NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Akad di Ambang Kematian

​Lantai linoleum rumah sakit ini memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip menyilaukan, namun bagiku, dunia baru saja menjadi gelap gulita.

​Aku berdiri mematung di depan pintu ruang operasi bedah darurat. Di tanganku, selembar kertas dengan tulisan tangan yang tidak beraturan bergetar hebat mengikuti tremor jemariku. Kertas itu robek di bagian ujungnya, mungkin karena Sifa menulisnya dengan tergesa-gesa sambil menahan sakit yang teramat sangat.

​"Mas Bumi, maafkan Sifa. Sifa dengar semuanya saat Mas bicara dengan Kak Aruna di koridor kemarin. Sifa tidak mau Mas menikah karena terpaksa. Biarkan Sifa pergi saja..."

​Setiap kata di surat itu terasa seperti belati tak kasatmata yang menghujam tepat di ulu hatiku. Selama tiga puluh dua tahun hidupku, aku diajarkan bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya. Adrian mengajariku bahwa kekuasaan adalah perisai pelindung. Dewan Direksi mengajariku bahwa setiap kelemahan bisa ditutupi dengan kontrak yang tepat.

​Tapi malam ini, di koridor rumah sakit pemerintah yang berbau karbol dan keputusasaan ini, seluruh filosofi hidupku hancur berkeping-keping.

​Dua miliar rupiahku tidak berharga di hadapan keikhlasan seorang gadis remaja yang rela mati demi harga diri kakaknya.

​Aku menoleh perlahan ke arah Bumi. Pria itu duduk merosot di lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin bercat kusam. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya dengan putus asa. Tidak ada isak tangis yang terdengar darinya, dan justru itulah yang membuat pemandangan ini seratus kali lebih menyayat hati. Bahunya bergetar hebat. Dia adalah seorang pria yang sedang menahan rintihan agar tidak terdengar oleh dunia yang sudah terlalu kejam padanya.

​Aku melangkah mendekatinya. Hak sepatuku yang biasanya terdengar seperti ketukan palu hakim yang mengintimidasi, kini terasa seperti langkah seorang pesakitan yang berjalan menuju tiang gantungan.

​"Bumi..." suaraku nyaris tak terdengar, tercekat oleh rasa bersalah yang menggunung di tenggorokanku.

​Dia tidak mendongak. "Pergilah Bu Aruna!,biarkan Saya sendiri." Suaranya serak, berat oleh duka.

​"Bumi, aku... aku minta maaf. Aku tidak tahu dia mendengarnya. Aku akan memanggil dokter jiwa terbaik, aku akan memastikan dia mendapat motivasi—"

​"Tutup mulut Anda," potongnya mendadak.

​Kali ini Bumi mengangkat wajahnya. Matanya merah, dipenuhi urat-urat kemarahan dan genangan air mata yang mati-matian ia tahan. Tatapannya menembus topengku, menelanjangi jiwaku.

​"Anda pikir ini masalah medis? Anda pikir ini masalah yang bisa diselesaikan dengan melempar segepok uang ke wajah dokter?" Bumi berdiri perlahan. Postur tubuhnya menjulang di hadapanku, namun bukan untuk mengancam, melainkan sebagai bentuk pertahanan terakhirnya.

​"Dia melepaskan nyawanya karena saya, Bu Aruna. Karena dia pikir saya melacurkan kehormatan saya di depan Anda! Dia lebih memilih mati daripada melihat saya diinjak-injak oleh kontrak gila itu!"

​Air mataku akhirnya jatuh. Pertahanan yang kubangun sejak kematian Adrian runtuh begitu saja. Aku, Aruna Wiratmadja, CEO yang tidak pernah menundukkan kepala pada siapa pun, kini berdiri dengan bahu bergetar di hadapan karyawan level bawahku.

​"Lalu aku harus apa, Bumi?" bisikku frustrasi, air mata menetes merusak sisa riasanku. "Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki ini? Katakan padaku! Aku akan memberikan apa pun. Seluruh sahamku, posisiku, apa pun, asal adikmu tidak menyerah malam ini."

​Bumi menatapku dengan kepahitan yang pekat. "Hanya ada satu hal yang tidak bisa Anda berikan, Bu Aruna. Yaitu kebenaran."

​Dia berbalik, memunggungiku, menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu itu menyala seperti mata iblis yang sedang menertawakan kami.

​"Kontrak kita batal," ucap Bumi pelan, namun keputusannya final. "Saya akan mencari cara lain untuk membayar rumah sakit. Ambil kembali dua miliar Anda. Silakan hadapi Lukman sendirian. Saya sudah kehilangan banyak hal dalam hidup, saya tidak mau kehilangan adik saya karena kebohongan ini."

​Jantungku serasa berhenti berdetak. Kata 'batal' itu menggemakan kehancuran total perusahaanku. Tapi anehnya, bukan Lukman atau Dewan Direksi yang melintas di pikiranku saat ini. Yang kulihat adalah wajah Sifa yang pucat dengan selang di hidungnya. Yang kurasakan adalah kehangatan tangan Bumi saat ia menggenggam tanganku di mobil tadi untuk melindungiku dari pamanku sendiri.

​Pria ini pasang badan untukku setengah jam yang lalu, dan sekarang, aku membiarkan dunianya hancur sendirian?!

​Tidak!. Aruna, kau bukan pengecut, batinku mencoba memberikan dorongan motivasi.

​Aku menghapus air mataku dengan kasar menggunakan punggung tanganku. Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor Sarah.

​"Sarah," kataku segera setelah panggilan tersambung, mengabaikan fakta bahwa ini sudah lewat tengah malam. "Kirimkan tim hukum kita ke rumah sakit tempat kita berada sekarang. Dan hubungi KUA terdekat. Bawa seorang penghulu ke mari. Jangan banyak tanya, bayar berapa pun denda keterlambatan administrasi. Aku butuh dia ada di sini dalam empat puluh lima menit."

​Aku mematikan sambungan. Bumi berbalik dengan cepat, matanya melebar tak percaya.

​"Apa yang Anda lakukan? Anda sudah gila?!"

​"Aku memang gila karena pernah berpikir bisa membeli hidup seseorang," balasku. Aku melangkah maju hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. Aku mendongak, menatap langsung ke kedalaman mata cokelatnya. "Kau bilang adikmu hancur karena pernikahan kita adalah kebohongan?"

​"Aruna—"

​"Maka kita tidak akan berbohong padanya, Bumi," selaku tegas. Dadaku naik turun menahan emosi yang meluap-luap. "Kita akan membuatnya menjadi kenyataan. Bukan kontrak satu tahun. Bukan sandiwara untuk media. Sebuah pernikahan yang sebenarnya. Di depan Tuhan, dan di depan Sifa saat dia keluar dari ruang operasi nanti."

​Bumi terpaku. Rahangnya jatuh seolah aku baru saja mengucapkan bahasa alien. "Anda... Anda tidak mengerti apa yang Anda katakan. Pernikahan dalam Islam adalah, sebuah perjanjian yang berat. Ini bukan intrik untuk negosiasi, Aruna!"

​"Kau pikir aku sedang bernegosiasi?!" Suaraku pecah, setengah berteriak di koridor yang sepi. Aku meraih kedua kerah kemeja batiknya, menariknya sedikit hingga dia harus menunduk menatapku. Tanganku gemetar, tapi cengkeramanku sekuat baja.

​"Dengar aku, Bumi Arkan. Aku hidup di dunia yang penuh kebohongan. Suamiku dibunuh, dan keluarganya sendiri yang mencoba menguburku hidup-hidup. Kau satu-satunya hal nyata yang kutemui dalam dua tahun terakhir. Kau menolak uangku demi agamamu. Kau melindungiku dari Lukman padahal kau bisa saja kabur. Jika kau mencari seorang istri yang sempurna dalam agamanya, itu bukan aku. Tapi jika kau mencari seseorang yang akan bertarung di sisimu, yang tidak akan lari saat dunia runtuh... maka nikahilah aku malam ini!."

​Keheningan yang tegang dan sarat emosi menyelimuti kami. Nafas Bumi yang hangat menerpa wajahku. Matanya mencari-cari setitik keraguan di mataku, tapi aku telah membuang semua keraguanku.

​"Anda sedang menjebak diri Anda sendiri ke dalam sangkar orang Rendahan miskin, Aruna," bisiknya parau, tangannya perlahan naik dan menyentuh punggung tanganku yang masih mencengkeram kerahnya. Sentuhannya sangat lembut, sangat bertolak belakang dengan kata-katanya.

​"Lebih baik aku terjebak bersamamu, daripada mati membeku di menara gadingku sendirian," balasku tanpa berkedip. "Tolong aku, Bumi. Biarkan aku membantumu menyelamatkan Sifa. Jadikan aku keluargamu yang sah. Setelah ini... kita hadapi semuanya sama-sama."

​Bumi memejamkan matanya erat-erat. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, jatuh mengenai jari telunjukku. Air mata itu terasa panas, membakar dinding es di hatiku yang selama ini kubangun tinggi-tinggi.

​Perlahan, dia mengangguk. "Ya Allah... ampunilah hamba," gumamnya pelan. Lalu dia membuka matanya, menatapku dengan sebuah keteguhan baru. "Jika kita melakukan ini, tidak ada jalan mundur, Aruna. Anda akan menjadi istri saya seutuhnya, dalam segala hak dan kewajiban di hadapan Allah."

​Aku mengangguk mantap. "Aku siap!."

​Tiga puluh menit kemudian, Hajah Fatimah tiba di rumah sakit dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya bersimbah air mata kepanikan. Bumi langsung memeluk ibunya, menjelaskan kondisi Sifa dengan hati-hati.

​Namun, kejutan terbesar bagi wanita paruh baya itu bukanlah kehadiran Sarah dan dua pengacara kantorku, melainkan kehadiran seorang pria paruh baya berpeci hitam—penghulu yang diseret Sarah dari ranjangnya dengan imbalan donasi pembangunan masjid yang tidak bisa ia tolak.

​"Bumi... apa maksudnya ini, Le? Kenapa ada penghulu di sini?" tanya Hajah Fatimah dengan suara bergetar.

​Aku mendekati ibu mertuaku, meraih kedua tangannya yang dingin. "Bu... keadaan Sifa kritis. Jika dia sadar nanti, kami ingin memberinya kebahagiaan terbesar. Kami tidak ingin menunda pernikahan ini. Kami ingin melangsungkan akad sekarang juga, di musholla rumah sakit ini. Agar Sifa tahu, kakaknya tidak sendirian lagi."

​Hajah Fatimah menangis sesenggukan, menarikku ke dalam pelukannya. "Masya Allah, Nak Aruna... kamu wanita yang sangat mulia. Ibu merestui kalian, Ibu ridho."

​Dadaku sesak. Jika saja dia tahu bahwa beberapa jam yang lalu niatku sangat kotor. Tapi pelukan tulus Hajah Fatimah menghapus sisa kepalsuanku. Mulai detik ini, aku benar-benar ingin menjadi menantu yang pantas untuknya.

​Kami berjalan menuju musholla kecil di ujung koridor. Ruangannya sempit, berbau karpet tua yang sedikit apak, hanya diterangi lampu redup. Tapi bagiku, tempat ini tiba-tiba terasa lebih megah dan sakral daripada ballroom hotel bintang lima tempatku dulu melangsungkan pernikahan pertamaku dengan Adrian.

​Bumi duduk bersila di hadapan penghulu, berhadapan langsung denganku yang duduk di samping Hajah Fatimah. Aku memakai gamis dusty rose yang sama, namun kali ini, pasmina sutra itu menutupi kepalaku dengan lebih rapi, dibantu oleh tangan lembut ibu Bumi.

​"Saudara Bumi Arkan bin almarhum Muhammad Arkan," suara penghulu itu menggema di ruangan sempit, membawa beban spiritual yang membuat udara di sekitar kami menipis.

​Bumi menarik napas panjang. Punggungnya tegak. Dia tidak menatapku, dia menatap lurus ke arah penghulu. Wajahnya memancarkan sebuah ketundukan total pada takdirnya.

​"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Aruna Wiratmadja binti almarhum Baskara Wiratmadja, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar dua ratus ribu rupiah, dibayar tunai."

​Bukan dua miliar. Dua ratus ribu. Uang yang ada di dompet Bumi saat ini. Dan entah kenapa, jumlah itu terasa jauh lebih mahal dari apa pun yang pernah kumiliki.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Aruna Wiratmadja binti almarhum Baskara Wiratmadja dengan maskawin tersebut dibayar tunai."

​Satu tarikan napas. Lancar. Tegas. Bariton suaranya bergema menembus dinding kalbuku.

​"Sah?"

​"Sah."

​"Alhamdulillah."

​Saat doa dilantunkan, aku menundukkan wajahku. Air mata yang hangat mengalir deras membasahi pipiku. Ini bukan air mata ketakutan atau manipulasi. Ini adalah rasa syukur yang sangat asing. Sesuatu yang patah di dalam diriku seolah baru saja disatukan kembali oleh jabat tangan pria di hadapanku.

​Bumi membalikkan tubuhnya ke arahku. Matanya masih sedikit merah, namun tatapannya kini berbeda. Ada sorot kepemilikan yang lembut, sebuah janji perlindungan yang tak terucapkan.

​Dia mengulurkan tangannya. Dengan jemari yang gemetar, aku meraih tangan suamiku. Aku menunduk, mencium punggung tangannya, merasakan wangi air wudu yang masih segar.

​Bumi meletakkan tangan kanannya di puncak kepalaku yang tertutup hijab. Bibirnya bergerak merapal doa dengan lirih. "Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaihi... Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang Engkau berikan kepadanya."

​Aku memejamkan mata, membiarkan kehangatan tangannya meresap hingga ke jiwaku.

​Tepat saat kami beranjak berdiri, ponselku yang berada di saku gamis bergetar hebat. Diikuti oleh ponsel Sarah yang berdering dengan nada darurat dari luar musholla.

​Aku mengambil ponselku. Sebuah notifikasi dari grup elit Dewan Direksi dan belasan tautan berita dari portal media nasional masuk secara bersamaan.

​Judul beritanya seakan menamparku dengan telak:

"SKANDAL WIRATMADJA TECH: CEO ARUNA WIRATMADJA DIPAKSA MENIKAHI KARYAWAN BAWAHAN UNTUK MENUTUPI BUKTI PEMBUNUHAN MANTAN SUAMINYA."

​Di bawah headline itu, terpampang foto CCTV saat aku menarik lengan Bumi di koridor rumah sakit, dimanipulasi dengan sudut yang membuatnya seolah-olah Bumi sedang mengancamku.

​Lukman... pria itu tidak hanya membatalkan operasi Sifa. Dia baru saja melemparkan bom atom ke tengah-tengah kebahagiaan rapuh kami. Dia membakar duniaku menjadi abu.

​Aku mendongak, menatap Bumi yang juga sedang membaca layar ponselnya yang disodorkan oleh Sarah. Rahang Bumi mengeras hebat, urat lehernya menonjol.

​Bulan madu kami belum pun dimulai, tapi perang yang sesungguhnya baru saja meletus.

____________________________________________

Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru dan derit roda ranjang rumah sakit mendekat ke arah musholla. Seorang perawat muncul dengan wajah pucat pasi. "Mas Bumi! Bu Aruna! Tolong cepat ke ruang ICU! Monitor detak jantung Sifa... monitornya flat!"

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!