Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Bab ini mengandung penggambaran dosa besar dan adegan dewasa. Penulis tidak bermaksud merendahkan institusi atau gelar keagamaan tertentu. Cerita ini murni fiksi yang mengangkat sisi kelam kemanusiaan, kerapuhan iman, dan perjalanan pertobatan
...****************...
Malam itu, perpustakaan lama yang berdiri angkuh di perbatasan pesantren tampak seperti siluet raksasa yang menyimpan ribuan rahasia.
Zaheera melangkah membelah rerumputan basah, Dengan satu tujuan: Bertemu Zavier.
Ia mengira akan menunggu lama di kegelapan, namun saat ia melewati deretan rak kayu jati yang dipenuhi kitab-kitab berdebu, ia melihatnya. Zavier duduk bersandar di dinding bata, bayangan rak menutupi sebagian wajahnya. Ia tampak sedang melamun, memutar-mutar korek api perak Zippo kesayangannya—sebuah benda yang sangat tidak mencerminkan seorang Gus.
Begitu indra pendengaran Zavier menangkap langkah kaki yang halus, ia mendongak. Matanya yang tajam langsung melembut, memancarkan binar kerinduan yang nyaris meledak.
Tanpa sepatah kata, Zaheera berhamburan ke arahnya. Zavier sigap berdiri, menangkap tubuh ramping itu dengan satu sentakan kuat, lalu mengangkatnya hingga kaki Zaheera tak lagi menyentuh lantai. Ia memutar tubuh Zaheera dalam dekapan yang begitu erat, seolah ingin menyatukan kembali dua kepingan jiwa yang sempat terpisah.
"Sayang... aku merindukanmu. Rasanya mau gila menahan ini di depan Abi dan Mas Azlan," bisik Zavier, suaranya parau, tenggelam di ceruk leher Zaheera yang tertutup kain pasmina.
"Sama, Zavi... aku juga sangat, sangat merindukanmu." balas Zaheera, meremas jaket kulit yang dikenakan Zavier.
Malam ini, Zavier menanggalkan jubah kemunafikannya. Ia mengenakan kaus oversized hitam, celana jins gelap, dan topi bisbol yang menutupi rambut acak-acakannya. Ini adalah Zavi-nya yang asli. Pria liar dari Kota A yang selalu berhasil membuat Zaheera Jatuh Cinta berkali-kali.
"Zavi, aku sesak di sini. Tidak mau membawaku jalan-jalan? Aku ingin melihat dunia luar bersama pria-ku yang asli," goda Zaheera dengan nada manja.
Zavier tersenyum miring, sebuah seringai nakal yang selama ini terkunci rapat di bawah peci hitam. "Ayo. Aku punya tempat yang jauh lebih tenang untuk kita bicara."
Zavier membawa Zaheera meninggalkan area pesantren menggunakan motor besarnya. Mereka melaju membelah dinginnya malam menuju sebuah kompleks bangunan modern di pinggiran kota. Di sana, di sebuah lantai teratas apartemen studio yang mewah, Zavier membuka pintu dan menarik Zaheera masuk.
Begitu pintu tertutup dan kunci berbunyi klik, suasana berubah drastis. Cahaya lampu dimmer yang hangat memberikan kesan intim. Apartemen itu sangat kontras dengan kamar asrama Zavier yang hanya berisi kitab dan sajadah. Di sini, ada sofa kulit, sistem suara high-end, dan aroma maskulin yang kuat.
"Sayang, aku benar-benar merindukanmu," kata Zavier, suaranya kini terdengar rendah dan penuh tuntutan.
Tanpa menunggu balasan, Zavier menarik pinggang Zaheera, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah. Ia mencium Zaheera dengan dalam, sebuah ciuman yang sarat akan lapar dan haus setelah berbulan-bulan terperangkap dalam aturan yang menyesakkan. Zaheera membalasnya dengan intensitas yang sama.
Zavier melepaskan pautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu, matanya menatap Zaheera dengan tatapan yang sangat gelap. "Bisa kita lakukan ini, Zee? Aku butuh merasakan mu untuk meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi."
Zaheera mengangguk pelan, jemarinya meraba rahang tegas Zavier yang kini mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. "Apapun untukmu, Zavi."
Di atas ranjang king size yang empuk, mereka terhanyut dalam penyatuan yang penuh emosi. Ruangan itu menjadi saksi bisu bagaimana kerinduan yang terpendam meledak menjadi gairah yang tak terbendung. Zavier seolah ingin menandai setiap inci tubuh Zaheera, memastikan bahwa gadis ini tetap miliknya.
"Zavi... ah... pelan-pelan," desah Zaheera saat Zavier bergerak dengan ritme yang menuntut.
"Aku mencintaimu, Zee. Hanya kamu," bisik Zavier parau di telinga Zaheera.
Setelah badai gairah itu mereda, Zavier meraih tisu, membersihkan sisa penyatuan mereka dengan sangat lembut dan telaten. Ia tidak ingin meninggalkan jejak sedikitpun pada tubuh kekasihnya.
"Sayang... maafkan aku. Apa aku terlalu kasar?" tanya Zavier penuh perhatian, mengecup kening Zaheera yang masih lembap oleh keringat.
"Tidak, Sayang. Aku bahagia bisa memilikimu lagi seperti ini," jawab Zaheera, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zavier. "Zavi, apartemen ini bagus sekali. Dari mana kamu punya tempat semewah ini?"
"Ini hasil investasi di perusahaan di Kota A. Aku sengaja menyiapkannya sebagai tempat pelarian jika aku sudah terlalu lelah dengan tuntutan di pesantren," jawab Zavier sambil mengelus rambut Zaheera.
"Kamu benar-benar penuh kejutan, Zavier," goda Zaheera.
Zavier hanya terkekeh pelan. Ia kemudian menarik tangan Zaheera menuju kamar mandi. "Ayo, mandi bersama sebelum kita harus kembali ke dunia nyata."
Di bawah kucuran air hangat shower, gairah itu kembali tersulut. Guyuran air seolah menambah sensasi liar dalam penyatuan kedua mereka. Zavier menyed*t habis setiap sisa kenikmatan dari tubuh Zaheera hingga gadis itu lemas dalam dekapannya, bersandar pada dinding keramik yang basah.
Pukul dua dini hari. Zavier melirik jam tangan peraknya dengan raut wajah yang kembali serius. Topeng kepura-puraan itu harus segera ia pakai kembali.
"Ayo Sayang, bangun. Aku bantu berpakaian," ucap Zavier. Ia dengan telaten memakaikan kembali kemeja Zaheera, mengancingkan-nya satu per satu dengan penuh cinta. "Aku khawatir ayahmu curiga jika kamu tidak ada di kamar."
Zaheera tertawa kecil, mencubit gemas pipi Zavier yang tampak panik. "Tenang saja, Zavi. Aku sudah izin pada Daddy kalau aku ingin pergi ke kota sebelah melihat suasana malam dan mungkin akan menginap di hotel. Daddy mengizinkannya karena dia ingin aku nyaman di sini."
Zavier tertegun, lalu mengembuskan napas lega yang panjang. "Syukurlah. Tapi kita tetap harus kembali sebelum subuh. Aku harus ada di masjid untuk jamaah bareng Abi."
Zavier akan bersiap pergi, namun langkahnya terhenti saat Zaheera memberikan kode khasnya—sebuah tarikan kecil pada ujung kemeja Zavier. Zavier berbalik, ia tahu apa yang diinginkan Zaheera.
Ia berlutut di depan Zaheera yang duduk di tepi ranjang. Zavier menundukkan wajahnya, mencium kening Zaheera lama, lalu turun hingga ke perut rata sang kekasih. Ia meletakkan kecupan hangat di sana, sebuah ritual yang selalu mereka lakukan sejak dulu, seolah sedang menyapa masa depan yang mereka impikan.
"Daddy pulang dulu, Sayang. Baik-baik sama Mommy di rumah ya," bisik Zavier di depan perut Zaheera dengan nada bercanda namun penuh kasih.
Zaheera tersenyum manis, mengelus rambut Zavier. "Hati-hati, Daddy."
Zavier bangkit, mengenakan kembali Topinya. Saat ia melangkah keluar apartemen, ia tahu bahwa sandiwara besar ini akan semakin berat, namun malam ini telah memberinya kekuatan untuk terus bertahan dalam kemunafikan demi cinta liarnya.
🌷🌷🌷
Karya ini mengandung adegan eksplisit dan pelanggaran norma agama (18+). Dimohon kebijakan pembaca dalam memilah pesan moral di dalamnya. Penulis menghormati seluruh pihak dan tidak bermaksud menyinggung suku, agama, ras, maupun golongan (SARA) dalam bentuk apa pun 🙏