NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Terlalu Cepat

Bau cairan infus steril menyambut kesadarannya saat kelopak mata Saskia perlahan terbuka.

Putih. Semuanya putih. Langit-langit putih. Dinding putih. Seprai putih. Di sebelah kirinya, tiang infus berdiri dengan selang transparan yang mengalir ke punggung tangannya. Jarum kecil tertancap di pembuluh darah, ditahan plester putih.

Ini bukan rumah sakit.

Rumah sakit tidak punya langit-langit setinggi ini. Rumah sakit tidak punya lampu kristal yang menggantung tepat di atas tempat tidur. Rumah sakit tidak punya jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan taman hijau dengan air mancur di tengahnya.

"Suster?" Suaranya serak.

"Bukan suster."

Saskia menoleh. Terlalu cepat. Kepalanya masih pusing.

Daniel Hardjono duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Bukan kursi rumah sakit. Kursi kayu dengan sandaran tinggi dan bantalan beludru. Di pangkuannya, sebuah folder kulit hitam. Jasnya sudah diganti. Yang ini biru tua, lebih gelap dari yang tadi pagi. Rambutnya masih rapi. Wajahnya masih tidak terbaca.

"Ini di mana?"

"Vila keluarga. Dekat Batu." Daniel membuka folder di pangkuannya. "Lebih tenang dari rumah sakit. Dokter pribadi sudah datang tadi. Infus, antibiotik, vitamin. Katanya kelelahan akut, anemia, dehidrasi ringan. Istirahat dua tiga hari seharusnya pulih."

Saskia menatap selang infus di tangannya. Lalu menatap Daniel lagi.

"Berapa biayanya?"

"Apa?"

"Biaya dokter. Biaya infus. Biaya vila ini. Berapa?"

Daniel menatapnya dengan ekspresi aneh. "Kenapa?"

"Supaya saya tahu berapa yang harus saya bayar."

"Tidak usah."

"Saya tidak suka berhutang."

Daniel tidak menjawab. Jemarinya membuka folder kulit hitam itu. Saskia melihat tumpukan kertas di dalamnya. Kertas-kertas resmi dengan kop surat PT Hardjono Agribisnis Tbk.

"Saya ke sini bukan untuk menagih biaya dokter," katanya, suaranya berubah. Lebih dingin. Lebih formal. "Saya ke sini untuk urusan kontrak."

Jantung Saskia berdetak lebih cepat. Monitor di samping tempat tidurnya berbunyi lebih kencang, menunjukkan peningkatan detak jantung.

"Satu ekor Wagyu Fullblood mati. WF-007. Nilai aset: seratus lima puluh juta rupiah. Penyebab kematian: heat stroke akibat kegagalan sistem pendingin."

"Itu bukan kegagalan sistem," potong Saskia. "Itu sabotase. Seseorang mematikan listrik. Paman Harto. Saya tahu dia yang melakukannya."

"Punya bukti?"

Saskia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Tidak ada bukti. CCTV mati. Tidak ada saksi. Paman Harto pasti sudah membersihkan jejaknya.

"Tidak," akunya. "Tapi saya tahu."

"Di mata kontrak, yang tahu tidak ada artinya. Yang ada hanya yang bisa dibuktikan." Daniel mengeluarkan selembar kertas dari foldernya. Kertas putih dengan tulisan hitam yang rapi. "Ini surat peringatan pertama. Kematian aset akibat kelalaian pengelolaan. Sesuai klausul dua belas, halaman sembilan belas."

Saskia mengambil kertas itu. Jemarinya gemetar. Bukan karena lemas. Karena marah.

"Satu lagi." Daniel mengeluarkan kertas kedua. "Ini klausul yang mungkin Anda lewatkan waktu tandatangan kontrak."

Saskia mengambil kertas itu. Matanya membaca cepat.

Halaman empat puluh tujuh. Klausul delapan koma sembilan.

"Klausul inspeksi mendadak," lanjut Daniel, suaranya tetap datar. "Memberi hak kepada pihak pertama, yaitu PT Hardjono Agribisnis, untuk melakukan audit penuh atas seluruh metode dan fasilitas pengelolaan aset kapan saja, tanpa pemberitahuan sebelumnya, jika terjadi insiden yang menyebabkan kerugian aset lebih dari seratus juta rupiah."

Saskia membaca klausul itu. Lalu membacanya lagi. Lebih lambat.

"Audit penuh," bisiknya. "Metode pengelolaan."

"Ya."

"Ini termasuk... formulasi pakan? Suplemen? Vitamin?"

"Segala sesuatu yang Anda gunakan untuk mengelola sapi-sapi itu."

Ruang spasial. Air Suci. Semua yang ia sembunyikan. Semua yang ia lindungi dari CCTV. Semua yang ia kira aman.

"Kau sengaja," suara Saskia berubah dingin. "Klausul ini ada sejak awal. Waktu aku baca kontrak, aku lihat klausul inspeksi rutin. Tiga bulan sekali. Itu normal. Tapi aku tidak lihat klausul inspeksi mendadak. Di mana? Di halaman berapa?"

"Empat puluh tujuh."

"Aku melewatkannya."

"Ya."

Saskia menatap laki-laki di depannya. Daniel Hardjono, dengan setelan jas mahalnya, dengan wajah dinginnya, dengan folder kulit hitam di pangkuannya.

"Kau sengaja tidak memberitahuku."

Daniel tidak menjawab.

Keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari semua kata-kata yang sudah terucap. Monitor jantung masih berbunyi. Infus masih menetes. Di luar jendela, air mancur masih mengalir.

"Waktu itu aku tanya: ada lagi? Kau bilang tidak ada."

"Aku tidak bilang tidak ada. Aku diam."

"Itu sama saja."

"Tidak. Di dunia kontrak, diam bukan berarti tidak ada. Diam berarti pihak satunya harus lebih teliti." Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan. "Anda yang mengajari saya untuk memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan orang lain, Mbak Saskia. Waktu Anda minta klausul sabotase ditambahkan. Saya belajar dari Anda."

Saskia mengepalkan tangannya di atas selimut. Jarum infus di punggung tangannya terasa sakit, tapi ia tidak peduli.

"Jadi ini balas dendam?"

"Ini bisnis."

"Bohong."

Daniel menegang. Hanya sedikit. Hanya sesaat. Tapi Saskia melihatnya.

"Anda terlalu emosional, Mbak Saskia. Mungkin efek demam."

"Mungkin. Atau mungkin saya benar."

Mereka saling menatap. Monitor jantung terus berbunyi, semakin cepat.

Daniel berdiri. Folder kulit hitam ditutup. Dimasukkan ke bawah lengannya. "Surat peringatan itu berlaku mulai hari ini. Audit penuh akan dilakukan dalam waktu dekat. Anda bisa tetap di sini sampai pulih. Biaya sudah ditanggung."

Ia berjalan menuju pintu. Langkahnya tenang, terukur.

"Pak Hardjono."

Daniel berhenti. Tidak berbalik.

"Waktu Anda gendong saya ke mobil tadi pagi, itu juga bisnis?"

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!