NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Keesokan paginya, kekhawatiran Jasmine terbukti. Sikap protektif Axel tidak sekadar menetap di level yang sama, melainkan melonjak drastis mencapai puncaknya. Begitu matahari baru saja menyembul di ufuk timur tepi danau, Axel sudah mengumpulkan seluruh anggota tim di ruang tengah rumah Jasmine. Wajah sang kapten tampak luar biasa kaku, dengan lingkaran hitam yang semakin mempertegas kelelahan di bawah matanya. Di atas meja kopi, sudah berjejer tumpukan wadah makanan siap saji yang dikemas rapi.

"Mulai hari ini sampai hari keberangkatan kita ke London, tidak ada satu pun dari kalian yang diizinkan keluar dari pekarangan rumah ini tanpa izin tertulis atau persetujuan langsung dari gue," umum Axel dengan nada suara yang mutlak, dingin, dan tidak menerima bantahan apa pun. Matanya yang tajam menyapu wajah keempat anggotanya satu per satu, sebelum akhirnya tertuju agak lama pada Jasmine. "Kita akan latihan dari pagi hingga malam terus di rumah Jasmine. Gue udah menyewa jasa katering langganan untuk nganterin makanan tiga kali sehari langsung ke depan pintu. Jadi, gak ada alasan bagi siapa pun untuk berkeliaran di luar, pergi ke minimarket, atau... menyeberang jalan ke kafe."

Mendengar aturan super ketat yang mendadak itu, Bryan langsung menganga lebar. Ia menatap wadah katering di depan matanya dengan ekspresi seolah-olah baru saja dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. "Waduh, Kak Axel! Ini kok udah kayak wajib militer ya! Masa ke depan pagar aja gak boleh? Gue kan butuh menghirup oksigen murni tepi danau biar sel-sel otak gue yang mati gara-gara mikirin taktik bisa hidup lagi!"

"Bryan, diam. Ikuti saja instruksi kapten," tegur Kenzie dengan helaan napas pendek. Meskipun pembawaannya yang selalu gentleman dan rapi membuatnya terlihat menerima keputusan itu dengan lapang dada, kerutan halus di dahinya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman atas atmosfer yang semakin terasa menyesakkan ini.

Ilias hanya bisa mengelus dadanya sabar, melirik Jasmine yang kembali menunduk dalam-dalam sambil memainkan ujung kardigannya. "Axel, menjaga fokus itu memang perlu, tapi memutus hubungan anak-anak dengan dunia luar secara ekstrem begini bisa jadi bumerang untuk mental mereka," potong Ilias, mencoba menyuarakan apa yang ada di dalam hati mereka.

"Gue tau apa yang gue lakuin, Ilias," jawab Axel ketus, memotong kalimat Ilias dengan cepat. "Mental mereka akan jauh lebih hancur kalau kita kalah di panggung internasional hanya karena konsentrasi mereka terpecah oleh gangguan-gangguan gak penting di sekitar sini. Jasmine, masuk ke ruang latihan. Kita mulai simulasi dalam waktu lima menit."

Jasmine tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, mengangkat tubuhnya yang terasa seberat timah, lalu melangkah gontai menuju ruang kendali digitalnya. Di dalam hatinya, rasa sesak itu kembali datang bertubi-tubi. Aturan baru Axel jelas-jelas dibuat khusus untuk membentengi dirinya dari Liam. Axel seolah-olah ingin membangun tembok raksasa yang tidak tertembus di sekeliling hidup Jasmine, memastikan bahwa tidak akan ada lagi celah bagi sang barista jangkung untuk mengirimkan gangguan-gangguan manisnya. Namun, Axel tampaknya lupa satu hal penting. Pria berusia 30 tahun yang menjadi target kewaspadaannya itu bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang lulusan psikologi yang peka dan cerdas, Liam selalu memiliki seribu satu cara unik untuk menembus benteng pertahanan seketat apa pun, bahkan tanpa perlu melangkahkan kakinya melewati aspal jalan setapak tepi danau.

---

Waktu berputar lambat hingga jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Di dalam ruang latihan, atmosfer sudah berada di titik jenuh tertinggi. Bryan sudah berkali-kali salah menekan tombol skill, sementara mata Jasmine mulai terasa perih dan berair karena menatap layar monitor tanpa henti selama berjam-jam. Axel sendiri masih duduk kaku di kursinya, mencoret-coret papan strategi dengan spidol hitam dengan gerakan yang semakin agresif.

Ting-tong.

Suara bel rumah Jasmine yang berbunyi nyaring mendadak memecah keheningan yang kaku di dalam rumah tersebut.

Axel langsung mendongak tajam, matanya memicing waspada. "Siapa itu? Katering malam harusnya baru datang jam tujuh," gumamnya dengan nada penuh selidik. Ia berdiri dari kursinya dengan cepat. "Biar gue yang periksa. Kalian tetap di tempat masing-masing dan evaluasi ronde terakhir tadi."

Axel mulai melangkah menuju pintu depan, disusul oleh Ilias yang diam-diam mengikutinya dari belakang karena merasa ada yang tidak beres dengan tingkah paranoid sang kapten belakangan ini. Ketika pintu utama dibuka, pekarangan rumah tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di depan pagar kayu. Namun, tepat di atas pilar beton pagar yang berbatasan langsung dengan jalan setapak, tergeletak sebuah nampan kayu kecil yang ditutupi oleh kain serbet bersih bermotif kotak-kotak biru. Axel berjalan mendekat dengan langkah penuh kewaspadaan, seolah-olah benda di atas pagar itu adalah bom waktu yang siap meledak. Begitu kain serbet dibuka, aroma kesegaran yang luar biasa langsung menguap ke udara, mengalahkan bau tanah kering sore hari. Di atas nampan itu, berjejer lima botol kaca transparan berisi minuman berwarna ungu safir yang sangat cantik. Di dasar botolnya, terdapat potongan-potongan lemon segar dan beberapa kuntum kelopak bunga lavender kering yang mengapung anggun di antara bulir-bulir soda aktif. Tepat di samping botol-botol tersebut, terselip selembar kertas catatan kecil berlapis kayu tipis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan luwes menggunakan tinta perak.

"Untuk para pejuang London yang sepertinya sedang dikurung di dalam benteng pertahanan. Ini ramuan khusus bernama 'Lavender Sparkling Lemonade'. Khasiat utamanya adalah mendinginkan kepala yang terlalu panas karena ambisi dan mengembalikan fungsi otak yang beku. Diminum dalam keadaan dingin selagi sodanya masih menari. Dari tetangga seberang jalan yang sore ini terpaksa mengurung bebeknya karena takut ditembak oleh senapan virtual kapten kalian. Selamat berjuang!"

Melihat catatan yang penuh dengan nada sindiran santai namun sangat menohok itu, rahang Axel langsung mengetat dengan keras hingga urat-urat di lehernya menegang. Wajahnya menggelap seketika akibat rasa cemburu dan amarah yang kembali tersulut. "Pria ini benar-benar keterlaluan. Dia sengaja menantang otoritas gue," desis Axel dengan suara rendah yang bergetar. Ia mengulurkan tangannya yang besar, bersiap untuk meraih nampan tersebut dan membuang seluruh isinya ke tempat sampah di sudut pekarangan.

"Axel, berhenti!"

Suara teguran yang sangat tegas dari Ilias membuat pergerakan tangan Axel tertahan di udara. Ilias berjalan mendekat, lalu dengan sigap mengambil alih nampan kayu berisi minuman lavender tersebut sebelum sempat dihancurkan oleh sang kapten.

"Jangan kekanak-kanakan, Kak. Kak Liam hanya berniat baik," ucap Ilias dengan nada suara yang penuh dengan wibawa. Matanya menatap Axel dengan pandangan menegur yang sangat dalam. "Anak-anak udah berlatih sampai hampir gila di dalam sana. Mereka butuh sesuatu yang segar untuk menjaga kewarasan mereka. Membuang pemberian orang yang berniat baik gak akan buat lo kelihatan kayak kapten yang hebat, justru cuman buat lo kelihatan kayak orang pengecut yang ketakutan kalah saing."

Kalimat menohok dari Ilias itu sukses membuat Axel membisu di tempatnya. Ia menatap Ilias dengan pandangan tidak percaya, namun ia juga tahu bahwa menentang perkataan Ilias di saat seperti ini hanya akan merusak solidaritas tim yang sedang berada di ujung tanduk. Dengan dengusan kasar, Axel membalikkan badannya dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan pintu depan terbuka begitu saja. Ilias menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang kapten, lalu membawa nampan kayu tersebut masuk ke dalam ruang latihan.

"Woi! Apaan tuh yang dibawa Ilias? Baunya seger bener sampai sini!" pekik Bryan yang langsung menegakkan posisi duduknya yang mendeteksi keberadaan minuman. Matanya langsung berbinar-binar menatap cairan ungu berkilau di dalam botol kaca. "Gila, ini kan Lavender Sparkling Lemonade buatan Kak Liam! Wah, abang barista tampan kita emang penyelamat kita!"

Tanpa memedulikan tatapan membunuh dari Axel yang sudah kembali duduk di sudut ruangan, Bryan langsung menyambar satu botol kaca tersebut, membuka tutupnya, dan meminumnya dalam beberapa tegukan besar yang rakus. "Ahhh! Demi apa ini seger banget, gila! Otak gue yang tadinya berasa ngebul langsung berasa direfresh pakai software paling update! Leher gue berasa disiram air surga!" seru Bryan dengan volume suara yang heboh tanpa dosa.

Kenzie juga ikut mengambil satu botol, menyesapnya dengan gerakan yang jauh lebih anggun dan sopan. "Harus diakui, kombinasi rasa asam dari lemon dan aroma menenangkan dari lavender ini bener-bener diracik dengan takaran yang tepat. Ini ngebantu banget buat meredakan ketegangan otot leher," puji Kenzie jujur sambil mengangguk ke arah Ilias.

Ilias tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati meja Jasmine. Ia meletakkan botol kaca ketiga tepat di samping mousepad milik gadis itu. "Ini bagian kamu, Jasmine. Minum selagi dingin. Kamu udah bekerja keras hari ini," ucap Ilias lembut sambil mengacak pelan ujung rambut Jasmine dengan penuh kasih sayang seorang kakak.

Jasmine menatap botol kaca di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Ia bisa merasakan sensasi dingin dari embun air yang menetes di permukaan botol, kontras dengan hawa panas dari mesin PC di depannya. Dengan perlahan, ia meraih botol itu, membawa bibir botol ke mulutnya, dan menyesap cairan ungu tersebut. Rasa asam yang mengejutkan berpadu dengan manis yang pas dan aroma lavender yang pekat langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Rasa lelah yang menyiksa kepalanya selama berjam-jam seolah sirna dalam satu kali tegukan panjang. Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca kamar yang tirainya sengaja dibuka sedikit oleh Bryan tadi. Di seberang jalan aspal yang dinaungi rona senja, di atas balkon lantai dua Floraison Cafe, sosok jangkung Liam tampak sedang berdiri dengan santai. Pria itu masih mengenakan kemeja putih kasualnya, dan di dalam dekapan tangan kirinya, ada Donald si bebek putih gemuk yang sedang mengepak-ngepakkan sayap pendeknya dengan lucu ke udara. Ketika Liam melihat sosok Jasmine yang sedang memegang botol kaca di dekat jendela, ia langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, melambaikan tangan dengan gerakan yang sangat lebar dan santai penuh keceriaan.

Melihat pemandangan absurd namun luar biasa hangat tersebut, Jasmine tidak bisa menahan dirinya lagi. Sebuah tawa kecil yang sangat renyah akhirnya lolos dari bibirnya, menghancurkan seluruh sisa-sisa ketegangan emosional yang sempat mengurungnya sepanjang hari. Ia membalas lambaian tangan Liam dengan gerakan jemari yang sangat kecil di balik kaca jendela, sebuah interaksi rahasia yang sangat singkat, namun cukup untuk membuat senyuman di wajah Liam seberang sana semakin mengembang lebar. Di sudut ruangan yang gelap, Axel yang menyaksikan seluruh pemandangan itu hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kuku jarinya memutih sempurna. Sinar matanya yang dingin kini dipenuhi oleh rasa frustrasi yang mendalam. Ia menyadari satu kenyataan pahit yang tidak bisa ia bantah malam ini, sejauh apa pun ia mencoba membangun dinding protektif untuk mengurung Jasmine, Liam selalu punya cara yang jauh lebih halus, lebih indah, dan lebih menusuk untuk menembus masuk dan mencuri senyuman dari gadis itu dengan cara yang tidak akan pernah bisa ia lakukan.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!