NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3: RAHASIA LAMA YANG TERUNGKAP

Saat Ain sedang merawat Hamid sejenak, tiba-tiba Nova datang. Ia tahu Ain datang ke sini dan langsung mengejarnya.

"Ain! Kamu gila ya?! Kenapa kamu mau datang menemui orang jahat ini?! Dia yang hancurkan hidup kita, dia yang buat kamu kehilangan anakmu, dia yang buat kita jadi bahan tertawaan semua orang! Kenapa kamu masih mau lihat wajahnya?!" teriak Nova marah, matanya merah karena amarah.

"Nov, lihatlah dia... dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas. Dia sudah hancur, dia sedang sekarat... apa gunanya kita marah lagi? Itu tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang," jawab Ain lemah.

"TIDAK BISA!!" potong Nova, "Tidak akan pernah bisa! Kamu pikir aku bisa lupa apa yang dia lakukan?! Aku hampir kehilangan suamiku, anak-anakku hampir tidak punya ibu karena aib ini! Setiap hari aku hidup dalam rasa bersalah dan rasa malu! Kamu pikir itu mudah dilupakan?!"

Saat mereka sedang bertengkar, tiba-tiba Hamid bicara dengan suara pelan.

"Nova... Ain... ada satu hal yang aku sembunyikan selama ini... hal yang paling memalukan dan paling berat di hatiku..."

Kedua wanita itu diam dan menatapnya.

"Sebenarnya... aku tidak cuma punya kalian dua. Selama aku menjalin hubungan sama kalian, aku juga punya hubungan dengan tiga wanita lain di tempat yang berbeda. Aku penipu sejati... aku tidak cinta siapa-siapa, aku cuma mau mengambil keuntungan dari kalian. Aku minta uang, aku minta barang-barang, aku manfaatkan kasih sayang kalian yang tulus untuk keuntunganku sendiri..."

Kalimat itu seperti petir menyambar di telinga Nova dan Ain. Ternyata mereka bukan satu-satunya korban, Hamid sudah melakukan hal yang sama pada banyak wanita lain. Mereka merasa semakin hina, merasa semakin bodoh karena sudah percaya pada kata-kata manis penipu ulung itu.

"Kamu... kamu benar-benar manusia paling jahat yang pernah aku kenal..." kata Nova dengan suara dingin, matanya penuh kebencian dan rasa jijik.

"Maafkan aku... aku tahu aku tidak pantas diampuni... aku cuma mau mengaku sebelum aku mati, supaya hatiku sedikit lebih lega..." Hamid menangis lagi, napasnya semakin sesak.

Tiga hari setelah itu, kabar menyebar bahwa Hamid sudah meninggal dunia. Tidak ada keluarga yang mau datang mengurusnya, tidak ada teman yang mau mengantarnya ke pemakaman. Hanya tetangga sekitar yang merasa kasihan, akhirnya memakamkannya dengan sederhana di pemakaman umum, tanpa doa yang panjang, tanpa air mata kerabat.

Nova dan Ain tidak datang ke pemakaman. Bagi mereka, Hamid sudah mati jauh sebelum napas terakhirnya keluar. Ia mati saat ia memilih jalan dosa dan kebohongan itu.

Namun kematian Hamid membawa perubahan besar dalam hati kedua wanita itu. Mereka sadar, meski Hamid adalah penyebab utama semua kesengsaraan ini, mereka juga punya bagian salah karena melanggar batas, karena melupakan aturan agama dan norma masyarakat.

Ain mulai rajin pergi ke tempat ibadah, berdoa dan meminta ampun setiap hari. Ia berjanji akan menjalani hidup dengan benar, menjadi wanita yang baik dan bermoral, untuk menebus dosa-dosanya yang lalu. Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai melihat perubahannya. Ain yang dulu pendiam dan murung, sekarang menjadi wanita yang lembut, sabar, dan selalu siap membantu orang lain. Nama buruknya perlahan mulai tergantikan dengan nama baik yang baru ia bangun dengan susah payah.

Nova juga berusaha memperbaiki diri sepenuhnya. Ia menjadi istri yang lebih baik, lebih sabar, lebih setia. Ia menerima segala kekurangan suaminya, berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Meskipun bekas luka itu masih ada, tapi rumah tangganya mulai terasa lebih hangat dan damai. Pak Budi juga perlahan mulai bisa melupakan masa lalu, percaya kembali pada istrinya.

Setelah lima tahun berlalu, Ain dan Nova bertemu kembali di sebuah acara pernikahan teman lama. Keduanya sudah terlihat berbeda. Ain terlihat lebih tenang dan berwibawa, meski belum menikah tapi ia bahagia dengan hidupnya. Ia sudah diangkat menjadi kepala sekolah, dihormati dan disayangi oleh murid-murid serta orang tua murid. Nova juga terlihat lebih bahagia, rumah tangganya sudah damai, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar.

Mereka duduk berdua di sudut ruangan, mengenang masa lalu yang kelam itu.

"Kamu tahu Nov... dulu aku pikir hidupku sudah selesai, aku pikir aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Tapi ternyata Tuhan masih kasih aku kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri," kata Ain sambil tersenyum tipis.

"Benar Ain. Kita memang salah besar, kita harus menanggung rasa malu dan kesedihan itu, tapi itu semua jadi pelajaran paling berharga. Sekarang kita tahu, apa yang salah dan apa yang benar. Cinta yang datang dari jalan yang haram tidak akan pernah membawa kebahagiaan, yang ada hanya kehancuran dan penyesalan," jawab Nova dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ya... dan yang paling penting, kita tidak boleh menyalahkan nasib atau orang lain terus-menerus. Kita juga punya tangan sendiri, punya mata sendiri, kita memilih jalan itu sendiri. Jadi kita juga harus bertanggung jawab atas akibatnya," tambah Ain.

Kisah mereka menjadi cerita pelajaran yang sering diceritakan dari mulut ke mulut, bukan lagi sebagai cerita aib, tapi sebagai kisah peringatan. Kisah tentang dua wanita baik yang hampir hancur karena terbuai kata-kata manis penipu, tapi akhirnya bangkit kembali dan menemukan jalan yang benar.

Mereka sadar, harga diri dan nama baik itu sangat mahal, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali setelah hancur. Dan mereka berjanji, tidak akan pernah lagi melanggar batas, tidak akan pernah lagi menjual harga diri mereka demi cinta palsu dan janji kosong yang tidak ada jaminannya.

Enam tahun sudah berlalu sejak semua kejadian itu berlalu. Ain kini sudah menjadi Kepala Sekolah di tempat ia mengajar, dihormati dan disegani banyak orang. Hidupnya tenang, meski masih sendiri, ia merasa cukup bahagia dengan pekerjaannya dan kebaikan orang-orang di sekitarnya. Luka di hatinya sudah semakin sembuh, meski bekasnya tidak akan pernah hilang.

Suatu sore, saat sedang pulang dari sekolah, seorang wanita paruh baya dengan dua anak kecil menghadangnya di depan gerbang. Wajah wanita itu terlihat lelah dan penuh kesedihan.

"Ibu Ain... benarkah ini Ibu Ain?" tanya wanita itu dengan suara gemetar.

Ain mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat wajah itu. "Ya, saya sendiri. Ibu siapa ya? Ada keperluan apa?"

"Saya... saya Istri Hamid," jawab wanita itu pelan.

Jantung Ain seakan berhenti berdetak. Istri Hamid... wanita yang selama ini tidak pernah terlibat, tapi paling menderita karena perbuatan suaminya. Ain merasa malu luar biasa, langsung menundukkan kepalanya.

"Maafkan saya... saya tahu saya salah besar, saya tahu saya sudah menyakiti Ibu juga..." kata Ain dengan suara hampir tidak terdengar.

Tapi wanita itu malah menangis dan memegang tangan Ain. "Jangan bicara begitu Bu... saya tidak datang untuk mencari masalah atau memarahi Ibu. Saya sudah tahu segalanya, saya tahu Ibu dan Bu Nova juga korban penipuan suami saya. Saya sudah lama memaafkan kalian, karena saya tahu kalian tidak tahu kalau dia sudah punya istri dan anak."

Mata Ain membelalak kaget. Ia tidak menyangka istri Hamid akan bersikap sebaik ini.

"Terus... kenapa Ibu datang menemui saya?" tanya Ain pelan.

"Sebenarnya... setelah Hamid meninggal, hidup saya makin sulit. Ekonomi susah, saya sakit-sakitan, tidak mampu membiayai sekolah anak-anak. Saya sudah berusaha mencari kerja tapi badan saya tidak kuat. Saya tahu saya tidak pantas meminta apa-apa pada Ibu, tapi saya tidak tahu harus pergi ke mana lagi..." isak wanita itu.

Dua anak kecil di sampingnya juga ikut menangis, wajah mereka kurus dan pakaiannya sederhana. Hati Ain terasa tersayat. Anak-anak ini tidak bersalah, mereka adalah korban dari kesalahan ayahnya sendiri.

"Jangan bicara begitu Bu. Mari masuk ke dalam, kita bicara di dalam," ajak Ain lembut.

Sejak hari itu, Ain mulai membantu keluarga mantan istri Hamid. Ia memberikan uang, makanan, pakaian, bahkan memasukkan kedua anak itu ke sekolah tempat ia bekerja dengan biaya gratis. Ia merasa ini adalah cara terbaik untuk menebus dosanya, membantu orang yang paling menderita akibat kesalahan yang pernah ia lakukan bersama Hamid.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!