Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Alisa
Alisa melotot, membuat pergerakannya teledor dan menginjak ranting di bawahnya. Buru-buru berlari bersembunyi dibalik semak.
Benar saja, Zefano langsung menoleh saat mendengar suara ranting retak, padahal jarak mereka terlampau jauh, namun pendengaran Zefano yang tajam tak raib dari seberapa jauh jarak mereka.
"Dasar telinga kelelawar!" decaknya kecil, memanyun sebal.
"Tuan, apa ada yang membuat anda tidak nyaman?" tanya sekretarisnya yang baru turun.
Zefano lekas menatap ke depan, menggeleng pelan, "Tidak ada."
Bima, sekretaris Zefano lekas menyodorkan berkas yang Zefano butuhkan.
"Ini berkasnya, Tuan. Maaf saya tidak bisa mengantarnya langsung ke apartemen." ucapnya merunduk hormat.
Zefano hanya berdehem, membuka lembar demi lembar berkas yang ia butuhkan, "Tidak apa-apa. Kau bekerja dengan baik. Teruslah berpura-pura seolah kau pemilik perusahaan ini. Aku tidak mau rahasia ini bocor ke tangan rival bisnis kita." jelas Zefano, menatap serius bawahannya itu.
Bima dengan tegas mengangguk. Zefano menepuk bahu bawahannya itu beberapa kali sebelum akhirnya berbalik menuju basement.
Melihat Zefano pergi begitu saja, Alisa yang malah berada disana tentu kelabakan. Segera berlari menuju jalan untuk menahan taksi kembali.
"Astaghfirullah...Alisa! Kamu ceroboh banget sih?! Bagaimana nanti jika Mas Zefano pulang lebih dulu dan gaada kamu di apartemen?!" pekiknya, merutuki dirinya sendiri.
Gara-gara kepalang kepo, ia sampai tak menyadari bahwa Zefano akan pulang secepat ini.
"Ternyata aku berfikir berlebihan, Mas Zefano, bukanlah pemilik perusahaan itu." ucapnya, saat sudah berada di dalam mobil taksi.
Melaju cepat ke apartement miliknya.
Alisa lekas berlari masuk ke area apartement saat sudah sampai di apartement miliknya, tak ingin Zefano melihatnya keluar dari apartement.
Alisa buru-buru menaiki undakan teras apartement. Merutuki segala kecerobohannya sedari tadi.
"Alisa, kenapa kamu keluar?"
Langkah Alisa terhenti saat mendengar suara Zefano dari arah belakang. Jantungnya berdetak lebih kencang. astaghfirullah...kenapa secepat ini?! Harusnya tadi dia berlari saja, sialnya Zefano sudah lebih dulu menyusulnya.
Ia berbalik sembari meringis, menatap kikuk suaminya, "Ehh....Mas udah pulang."
Alisa terkejut saat melihat kening Zefano mengerut liar, berlari ke arahnya lalu mengajaknya masuk ke dalam dengan cepat tanpa menjawab ucapan Alisa. Membuat gadis itu tertegun.
"Lho, Mas? Kamu kenapa buru-buru?!" tanya Alisa terkejut.
Melihat dari raut wajah Zefano, jelas pria itu sedang cemas dan panik, merengkuh pinggangnya masuk ke dalam.
Melihat wajah Zefano semarah itu, Alisa menjadi merutuki kelakuannya sendiri. Bisa-bisanya ia mencurigai suaminya sendiri yang jelas tidak mungkin melakukan hal yang ia curigai.
Sementara Zefano, dia justru khawatir setengah mati. Jelas sekali ia lihat beberapa pesepeda motor membuntutinya dari arah belakang. Karena dia sendiri, ia tidak begitu khawatir, namun alangkah terkejutnya bahwa Alisa, istrinya, justru berada di luar sedari tadi.
"Mereka gabakal ngeliat Alisa kan?!" batin Zefano cemas. Memencet tombol lantai lift cepat.
"Mas, apa ada yang bikin kamu cemas?" tanya Alisa ragu-ragu.
Zefano yang tersadar lekas mengubah ekspresi wajahnya yang menakutkan itu, menghadap ke arah Alisa, merengkuh bahu istrinya itu erat.
"Kamu kenapa keluar, Alisa? Kenapa ngga bilang kalo kamu mau keluar?!" tanya Zefano, dengan nada sedikit meninggi di akhiran.
Tatapan Alisa langsung pias, sadar dengan kelakuannya Zefano langsung meminta maaf, menarik tubuh Alisa erat ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Alisa. Aku tidak bermaksud menakutimu, hanya saja—aku takut kamu kenapa-kenapa tanpa aku di sisimu." lirihnya, terdengar nafasnya tersengal.
Alisa juga merasakan dengan jelas dada Zefano berdetak lebih kencang, membuatnya tertegun.
"Ma-maafian aku, Mas. Aku cuma—ingin melihatmu." cicitnya memuram.
Zefano kecup pucuk kepala istrinya beberapa kali, semakin mengeratkan pelukannya disela lift yang terus naik ke atas.
"Iya, Mas udah maafin kamu, Alisa. Tapi mas mohon, jangan keluar dari apartemen tanpa mas, sekarang kasus kejahatan terhadap perempuan sudah banyak. Mas gamau kamu kenapa-kenapa, Alisa." lirihnya, semakin gemetar.
Alisa menjadi terharu sekaligus merasa bersalah. ternyata sekhawatir ini Zefano padanya. Ia jadi merasa tidak enak hati karena membuntuti suaminya tanpa izin. Membalas pelukan Zefano erat.
"Iya, Mas. Makasih banyak udah perduli banget sama aku."
Zefano tak menjawab, melebarkan blazer miliknya untuk Alisa masuk, lalu menutupnya, membalut istrinya dengan blazer hangatnya.
"Tuan, saya sudah tau siapa perempuan yang dekat dengan Zefano, Tuan." bisik pria bermotor di depan apartemen milik Zefano. Menatap tepar ke lantai apartemen paling atas.
"Kamu serius itu kekasihnya Zefano? Seperti apa perawakannya? Bentuk tubuhnya? Apa seksi, atau—"
"Tidak tuan, gadis itu berhijab."
Seseorang dari sebrang telefon melongo syok, "Ber-berhijab?!" pekiknya, "sejak kapan fetishnya jadi berubah gini?!"
"Saya tidak tahu, Tuan. Yang jelas, dilihat dari gaya fashionnya, dia seperti anak keluaran dari pesantren."
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Terus awasi pergerakannya, dan laporkan setiap jamnya padaku."
"Baik, Tuan."
Telefon pun terputus, dua pesepeda motor itu segera meninggalkan area apartement, melaju cepat membelah kerumunan jalan.
Sementara Zefano dan Alisa sudah sampai di depan apartemen mereka.
Entah mengapa sejak ketahuan keluar tanpa izin tadi, Alisa merasa Zefano menjadi sedikit protektif. Ia bahkan tak dibiarkan jalan sendiri, seolah dirinya adalah cendera mata berharga yang tidak boleh sesiapapun menyentuhnya.
"Mas, aku gapapa. Bisa tolong lepasin tangannya?" cicit Alisa saat mereka sudah sampai di ruang tamu.
Akhirnya Zefano pun melepaskan pegangan tangannya pada pinggang Alisa. Lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di atas sofa, menghela nafas sembari memijit pangkal hidungnya kuat.
Zefano lekas menepuk sofa di sampingnya pada istrinya, membuat Alisa tertegun.
"Duduklah, sayang. Ada yang ingin aku beritahukan padamu."
Netra bening gadis itu melebar, beranjak duduk dengan tenang di sisi Zefano, suaminya. menghadap ke arah suaminya itu.
"Iya, kenapa, Mas?"
Zefano tegakkan punggungnya kembali, mengeluarkan stop map dibalik tas yang ia bawa, lalu menyodorkannya ke hadapan Alisa.
Alisa tertegun melihat stop map berwarna hitam yang jelas berkas yang ia lihat saat Zefano menerimanya dari orang perusahaan tadi, membuatnya terkejut.
"Lho, Mas! Ini apa?!" pekiknya panik.
Zefano tersenyum tipis, lekas membuka isi stop map itu, memperlihatkan deretan demi deretan paragraf di kertas putih.
"Pengalihan posisi hak milik." eja Alisa di paragraf paling atas, sontak membulat. Mendongak cepat menatap suaminya, "Mas, ini apa?!"
Zefano sodorkan pena pada istrinya, "Tanda tanganilah, Alisa. Sesuai janjiku, apartement ini menjadi milikmu."
Terkejut Alisa disitu. Menutup mulutnya syok, segera mendorong kembali stop map itu ke hadapan Zefano.
"Aku tidak pantas menerima ini, Mas!"
Zefano tersenyum lagi, "Alisa, kamu berhak. Ini adalah mahar yang aku berikan untukmu. Maaf aku belum sempat membuat resepsi pernikahan kita. Tadi aku sekalian mengambil kartu nikah. Ini, kita sudah resmi menjadi suami istri." tunjuk dua buku nikah mereka pada Alisa, membuat buliran bening di pelupuk mata gadis itu luruh.
Alisa sontak memeluk Zefano erat, terisak di pelukan suaminya. Ia tidak mengira, suaminya pergi untuk memberikan kejutan ini untuknya. Sementara ia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak tentang suaminya.