tendangannya tidak terlalu keras, tapi bola meluncur sangat cepat, datar, dan tepat di kaki Rio seolah punya magnet. Perbedaannya sangat terasa. Raka mengangguk paham, mulai meniru gerakan itu perlahan.

Siang itu berlalu dengan sangat produktif. Mereka berlatih bukan hanya fisik, tapi juga otak. Dika mengajarkan teknik-teknik dasar yang benar: cara berdiri yang tepat saat bertahan, cara berlari hemat tenaga, cara bergerak tanpa bola agar berguna bagi tim. Hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele tapi menjadi pembeda antara pemain biasa dan pemain hebat.

Sampai matahari mulai condong ke barat, kulit mereka mulai terbakar matahari, dan keringat sudah membasahi seluruh badan, Dika baru berseru mengakhiri sesi latihan itu.

"Cukup untuk hari ini! Kalian semua hebat! Perubahan kalian sudah terlihat cuma dalam beberapa jam ini. Bayangkan kalau kita latihan seperti ini rutin setiap hari. Setahun lagi, kita bakal jadi tim yang paling ditakuti se-Jawa Timur, aku jamin!" seru Dika dengan suara parau namun penuh semangat.

Teman-temannya bersorak lelah tapi bahagia. Raka langsung berlari menghampiri Dika, wajahnya berseri-seri penuh kekaguman.

"Makasih banyak ya, Dik! Aku baru tahu, ternyata selama ini aku main bola cuma mengandalkan tenaga doang. Ternyata banyak banget hal yang harus dipikirkan. Mulai sekarang aku mau ikut latihan terus sama kamu, boleh kan?"

Dika menepuk bahu Raka dengan erat. "Boleh banget, Rak. Justru aku senang. Kita tumbuh bareng-bareng ya. Kamu punya fisik emas, kalau ditambah otak main yang bagus, kamu bakal jadi bek atau penyerang kelas dunia nanti."

Setelah mandi sebentar di kamar mandi umum sekolah dan berganti pakaian yang lebih rapi, Dika dan Rio berjalan beriringan meninggalkan gerbang sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Langit mulai agak oranye, udara sore terasa sejuk menyapa kulit yang masih hangat.

"Gila, Dik... kaki aku rasanya kayak mau copot nih," keluh Rio sambil berjalan pincang-pincang lucu, mengadah ke langit. "Tapi... jujur saja, rasanya puas banget. Biasanya pulang sekolah rasanya kosong saja, nggak ada yang berkesan. Hari ini rasanya... lengkap. Kayak kita baru aja kerjain hal besar."

Dika tersenyum setuju. "Karena kita lakukan dengan hati, Rio. Nah, sekarang waktunya misi kedua kita. Kamu masih ingat kan janjimu?"

Rio menoleh dengan mata menyipit bingung, lalu tiba-tiba matanya membelalak ingat. "Ah! Iya! Si 'Koin Bit' itu! Kita mau ke warnet kan? Waduh... aku kira kamu cuma ngomong doang tadi pagi. Beneran mau cari tahu?"

"Beneran banget. Ini penting, Rio. Percaya sama aku," jawab Dika mantap.

Jarak dari sekolah ke pusat keramaian kota tempat banyak warnet berjejer sekitar lima belas menit berjalan kaki. Di tahun 2010 ini, warnet adalah tempat paling ramai, tempat anak muda berkumpul untuk bermain Point Blank, WarCraft, atau sekadar berselancar di dunia maya. Komputer-komputernya masih menggunakan tabung, koneksi internet masih dial-up atau jaringan kabel yang agak lambat, dan biayanya sekitar dua ribu hingga tiga ribu rupiah per jam.

Sesampainya di depan sebuah warnet bernama "Netcom", Dika menarik napas panjang. Bau khas ruangan ber-AC, bau rokok sisa pengunjung, dan suara bising ketikan keyboard langsung menyambut hidung dan telinga mereka saat pintu kaca itu dibuka. Suasana di dalam cukup gelap, hanya diterangi cahaya monitor yang berkedip-kedip. Banyak anak muda duduk berjejer, fokus pada layar masing-masing, ada yang berteriak-teriak main game, ada yang diam saja mengobrol di mIRC atau Facebook.

Dika dan Rio mendatangi meja kasir, membayar uang sewa dua komputer selama dua jam, lalu menuju ke bangku di bagian sudut belakang yang agak sepi. Rio duduk dengan canggung, jari-jarinya menyentuh papan ketik seolah benda itu benda asing, sementara Dika duduk tegak, matanya berbinar menatap layar monitor besar di depannya. Bagi Rio, ini tempat hiburan biasa. Tapi bagi Dika, ini adalah gerbang menuju masa depan.

"Oke, Rio. Perhatikan baik-baik ya," bisik Dika sambil menggerakkan tetikus pelan-pelan.

Ia membuka peramban internet yang saat itu populer, Mozilla Firefox, lalu mengetikkan alamat situs mesin pencari yang masih sangat sederhana tampilannya. Di kolom pencarian, Dika mengetikkan satu kata kunci: Bitcoin.

Rio mencondongkan badannya mendekat, menatap layar dengan mata terbelalak penasaran. "Bit... coin... Apaan tuh? Emangnya ada isinya?".

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!