NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Sinar matahari siang hari di Jakarta yang mulai melunak menerobos masuk melalui celah gorden Master Suite, menciptakan garis-garis emas di atas seprai sutra abu-abu. Karina Dyah Pramesti menggeliat pelan, merasakan otot-ototnya yang kemarin seperti ditarik paksa kini mulai rileks. Menjadi idol selama bertahun-tahun memang melatih staminanya untuk konser berjam-jam, namun protokol pernikahan Old Money ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada menari di atas panggung dengan high heels sepuluh senti.

Karina duduk di tepi ranjang, menyugar rambut hitam panjangnya yang bergelombang. Ia menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Darma sudah pergi sejak pagi buta, meninggalkannya dalam keheningan mewah yang hampir terasa tidak nyata.

"Hmm, kegiatan apa yang enak dilakukan sebagai istri seorang Darma Hutomo hari ini ya?" gumamnya dengan kekehan kecil.

Ia bangkit, membiarkan dress satin pendeknya menjuntai indah di lekuk tubuhnya. Dengan gerakan malas, ia menjepit rambutnya menggunakan jedai emas, menyisakan beberapa helai rambut di sisi wajahnya yang tanpa make-up namun tetap memancarkan kecantikan murni yang sanggup membuat jutaan orang di Seoul bertekuk lutut.

Kriyukkkk..

Perutnya berbunyi nyaring. Sejak drama serbet di restoran tempo hari dan rentetan acara adat, rasanya ia belum benar-benar makan dengan tenang.

Karina melangkah menuruni tangga pualam yang melingkar megah. Suasana mansion itu begitu sunyi, hanya terdengar detak jam kakek kuno di lobi. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai dasar, seolah ada sensor yang bergerak.

"Ibu, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu pelayan wanita dengan seragam rapi yang tiba-tiba muncul dari balik pilar besar.

Karina tersentak, memegang dadanya. "Eh, iya. Saya lapar, di mana letak dapurnya?"

"Mari, Ibu. Biar saya antar," sahut pelayan itu dengan sikap sangat hormat, kepalanya menunduk dalam.

Karina mengikuti pelayan tersebut melewati lorong yang dindingnya dihiasi lukisan maestro asli bukan reproduksi. Mereka sampai di ruang makan yang luasnya mungkin setara dengan aula kecil. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu jati utuh sudah terisi berbagai macam hidangan yang aromanya langsung menggugah selera. Ada salmon panggang, sup iga bening yang mengepul, hingga deretan salad segar dan buah-buahan eksotis.

"Silakan, Ibu. Makan siang sudah kami siapkan," ucap pelayan tadi.

Karina mengerjapkan mata. "Wah, terima kasih. Tapi ini banyak sekali. Apa ada yang makan lagi selain saya? Mas Darma pulang siang ini?"

"Tidak, Ibu. Bapak sedang ada pertemuan di luar. Ini khusus disiapkan untuk Ibu. Bapak berpesan agar kami menyajikan menu terbaik untuk memulihkan tenaga Ibu," jawab sang pelayan dengan sopan.

Karina menarik kursi berat di ujung meja. "Tapi ini porsinya untuk satu batalyon! Kalian sudah makan?"

"Sudah, Ibu. Kami ada ruang makan sendiri di area belakang."

Karina mengamati wajah-wajah pelayan yang berdiri siaga di sudut ruangan. Sebagai orang yang besar di lingkungan militer ayahnya yang hangat namun disiplin, Karina merasa tidak nyaman jika diperlakukan terlalu kaku.

"Oh ya, kita belum sempat berkenalan bukan? Perkenalkan, nama saya Karina. Tapi kalian bisa panggil saya Ayin kalau sedang tidak ada orang tua atau Mas Darma," ucap Karina dengan senyum hangat yang tulus.

Para pelayan di sana tampak saling lirik, wajah mereka menunjukkan kegugupan yang luar biasa. "Mohon maaf, Ibu. Nama saya Sari, ini Mirna, dan itu Lastri. Tapi kami tetap harus memanggil Ibu sesuai aturan di sini."

Karina menghela napas, menyesap jus jeruk segarnya. "Aturan kaku sekali. Benar-benar seperti yang punya rumah, ya?" gumamnya gemas. "Tapi benarkah kalian tidak mau panggil saya Ayin saja? Saya merasa seperti wanita umur lima puluh tahun kalau dipanggil 'Ibu'."

"Maaf, Ibu. Itu sudah sesuai aturan keluarga besar Hutomo. Ibu adalah istri dari Bapak Darma, majikan kami," sahut Sari dengan nada tegas namun tetap halus.

"Baiklah, baiklah. Terimakasih ya, kalian bisa melanjutkan pekerjaan yang lain. Biarkan saya makan dengan tenang, atau saya akan merasa seperti sedang diawasi oleh komandan peleton kalau kalian berdiri di sana terus."

Karina pun makan dengan lahap. Masakan di mansion ini luar biasa. Tidak heran, Darma adalah pebisnis yang perfeksionis; bahkan rasa sup iganya pun terasa sangat 'mahal'.

**

Selesai makan, rasa penasaran Karina memuncak. Ia memutuskan untuk melakukan room tour mandiri, ditemani oleh Sari sebagai pemandu jalannya agar tidak tersesat di rumah seluas hampir dua hektar ini.

"Mansion ini dibagi menjadi tiga sayap utama, Ibu," jelas Sari saat mereka mulai berjalan.

Karina mengawalinya dari Sayap Barat. Di sini terdapat Perpustakaan Pribadi yang dindingnya tertutup rak buku setinggi lima meter. Harum kertas tua dan kayu ek memenuhi ruangan. Ada tangga geser kuno untuk mengambil buku di bagian atas. Di sudutnya, terdapat meja kerja Darma yang sangat maskulin, dengan perangkat komputer tercanggih dan dokumen-dokumen yang tertumpuk rapi.

"Mas Darma sering di sini?" tanya Karina sambil menyentuh meja kayu yang dingin itu.

"Sering, Ibu. Bapak biasanya bekerja di sini hingga dini hari jika ada masalah di bursa saham luar negeri."

Mereka beralih ke Sayap Timur. Karina terperangah melihat Galeri Pribadi. Isinya bukan pajangan biasa, melainkan koleksi barang antik peninggalan klan Cendana dan sejarah keluarga besar. Ada pedang kehormatan, medali-medali asli, hingga foto-foto hitam putih yang dibingkai emas.

"Wah, ini benar-benar museum pribadi," bisik Karina takjub.

Selanjutnya, Sari membawanya ke bagian Basement. Di sinilah "surga" para pria. Sebuah garasi raksasa yang lebih mirip showroom mobil mewah. Deretan Ferrari, Lamborghini, Rolls Royce, hingga beberapa mobil off-road militer yang sudah dimodifikasi berjejer rapi di bawah lampu LED putih yang terang.

"Apa dia pernah memakai semuanya?" Karina geleng-geleng kepala melihat kemewahan yang gila-gilaan ini.

Terakhir, mereka menuju Area Belakang. Inilah bagian favorit Karina. Sebuah Kolam Renang Infinity yang panjangnya hampir separuh lapangan bola, dikelilingi oleh taman bergaya tropical modern. Pohon-pohon kamboja tua dan bunga-bunga eksotis tertata rapi, menciptakan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Menteng.

Di samping kolam, terdapat Paviliun Kaca yang ternyata adalah gym pribadi dan ruang spa.

**

Sore harinya, matahari mulai terbenam, menyisakan langit berwarna jingga keunguan. Karina merasa kakinya pegal setelah berkeliling hampir seluruh bagian mansion yang belum semuanya ia jelajahi. Ia memutuskan untuk beristirahat di bangku taman dekat kolam renang.

Angin sore Jakarta yang lembut memainkan rambut hitamnya yang tergerai. Ia menyandarkan punggungnya, menatap air kolam yang tenang. Di tangannya, ia memegang Black Card pemberian Darma tadi pagi.

Sepuluh miliar... batinnya. Dia benar-benar membayar harga untuk kebebasanku.

Karina memejamkan mata sejenak, menikmati keheningan. Di balik citra Ice Queen-nya, ia sebenarnya hanya seorang gadis yang merindukan kedamaian setelah badai skandal yang menghancurkan hatinya. Dan entah mengapa, di rumah yang 'dingin' ini, ia merasa sedikit lebih aman.

"Ibu, apa perlu saya bawakan teh hangat?" suara Sari memecah lamunannya.

Karina membuka mata dan tersenyum manis. "Boleh, Sari. Dan tolong bawa camilan kecil ya. Saya mau menikmati sore ini sebelum 'beruang es' itu pulang dan membuat suasana jadi kaku lagi."

Sari terkekeh kecil—pertama kalinya ia berani tertawa di depan majikannya. "Baik, Ibu. Segera saya siapkan."

Karina kembali menatap langit. Ia tidak tahu kapan Darma akan pulang, atau bagaimana malam kedua mereka nanti. Namun, untuk saat ini, ia ingin menikmati perannya sebagai Nyonya di labirin emas ini. Ia tampak begitu cantik, humble, namun tetap memiliki aura kemewahan yang tak tertandingi—seorang putri sejati yang sedang beristirahat di istananya sendiri.

****

1
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!