NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Jebakan di Ruang BK

****

Pertanyaan Devan barusan menggantung di udara kelas yang mendadak terasa begitu dingin. Detak jarum jam dinding seolah berdentang dua kali lebih keras di telingaku. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungku. Genggaman tangan Devan di pergelangan tanganku tidak kencang, tapi rasanya seperti borgol besi yang siap mengunci kebebasanku jika aku salah mengucapkan satu kata saja.

"G-gak ada kok, Dev," jawabku, mencoba sekuat tenaga menstabilkan nada suaraku agar tidak bergetar. Aku menarik pelan tanganku dari genggamannya, berpura-pura meraih botol air mineral yang tadi dibawakan oleh Risa. "Gue cuma agak kurang tidur aja karena semalam ngerjain tugas fisika Bu Ratna. Makanya badan gue agak lemas."

Devan memperhatikan gerak-gerikku dengan mata yang menyipit samar. Dia terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti siksaan seabad bagi jiwaku. Namun, senyuman manis nan menenangkan itu kembali terukir di wajah tampannya.

"Ya sudah, kalau lemas nanti pas istirahat kedua kamu jangan ke mana-mana. Istirahat di kelas aja, biar aku yang pesankan makanan lewat anak-anak kelas sepuluh," kata Devan lembut. Dia memajukan badannya sedikit, merapikan kerah jaket rajutku dengan gerakan yang sangat posesif. "Aku gak suka melihat pacar aku sakit, Mika. Apalagi kalau sakitnya karena memikirkan hal-hal... atau orang lain yang gak penting."

Sindiran halusnya telak menusuk ulu hatiku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Sisa jam pelajaran hari itu berjalan seperti neraka yang sunyi. Setiap kali aku bergerak, aku bisa merasakan gesekan bandul bintang dari gelang Saka di balik lengan jaketku. Kata-kata Risa terus terngiang-ngiang: *Devan punya mata di mana-mana.* Aku harus segera memindahkan gelang ini ke tempat yang lebih aman sebelum Devan benar-benar membongkar jaketku.

Keberuntungan tampaknya sedang tidak berpihak padaku hari ini. Tepat setelah bel tanda istirahat kedua berbunyi, sebuah suara dari speaker pengeras suara sekolah memecah keheningan koridor.

*"Diberitahukan kepada Ketua OSIS, Devan Dirgantara, dan siswi atas nama Mikaela dari kelas XII MIPA 2, harap segera datang ke ruang Bimbingan Konseling sekarang juga. Terima kasih."*

Pengumuman itu membuat seluruh pasang mata di kelas kembali tertuju padaku. Jantungku mencelos. Ruang BK? Ada apa lagi ini? Apakah masalah Saka kemarin berbuntut panjang? Atau orang tuaku kembali menghubungi sekolah?

Devan langsung berdiri dari kursinya. Dia merapikan seragamnya yang tanpa cela, lalu menatapku dengan binar mata yang tidak bisa kubaca kodenya. "Yuk, Mik. Kita ke ruang BK bersama. Gak usah takut, ada aku di samping kamu," katanya penuh percaya diri.

Aku berdiri dengan kaki yang terasa lemas. Kami berjalan beriringan menyusuri koridor menuju gedung administrasi. Sepanjang jalan, Devan dengan sengaja menggandeng tangan kiriku dengan erat, seolah ingin memamerkan kepada dunia bahwa aku adalah miliknya yang tidak boleh diganggu gugat. Sementara tangan kananku tersembunyi di saku jaket, mencengkeram erat pergelangan tanganku sendiri untuk memastikan gelang perak itu tidak bergemerincing.

Begitu kami mendorong pintu kaca ruang BK yang buram, atmosfer hangat di dalam ruangan langsung menyambut kami. Di balik meja besar, Ibu Maya, kepala guru BK yang terkenal tegas namun bijaksana, sudah duduk menanti. Namun, yang membuat napas resmi tertahan di tenggorokanku adalah sosok pria paruh baya yang duduk di kursi hadapan Ibu Maya.

Itu adalah **Pak Bramasta**, ayah kandung Saka. Pria bertubuh tegap dengan guratan wajah tegas yang sangat mirip dengan Saka.

"Silakan duduk, Devan, Mika," kata Ibu Maya dengan nada suara yang formal namun tenang.

Kami berdua duduk di dua kursi kosong yang tersisa. Aku tidak berani menatap Pak Bramasta. Aku tahu betul betapa kerasnya beliau mendidik Saka, dan aku takut kehadiranku di sini justru memperkeruh posisi Saka di mata ayahnya.

"Ada apa ya, Bu Maya? Apakah ada berkas laporan yang kurang terkait insiden Saka kemarin?" Devan membuka suara terlebih dahulu. Nadanya terdengar sangat sopan, tipikal murid teladan yang sedang membantu gurunya.

Pak Bramasta menoleh lambat, menatap Devan dengan tatapan mata yang tajam, lalu beralih menatapku dengan pandangan yang mendalam—tatapan seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan anak tunggalnya.

"Saya datang ke sini bukan untuk meributkan draf pemecatan itu lagi, Devan," potong Pak Bramasta, suaranya berat dan berwibawa. Beliau mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepadaku. "Mika... Om ke sini mau menanyakan langsung ke kamu. Sejak kemarin sore, Saka mengunci diri di kamar. Dia tidak mau makan, tidak mau bicara, dan tadi malam... dia menghancurkan seluruh isi kamarnya sendiri."

Dada gue langsung terasa sangat sesak mendengar penuturan Pak Bramasta. Air mata yang meleleh di pelupuk mataku hampir saja lolos. Saka... cowok sekuat itu hancur karena kebohonganku.

"Om tahu anak Om ugal-ugalan dan sering berbuat onar. Tapi, dia tidak pernah sehancur ini sebelumnya," lanjut Pak Bramasta dengan nada suara yang merendah, sarat akan rasa frustrasi seorang orang tua. "Satu-satunya kata yang dia sebut sambil berteriak di kamarnya adalah nama kamu, Mika. Om mohon, tolong kasih tahu Om, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian bertiga? Kenapa Devan sampai terluka, dan kenapa Saka bertindak seperti orang kesetanan?"

Gue menelan ludah dengan susah payah. Mulut gue terbuka, berniat untuk menceritakan kebenaran bahwa Devan yang mengancam—

"Maaf sebelumnya, Pak Bramasta," Devan memotong ucapan gue secara mendadak. Dia memajukan posisi duduknya, meletakkan satu tangannya di atas punggung tangan kiriku di depan mata Pak Bramasta dan Bu Maya. Sebuah gerakan sandiwara yang sangat rapi untuk memotong akses bicaraku.

"Mika mungkin terlalu sungkan untuk menceritakannya kepada Anda. Tapi faktanya, Saka tidak bisa menerima kenyataan bahwa Mika sekarang sudah resmi menjadi pacar saya," tutur Devan dengan nada suara yang dipenuhi keprihatinan palsu yang sangat meyakinkan. "Saka selama ini menganggap Mika sebagai hak miliknya. Sore itu, dia menembak Mika secara agresif di luar sekolah. Dan ketika Mika menolaknya karena lebih memilih saya, Saka kehilangan kendali emosinya. Dia menghajar saya di gudang belakang karena cemburu buta."

"Devan, gak gitu—" gue mencoba memprotes, namun Devan memberikan remasan kuat yang tak kasat mata pada tangan kiri gue di bawah meja, membuat kalimat gue terputus seketika. Matanya melirikku sekilas dengan kilat ancaman yang sangat dingin: *Ingat surat pemecatan Saka yang bisa aku buat kembali kapan saja.*

Ibu Maya mengangguk-angguk prihatin, tampaknya penjelasan Devan yang runtut dan statusnya sebagai Ketua OSIS berprestasi membuat guru BK itu langsung menelan mentah-mentah skenario tersebut.

Pak Bramasta mengembunkan napas panjang yang terdengar sangat berat. Beliau menatapku dengan pandangan kecewa yang sangat menyakitkan bagi jiwaku. Beliau mengira aku benar-benar mencampakkan anak laki-lakinya demi cowok lain hingga membuat Saka hancur.

"Begitu rupanya... jadi karena masalah asmara," kata Pak Bramasta lirih, bangkit dari kursinya dengan tubuh yang tampak mendadak lelah. Beliau menatapku untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas penjelasannya, Devan. Mika... Om minta maaf kalau tindakan Saka kemarin membuat kamu merasa tidak nyaman. Om akan pastikan dia tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi di sekolah ini."

Setelah Pak Bramasta melangkah keluar dari ruang BK dengan bahu yang merosot, pertahanan mental gue benar-benar hancur. Gue terduduk kaku di kursi ruang BK yang dingin, menyadari bahwa Devan baru saja menyusun jebakan yang sempurna. Di depan pihak sekolah dan di depan ayah Saka sendiri, Saka kini resmi dicap sebagai penjahat cinta yang temperamental, sementara Devan... kembali keluar sebagai pahlawan dan korban yang suci. Ruang BK ini bukan tempat mencari keadilan, melainkan panggung sandiwara terbesar milik sang Ketua OSIS yang posesif.

### **Pesan Penulis (Author's Note)**

> **Sumpah, Devan bener-bener licik dan manipulatif banget di bab ini!** Dia gak cuma mengunci Mika di kelas, tapi bahkan di depan ayah Saka dan guru BK pun dia bisa memutarbalikkan fakta dengan sangat rapi. Akibatnya, posisi Saka makin tersudut dan dianggap sebagai berandal yang cemburu buta oleh ayahnya sendiri.

> Hati gue bener-bener nyesek pas dengar cerita Pak Bramasta tentang Saka yang menghancurkan isi kamarnya sendiri karena ngerasa dikhianati sama Mika. Salah paham ini makin hari makin menumpuk dan beracun banget, guys!

> Kira-kira dengan kondisi Saka yang makin hancur di rumah, apakah dia bakal bener-bener menyerah, atau justru ini bakal jadi titik balik buat dia nekat melakukan hal yang lebih ekstrem lagi?

> Jangan lupa ya buat para pembaca setia **@ujang_Bonang**, setelah baca bab yang bikin emosi naik turun ini, langsung klik tombol **Like**, berikan **Vote** yang banyak, dan tulis di kolom **Komentar**: Siapa nih yang mau ikutan grebek ruang OSIS bareng gue buat ngasih pelajaran ke Devan? Dukung terus novel **RED FLAG** ya! Sampai jumpa di Bab 10 ! *Keep reading and stay strong!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!