NovelToon NovelToon
Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Sistem Menantu Dewa: Membalas Dendam Dalam 3 Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andrean Matabuh

Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'

Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.

Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Angkat Kaki dari Restoranku

Aula utama restoran yang tadinya bising oleh tawa ejekan, kini mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak turun drastis, menyisakan hawa dingin yang mencekam di antara ratusan pasang mata yang hadir.

Kevin berdiri mematung di tempatnya. Matanya melotot lebar, hampir keluar dari rongganya saat menatap dokumen berstempel emas resmi yang dipegang erat oleh Manajer Thomas. Napasnya memburu, wajahnya yang tadi angkuh dan kemerahan karena puas tertawa, kini mendadak pucat pasi seperti kertas. Tangannya yang memegang sapu tangan sutra mulai gemetar tanpa bisa dikendalikan sama sekali.

"M-Manajer Thomas... Anda pasti sedang bercanda dengan kami semua, kan?!" suara Kevin bergetar hebat saat dia mencoba memaksakan sebuah tawa. Namun, suara tawa itu terdengar sangat garing, hambar, dan menyedihkan di tengah keheningan aula. "Sampah ini... maksudku, Adrian ini cuma menantu miskin dan tidak berguna di keluarga kami! Dia tidak punya pekerjaan, tidak punya latar belakang, bahkan tidak punya sepeser pun uang di tabungannya! Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa membeli seluruh gedung mewah ini secara tunai?!"

Manajer Thomas tidak langsung menjawab. Dia perlahan berdiri tegak, membalikkan badannya, lalu menatap Kevin dengan pandangan mata yang begitu dingin, tajam, dan penuh dengan aura mengintimidasi. Sebagai orang yang bertahun-tahun mengelola restoran kelas atas dan biasa menghadapi para pejabat serta miliarder, Thomas tahu persis bagaimana cara menekan mental seseorang.

"Lancang sekali Anda! Siapa yang Anda sebut sampah?!" bentak Manajer Thomas dengan suara lantang yang menggelegar, membuat beberapa wanita di meja depan terlonjak kaget. "Dana segar sebesar 50 miliar rupiah sudah masuk ke rekening pusat perusahaan kami tepat satu menit yang lalu. Transaksi itu divalidasi langsung oleh sistem perbankan pusat dan dikirimkan dari rekening pribadi atas nama Tuan Adrian Pratama. Apakah Anda, seorang Kevin Wijaya, sedang merasa lebih tahu dan berani meragukan validitas hukum kepemilikan saham kami?!"

Mendengar angka 50 miliar disebut secara lantang dan jelas oleh otoritas tertinggi restoran tersebut, Erika—ibu mertuaku—merasa lututnya mendadak lemas seperti jeli. Dia hampir saja tersungkur ke lantai jika tangannya tidak cepat-cepat mencengkeram sandaran kursi ukir di dekatnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan telak. Pikiran Erika mendadak kosong melompong. Pikiran warasnya menolak kenyataan ini. Bagaimana mungkin? Lima puluh miliar? Adrian yang setiap hari menyapu lantai rumah, mencuci baju kotor, dan menerima caci maki tanpa perlawanan, ternyata memiliki uang sebanyak yang bahkan tidak bisa dihasilkan oleh seluruh bisnis keluarga Wijaya dalam lima tahun?

Di sisi lain meja, Kirana, istriku, perlahan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya yang tadi sempat menetes karena rasa malu yang mendalam atas kelakuan keluarganya, kini tertahan di sudut mata. Matanya yang indah bergetar hebat, menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang baru pertama kali dia lihat dalam hidupnya. Ada rasa tidak percaya, syok, dan ribuan pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya.

"Adrian... kamu... apa yang sebenarnya terjadi? Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" bisik Kirana dengan suara yang sangat lirih, hampir tenggelam di tengah keheningan ruangan.

Aku tidak mengalihkan pandanganku pada Kirana. Aku sengaja menahan diri untuk tidak menjawabnya sekarang, karena fokus utamaku adalah menyelesaikan urusan dengan pria arogan di depanku ini. Aku mulai melangkah maju, mendekati Kevin yang masih mematung dan gemetar di tempatnya berdiri. Sepatu usangku sengaja melangkah dengan ritme yang lambat dan konstan, menciptakan ketukan sepatu yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Kevin. Setiap langkahku membawa tekanan batin yang luar biasa baginya.

"Bagaimana, Kak Kevin?" tanyaku dengan nada suara yang sangat datar, namun sarat akan ancaman yang tersembunyi. Aku berdiri tepat satu meter di depannya, menatap lurus ke dalam matanya yang ketakutan. "Tadi kamu bilang dengan sangat percaya diri, kalau aku mau merangkak di lantai ini dan menggonggong seperti anjing sebanyak tiga kali di depan semua tamu undangan, kamu akan berbaik hati meminjamkanku sisa uang seratus juta untuk biaya operasi ibuku yang sedang sekarat di rumah sakit, bukan?"

Kevin menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun pasir. Setetes keringat dingin berukuran besar mengalir bebas dari pelipisnya, melewati pipinya, dan menetes ke lantai. Bibirnya bergetar, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya. Nyalinya sudah menciut habis.

"Sekarang..." Aku merogoh saku celana kainku yang sudah pudar. Aku mengeluarkan sebuah dompet kulit imitasi yang sudah terkelupas di sana-sini, mengambil selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan kotor, lalu menjatuhkannya dengan santai tepat di atas ujung sepatu kulit mahal milik Kevin.

Puk. Uang lecek itu mendarat dengan sempurna.

"Ini sepuluh ribu rupiah. Bagaimana kalau kita balik permainannya? Kamu yang merangkak di lantai ini, menggonggong tiga kali dengan suara yang keras di depan seluruh kerabat keluarga Wijaya, lalu setelah itu aku akan mempertimbangkan untuk melunasi seluruh utang tersembunyi perusahaan logistik milikmu yang kudengar sedang berada di ambang kebangkrutan minggu ini?" ujargu sambil menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin.

"Kamu...!" Kevin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya memerah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum, terlebih oleh orang yang selama dua tahun ini dia anggap lebih rendah dari hewan peliharaan. "Adrian, jangan mentang-mentang kamu mendapatkan uang haram entah dari mana, kamu bisa berlagak sombong dan menghinaku di sini! Kamu harus ingat, keluargaku adalah mitra VIP emas di restoran Royal Jade ini selama bertahun-tahun! Kami punya hak hukum di sini!"

Aku tidak membalas ucapannya dengan amarah. Aku hanya terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat Kevin semakin tersiksa. Aku memalingkan wajahku sedikit ke arah Manajer Thomas yang berdiri tegak di sampingku.

"Manajer Thomas."

"Siap, Tuan Adrian! Apa perintah Anda? Sampaikan saja, seluruh staf restoran akan mematuhinya secara mutlak," jawab Thomas dengan posisi membungkuk hormat sembilan puluh derajat, menegaskan kepada semua orang siapa bos yang sebenarnya di tempat ini.

"Mulai detik ini juga, batalkan secara sepihak semua keanggotaan VIP, emas, ataupun perak atas nama Kevin, Erika, dan seluruh anggota keluarga besar Wijaya tanpa terkecuali. Kembalikan sisa uang deposit mereka jika ada, dan potong dengan biaya kerugian moral," ujargu tegas. Aku kemudian mengangkat tangan kanan, menunjuk Kevin, Erika, dan beberapa kerabat sepupu yang tadi tertawa paling keras dan menghinaku menggunakan ujung jariku. "Dan satu lagi... Usir mereka semua dari restoranku sekarang juga. Keberadaan mereka di sini hanya mengotori udara dan merusak pemandangan mataku."

"Baik, dilaksanakan Tuan!" Thomas langsung berbalik badan, wajah ramah bisnisnya lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi garang. Dia menatap puluhan sekuriti berbadan kekar yang sudah bersiaga di sekeliling aula. "Kalian semua tunggu apa lagi?! Dengar perintah Pemilik Baru Restoran! Seret Kevin dan Nyonya Erika keluar dari gedung ini sekarang juga! Mulai hari ini, masukkan nama mereka berdua beserta seluruh daftar keluarga dekatnya ke dalam daftar hitam permanen Restoran Royal Jade! Mereka tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di properti milik Tuan Adrian lagi!"

"Apa?! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ini pelanggan kaya! Aku punya koneksi dengan pejabat kota!" teriak Erika histeris, suaranya melengking tinggi memecah aula saat dua orang sekuriti berbadan raksasa langsung mencengkeram kedua lengan atasnya dengan kasar. Riasan bedak mahalnya yang tebal mulai luntur oleh keringat ketakutan, membuatnya tampak berantakan.

"Lepaskan aku! Adrian, dasar menantu sialan, kurang ajar, durhaka! Kamu berani memperlakukan aku seperti ini?! Aku akan melaporkan tindakan kriminalmu ini kepada Kakek! Kakek tidak akan melepaskanmu!" teriak Kevin yang juga diseret paksa oleh tiga orang petugas keamanan. Jas desainer ternama seharga puluhan juta yang dia pamerkan sejak sore tadi kini tampak kusut masai, dan sepatu kulit mengkilapnya terseret-seret pasrah di atas lantai marmer.

Seluruh tamu undangan, kolega bisnis, dan kerabat jauh keluarga Wijaya yang masih berada di dalam aula hanya bisa diam membeku. Tubuh mereka kaku karena ketakutan yang luar biasa. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat suara atau sekadar melangkah maju untuk membela Kevin maupun Erika. Mereka semua sadar, di depan kekuatan uang tunai puluhan miliar yang instan seperti itu, posisi sosial keluarga Wijaya tidak ada apa-apanya. Mereka takut jika mereka ikut campur, nama mereka juga akan terseret ke dalam daftar hitam dan menghancurkan reputasi bisnis mereka di kota ini.

Setelah aula akhirnya bersih dari suara teriakan destruktif mereka berdua, aku menghela napas panjang, merasakan beban berat yang selama dua tahun ini menghimpit dadaku perlahan-lahan menguap ke udara. Bersamaan dengan itu, suara digital mekanis yang dingin namun terdengar sangat nyaman kembali berdengung di dalam pusat kesadaranku.

[Ding! Misi Pertama: 'Tamparan Balasan untuk Keluarga Wijaya' telah berhasil diselesaikan dengan tingkat keberhasilan sempurna.]

[Evaluasi Kinerja Tuan Rumah: Sangat Memuaskan dan Tanpa Ragu!]

[Hadiah Tambahan Paket Pemula Diaktifkan: Keterampilan khusus 'Mata Penilai Dewa' telah ditambahkan dan disinkronisasikan sepenuhnya ke dalam sistem saraf penglihatan Tuan Rumah!]

[Fungsi Keterampilan: Tuan rumah kini dapat melihat status kekayaan asli, penyakit tersembunyi, serta rahasia terdalam orang lain hanya dengan satu kali tatapan langsung.]

Aku mengerjapkan mataku selama beberapa kali, merasakan sensasi hangat yang menjalar di sekitar area mata. Ketika aku kembali membuka mata dan melirik ke arah panggung utama restoran—di mana Bramasta Wijaya, sang kakek sekaligus kepala keluarga besar Wijaya sedang duduk mematung dengan wajah pucat kebiruan—sebuah panel layar semi-transparan berwarna biru muda mendadak muncul mengambang di atas kepalanya. Panel itu hanya bisa dilihat olehku.

[Nama Target: Bramasta Wijaya (Kepala Keluarga Wijaya)]

[Status Finansial: Kekayaan bersih Rp 45 Miliar (Sedang mengalami krisis likuiditas akut)]

[Status Kesehatan: Kanker Paru-paru Sel Kecil Stadium 3 (Mengalami penyebaran ke kelenjar getah bening. Sisa umur tanpa pengobatan khusus: 6 bulan)]

[Rahasia Tergelap: Sengaja menyembunyikan dokumen surat wasiat asli dari almarhum ayah Kirana. Surat wasiat tersebut sebenarnya menyatakan bahwa 60% saham seluruh perusahaan induk Wijaya Group jatuh secara mutlak ke tangan Kirana, bukan dibagi rata kepada anak-anaknya yang lain.]

Membaca baris demi baris informasi rahasia yang disajikan oleh Sistem secara akurat, sebuah senyuman dingin yang sarat akan rencana besar kembali terukir di wajahku. Informasi dari sistem ini bukan sekadar hadiah biasa, ini adalah senjata pemusnah massal yang bisa kuhancurkan untuk meruntuhkan seluruh dinasti keluarga Wijaya dalam sekejap mata.

Waktunya membongkar semua busuknya keluarga ini baru saja dimulai.

1
Darns Jabat
👍
Andrean Matabuh: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!