King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Roda kursi roda darurat itu berderit pelan saat melewati koridor lantai empat menuju kamar VIP nomor satu.
Di atasnya, King Stone bersandar dengan posisi tubuh yang sengaja dibuat layu, seolah seluruh sisa tenaganya telah terkuras habis di lantai bawah tadi.
Kepala tegapnya terkulai ke samping, dan sepasang mata elangnya meredup, memancarkan binar sayu yang sangat meyakinkan.
Olivier Martinez mendorong kursi roda itu dengan langkah tergesa-gesa. Wajah cantiknya dipenuhi guratan cemas bercampur dongkol.
Begitu mereka melewati pintu elektronik kamar rawat, Olivier langsung mengunci pintu dan membantu King untuk kembali ke atas ranjang medisnya.
"Pelan-pelan, Tuan Stone. Pegang bahu saya," instruksi Olivier, membiarkan King melingkarkan lengan kanannya yang kekar dan penuh tato di sekeliling lehernya untuk bertumpu.
Namun, begitu tubuh King berhasil mendarat di atas kasur empuk, pria itu tidak langsung melepaskan rangkulannya. Ia justru menarik tubuh Olivier sedikit lebih dekat, lalu merintih dengan nada suara yang sengaja dibuat serak dan manja—sebuah nada suara yang sangat tidak cocok dengan reputasinya sebagai Pemimpin klan stone legal Chicago.
"Ah, Sayang... itu sakit sekali. Perutku rasanya seperti terbakar," keluh King, memejamkan matanya rapat-rapat sambil menempelkan keningnya sekilas di bahu Olivier.
"Aduh, sepertinya jahitanku benar-benar mau lepas, El. Sakit sekali..."
Olivier tersentak, mendengarkan panggilan 'Sayang' yang meluncur begitu saja dari bibir King. Wajahnya mendadak memanas, namun ia segera menepis tangan King dari lehernya dengan gemas.
"Jangan mulai lagi, King! Dan berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan seperti itu!" omel Olivier sembari dengan cepat menyingkirkan kaos polo hitam King ke atas, memeriksa perban di perut kanan pria itu.
"Di mana yang sakit? Sebelah sini? Atau bagian bawah?"
"Semuanya, El... semuanya sakit," rengek King lagi. Ia membalikkan tubuhnya sedikit miring, menatap Olivier dengan tatapan memelas yang biasa ia gunakan sepuluh tahun lalu saat pura-pura sakit demi bolos dari kelas sejarah di high school dan meminta Olivier menemaninya di ruang UKS.
"Kau ketat sekali padaku. Padahal dulu, kalau aku terluka setelah tanding basket, kau akan langsung meniup lukanya sambil mengompres dahiku."
Olivier mendengus, jemarinya dengan telaten menekan area sekitar perban untuk memastikan tidak ada pendarahan baru.
"Itu sepuluh tahun yang lalu, Tuan Stone! Dan saat itu kau belum menjadi pria berengsek yang hobi memamerkan tubuh kekar mu di hadapan publik. Diamlah, aku sedang memeriksa apakah ada cairan yang merembes."
King tersenyum miring secara sembunyi-sembunyi saat Olivier sedang fokus meneliti perbannya.
Taktik playboy internasional yang selama bertahun-tahun ia asah untuk menaklukkan relasi dan menjerat wanita-wanita keras kepala di luar sana kini ia kerahkan seluruhnya untuk satu tujuan: menjerat kembali Olivier Martinez ke dalam perangkap pesonanya.
King tahu betul, di balik dinding es dan jubah putih kedokteran yang kaku itu, Olivier masih memiliki hati yang teramat lembut dan tidak akan pernah tega melihatnya menderita.
"El... dadaku juga mendadak terasa sesak," King kembali berdrama, meletakkan tangan kirinya di atas dada dengan dramatis.
"Napasku tidak teratur. Apa kau tidak mau mendengarkan detak jantungku menggunakan stetoskopmu? Mungkin jantungku sedang mogok karena kau terus-terusan memarahiku sejak di kantin tadi."
Olivier memutar bola matanya malas. "Jantungmu tidak mogok, King. Jantungmu hanya terlalu banyak menampung kelicikan."
Cklek.
Tepat saat Olivier baru saja selesai merapikan kembali selimut King, pintu kamar VIP terbuka setelah kode aksesnya ditekan dari luar.
Sosok Kendrick Stone, putra kedua klan Stone yang berwajah efisien, melangkah masuk dengan setelan jas formalnya yang rapi.
Kendrick membawa beberapa dokumen penting di tangannya, berniat melaporkan situasi pelabuhan timur kepada kakaknya.
Namun, langkah kaki Kendrick mendadak terhenti di tengah ruangan. Sepasang matanya melongo sempurna, menatap pemandangan di atas ranjang medis dengan ekspresi tidak percaya yang sangat kentara.
Di sana, kakaknya—King Stone, pria kejam yang beberapa hari lalu masih sanggup menembak kaki musuhnya sebelum jatuh pingsan karena ditusuk—kini sedang berbaring lemas dengan bibir yang sengaja dimanyunkan sedikit, merengek manja pada seorang dokter wanita yang sedang memeriksa denyut nadinya.
Kendrick menoleh ke arah dokter tersebut, dan matanya kembali berkedip terkejut saat mengenali wajah Olivier.
Bagi Kendrick, Olivier Martinez bukan sekadar dokter residen biasa. Di dalam memori masa mudanya saat di high school dulu, Olivier dikenal di kalangan lingkaran pertemanan mereka sebagai "Si Singa Betina".
Julukan itu muncul bukan tanpa alasan; Olivier adalah satu-satunya gadis di sekolah, bahkan mungkin di seluruh Chicago, yang memiliki keberanian mutlak untuk berteriak, memaki, dan menunjuk wajah para pria klan Stone jika suasana hatinya sedang buruk akibat ulah menyebalkan King.
Di saat semua orang gemetar mendengar nama Stone, Olivier justru pernah melemparkan buku tebal ke arah dada King di koridor sekolah karena pria itu lupa mengerjakan tugas kelompok mereka.
Olivier menoleh ke arah Kendrick, menetralkan ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. "Selamat siang, Tuan Kendrick. Kakak Anda baru saja melakukan kegilaan dengan berjalan-jalan ke kantin bawah, dan sekarang dia sedang menerima konsekuensi dari kecerobohannya sendiri."
"Oh... begitu," jawab Kendrick pendek, tenggorokannya mendadak terasa kering melihat atmosfer di dalam kamar tersebut.
Kendrick berjalan mendekati sisi ranjang, melirik kakaknya yang kini mendadak memejamkan mata erat-erat sambil memegangi perutnya, kembali mengeluarkan suara rintihan halus yang terdengar sangat palsu di telinga Kendrick.
"Aduh... El, jangan tinggalkan aku dulu. Kepalaku pening sekali," keluh King, sengaja memperpanjang sandiwaranya di depan adiknya sendiri tanpa rasa malu sedikit pun.
Melihat tingkah laku kakaknya yang begitu lemah dan manja, Kendrick rasanya ingin muntah di tempat.
Perutnya bergejolak menyaksikan bagaimana seorang ketua operasional klan yang ditakuti di seluruh dermaga Chicago kini bertingkah tak ubahnya seperti anak anjing yang meminta belas kasihan.
Kendrick melongo, matanya bergerak bergantian menatap King yang sedang berakting total, lalu beralih menatap Olivier yang dengan polosnya kembali memeriksa suhu tubuh King menggunakan termometer dahi dengan gurat cemas yang nyata di wajah bulatnya.
Sialan, ini modus nyata! Bagaimana bisa si singa Betina yang terkenal galak dan cerdas ini bisa tertipu mentah-mentah oleh akting murahan seperti ini? batin Kendrick berteriak frustrasi.
Kendrick tahu betul bahwa luka tusukan King memang serius, tetapi tingkat pemulihan fisik kakaknya itu di atas rata-rata manusia normal.
Mustahil King selemah ini hanya karena berjalan ke kantin. Ini murni taktik busuk sang kakak untuk mencari perhatian dan memenjarakan kembali emosi mantan kekasih masa lalunya.
"Kak," panggil Kendrick dengan nada suara yang sengaja dibuat datar dan penuh sindiran. "Jika kau memang selemah itu hingga tidak bisa membuka mata, kurasa aku harus membatalkan pertemuan dengan dewan direksi pelabuhan sore ini, dan membiarkan mereka mengambil alih jalur pengiriman barat. Bagaimanapun juga, kondisi 'lemah'-mu ini tampaknya sangat kritis."
Mendengar ucapan adiknya yang mulai mengancam urusan bisnis, salah satu mata King Stone mendadak terbuka sedikit. Ia melayangkan tatapan elang yang sangat tajam dan mematikan ke arah Kendrick—sebuah tatapan yang mengisyaratkan kalimat: 'Diam atau aku akan memotong lidahmu setelah aku sembuh.'
Kendrick yang menerima ancaman lewat tatapan itu hanya bisa mendengus pelan, menahan diri untuk tidak membongkar kedok busuk kakaknya di depan Olivier.
Olivier, yang tidak menyadari interaksi terselubung di antara dua bersaudara itu, menjauhkan termometer dari dahi King.
"Suhunya normal, Tuan Stone. Tapi Anda tetap harus beristirahat total. Saya akan meminta perawat untuk membawakan sup hangat dan obat pereda nyeri dosis tambahan."
"Terima kasih, El... Kau memang dokter terbaikku," ucap King lembut, kembali memejamkan matanya dengan senyuman tipis yang sok suci.
Olivier menghela napas panjang, mengambil papan klip medisnya, lalu menoleh ke arah Kendrick. "Tuan Kendrick, tolong jaga kakak Anda agar tidak turun dari ranjang lagi. Saya harus kembali ke ruang residen untuk menyerahkan laporan shift saya."
"Tentu, Dokter Martinez. Terima kasih atas kesabaranmu menghadapi... pasien manja ini," balas Kendrick dengan penekanan pada kata terakhir.
Olivier memberikan anggukan hormat, lalu melangkah keluar dari kamar VIP nomor satu dengan teratur.
Begitu pintu elektronik tertutup rapat dan menyisakan dua pria klan Stone di dalam ruangan, suasana kamar mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
King Stone langsung membuka kedua matanya sempurna. Rasa lemas dan sayu di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi dingin, tajam, dan berwibawa yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat klan. Ia menegakkan posisi duduknya tanpa bantuan, sepenuhnya mengabaikan rasa perih di perutnya yang tadi ia dramatisir habis-habisan.
"Kau mengganggu kesenanganku, Kendrick," ucap King, suaranya kembali berat dan bariton, penuh dengan otoritas mutlak.
Kendrick berjalan mendekati meja nakas, meletakkan dokumen yang dibawanya dengan helaan napas sinis.
"Aku ingin muntah melihat kelakuanmu, Kak. Bisa-bisanya seorang King Stone berakting seperti pria tak berdaya hanya untuk menahan seorang wanita? Di mana harga dirimu sebagai pemimpin operasional Chicago?"
King menyunggingkan senyuman miring yang penuh kepuasan, menyandarkan punggungnya ke bantal ranjang dengan santai.
"Dalam urusan menjerat kembali Olivier Martinez, harga diri adalah hal pertama yang harus kubuang, Ken. Kau tidak akan pernah mengerti karena kau tidak pernah tahu rasanya kehilangan separuh jiwamu selama sepuluh tahun."
Kendrick memutar bola matanya, duduk di sofa kulit tunggal dengan gaya yang anggun. "Tapi aktingmu tadi sangat menjijikkan, Kak. Dan anehnya, si Gadis Betina itu tetap saja tertipu. Padahal dulu di sekolah, dia adalah orang pertama yang akan memukul kepalamu jika kau berani berbohong."
"Dia tidak tertipu, Ken," koreksi King, mata elangnya menatap lurus ke arah pintu tempat Olivier keluar tadi, pancarannya berubah menjadi sangat dalam dan posesif.
"Olivier hanya terlalu mencintaiku, hingga insting kedokteran dan rasa cemasnya selalu mengalahkan logika dinginnya setiap kali melihatku terluka. Dan aku akan memanfaatkan celah itu dengan sangat baik untuk memastikan dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku lagi."
Kendrick terdiam mendengar ucapan kakaknya. Di balik rasa ingin muntah akibat melihat sandiwara manja King tadi, Kendrick sadar bahwa obsesi dan cinta kakaknya pada Olivier Martinez telah mencapai tingkat yang sangat berbahaya.
King siap melubangi harga dirinya sendiri, menggunakan taktik playboy paling rendah, hingga menggerakkan seluruh kekuasaan klan Stone demi menarik kembali sang Gadis Betina ke dalam dekapannya.
Badai masa lalu yang sempat padam sepuluh tahun lalu kini telah resmi meledak kembali di lantai empat Stone Hospital, dan kali ini, tidak akan ada satu orang pun yang diizinkan untuk menghentikan langkah sang pangeran sulung.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣