Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi ini weekend, dan Rizal bertekad untuk bertemu dengan istri serta putrinya. Demi agar tidak diusir, pria itu sampai membawa serta putra sulungnya
Fathan begitu senang saat tahu sang ayah mengajaknya untuk bertemu ibu serta adik perempuannya
Rizal mengetuk pintu, karena Wati sudah mengenal siap pria yang ada dihadapannya, wanita paruh baya itu mempersilahkan Rizal untuk masuk
Hanum turun dan tersenyum pada sang cucu yang juga ada disana "Nenek!" Teriak bocah delapan tahun itu
"Fathan" Hanum menyambut bocah tampan itu dalam pelukannya "Fathan apa kabar nak? Fathan sehat?"
Fathan mengangguk "Fathan baik, Fathan juga kesini mau ketemu Mama. Fathan udah kangen banget sama Mama"
Hanum terdiam, kini ia tahu apa tujuan Rizal membawa Fathan kesini "Mama mana nek?"
Hanum tersenyum lalu mengusap kepala cucu laki-lakinya itu "Ayo sayang! Kita duduk dulu!"
Bocah laki-laki itu mengangguk, Rizal menghampiri sang mertua lalu mengulurkan tangannya dan Hanum menerimanya
"Ibu sehat?" Tanya Rizal ramah dan Hanum menjawabnya dengan anggukan kepala
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Sejak Hanna pergi, aku seperti tidak ingin hidup lagi Bu. Aku bukan hanya kehilangan istri, tapi juga separuh dari hidup ku"
Rizal mengatakannya dengan sungguh-sungguh, namun Hanum tidak menanggapinya dengan serius
"Dimana Mama nek?" Hanum menatap sang cucu yang kembali bertanya
"Mama sedang tidak dirumah nak" Jawab Hanum
"Memangnya Mama dimana? Fathan udah lama banget gak ketemu Mama, apa Mama udah gak sayang lagi yaa sama Fathan"
Bocah tampan itu menundukkan kepalanya membuat Hanum menatap prihatin. Sebagai seorang nenek ia tidak sampai hati membuat sang cucu sedih
"Bukan begitu sayang! Mama sayang banget sama Fathan, tapi Mama sedang sakit sayang! Jadi Mama harus dirawat dulu" Ujar Hanum dengan nada lembut
"Mama sakit? Kenapa Mama sampai sakit nek? Mama dimana? Fathan mau jagain Mama nek" Desak Fathan
"Mama sedang diluar negeri sayang! Tante Hanin ada disana untuk menjaga Mama, jadi Fathan gak perlu khawatir!"
Rizal hanya menyimak saja, ia hanya berharap ibu mertuanya ini kelepasan bicara dan memberi tahukan dimana keberadaan istrinya
"Tapi Fathan mau ketemu sama Mama" Ucapnya lirih
"Fathan sabar yaa! Nanti kalau Mama sudah sembuh, Mama pasti akan menemui Fathan"
Ucapan itu tak lantas membuat bocah delapan tahun itu lega, wajahnya masih saja murung membuat Hanum tak tega melihat nya
"Apa Fathan mau ketemu adik?" Tanya Hanum pada akhirnya
Bukan hanya Fathan, Rizal pun terlihat antusias mendengar ucapan Hanum. Selama ini ia ingin melihat bahkan menggendong putrinya
"Mau nek!" Fathan mengangguk antusias
"Sebentar!" Hanum masuk, tak lama ia keluar dengan menggendong seorang bayi perempuan kecil berusia sekitar tujuh bulan
Rizal sudah menitihkan air matanya, hatinya menghangat saat melihat putrinya yang begitu menggemaskan
"Ini adiknya Fathan?" Tanya Fathan dengan wajah sumringah
"Iya sayang, namanya Eleanor. Fathan bisa panggil Ellea" Ujar Hanum seraya menurunkan Eleanor
Bayi tujuh bulan itu hanya menatap sang nenek dengan mata bulatnya. Ia seolah bertanya siapa dua orang yang berdiri dihadapannya
"A-apa aku boleh gendong Bu? Sebentar aja" Tanya Rizal dengan suara memelas
Hanum mengangguk "Sayang, Ayo Elea salim sama papa!"
Bayi tujuh bulan itu hanya menatap dengan mata polosnya. Tak tahan Rizal meraih putrinya dalam gendongan lalu memeluknya serta menciumi seluruh wajahnya dengan berderai air mata
"Kenapa papa nangis? Harusnya kan kita seneng karena ketemu adek!" Ujar Fathan polos
"Ini air mata bahagia sayang" Fathan hanya mengangguk saja
Hari itu Rizal sangat bahagia, ia menghabiskan waktunya dengan bermain bersama putrinya
Eleanor termasuk anak yang anteng, bayi kecil itu sangat cepat dekat dengan orang sekalipun baru pertama ia lihat
"Aku nginep disini yaa Pah! Aku mau sama ade soalnya!" Pinta Fathan saat mereka harus pulang
"Gak bisa sayang, kita harus pulang!"
"Kenapa? Papa juga bisa nginep disini" Sebenarnya Rizal juga ingin bersama putrinya, namun jika ia memaksa maka Hanna akan semakin membencinya
"Kita harus pulang sayang! Kalau Mama sudah pulang, baru kita jemput Mama sama ade" Rizal berusaha memberi pengertian pada putranya
"Fathan" Hanum memanggil sang cucu "Fathan ikut pulang sama Papa dulu yaa nak! Besok Fathan bisa kesini lagi sama adek!"
Bocah laki-laki itu mengangguk "Ya udah!"
Rizal berpamitan pada ibu mertuanya, lalu beralih pada sang putri dan mencium kedua pipinya yang gembul
Sungguh rasanya ia sangat bahagia, tidak lama lagi kebahagiaan itu akan kembali. Rizal yakin juga Hanna pasti akan memaafkan dirinya dan mereka kembali bersama
Setelah mendapat izin, Rizal selalu mengunjungi rumah ibu mertuanya. Tentu saja untuk menjenguk putri kecilnya sembari berharap dirinya bisa bertemu Hanna
Ia sedikit beruntung karena Hanum tidak menghalanginya untuk bertemu putrinya. Eleanor juga semakin dekat dengan sang ayah
Hanum sadar, bagaimanapun Rizal adalah ayah dari cucunya. Pernikahan Hanna dan Rizal mungkin akan berakhir, namun anak-anak tidak seharusnya menjadi korban dari perpisahan kedua orang tuanya
***
Waktu berlalu tanpa terasa, Hanna terlihat begitu bahagia. Sejak tadi wanita cantik itu hanya menatap keluar jendela mobil dengan senyum merekah nya
"Kayaknya mbak Hanna bahagia banget mau pulang" Tegur Hanin karena sejak tadi kakaknya itu hanya tersenyum, bahkan sejak keduanya berada didalam pesawat
"Mbak kangen banget sama anak-anak" Hanna tersenyum saat mengatakannya
"Mbak"
Hanna menoleh pada Sanga adik "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Setelah ini apa yang mau mbak lakukan?" Tanya Hanin membuat sang kakak diam
"Mbak gak tau pasti, yang jelas mbak akan bercerai dari mas Rizal" Ucap Hanna
"Mbak yakin? Aku tau secinta apa mbak sama mas Rizal"
Wanita cantik itu terdiam, mungkin Hanin benar, tapi bagi Hanna tidak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan
"Mungkin kamu benar dek, tapi mbak tidak akan bersama laki-laki yang sudah mendua" Hanna menarik napasnya panjang
"Mbak bisa memaafkan kesalahan apapun, tapi tidak untuk perselingkuhan"
Hanin menggenggam tangan sang kakak, ia tentu saja akan mendukung keputusan sang kakak apapun itu
"Mbak gak sendirian, aku ada disini"
Hanna tersenyum lalu memeluk erat sang adik "Makasih yaa dek, makasih karena selama ini kamu selalu bersama mbak"
Tak terasa taksi online yang mengantar mereka tiba didepan sebuah rumah, sesampainya disana Hanna menitihkan air matanya
Delapan bulan bukan waktu yang sebentar, ia tidak bertemu anak-anaknya demi untuk kesembuhannya
"Ayo mbak!" Hanin menggandeng tangan sang kakak lalu keduanya masuk
Hanna menatap kearah ruang tamu dimana sang ibu tengah bermain dengan seorang anak perempuan kecil yang begitu menggemaskan
"Ellea"
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.