Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kembali ke Sekte
Setelah memastikan tidak ada bahaya yang tersisa dan memeriksa keadaan formasi pembatas yang rusak, para tetua memutuskan untuk segera kembali ke Sekte Angin Hijau. Perjalanan pulang berjalan dengan tenang, meski suasana masih sedikit tegang karena kejadian dengan Sekte Bayangan Gelap tadi.
Sepanjang jalan, banyak murid yang melirik ke arah Mu Chen dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan hormat. Mereka masih sulit percaya bahwa pemuda yang selama ini dikenal santai dan seringkali terlihat konyol itulah yang sebenarnya menjadi penyelamat mereka.
Sesampainya di gerbang sekte, para tetua segera melaporkan kejadian secara rinci kepada Tetua Agung dan membuat pengumuman agar semua murid tetap waspada. Berita tentang Sekte Bayangan Gelap yang muncul dan rencana mereka menyebar dengan cepat, membuat seluruh warga sekte merasa sedikit khawatir.
Namun di tengah kegelisahan itu, Mu Chen tetap berjalan santai sambil menggendong makhluk kecil yang tadinya adalah Makhluk Kuno Berbisa itu. Makhluk itu kini sudah tenang, matanya tidak lagi memancarkan cahaya berbahaya, dan bahkan terlihat agak akrab mengikuti gerakan Mu Chen.
"Mu Chen, kau benar-benar mau membawanya pulang?" tanya Bai Hao sambil menatap makhluk itu dengan hati-hati.
"Iya, kan tadi sudah saya katakan. Sekarang dia tidak berbahaya lagi, kulitnya tebal jadi bisa membantu menjaga kebun sayur saya. Kalau ada hewan pengganggu, dia bisa menakuti mereka saja," jawab Mu Chen polos.
Su Ling tertawa kecil: "Hanya kau yang bisa berpikir begitu — menjadikan makhluk kuno legendaris sebagai penjaga kebun sayur."
Zhao Feng yang berjalan agak di belakang akhirnya mendekat. Ia menatap Mu Chen sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih rendah dan tidak lagi sombong seperti sebelumnya:
"Terima kasih tadi... jika tidak ada kau, mungkin situasinya akan jauh lebih buruk."
Mu Chen menoleh dan tersenyum lebar: "Sama-sama! Lagipula kita satu kelompok kan? Kalau ada bahaya, kita bantu bersama-sama saja. Ngomong-ngomong, apakah kau lapar juga? Saya mau ke dapur sebentar."
Zhao Feng tertegun sejenak, lalu akhirnya mengangguk kecil dan pergi. Ia mulai memahami satu hal: kekuatan Mu Chen bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan atau dipamerkan, tapi sesuatu yang ada begitu saja — dan pemiliknya tidak pernah merasa dirinya istimewa.
Setelah sampai di halaman belakang asramanya, Mu Chen duduk bersila sejenak untuk merasakan keadaan tubuhnya. Melalui Mata Kebenarannya, ia bisa melihat dengan jelas perubahan yang terjadi setelah menyerap energi makhluk kuno dan sisa energi dari anggota Sekte Bayangan Gelap tadi.
Dua Dantian-nya kini terlihat lebih luas dan stabil:
- Dantian Surgawi: Airnya menjadi lebih jernih, memancarkan cahaya lembut yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar dan menyejukkan.
- Dantian Neraka: Cairannya menjadi lebih padat dan berat, namun tidak lagi terasa kasar — justru teratur dan kuat seperti baja yang ditempa berulang kali.
- Gerbang Galaksi: Berputar dengan ritme yang lebih halus, seolah telah terbiasa menyaring berbagai jenis energi, sedangkan Kitab Jalan Bintang yang menyatu di tengahnya kini memancarkan tulisan-tulisan samar yang bisa dimengerti sedikit demi sedikit oleh Mu Chen.
Di dalam benaknya, suara Kitab itu terdengar tenang:
"Tubuhmu semakin matang. Energi yang kau serap tadi telah diolah menjadi fondasi yang lebih kokoh. Mata Kebenaranmu juga akan semakin tajam seiring berjalannya waktu — kau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain."
Mu Chen mengangguk puas: "Baguslah. Kalau makin kuat, makin aman juga. Tapi yang terpenting..."
Ia berdiri dan menatap kebun kecil di belakangnya yang kini tumbuh sangat subur, lalu menepuk perutnya yang berbunyi pelan:
"...perut harus tetap terisi. Mari kita memasak!"
Tidak lama kemudian, asap tipis mengepul dari dapur sederhana miliknya. Aroma masakan yang harum menyebar ke seluruh area sekitarnya — campuran bumbu dan energi halus yang tidak disadari Mu Chen masuk secara tidak sengaja saat ia memotong sayuran dan menumisnya.
Bai Hao dan Su Ling yang mencium aroma itu segera datang dengan wajah berseri:
"Mu Chen, kau masak apa? Wanginya enak sekali!"
"Nasi goreng spesial! Saya tambahkan sedikit daun obat yang tumbuh di area belakang tadi — rasanya pasti lebih segar," jawabnya sambil menata makanan di atas meja.
Saat mereka mulai mencicipinya, mata mereka langsung membelalak:
"Ini... rasanya tidak hanya enak, tapi juga membuat tubuh terasa ringan dan segar! Apakah ini juga ada hubungannya dengan kekuatanmu?" tanya Su Ling takjub.
Mu Chen tersenyum kikuk: "Entahlah, saya cuma masak seperti biasa saja. Mungkin karena tanahnya subur dan bahannya bagus ya? Hahaha!"
Mereka pun makan bersama dengan riang, seolah kejadian menegangkan di hutan tadi hanyalah mimpi belaka.
Malam itu, suasana di sekte kembali tenang. Para tetua sudah mengatur pengawasan tambahan dan menyampaikan pesan ke sekte-sekte tetangga agar saling waspada terhadap keberadaan Sekte Bayangan Gelap.
Di kamar tidurnya, Mu Chen berbaring sambil menatap langit berbintang di luar jendela. Makhluk kecil yang kini ia beri nama "Berduri" tidur meringkuk di dekat kakinya.
"Kitab, menurutmu mereka akan datang lagi?" tanyanya pelan dalam hati.
"Pasti. Mereka mengincar kekuatanmu. Tapi jangan khawatir — selama kau tidak sembarangan membuka Gerbang Galaksi terlalu lebar dan terus berlatih mengendalikan energimu, mereka tidak akan mudah mengganggumu. Lagipula, jalanmu masih panjang."
Mu Chen mengangguk pelan, lalu tersenyum:
"Kalau begitu, besok saya akan berlatih mengatur 'kecepatan sedotan' ini lagi agar tidak terlalu kuat menyedotnya. Dan juga akan menanam lebih banyak sayuran agar persediaan makanan aman. Hidup harus dijalani dengan tenang kan?"
Dan begitulah, meski ancaman masih mengintai di masa depan, Mu Chen tetap menjalani hidupnya dengan cara sederhana — makan enak, berlatih pelan, dan menikmati setiap hari seperti biasa