NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Xin Yi sangat sopan dan teratur. Ia duduk dengan tegap, tidak mengeluarkan suara saat mengunyah, tidak berbicara dengan mulut penuh, dan tidak pernah menjatuhkan makanan atau mengotori meja.

Justru caranya sangat rapi dan elegan dengan caranya sendiri.

Namun, kebencian membuat Xin Yiran buta akan hal itu.

Melihat sikap Xin Yi yang santai dan tidak terpancing emosi, Xin Yiran merasa semakin geram. Ia melangkah maju selangkah, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan wajah penuh kebencian, lalu melontarkan kalimat yang sangat pedas dan memojokkan.

"Dasar gadis tidak tahu malu! Bakat merebut dan merusak rumah tangga orang pasti sudah menurun dari ibumu! Keluarga macam apa yang melahirkan anak sepertimu?!"

Ucapan itu sangat keras dan tajam.

Suasana di sekitar meja tersebut seketika menjadi hening total. Para remaja lain yang sedang berbincang-bincang segera berhenti dan menoleh dengan penuh rasa ingin tahu.

Di meja tidak jauh dari sana, Qin Yuwu, Rong Tian, dan Xu Xian juga ikut menghentikan obrolan mereka. Telinga mereka terangkat tajam menyimak setiap kata yang terucap.

Wah, ini serius! Ada apa ini?

Keluarga Xin memang dikenal sebagai salah satu keluarga konglomerat terbesar, menduduki peringkat keempat terkaya di ibu kota.

Namun, selama ini keluarga tersebut dikenal sangat tertutup, sopan, dan "biasa saja".Hampir tidak pernah ada skandal besar atau gosip panas yang menyeret nama baik mereka.

Oleh karena itu, ketika Xin Yiran—yang diketahui sebagai keponakan dari CEO perusahaan tersebut—berteriak menuduh hal seburuk itu terhadap seorang gadis, rasa penasaran orang-orang di sana langsung memuncak.

Mereka tanpa sadar berkumpul dan menjadi penonton setia, ingin tahu apa sebenarnya kisah di balik keluarga besar ini dan siapa gadis yang berani melawan Xin Yiran itu.

Xin Yi meletakkan garpu di atas piring dengan suara klik yang pelan namun tegas.

Ia mengambil selembar tisu dan mengelap kedua tangannya dengan sangat hati-hati dan perlahan, seolah-olah tindakan kotor yang baru saja diucapkan sepupunya itu tidak pantas menyentuh kulitnya.

Setelah bersih, ia mendongak menatap Xin Yiran dengan tatapan datar namun tajam.

"Apakah Bibi yang mengajarimu berbicara sekotor itu?" tanya Xin Yi dengan suara tenang namun menusuk. "Bicaranya seperti membuang sampah sembarangan."

Wajah Xin Yiran seketika berubah merah padam menahan malu dan marah.

Ia ingin sekali membantah, namun di dalam lubuk hatinya ia tahu hal itu tidak benar.

Ibunya memang tidak menyukai kehadiran Xin Yi dan ibunya namun wanita itu tidak pernah mengajarkan anaknya untuk menggunakan kata-kata kotor atau menghina secara langsung.

Bahkan ibunya pun sadar bahwa anak kecil tidak bersalah. Yang salah hanyalah orang dewasa yang membuat kekacauan di masa lalu. Xin Yiran sendiri yang terlalu terbawa perasaan dan dendam sehingga melontarkan hinaan itu tanpa berpikir panjang.

"Kau... kau berani menuduhku begitu?!"serunya terbata-bata, kehilangan kata-kata.

Xin Yi perlahan berdiri dari kursinya. Karena mengenakan sepatu hak tinggi yang baru dibelikan, postur tubuhnya yang tadinya mungil kini tampak sedikit lebih tinggi dan tegap, bahkan hampir menyamai tinggi Xin Yiran yang berdiri di depannya.

Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, namun suaranya terdengar jelas dan dingin memotong keributan itu.

"Jika kau masih anak-anak, maka bersikaplah layaknya anak-anak yang berpendidikan," ucapnya pelan namun tegas. "Anak mana yang menuduh orang lain merebut suami? Apakah kau sudah menikah sehingga punya suami untuk direbut?"

Pertanyaan itu sangat jitu dan memalukan.

Semua orang yang menyimak seketika menahan napas, lalu tanpa sadar menatap Xin Yiran dengan tatapan aneh dan sedikit menertawakan.

Iya juga ya... mereka kan masih SMA, ngomongin suami segala.

Melihat temannya terpojok, Feng Xixi segera maju mendekat. Dengan berani ia mendorong bahu Xin Yi sedikit keras, lalu berteriak dengan nada tajam.

"Jangan mengalihkan topik! Kau tahu betul apa maksud kami! Kau sudah merebut Kakak Liu Yang dari Yiran! Dasar perebut!"

"Liu Yang?"

Xin Yi mengerutkan keningnya bingung. Ia memutar otak mencoba mengingat, namun benar-benar tidak mengenali nama atau sosok yang dimaksud.

"Aku tidak kenal orang seperti itu," jawabnya jujur dan datar.

Mendengar jawaban itu, Xin Yiran seolah melihat merah. Ia melangkah maju, menunjuk wajah Xin Yi dengan jari gemetar.

"Berani-beraninya kau berpura-pura bodoh! Jelas-jelas pagi tadi aku melihat dengan mata kepalakuku sendiri! Kau bicara akrab dan melamun bersama dia di taman! Kenapa kau menyangkalnya?!"

Suasana semakin panas, dan semua orang kini menunggu bagaimana gadis misterius ini akan membalas tuduhan 'mencuri perhatian cowok idaman' ini.

Xin Yi memutar kembali ingatannya, mencoba mengingat kejadian pagi tadi di taman.

Ah... ia teringat sekarang. Ada seekor anjing kecil yang berlari kencang dan menabrak punggungnya, lalu pemiliknya datang meminta maaf. Ternyata... pemuda itulah yang dimaksud oleh Xin Yiran.

Xin Yi menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Aku benar-benar tidak mengenalnya. Kami hanya berbicara karena anjingnya yang tidak sengaja menabrakku. Itu saja. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya atau dari keluarga mana," ucapnya jujur tanpa rekayasa.

Namun, bagi Xin Yiran yang sedang dibutakan oleh rasa cemburu dan benci, penjelasan itu terdengar seperti kebohongan belaka.

"Kau bohong! Kakak Liu Yang itu sangat dingin dan jarang sekali bersikap ramah pada orang asing!" seru Xin Yiran semakin keras. "Tapi tadi pagi, caranya memandangmu itu berbeda! Matanya tidak lepas darimu! Itu jelas terlihat seperti kenalan lama atau bahkan...pasangan!"

Alis Xin Yi berkerut dalam. Kesabarannya mulai menipis. Ia sudah lelah berdebat dengan orang yang tidak mau mendengar logika.

Tepat saat ia hendak membuka mulut untuk membalas dengan nada yang lebih tajam, sebuah suara laki-laki yang terdengar dingin dan tegas tiba-tiba memecah keributan itu dari belakang kerumunan.

"Dia memang tidak mengenalku!"

Semua orang terkejut dan menoleh serentak.

Liu Yang muncul di tengah kerumunan dengan dua orang temannya, Zhang Yui dan Ming Juan.

Mata Zhang Yui dan Ming Juan seketika membelalak lebar saat melihat sosok gadis yang berdiri di tengah arena pertengkaran itu.

Gila! Ini kan gadis yang waktu itu di atap sekolah?! Batin mereka serentak kaget.

Ternyata gadis aneh dan misterius itu benar-benar berasal dari kalangan elit yang sama dengan mereka! Tapi... putri dari keluarga mana sebenarnya dia? Selama ini tidak pernah terdengar kabar tentang keberadaannya.

Tanpa mempedulikan kebingungan kedua temannya, Liu Yang melangkah maju. Ia menjaga jarak yang sopan namun tegas di hadapan Xin Yi.

Ia menatap mata bulat gadis itu dengan tatapan lembut, lalu mengucapkan kata maaf dengan tulus.

"Maafkan saya... karena urusan saya, Nona jadi disusahkan dan diganggu seperti ini."

Setelah memastikan Xin Yi tidak marah, ia menoleh tajam ke arah Xin Yiran yang masih berdiri terpaku. Suaranya berubah menjadi dingin dan membekukan.

"Dan kau dengar baik-baik. Dia memang tidak mengenalku," tegasnya. "Tapi aku yang mengenalnya. Dan lagi... aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan kau. Jadi tolong jangan menyebarkan rumor palsu dan mempermalukan dirimu sendiri di sini!"

Waduh!

Wajah Xin Yiran dan Feng Xixi seketika berubah pucat pasir. Darah seolah surut seluruhnya dari wajah mereka mendengar penolakan yang begitu keras dan mematikan itu.

Feng Xixi yang masih tidak percaya menyenggol lengan temannya dengan gemetar.

"Yiran... bukankah kau bilang kalian dekat? Kenapa Kakak Liu Yang malah terlihat sangat risih dan jijik padamu?"

Xin Yiran berdiri kaku, mulutnya terbuka tertutup namun tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Rasa malu dan hancur menyelimuti hatinya saat ini.

Tepat saat suasana mencapai puncaknya, Xin Yuning kembali muncul di area itu. Di sebelahnya berjalan seorang pria tampan dengan wajah datar dan tanpa ekspresi, seolah-olah tidak tertarik dengan keributan apa pun di sekitarnya.

Namun, saat Xin Yuning melihat kerumunan orang yang memadati meja adiknya, Tanpa mempedulikan siapa pun, ia segera berlari kecil mendekat dan langsung berdiri di depan Xin Yi, melindunginya dengan punggungnya.

"Ada apa ini?! Kenapa bisa ramai begini?!" serunya dengan nada tegas dan sedikit marah.

Ia memandang tajam ke arah Xin Yiran dan Feng Xixi yang wajahnya pucat, lalu menoleh ke arah Liu Yang yang berdiri di situ.

"Kalian mengganggu adikku?" tanyanya siap meledak.

Melihat kedatangan Xin Yuning yang tampak sangat marah dan siap membela adiknya, Xin Yiran langsung mundur beberapa langkah. Ia gemetar dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara, menundukkan kepalanya takut dimarahi oleh sepupunya.

Liu Yang pun terlihat sedikit kaget melihat sisi protektif Xin Yuning yang begitu kuat. Ia segera mengangkat kedua tangannya tanda tidak bersalah dan menjelaskan dengan cepat.

"adik? Tidak, Tuan mau Xin! Saya tidak mengganggunya. Saya justru datang untuk membela Xin Yi dari tuduhan yang tidak benar," ucapnya jujur.

Di samping Xin Yuning, Quan Yubin—teman kakaknya yang tampan namun dingin itu—hanya diam menyimak. Ia menatap adik tiri temannya itu dengan alis yang sedikit berkerut.

Gadis ini... sungguh unik. Wajahnya terlihat begitu lelah dan jijik dengan situasi ini, seolah-olah berdebat adalah hal paling membuang waktu di dunia.

Memang benar apa yang dipikirkan Xin Yi.

Ia sama sekali tidak punya energi untuk membuang waktu berdebat dengan orang yang tidak punya logika. Sepupunya itu sudah diperingatkan berkali-kali, tapi sepertinya tidak pernah kapok atau sadar diri.

Merasa suasana semakin tidak nyaman dan perutnya juga sudah terisi, Xin Yi menarik pelan lengan jas kakaknya.

Ia mendongak menatap wajah Xin Yuning dan berkata dengan nada lelah namun tegas,

"Ayo pulang. Aku tidak mau berada di sini lagi."

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!