NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar Bahasa

Hari-hari setelah kelulusan seleksi terasa begitu indah dan penuh warna. Nama Dika kini mulai dikenal luas. Di sekolah, dia menjadi kebanggaan warga SMA Merdeka. Di lapangan latihan Tim Kota, dia diakui sebagai pengatur permainan terbaik, sosok yang tenang dan jenius. Latihan-latihan kini berjalan dengan intensitas jauh lebih tinggi, dipimpin langsung oleh Pak Haris dengan metode yang lebih terstruktur dan profesional.

Sore itu, setelah sesi latihan panjang yang melelahkan, Dika duduk sendirian di pinggir lapangan, membiarkan angin sore mengeringkan keringat di tubuhnya. Rio sudah pulang lebih dulu karena ada urusan keluarga, sementara teman-teman yang lain sudah beranjak pergi. Dika menatap jauh ke depan, menembus pagar pembatas lapangan, pikirannya melayang jauh menuju masa depan yang dia impikan.

Di dalam kepalanya, dia sedang menyusun peta jalan karier yang lebih rinci lagi. Langkah selanjutnya setelah Tim Kota adalah Tim Provinsi, lalu Tim Nasional, lalu... Eropa. Itulah puncaknya. Itulah tempat di mana sepak bola berkembang paling maju, tempat para pemain terbaik dunia berkumpul, tempat mimpi sesungguhnya diperebutkan.

Namun, tiba-tiba, seolah ada petir menyambar benaknya, Dika tertegun. Dia teringat kembali pengalamannya di masa depan, melihat banyak sekali pemain hebat dari Asia maupun negara berkembang yang direkrut klub besar Eropa, tapi gagal bersinar, bahkan berakhir pulang dengan kekecewaan. Padahal kemampuan mereka luar biasa, fisik mereka kuat, teknik mereka bagus.

"Kenapa mereka gagal?" batin Dika merenung, mencoba mengingat-ingat kembali alasan yang sering dibahas di media masa depan.

Dan tiba-tiba... satu jawaban yang sangat jelas dan keras menggema di kepalanya: BAHASA.

Dika memukul pelan dahinya sendiri dengan telapak tangan, wajahnya berubah menjadi panik sekaligus sadar yang mendalam.

"Ya Allah! Aku lupa hal paling penting ini! Bodoh sekali aku! Bagaimana bisa aku berpikir akan sukses di Eropa kalau aku bahkan tidak bisa menyapa, mengerti instruksi pelatih, atau berkomunikasi dengan teman satu tim di sana?!"

Dia teringat betul kasus-kasus itu. Ada pemain yang jago banget, tapi karena tidak bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa lokal seperti Spanyol, Italia, Jerman, atau Prancis, dia jadi terisolasi. Dia tidak mengerti apa yang diminta pelatih saat rapat taktik. Dia tidak bisa mengobrol dengan rekan setimnya, jadi tidak ada keakraban di lapangan. Komunikasi di lapangan jadi kacau, salah paham terjadi, dan perlahan tapi pasti, bakat besar itu jadi sia-sia.

Belum lagi urusan di luar lapangan: beradaptasi dengan lingkungan baru, berbelanja, mengurus dokumen, berhubungan dengan media dan penggemar. Semuanya butuh bahasa. Tanpa itu, rasanya seperti masuk ke dalam gua gelap tanpa penerang, sehebat apa pun fisik dan teknik yang dimiliki.

Dika berdiri tegak, napasnya sedikit memburu karena sadar betapa krusial hal ini. Selama ini dia sudah persiapkan fisik, teknik, taktik, keuangan, bahkan bakat menyanyi. Tapi kemampuan berbahasa asing? Hampir nol. Di sekolah, dia memang belajar bahasa Inggris dasar, tapi itu sangat jauh dari cukup untuk hidup dan bekerja di benua lain. Belum lagi bahasa-bahasa besar lainnya yang sangat dipakai di dunia sepak bola.

"Ini bukan hal sepele. Ini sama pentingnya dengan tendangan atau kecepatan lari. Kalau aku mau jadi pemain kelas dunia, aku harus jadi pembicara kelas dunia juga. Aku harus bisa bicara banyak bahasa, mengerti istilah teknis sepak bola dalam bahasa apa saja, supaya di mana pun aku ditempatkan, aku bisa langsung menyatu dan bersinar."

Dika segera berlari kecil ke arah tasnya, mengeluarkan buku catatan tebal kesayangannya itu. Dengan semangat yang baru dan tekad yang makin membaja, dia membuka halaman baru, lalu menuliskan satu judul besar dengan huruf tebal:

TUJUAN BARU: PENGUASAAN BAHASA ASING

Syarat Mutlak Menuju Eropa & Dunia

Di bawah judul itu, dia mulai menuliskan poin-poin penting yang dia ingat dari masa depan, mana bahasa yang paling krusial di dunia sepak bola:

1. Bahasa Inggris: Wajib hukumnya. Bahasa internasional, dipakai di Inggris, sebagian besar Eropa, dan dunia. Bahasa komunikasi umum. Harus lancar berbicara, mendengar, menulis, dan membaca. Termasuk istilah teknis sepak bola.

2. Bahasa Spanyol: Sangat penting. Dipakai di Spanyol (liga paling kuat dan populer), Amerika Latin (sumber bakat dunia), dan banyak negara lain. Bahasa yang paling banyak dipakai pesepak bola hebat selain Inggris.

3. Bahasa Italia: Liga Italia punya sejarah besar, taktik paling rumit dan mendalam. Kalau mau mengerti sepak bola secara filosofis dan teknis tinggi, bahasa ini sangat membantu.

4. Bahasa Jerman: Liga Jerman sangat disiplin, fisik kuat, dan jadi tujuan karier banyak pemain. Bahasanya agak sulit, tapi sangat dihargai kalau dikuasai.

5. Bahasa Prancis: Prancis adalah gudang bakat dunia, akademinya terbaik, dan liganya jadi batu loncatan besar ke liga lain.

Dika menatap daftar itu dengan mata berbinar, tapi juga menyadari tantangannya berat. Belajar satu bahasa saja susah, apalagi lima bahasa sekaligus. Tapi dia tidak takut. Dia punya keunggulan: dia tahu kenapa dia harus belajar itu, dia punya tujuan jelas, dan dia tahu betapa besar manfaatnya nanti. Selain itu, dia masih muda, otaknya masih sangat lentur dan cepat menyerap informasi. Ini waktu terbaik untuk belajar.

"Mulai sekarang, bahasa adalah pelajaran nomor satu sama pentingnya dengan sepak bola. Aku tidak mau ada penghalang apa pun, sekecil apa pun, yang bisa menghambat langkahku. Kalau harus begadang, kalau harus beli buku, kalau harus cari cara belajar diam-diam lewat internet, aku akan lakukan."

Malam itu, saat pulang ke rumah, Dika langsung mengubah kembali jadwal hariannya yang sudah padat itu. Dia menyisipkan waktu khusus setiap hari, tidak kurang dari satu jam, murni untuk belajar bahasa. Dia tahu, konsistensi adalah kunci. Sedikit demi sedikit tapi terus-menerus, lebih ampuh daripada belajar banyak tapi sekali-sekali.

Keesokan harinya, seperti biasa Dika pergi ke warnet setelah selesai semua urusan sekolah dan latihan. Kali ini tujuannya bukan cuma mengecek Bitcoin atau mengunggah lagu, tapi mencari materi belajar bahasa. Dia mencari situs-situs pembelajaran bahasa asing gratis, mengunduh daftar kosakata dasar, mendengarkan pelafalan kata, dan mencatat semuanya dengan rapi di buku catatannya.

Rio yang duduk di sebelahnya memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu dengan bingung luar biasa. Dia melihat layar komputer Dika penuh dengan tulisan-tulisan aneh yang tidak dia mengerti, ada yang hurufnya sama tapi bunyinya beda, ada yang tulisannya melengkung-lengkung rumit.

"Dik... apa-apaan ini? Kamu nggak salah masuk situs? Kok tulisannya kayak tulisan orang asing semua? Kamu mau jadi penerjemah sekarang?" tanya Rio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dika tersenyum misterius, lalu menoleh ke arah Rio dengan tatapan serius namun bersemangat.

"Rio, kamu ingat kan tujuan besar kita? Aku mau main di Eropa nanti. Mau main di Liga Inggris, Spanyol, Italia, Jerman... tempat-tempat besar itu. Nah, kemarin aku sadar satu hal mengerikan: kalau aku sampai di sana tapi nggak ngomong bahasanya, aku kayak orang bisu. Aku nggak bakal ngerti apa kata pelatih, aku nggak bakal ngerti apa kata teman main, aku bakal kesulitan di mana-mana. Bakat sehebat apa pun bakal sia-sia kalau kita nggak bisa berkomunikasi."

Rio melongo, mulutnya terbuka lebar karena sadar betul kebenaran kata-kata itu.

"Waduh... bener juga ya, Dik. Aku nggak kepikiran sama sekali soal itu. Kirain kalau jago main bola aja udah cukup. Ternyata... ya ampun, banyak banget syaratnya ya jadi pemain hebat itu."

"Iya, Rio. Sepak bola modern itu bukan cuma soal tendangan. Ini soal kecerdasan, adaptasi, komunikasi. Semuanya satu paket. Makanya mulai hari ini, aku mulai belajar. Aku harus bisa bahasa Inggris lancar dulu, baru ke bahasa lain. Kamu mau ikut? Siapa tahu nanti kamu juga ikut terbang ke sana, kan? Biar nggak nyasar di bandara," ajak Dika sambil tertawa.

Rio berpikir sejenak, lalu mengangguk semangat. "Yaudah deh! Aku ikut aja. Kamu kan pinter atur strategi, aku percaya aja sama kamu. Siapa tahu nanti aku jadi orang Indonesia pertama yang ngomong bahasa Spanyol fasih tapi nggak pernah ke sana! Hahaha."

Sejak hari itu, hidup Dika makin penuh warna dan aktivitas. Di sela-sela lari pagi, mulutnya tidak lagi hanya mengatur napas, tapi juga melafalkan kosakata baru: "One, two, three... Ball, goal, pass... El balón, el gol, pase..."

Saat istirahat sekolah, dia tidak mengobrol kosong, tapi sibuk menghafal aturan tata bahasa dan kata kerja.

Saat malam hari sebelum tidur, dia mendengarkan rekaman percakapan dalam bahasa asing lewat ponselnya, berusaha membiasakan telinganya mendengar bunyi-bunyian asing itu.

Bahkan, saat dia sedang mengerjakan misi rahasianya merekam lagu-lagu populer masa depan untuk diunggah ke YouTube, Dika punya ide brilian lain. Dia mulai memilih lagu-lagu berbahasa Inggris yang akan meledak di pasaran internasional, lalu menyanyikannya dengan pengucapan yang sangat hati-hati dan dia latih berulang kali sampai terdengar alami dan fasih.

"Ini dua keuntungan sekaligus," batin Dika gembira. "Aku bisa berlatih bahasa Inggris lewat lirik lagu, sekaligus lagu berbahasa Inggris ini jangkauannya lebih luas ke seluruh dunia, jadi penontonku makin banyak, penghasilanku makin besar, dan Bitcoin-ku makin banyak lagi! Jenius sekali rencana ini!"

Benar saja. Begitu dia mengunggah lagu berbahasa Inggris pertama di saluran "Suara Hati Dika", reaksinya luar biasa. Komentar-komentar tidak lagi hanya dari teman sekolah atau warga sekitar, tapi mulai berdatangan dari negara tetangga, bahkan dari benua lain.

"Wow! Suara indah sekali! Dari mana penyanyi ini? Pengucapan bahasa Inggrisnya sangat bagus dan jelas!"

"Lagu yang sangat indah dan menyentuh. Siapa penciptanya? Belum pernah dengar, tapi kualitasnya setara penyanyi dunia!"

Jumlah penonton melonjak drastis. Uang yang masuk dari iklan pun ikut bertambah berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dika tersenyum puas diam-diam. Semuanya saling berkaitan, saling menguatkan satu sama lain. Sepak bola mendukung musik, musik mendukung keuangan, keuangan mendukung pendidikan bahasa, bahasa mendukung sepak bola kembali. Lingkaran kebaikan yang tidak ada ujungnya.

Seminggu kemudian, dalam satu sesi latihan Tim Kota, Pak Haris sedang memberikan arahan taktik baru yang cukup rumit. Beliau menjelaskan tentang sistem pertahanan zona, pergerakan pemain, dan cara memotong serangan lawan. Saat teman-teman yang lain terlihat bingung dan bertanya-tanya satu sama lain, Dika langsung mengerti, bahkan dia bisa menjelaskan kembali ke teman-temannya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Pak Haris yang mengamati dari kejauhan tersenyum bangga. Beliau kemudian mendekat ke arah Dika saat istirahat.

"Dika, saya perhatikan kamu cepat sekali menangami instruksi, bahkan yang agak rumit sekalipun. Kamu juga sering sekali saya lihat sedang membaca buku tebal atau mencatat sesuatu. Apa saja yang sedang kamu pelajari sampai mati-matian begini?" tanya Pak Haris penasaran.

Dika menutup buku catatan bahasa Inggris yang sedang dia baca, lalu menatap pelatihnya itu dengan pandangan jernih dan percaya diri.

"Pak, saya sedang persiapkan diri untuk jauh ke depan. Saya sadar, kalau saya hanya jago main bola tapi tidak punya bekal lain, saya akan berhenti di tengah jalan saja. Saya sedang belajar bahasa asing, terutama Inggris, Spanyol, dan Italia. Saya bertekad suatu hari nanti saya akan main di sana, dan saya tidak mau ada satu kata pun yang saya tidak mengerti dari pelatih saya nanti. Saya mau langsung nyatu dengan mereka, Pak."

Pak Haris tertegun, matanya membelalak kaget sekaligus sangat kagum. Beliau tidak menyangka seorang anak remaja seusia Dika sudah berpikir sejauh dan sedetail itu. Beliau tahu betul betapa pentingnya bahasa untuk karier pemain ke luar negeri, tapi jarang sekali ada pemain yang mau mempersiapkannya sejak dini seperti ini.

Pelatih itu tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Dika dengan rasa hormat yang besar.

"Dika... kamu benar-benar anak yang luar biasa. Kamu tidak hanya melatih kakimu, tapi kamu melatih seluruh dirimu. Percayalah, ketekunan dan pandangan jauh ke depan inilah yang nanti akan membedakan kamu dari ribuan pemain hebat lainnya. Kalau kamu terus begini, saya yakin... nama Dika Pratama akan terdengar sampai ke Eropa sana. Saya janji, saya akan bantu sekuat tenaga saya. Mulai sekarang, kalau ada istilah taktik atau bahasa sepak bola apa pun yang kamu tidak tahu, tanya saya. Saya akan ajarkan semuanya."

Terima kasih banyak, Pak! Dukungan Bapak sangat berarti bagi saya," jawab Dika tulus, hatinya makin hangat dan penuh semangat.

Malam itu, saat Dika pulang ke rumah, langkahnya terasa makin mantap. Dia sudah menambal kelemahan besar yang hampir saja dia abaikan. Dia sudah menutup celah yang bisa meruntuhkan semua mimpinya.

Di dalam kamarnya, sebelum tidur, dia menatap langit-langit sambil bergumam pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya di masa depan yang ada di benua Eropa.

"Tunggu aku. Aku sedang datang membawa segala persiapan. Aku akan bicara bahasamu, aku akan mengerti caramu main, aku akan mengalahkan siapa saja yang menghadang. Tidak ada lagi yang bisa menghentikanku. Tidak ada lagi penyesalan."

Perjalanan Dika kini makin lengkap. Bakat, fisik, strategi, keuangan, seni suara, dan kini penguasaan bahasa. Semuanya tersusun rapi bagaikan kepingan teka-teki yang membentuk gambar besar seorang juara sejati. Di depan sana, tantangan selanjutnya sudah menanti: Kejuaraan Tingkat Provinsi, tempat di mana pemandu bakat dari akademi besar biasanya berkumpul mencari talenta terbaik. Dan Dika sudah siap, lebih siap dari siapa pun.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!