NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cekcok

"𝘚𝘵𝘰𝘱! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩-𝘴𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩! 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶!" 𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘴, 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘨𝘶𝘯𝘺𝘢.

𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢. 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘣𝘶𝘺𝘶𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪.

𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘵𝘰𝘭 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘰𝘯𝘨𝘬𝘰𝘬. "𝘔𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘪𝘵𝘶. 𝘉𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶."

𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘣𝘰𝘵𝘰𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘳𝘶𝘵. "𝘐𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘤𝘶𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭, 𝘬𝘢𝘯?"

𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘣𝘰𝘭𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨-𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘪𝘯𝘦𝘳𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘰𝘵𝘰𝘭 𝘪𝘵𝘶, 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘮𝘱𝘢𝘳𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘵𝘰𝘭 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘢𝘴 𝘵𝘳𝘶𝘬!"

"𝘐𝘥𝘪𝘩, 𝘴𝘰𝘮𝘣𝘰𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘵. 𝘈𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘮𝘦𝘳𝘬𝘢𝘯," 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘣𝘰𝘵𝘰𝘭 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘨𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘬𝘶𝘴, 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘳𝘰𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘭. "𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴! 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳𝘢?"

𝘓𝘶𝘤𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘨𝘦𝘭𝘪. "𝘚𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘥𝘢. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘕𝘰𝘯𝘢 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭 𝘫𝘦𝘵 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪."

𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘴. "𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶? 𝘔𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘋𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘰𝘱𝘦𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘵𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."

𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘨𝘰𝘯𝘵𝘢𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢.

"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘥𝘢 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢," 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘕𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯.

𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵-𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘵𝘪𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥 𝘬𝘶𝘤𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘪𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘊𝘩𝘦𝘮𝘪𝘴𝘵𝘳𝘺 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘢𝘶𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘬𝘢𝘮, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘨𝘬𝘦𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘸𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘰𝘯 𝘔𝘢𝘧𝘪𝘢.

Begitu pintu mobil kembali tertutup rapat, keheningan instan langsung menyelimuti kabin SUV mewah itu. Namun, atmosfernya tidak lagi sepekat tadi. Ada sisa-sisa rasa jengkel yang menggelitik di udara.

Dante sengaja menggeser duduknya hingga benar-benar mepet ke sisi jendela kanan, menjauh sejauh mungkin dari Nayara seolah gadis itu adalah wabah penyakit yang menular. Sementara Nayara sendiri bersandar pasrah di sisi kiri, memeluk botol air mineralnya erat-erat sambil menatap ke luar jendela dengan sisa-sisa napasnya yang masih sedikit tersengal.

Lucas menyalakan mesin mobil, lalu melirik spion tengah dengan senyum yang mati-matian ditahan hingga pipinya pegal. "Kita berangkat sekarang, Tuan Muda?"

"Jalan, Lucas. Dan jangan lewat jalan yang bergelombang kalau kau tidak mau membersihkan mobil ini besok pagi," sahut Dante ketus, nadanya datar namun sarat ancaman tersembunyi.

"Baik, Tuan."

Mobil kembali membelah jalanan tol dengan kecepatan stabil. Lima menit berlalu tanpa suara, hingga akhirnya Dante melirik ke samping. Nayara tampak memejamkan mata, wajahnya masih pucat, dan bibirnya sedikit bergetar. Efek mualnya mungkin sudah mereda, tapi tubuhnya jelas tidak bisa berbohong kalau dia sedang lemas total.

"Masih mau muntah?" tanya Dante tiba-tiba, suaranya terdengar dingin namun memecah kesunyian.

Nayara tidak membuka mata. Dia hanya mendengus pelan. "Kalau aku bilang iya, apa kamu mau menghentikan mobil ini lagi, Tuan Besar?"

"Tidak," jawab Dante cepat dan kejam. "Aku akan menyuruh Lucas mengikatmu di kap mobil agar kau bisa muntah sepuasnya di luar."

Mendengar itu, Nayara langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia menoleh ke arah Dante dengan tatapan tidak percaya, lalu tersenyum manis—sangat manis hingga terlihat mengerikan. "Oh, sungguh ide yang sangat manusiawi dari seorang psikopat. Terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa, Tuan Muda Dante. Saya sangat tersanjung."

Dante menaikkan sebelah alisnya, menatap lekat-lekat mata bulat gadis itu yang meski sayu, tetap memancarkan binar permusuhan yang menyala-nyala. "Sama-sama, Pelayan. Tugas kepatuhanmu adalah tidak mengotori asetku."

"Aset?" Nayara terkekeh sinis, memalingkan wajahnya kembali ke jendela. "Sadar tidak sih, bahasamu itu benar-benar mencerminkan kalau kamu tidak punya hati nurani? Semua hal di dunia ini cuma kamu anggap aset dan barang."

"Memang begitu kenyataannya," sahut Dante santai, kembali mengambil iPad-nya yang sempat tergeletak. "Di duniaku, manusia yang tidak berguna hanya akan menjadi sampah. Dan kau... untungnya masih punya sedikit kegunaan untuk membuatku terhibur dengan ocehan bodohmu itu."

"Menghibur?" Nayara menoleh lagi, kali ini dengan dahi berkerut dalam. "Kamu menganggap penderitaanku, penculikan ini, dan ancaman pada ayahku sebagai hiburan?!"

"Lalu kau pikir aku membawamu ke sini karena aku peduli padamu? Jangan naif, Nayara," desis Dante perlahan, matanya beralih dari layar iPad tepat ke manik mata Nayara. Tatapannya mendadak berubah menjadi begitu intens dan mengintimidasi. "Kau di sini karena aku yang memegang kendali. Setiap helai napasmu, setiap rasa sakitmu, itu semua ada di bawah otoritas-ku. Jadi, nikmati saja peranmu."

Chemistry ketegangan di antara mereka kembali memuncak dalam satu detik. Jarak mereka yang hanya terpisah beberapa puluh sentimeter membuat ruang di bagian belakang SUV itu terasa semakin menyempit. Nayara bisa merasakan dominasi Dante yang begitu mencekik, seolah pria itu siap menelannya hidup-hidup jika dia salah melangkah.

Namun, alih-alih menciut ketakutan seperti tawanan pada umumnya, Nayara justru memajukan sedikit tubuhnya. Dia menatap lurus ke dalam mata elang Dante dengan keberanian yang nekat.

"Kalau begitu, nikmati juga sandiwara kepatuhanku ini, Tuan Muda," bisik Nayara dengan nada yang teramat lembut namun terasa setajam silet. "Karena suatu hari nanti, saat kamu sedang lengah karena terlalu menikmati hiburan ini... aku yang akan memastikan kendali itu berpindah ke tanganku."

Dante tertegun sejenak. Sudut bibirnya perlahan berkedut, membentuk sebuah senyuman miring yang tipis namun terlihat begitu berbahaya. Sifat membangkang Nayara yang tidak ada habisnya ini justru memberikan letupan adrenalin tersendiri baginya. Gadis ini benar-benar seekor kucing liar yang menarik.

Kreeek...

Mobil perlahan melambat dan berbelok memasuki area khusus penerbangan privat di bandara. Lucas berdehem kecil dari depan, memutus kontak mata yang begitu intens di antara dua orang di belakangnya.

"Tuan Muda, kita sudah sampai di area *private jet*. Petugas bandara sudah bersiap di depan."

Dante kembali bersandar pada kursinya, memutuskan tatapan mereka sepihak. "Turun," perintahnya pendek pada Nayara.

Nayara menghela napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis akibat mabuk perjalanan dan adu mulut tadi. Dengan gerakan anggun yang dipaksakan, dia membuka pintu mobil dan melangkah turun ke dalam pelukan angin malam bandara yang dingin, siap memasuki babak baru di sarang serigala yang lebih jauh.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!