Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tahta Baru
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di Rumah Sakit, Meshwa akhirnya diizinkan untuk pulang. Ia kembali ke rumah kontrakan yang ada di Kabupaten W. Tentu hal ini karena pekerjaannya yang belum selesai dan juga ada jadwal kontrol di Rumah Sakit tempatnya menjalani Operasi kemarin.
Kedua orang tua, juga Kakak - Kakak Meshwa pun sudah kembali ke rumah masing - masing. Tinggalah Arjuna dan Meshwa saja yang berada di kontrakan itu sekarang.
"Mas, apa kita gak perlu lapor ke Pak RT? Kalau di gerebek, gimana?" Tanya Meshwa.
"Bapak sebelah (pemilik kontrakan) sudah laporan ke Pak RT, Dek. Kan kemarin beliau yang jadi saksi nikah kita. Beliau juga yang carikan penghulu." Jawab Ajuna.
"Mas gak apa - apa kelamaan di sini? Kasihan Bopo kalau Mas tinggalin kerjaan terlalu lama." Kata Meshwa.
"Mana ada Bopo Mas tinggalin kerjaan, Dek? Lihat aja itu email mas banyak kiriman kerjan dari Bopo." Kata Arjuna.
"Bopo itu kan sama kayak Romonya dan juga saudara kembarnya. Anti rugi club." Imbuh Arjuna yang membuat Meshwa tertawa.
"Kamu mau ngapain, Dek?" Tanya Arjuna.
"Mau nyuci baju. Tuh baju kotor kita udah banyak." Jawab Meshwa.
"Biar Mas aja yang nyuci." Kata Arjuna.
"Apaan sih, Mas. Orang cuma di lemparin ke mesin cuci aja." Sahut Meshwa sambil berjalan membawa beberapa pakaian miliknya dan Arjuna yang kotor.
"Ya Allah, nikmatnya punya istri. Cuma sayang belum bisa masuk surga aja." Kekeh Arjuna yang bermonolg.
"Sayang, nanti biar Mas aja yang jemurin bajunya. Mas kerja sebentar, kamu jangan pecicilan dulu nanti jahitannya lepas." Seru Arjuna.
"Iya, bawel. Lagian aku cuma jalan, gak koprol atau lompat - lompat." Gerutu Meshwa dari ruang loundry.
Arjuna pun terkikik mendengar gerutuan Istrinya. Ia masih tak mengira akan bisa menikahi pujaan hatinya secepat ini.
"Memang bener, segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Bisa nikah cepet kayak gini, contohnya. Walaupun cuma bisa raba - raba." Kekeh Arjuna.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara salam dri depan rumah kontrakan mereka.
"Waalaikumsalam." Jawab Arjuna sambil beranjak menuju ke depan untuk membukakan pintu.
"Loh! Kok udah pada sampe sini?" Tanya Arjuna saat melihat Ayah, Ibu, Buna, Bopo dan Cima yang baru sampai.
"Iyalah, mau jengukin mantu yang baru pulang dari Rumah Sakit." Jawab Raina yang kemudian masuk bersama Saira.
"Ini di beresin, Nang." Kata Arsha sembari menyerahkan beberapa bungkusan plastik.
"Ini juga." Imbuh Aksa yang menambahkan beban bawaan Arjuna.
"Ini apaan sih Yah, Po? Banyak banget." Tanya Arjuna.
"Lauk - lauk buatan Yang Ti, Ibu sama Bunamu. Biar mantu barunya gak repot masak tiap hari." Jawab Arsha.
"Ya Allah, Mas Junaaa! Istri baru pulang dari Rumah Sakit, abis Operasi kok di suruh nyuci kayak gini." Terdengar suara Raina yang ternyata mencari keberadaan Meshwa hingga ruang loundry.
"Meshwa yang mau, Bu." Sahut Arjuna yang segera menyusul Ibu dan Bunanya ke belakang. Sementara Arsha dan Aksa hanya bisa tertawa geli melihat kerepotan Arjuna.
"Nyuci pake mesin cuci kan kamu bisa sih, Mas. Lihat nih, istrimu ngucek daleman gini, kamu juga gak tau. Orang baru juga sampe di rumah." Omel Raina.
"Tadi Mas Juna udah ngelarang kok, Bu. Tapi Meshwa yang mau, soalnya gak enak ini ada flek." Kata Meshwa sambil nyengir.
"Nggak apa - apa kok, Mbak. Mas Juna sekali2 cuciin kayak gitu. Lagian kan bukan karena Mbak males, tapi memang karena lagi sakit." Kata Saira.
"Tuh kan, Dek. Mas bilang juga apa tadi. Mas aja yang ngerjain. Kamu tuh diem aja di tempat tidur, jangan gerak - gerak." Kata Arjuna yang jadi sewot.
"Ya gak gitu juga kalik, Mas." Kekeh Saira sambil memukul bahu Arjuna.
"Ya nanti kalo istriku gerak dikit, aku yang di marahin sama mertuanya." Sindir Arjuna yang justru membuat tiga wanita itu tertawa.
"Udah ayo masuk, Mbak. Biar ini di lanjutin sama Mas Juna." Ajak Raina yang kemudian menggandeng Meshwa.
"Maaf ya, Mas." Kata Meshwa yang hanya bisa cengar - cengir.
"Iya gak apa - apa. Istirahat aja dulu di dalem sama Ibu dan Buna." Ujar Arjuna.
"Itu yang di dalem plastik di atas meja, biari aja, Dek. Nanti biar Mas aja yang beresin." Kata Arjuna yang sudah terlebih dulu mengantisipasi omelan Ibunya.
Arjuna pun kemudian menyelesaikan proyek kecil yang di kerjakan oleh Meshwa sebelum kembali ke dapur untuk menyusun berbagai macam lauk pemberian keluarganya. Setelah selesai, barulah Arjuna turut bergabung dengan keluarganya yang sedang bersantai sambil mengobrol di ruang keluarga.
"Jangan nggelendotin Mbaknya gitu, Cim. Nanti kesenggol lukanya. Kasihan Mbak Meshwa masih sakit itu." Tegur Raina.
"Gak kena kok, Bu. Iya kan, Mbak?" Kata Shima.
"Iya, gak apa - apa." Jawab Meshwa.
"Nanti kalo gak sadar, terus kena, gimana? Duduk yang bagus aja, ya." Kata Saira.
"Ihh, Ibu, Buna! Aku kan kangen sama Mbak Meshwa. Masak mau deket - deket aja gak boleh." Protes Shima.
"Cim, sini dek, Sayangku, sama Mas Juna aja. Senasib kok kita, tiba - tiba jadi anak tiri. Kalah tahta sama mantu perempuannya." Kata Arjuna yang di sambut gelak tawa oleh keluarganya.
"Itu nanti beras di mobil di turunin, Nang. Bopo lupa mau nurunin." Kata Aksa.
"Kok pake bawa - bawa beras segala sih, Po. Di sini juga banyak beras di toko." Kata Arjuna.
"Biasa lah, Yang kungmu." Sahut Aksa.
"Masih mending cuma beras aja yang akhirnya di bawa. Tadinya kamu mau di bawain ayam hidup empat ekor, singkong satu karung sama labu juga." Kata Arsha yang membuat Arjuna dan Meshwa terkekeh.
"Yang Kung sama Yang Ti ini aneh - aneh aja. Yang ada di sini semua pada busuk, gak sempet di olah. Ayam juga jadi mati nganggur karena lupa ngasih makan." Jawab Arjuna yang kembali memecah tawa mereka.
"Masih lama kerjaan di sini, Nduk?" Tanya Arsha.
"Enggak kok, Yah. Sudah tujuh puluh persen Meshwa selesaikan. Mungkin tiga minggu lagi sudah bisa pulang." Jawab Meshwa.
"Di rumah mau ngadakan syukuran pernikahan kalian. Biar warga desa juga tau, kalau kalian sudah menikah." Kata Arsha.
"Ya tinggal di bikin aja, Yah. Kita berdua di sini juga gak apa - apa kan, yang penting doanya." Kata Arjuna.
"Ya gak afdol kalau pengantinnya gak ada. Lagian ya, kamu apa mau buat Yang Kung sama Yang Ti ngomel - ngomel karena yang mau di doakan aja gak ada di tempat." Kata Aksa.
"Lho! Memang kenapa? Kita kalau doakan leluhur aja, leluhurnya gak ada di tempat. Kita kirim doa buat Mbah Uyut juga, Mbah Uyut gak ada di rumah, kan." Kata Arjuna.
"Ya gak gitu konsepnya, Nang." Kata Arsha sambil meraup wajah putranya.
"Ini kemarin selama di Rumah Sakit, cuma kamu aja yang di Operasi to, Nduk? Arjuna enggak kan?" Tanya Aksa pada Meshwa.
"Enggak, Po." Kekeh Meshwa.
"Lha kok soyo ndoh. Bopo kiro melu di bedhel utekke. (Lha kok jadi bodoh. Bopo kira ikut di bedah otaknya.)" Kata Aksa yang membuat mereka tertawa.
pancen kabeh podo wae gk onok sg genah 🤭🤭🤭,,, senengane podo jarak2an , nek enak koncone misuh2 nesu2 malah do seneng 🤣🤣🤣