NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Jalan setapak desa Banjar Sari pagi itu lebih ramai dari biasanya. Ibu-ibu menggendong bayi, bapak-bapak mendorong gerobak sayur, anak-anak berlari-larian membawa tas sekolah di punggung mereka. Tapi hari ini, semua pandangan tertuju ke satu arah.

Ke Jaja. Dan Syafa yang menggandeng tangannya dengan erat.

Syafa memakai seragam merah putih yang sudah disetrika Aini sampai licin. Rambutnya di kepang dua diikat pita pink. Topi kecil di kepalanya miring sedikit karena kegirangan. Sepatunya baru, pemberian Jaja tadi pagi.

"Paman, jalan pelan-pelan dong. Nanti Syafa capek," ucap Syafa, padahal ia yang tadi melompat-lompat.

Jaja tertawa. "Iya, Kak. Paman ikutin langkah Kakak."

Tubuh Jaja yang tinggi besar. Kaos hitam polos dengan celana kain ditambah sandal jepit. Rambutnya sedikit berubah, jenggotnya dipangkas rapi. Wajahnya tegas, tapi senyumnya lembut tiap kali Syafa menengok. Sederhana tapi sangat berkarisma.

Di pos ronda, Pak RT yang biasa galak langsung berdiri.

"Eh... Pak Jaja? kapan pulang, Pak?" Pak RT menggaruk kepala, kaget.

"Baru semalam, Pak," jawab Jaja sopan, menunduk sedikit.

"Antar Syafa sekolah dulu."

Pak RT melirik Syafa dari atas sampai bawah. "Dia cantik sekali ya? Sama seperti Ibunya."

Jaja cuma tersenyum. Tidak menjelaskan. Syafa malah bangga, dadanya dibusungkan sedikit.

Mereka belum sampai di sekolah tapi banyak yang menyapa, atau cuma sekedar memberi senyuman.

"Jaja? Bukannya kerja di kota? Kok sekarang sudah kembali?"

"Gagah banget... Ya?! hidungnya, alisnya..."

Di sekolah SD Dahlia, gerbangnya baru dibuka. Guru-guru sudah berdiri menyambut. Ibu Sinta, wali kelas Syafa, matanya langsung tertuju pada Jaja.

"Astaga... tinggi. Tegas. Tapi tatapan ke Syafa... lembut banget." bisik hati guru muda itu.

"Selamat pagi, Bu Guru," sapa Jaja, suaranya berat tapi sopan.

"Saya Jaja. Mau antar Syafa."

Bu Sinta refleks menjawab.

"Selamat pagi, Pak... eh, Pak Jaja. Silakan masuk."

Syafa langsung lari ke kelas, lalu balik menarik tangan Jaja.

"Paman, masuk! Lihat piagam Syafa! Syafa taruh di meja Bu Guru!"

Di dalam kelas, anak-anak langsung heboh.

"Syafa, itu siapa?"

"Ganteng banget papanya Syafa!"

"Pak, Pak... saya mau salaman juga!"

Jaja canggung. Ia paling jago menghadapi orang bersenjata, tapi kalah sama 15 anak SD kelas satu yang rebutan minta salim. Ia berjongkok, menyalami satu-satu sambil bilang.

"Jadi anak yang pintar ya, rajin belajar."

Bu Sinta yang melihat dari jauh sampai senyum-senyum sendiri.

"Pak Jaja, Syafa cerita kemarin Bapak sudah lama tidak pulang. Dia sering cerita soal Bapak ke saya." kata Bu Sinta. Matanya menatap Jaja cukup lama.

"Iya, Bu. Saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal," jawab Jaja. Matanya sekilas melirik ke luar jendela, seolah membayangkan Aini di rumah.

Syafa menarik tangan Jaja ke meja guru. Di sana, piagam "Juara Umum Semester 1" dipajang rapi, ada foto Syafa tersenyum manis tapi giginya ompong.

"Nah, Paman lihat kan? Syafa pinter!" Syafa bangga setengah mati.

Jaja mengusap kepala anak itu.

"Paman bangga sekali sama Kakak. Nanti Paman tempel piagam ini di rumah. Biar Dedek Satria lihat, kakaknya pintar."

Bu Sinta menyelip.

"Pak Jaja, nanti kalau ada kegiatan orang tua, Bapak bisa datang ya? Syafa sering tanya 'Paman Jaja kapan pulang'."

Jaja mengangguk mantap.

"InsyaAllah, Bu. Saya tidak akan pergi jauh lagi."

Kalimat itu membuat dada Bu Sinta sedikit hangat. Entah kenapa. Ia langsung mengalihkan pandangan, takut kedapatan salah tingkah.

Bel masuk berbunyi. Anak-anak masuk kelas. Syafa melambai dari jendela.

"Paman, pulang ya! Nanti jemput Syafa lagi! Jangan lupa!"

Jaja balik melambai.

"Siap, Kak. Paman nggak ke mana-mana."

Langkahnya keluar gerbang sekolah disorot banyak mata. Bapak-bapak tukang ojek, ibu-ibu wali murid, semua berbisik.

"Itu Jaja yang tinggal sebelah rumah Aini kan?"

"Iya, beda banget sama laki-laki daerah sini."

"Beruntung sekali Aini ya...bisa berdekatan sama pria segagah itu."

Jaja mendengar semua bisik-bisik itu. Tapi ia tetap berjalan lurus. Pulang.

Di rumah, Aini sudah menunggu di depan pintu. Tangannya membawa es teh manis dingin. Satria digendong di pinggang, masih agak lemas tapi sudah mau tersenyum.

"Gimana? Syafa heboh ya di sekolah?" tanya Aini, berusaha netral padahal penasaran setengah mati.

Jaja duduk di kursi bambu, meneguk es teh sampai habis.

"Heboh. Terus bangga. Terus... nanyain, kapan Paman Jaja pulang ke Bu Guru..."

Aini langsung batuk.

"Haa...batuk... debu," alasannya.

Jaja menahan tawa. Ia mengambil Satria dari gendongan Aini.

"Sini, Dedek. Paman gendong. Paman janji nggak pergi lagi, kan?"

Satria yang melihat bapaknya langsung melek. Tangan kecilnya meraih kerah kaos Jaja.

"Pa... Pa..."

Jaja membeku. Dua detik. Lalu matanya berkaca.

"Ya, Nak. Papa di sini. Akan selalu bersama Dedek," bisiknya. Ia cium kening Satria berulang kali.

Aini menatap pemandangan itu dari samping. Hatinya... remuk sekaligus utuh. Remuk karena ingat dua tahun berjuang sendiri.

Siang itu Jaja benar-benar tidak ke mana-mana. Ia membantu Aini menjemur baju. Menggendong Satria sambil menyapu halaman. Memperbaiki engsel pintu yang lepas. Semua dikerjakan tanpa disuruh.

Aini cuma bisa geleng kepala.

"Kau... berubah banyak, Pak Jaja."

Jaja berhenti sejenak, menatap Aini. Keringat berjatuhan di pelipisnya, tapi senyumnya tetap sama.

"Bukan berubah, Aini. Aku cuma... pulang ke tempat yang seharusnya."

Siang hari, Jaja pamit lagi.

"Saya mau menjemput Syafa. Sekalian beli cilok. Katanya Syafa kangen."

Aini mengangguk. "Hati-hati."

Sebelum keluar, Jaja membalikkan badan.

"Aini..."

"Hmm?"

"Terima kasih. Sudah jaga rumah ini. Jaga anak-anak. Jaga... aku juga, walau dari jauh."

Aini menunduk cepat.

"Aku... nggak jaga siapa-siapa. Itu anakku juga."

Jaja tersenyum.

"Iya. Anak kita."

Lalu ia pergi, meninggalkan Aini dengan jantung yang berdegup kencang.

Di ujung gang, motor tua Pak RT berhenti. Yang turun... Juragan Herman. Kaos oblong, celana jeans, topi menutup separuh wajahnya.

Ia melihat Jaja dari jauh. Lalu melangkah ke arah rumah Aini.

Aini yang melihat dari dalam langsung merasa tegang. Juragan Herman...! kenapa ke sini?

Herman berhenti di depan pagar, menatap Aini yang berdiri di ambang pintu.

"Permisi, Mbak Aini," sapanya pelan.

"Saya... mau ambil catatan pembelian beras yang kemarin tertinggal di sini. Kalau Mbak nggak keberatan."

Aini ragu. Tapi akhirnya ia membuka pintu sedikit.

"Silakan... masuk."

Herman masuk. Matanya menyapu rumah sederhana itu. Ada baju anak kecil di jemuran. Ada mainan kayu di sudut. Ada foto Aini, Syafa, Satria... dan satu kursi kosong.

Kursi itu... kursi Jaja.

Herman menelan ludah.

"Rumah Mbak... hangat."

Aini cuma tersenyum tipis. Canggung.

Dan Jaja, melihat motor Pak RT dipakai Herman di depan rumah... langkahnya terhenti. Matanya menyipit.

"Juragan Herman. Di sini. Ngapain?"

Angin sore berembus. Jaja tidak melanjutkan langkahnya. Hanya memandang dari jauh.

********

1
Aya Ansyar
Terus semangat berkarya thor 👍🏻
Putri Sikumbang: Makasih selalu hadir Kak🙏
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!