NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Lima Ratus Ribu.

Malam itu aku tidak tidur.

Bukan karena sakit, bukan karena pikiran yang berantakan, tapi karena aku benar-benar duduk di meja kecil di kamarku dengan kertas yang sama dari dua hari lalu, dengan pulpen yang tintanya makin sekarat, dan mencoba mencari jalan dari angka-angka yang tidak mau ketemu.

Dua setengah juta. Itu angka minimalnya.

Sekarang aku punya nol.

Aku coret daftar belanja itu. Tulis ulang lebih kecil. Bagaimana kalau kompor bekasnya lebih murah. Bagaimana kalau gerobaknya nanti dulu, pakai bagasi motor terlebih dahulu. Bagaimana kalau bahan pertama cuma untuk percobaan, jumlahnya dikurangi.

Angka minimalnya turun. Tapi tetap jauh dari yang aku punya.

Aku taruh pulpen.

Tengah malam, rumah sudah sunyi, dan aku duduk di depan angka yang tidak bergerak dan tidak mau berubah betapapun aku stare ke sana.

Pagi harinya aku bangun dengan leher kaku karena ketiduran di meja.

Subuh, shalat, makan nasi dengan tempe goreng sisa semalam. Agung sudah berseragam sekolah waktu aku keluar dari kamar, tasnya di punggung, rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut yang baunya selalu sama setiap pagi.

Dia melihatku.

Aku melihatnya.

Dan di situ sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan bergerak di antara kami berdua, semacam percakapan yang terjadi tanpa kata-kata, yang biasa terjadi antara dua orang yang sudah cukup lama tinggal serumah dan cukup lama saling merasakan tanpa harus bilang.

Agung melepas tasnya.

Membuka ritsleting kantong kecil di depan. Mengeluarkan amplop cokelat kecil yang ujung-ujungnya sudah agak kusut seperti sering dipegang dan dimasukkan lagi dan dipegang lagi.

Dia taruh di meja makan di depanku.

"Ini buat modal, Mas."

Aku menatap amplopnya.

"Gung..."

"Itu tabungan stady tour gue." Suaranya datar. Terlalu datar untuk anak tiga belas tahun yang baru saja menyerahkan sesuatu yang jelas bukan hal kecil. "Lima ratus ribu. Emang sih katanya wajib ikut, tapi... ya Mas butuh kan. Gue kerja lagi nanti."

Aku tidak langsung mengambilnya.

Hanya menatapnya. Menatap adikku yang tingginya belum sampai bahuku, yang baju seragamnya masih sedikit kebesaran karena Ibu sengaja beli ukuran lebih supaya awet dipakai dua tahun, yang rambutnya rapi dengan minyak rambut murah, yang tangannya masih ada bekas oli tipis di sela jari dari kemarin kerja di bengkel.

Anak ini belum selesai SMP.

Belum selesai SMP dan sudah tahu caranya berkorban. Sudah tahu kapan harus melepaskan sesuatu yang dia mau supaya orang lain bisa bergerak. Sudah tahu, dengan caranya sendiri yang tidak banyak bicara dan tidak minta tepuk tangan, bahwa kadang kasih sayang bentuknya bukan kata-kata tapi amplop cokelat kusut yang ditaruh di meja makan sebelum berangkat sekolah.

"Stady tournya gimana?" Suaraku terdengar aneh sendiri.

Agung mengangkat bahu. "Gak apa-apa. Gak semua orang ikut juga."

Bohong. Aku tahu itu bohong. Di usia itu, stady tour perpisahan adalah sesuatu yang dibicarakan berbulan-bulan sebelumnya, yang difoto dan diceritakan bertahun-tahun sesudahnya. Bukan hal kecil.

Tapi dia bilang gak apa-apa dengan cara yang tidak minta dikasihani.

"Gung, ini—"

"Mas." Dia memotong. Matanya menatapku langsung. "Ambil aja. Serius."

Aku diam.

Tanganku bergerak pelan ke amplop itu. Mengambilnya. Dan waktu aku merasakannya di tangan, merasakan beratnya yang ringan, merasakan kertas amplop yang agak lembab di ujungnya karena sering dipegang, ada sesuatu yang naik dari dadaku ke tenggorokan dan aku harus menelannya keras-keras supaya tidak kelihatan.

Agung sudah memakai tasnya lagi.

"Agung." Aku memanggil sebelum dia sampai ke pintu.

Dia berbalik.

Aku tidak tahu mau bilang apa. Tidak ada kata yang cukup. Tidak ada kalimat yang bisa menandingi apa yang baru saja dilakukannya dengan cara yang sebanding. Jadi aku cuma bilang, "Makasih."

Dia mengangguk satu kali. Lalu pergi.

Aku duduk di kursi itu beberapa menit setelah suara sandal karet Agung hilang dari gang.

Lima ratus ribu.

Masih jauh dari dua setengah juta. Tapi cukup untuk mulai. Cukup untuk versi paling kecil dari rencana itu. Cukup untuk membuktikan bahwa ini bisa jalan sebelum butuh modal yang lebih besar.

Aku mulai hitung ulang.

Bagasi motor bekas di pasar loak. Kompor gas kecil bekas. Wajan, panci ukuran sedang. Bahan baku cilok untuk percobaan tiga hari. Gas tiga kilo. Plastik dan tusuk sate.

Semua itu, dengan cara paling irit yang bisa aku bayangkan, angkanya keluar seratus delapan puluh ribu untuk peralatan, sisanya untuk bahan.

Aku bisa mulai.

Hari itu aku ke pasar loak sepagi mungkin. Bagasi motor bekas, merek tidak jelas, kondisi catnya sudah luntur di beberapa sisi tapi rangkanya masih bagus, harganya seratus enam puluh ribu setelah ditawar dua puluh menit. Kompor bekas dua puluh ribu dari pedagang di sudut yang menjual barang-barang dapur rongsok yang kadang masih bisa dipakai.

Total dua ratus ribu kurang dari yang aku anggarkan.

Siangnya aku duduk di kamar dengan ponselku yang layarnya sudah retak di pojok kiri atas, belajar bikin cilok dari video-video yang ada di internet. Bukan satu video. Banyak. Aku tonton, catat, tonton ulang bagian yang tidak aku mengerti, catat lagi. Tentang perbandingan tepung tapioka dan terigu. Tentang cara uleni adonan supaya kenyal tapi tidak keras. Tentang isian daging yang bumbunya meresap.

Aku tidak pernah masak serius sebelumnya. Masak seadanya kadang-kadang kalau Ibu tidak ada, tapi bukan masak yang butuh teknik.

Percobaan pertama, malamnya, gagal.

Adonannya terlalu keras. Waktu direbus langsung pecah berantakan di panci, serpihan putih mengambang di air panas seperti sesuatu yang tidak bisa diselamatkan. Aku tatap panci itu cukup lama.

Ibu masuk ke dapur.

Melihat percobaan gagalku tanpa komentar. Lalu diam-diam mengambil posisi di sebelahku. Mengambil tepung tapioka dari stoples. Menambahkan sedikit. Mencampurnya dengan tangan, tidak pakai sendok, langsung dengan telapak tangan yang sudah tahu betul tekstur adonan yang benar dari tahun-tahun pengalaman memasak di dapur kecil ini.

"Kurang tapiokanya," beliau bilang pelan. "Dan terlalu banyak air. Nanti kalau sudah kalis, coba remas-remas dulu sebentar, baru bentuk."

Aku menatap tangan Ibu yang bekerja di adonan itu.

Beliau tidak diminta. Tidak aku minta. Beliau hanya masuk dan melakukan karena itu yang bisa dilakukannya, dengan tangan yang sudah kapalan dari puluhan tahun memasak dan mencuci dan melakukan semua hal yang tidak ada yang melihatnya.

Percobaan kedua lebih baik.

Percobaan ketiga, malam berikutnya, hasilnya sudah bisa dimakan. Ibu mencicipi satu, mengangguk, dan bilang, "Ini enak." Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup.

Hari pertama jualan, aku parkir motor di depan sekolah dasar di ujung jalan, dengan bagasi bekas yang sudah dipasang dan kompor kecil yang sudah dinyalakan sejak setengah jam sebelumnya supaya air rebusannya sudah panas waktu anak-anak keluar.

Aku tidak yakin.

Berdiri di sana dengan wajan dan panci dan tusuk sate dan saus kacang yang aku buat sendiri tadi pagi, menunggu, dan ada bagian dari kepalaku yang terus bilang ini tidak akan berhasil, ini terlalu kecil, ini terlalu sederhana, ini tidak akan ke mana-mana.

Tapi bel sekolah berbunyi.

Dan anak-anak keluar.

Pembeli pertama datang dengan tampang ragu, anak kelas empat kira-kira, uangnya lima ratus perak, beli dua tusuk. Mencicipi. Matanya berubah. Balik ke temannya dan bilang sesuatu dengan mulut penuh.

Tiga menit kemudian ada lima anak.

Lima menit kemudian ada dua belas.

Aku mengisi ulang tusuk, merebus ulang cilok, mengaduk saus, dengan tangan yang bergerak sendiri karena tidak sempat berpikir, cuma bergerak terus, karena antrean tidak berhenti.

Jam dua belas siang, panci kosong.

Aku duduk di jok motor dengan kaki yang pegal dan tangan yang bau bawang dan saus kacang, lalu menghitung uang di plastik kecil yang jadi tempat penyimpanan sementara.

Empat ratus dua puluh ribu rupiah.

Aku menatap uang itu cukup lama.

Bukan jumlah yang besar. Bukan jumlah yang akan membuat Irawan mengubah pikirannya atau Pak Hendra minta maaf atau hidup tiba-tiba menjadi mudah.

Tapi itu uangku. Dari tanganku sendiri. Dari adonan yang aku pelajari dari video di layar retak. Dari bahan yang dibeli dengan uang yang adikku tabung dari kerja di bengkel sepulang sekolah. Dari percobaan yang gagal dan dicoba lagi dan diperbaiki oleh tangan Ibu yang masuk ke dapur tanpa diminta.

Dari semua itu.

Aku keluarkan buku catatan lusuh dari saku. Buku kecil yang aku beli seribu rupiah di warung, sudah setengah terisi dengan angka-angka dan coretannya sendiri.

Aku tulis di halaman baru.

Alhamdulillah. Besok lebih baik.

Tujuh kata.

Aku tutup bukunya. Masukkan ke saku.

Nyalakan motor.

Pulang.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!