"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bela Ketemu Rajendra
"Nyonya… tadi memberi pesan… untuk tidak mengizinkan Aden masuk ke dalam rumah."
Seolah tersambar petir—raut wajah Rajendra langsung berubah.
"Apa?" suaranya menegang.
Ia sampai memastikan ulang, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mama bilang… aku gak boleh masuk?"
"Iya, Den…" jawab satpam pelan. "Maaf, kami hanya menjalankan perintah."
Rahangan Rajendra mengeras.
Tangannya mengepal di atas kemudi.
Satpam yang berdiri di hadapan Rajendra menundukkan kepala, tak berani membalas tatapan tajam tuannya.
"Oke, Pak… kembali saja ke pos jaga," ucap Rajendra akhirnya, berusaha menahan emosinya.
Ia masih cukup sadar—satpam itu hanya menjalankan perintah. Kalau sampai melanggar, bisa saja ia dimarahi… atau bahkan dipecat.
"Baik, Den."
Setelah satpam itu pergi, Rajendra mengeluarkan ponselnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghubungi Bu Kiran.
Tak butuh waktu lama, panggilannya diangkat.
"Halo?"
"Halo, Ma… aku ada di depan rumah."
"Terus?" jawab Bu Kiran santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Rahang Rajendra mengeras. "Aku mau masuk. Kenapa Mama menyuruh satpam melarang aku?"
"Memangnya kamu mau apa ke sini?"
"Aku mau ketemu Cya."
"Untuk mengajaknya pulang?"
"Iya."
Terdengar helaan napas di seberang sana. "Jangan harap kamu bisa membawa Cya pulang… selama orang tua Aurel masih ada di rumah kamu."
Nada suara Bu Kiran berubah dingin. Tegas. Tidak memberi ruang untuk ditawar.
Rajendra memejamkan mata sejenak, menahan emosi yang mulai memuncak. "Ayolah, Ma… coba mengerti aku sedikit saja. Aku gak mungkin mengusir orang tua Aurel. Rumah itu… juga rumah Aurel."
Hening. Beberapa detik terasa begitu panjang.
Namun saat Bu Kiran kembali bicara—ucapannya justru seperti pisau.
"Oh… jadi itu bukan rumah Cya?"
Deg!
"Kalau begitu, besok Mama akan carikan rumah untuk Cya. Yang jauh lebih besar… dari rumah kamu dengan Aurel."
Tuut!
Sambungan terputus begitu saja.
"Ma—" Rajendra terlambat.
Ia menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras.
Tanpa menyerah, ia mencoba menelepon lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Namun tidak ada jawaban.
Bu Kiran benar-benar mengabaikannya.
"Ck!" Rajendra berdecak kesal. "Apa yang harus aku lakukan?"
Tangannya mengusap wajahnya kasar, mencoba meredam emosi yang bercampur jadi satu—kesal, bingung, dan… takut.
***
Begitu Bu Kiran membalikkan tubuhnya setelah selesai menelepon Rajendra, matanya langsung membelalak saat melihat Cya berdiri di belakangnya sambil membawa secangkir teh hangat.
Tadi, Bu Kiran sengaja menghadap ke jendela saat menelepon—memastikan Rajendra benar-benar berada di depan rumah.
"C-Cya?" Bu Kiran tampak gelagapan. Ia mulai khawatir… jangan-jangan Cya mendengar semua percakapannya. Apalagi volume ponselnya tadi cukup keras.
"Mama habis teleponan sama Kak Jendra?" tanya Cya pelan.
Pertanyaan itu adalah hal yang paling ingin dihindari oleh Bu Kiran. Namun ia tau—tidak ada gunanya mengelak.
"Iya, sayang." Bu Kiran berjalan ke sofa, lalu duduk sambil menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
Cya ikut duduk setelah meletakkan cangkir teh di meja di hadapan Bu Kiran. "Aku dengar… Mama gak bolehin Kak Jendra masuk ke rumah ini?"
Ternyata benar—Cya mendengar semuanya. "Kamu… dengar pembicaraan Mama?" tanya Bu Kiran hati-hati.
Cya mengangguk pelan. "Kenapa Mama gak bolehin Kak Jendra masuk? Dia kan anak Mama…"
Sebelum menjawab, Bu Kiran mendengus kasar. Raut wajahnya menunjukkan betapa lelah dan kesalnya ia pada Rajendra.
"Mama kesel sama dia, Cya. Gimana bisa dia mengizinkan orang tua Aurel tinggal satu atap dengan kalian?"
Cya menatap lurus, lalu menjawab dengan tenang. "Bukan Kak Jendra yang mengajak mereka tinggal di sana, Ma. Mereka yang datang sendiri… dan ingin menginap. Aku lihat Kak Jendra juga sebenarnya kesulitan menolak."
Ia tidak sedang membela—hanya menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Itu sama saja," potong Bu Kiran tegas. "Karena pada akhirnya dia tetap mengizinkan. Mana ada orang menginap selama itu?"
Nada suaranya penuh emosi. "Aku juga sebenarnya heran, Ma… tapi Kak Jendra memang sangat menghormati dan menyayangi mereka."
"Maka dari itu Mama membawa kamu ke sini," sahut Bu Kiran cepat. "Mama gak mau menantu Mama tinggal bersama orang tua Aurel."
Alis Cya menukik. Ia mulai menyadari—mertuanya benar-benar tidak menyukai keberadaan mereka.
"Pokoknya kamu nggak boleh pulang ke rumah itu… selama mereka masih ada di sana," tegas Bu Kiran tanpa memberi ruang untuk dibantah.
Cya terdiam sejenak. "Tapi—"
"Enggak ada tapi-tapian, sayang," potong Bu Kiran lagi, kali ini dengan nada lebih lembut namun tetap tegas. "Mama melakukan ini demi kebaikan kamu… dan pernikahan kalian."
Cya menunduk sesaat, lalu mengangguk pelan. "Oke… kalau itu maunya Mama."
Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap Bu Kiran dengan hati-hati. "Tapi… aku boleh minta satu hal?"
"Tentu saja boleh."
Cya menarik napas kecil. "Tolong izinkan Kak Jendra masuk ke rumah ini."
Bu Kiran terdiam.
"Aku gak enak, Ma… kalau gara-gara aku, Mama sampai melarang anak Mama sendiri masuk ke rumahnya."
Hening sejenak.
Bu Kiran menghembuskan napas kasar.
Sebenarnya… ia ingin menghukum Rajendra. Ingin membuat putranya merasakan kehilangan.
Namun—ia tidak bisa menolak permintaan Cya, menanti kesayangannya.
"Baiklah…" ucapnya akhirnya. "Mama akan izinkan dia masuk."
Wajah Cya langsung sedikit mereda."Makasih, Ma."
Senyumnya tipis—namun tulus.
***
Beberapa menit kemudian, Rajendra akhirnya diizinkan masuk ke dalam rumah.
Langkahnya cepat, nyaris berlari, hingga ia tiba di ruang tamu—tempat Cya dan Bu Kiran duduk.
"Cya…" Tanpa menunggu reaksi, Rajendra langsung menarik Cya berdiri dan memeluknya erat. Pelukan itu kuat… seolah ia takut kehilangan Cya saat itu juga.
Tubuh Cya sempat kaku.
Namun perlahan, tangannya terangkat… membalas pelukan itu, meski ragu.
"Kita pulang sekarang, ya?" bisik Rajendra begitu pelukan mereka terlepas. Suaranya lembut, tapi penuh harap.
Cya menggeleng pelan.
Satu gerakan sederhana—namun cukup untuk meruntuhkan harapan Rajendra.
Senyum tipis yang sempat terukir di wajahnya perlahan memudar. Sudut bibirnya turun, matanya kehilangan cahaya.
Melihat itu, Bu Kiran justru tidak merasa iba. Tatapannya malah mengeras—dan ada kepuasan tipis yang terselip.
"Kamu dengar sendiri, kan?" ucapnya dingin. "Cya tidak mau pulang ke rumah itu."
Padahal—Cya tidak pernah mengatakan hal itu.
Ia hanya… belum siap pulang.
Rajendra menatap Cya dalam-dalam. Tatapannya berubah, bukan lagi tegas, tapi memohon.
"Aku mohon…" suaranya nyaris serak. "Pulang sama aku."
Hening.
Beberapa detik terasa begitu lama.
Namun lagi-lagi—Cya menggeleng.
Pelan. Pasti. Dan untuk yang kesekian kalinya… harapan Rajendra runtuh tanpa suara. Tangannya yang tadi sempat menggenggam Cya kini perlahan terlepas.
Seolah ia mulai sadar— bahwa kali ini, yang menjauh…bukan keadaan. Tapi hati.
***
Makanan yang tersaji di meja makan terlihat begitu nikmat dan menggugah selera. Namun, semua itu sama sekali tidak menarik perhatian Rajendra.
Ia hanya menatap makanannya tanpa benar-benar berniat menyentuhnya.
"Kenapa makanannya cuma kamu lihatin?" tanya Bu Kiran.
Padahal, ia seharusnya tahu jawabannya.
Rajendra menghela napas pelan. "Nggak lapar," jawabnya lesu.
"Kalau memang nggak lapar, kenapa dari tadi nggak pulang saja?" sahut Bu Kiran, nadanya terdengar santai, tapi mengandung maksud.
Rajendra menatap ibunya. "Mama ngusir aku?"
"Bukan begitu," jawab Bu Kiran cepat. "Tapi kalau kamu di rumah, kamu bisa istirahat dengan nyaman."
"Aku mau menginap di sini malam ini," ucap Rajendra tegas, tanpa meminta izin.
"No." Bu Kiran langsung mengangkat telunjuknya, menggeleng pelan namun tegas.
Rajendra mengerutkan kening, hendak membantah— tapi Bu Kiran lebih dulu memotong. "Selama orang tua Aurel masih di rumah kamu, kamu juga tidak boleh menginap di sini."
Ucapan itu seperti palu yang menghantam.
Rajendra langsung melirik Pak Mahardhika, berharap mendapat pembelaan.
Namun harapannya kembali pupus.
"Papa setuju sama Mama kamu," ujar Pak Mahardhika tenang setelah menelan makanannya.
Rajendra semakin terdiam. Bahunya terasa berat.
"Makan saja, Kak. Nggak usah banyak protes," lanjut Pak Mahardhika lebih pelan.
Tatapan Rajendra kembali jatuh pada piringnya.
"Nggak nafsu," gumamnya.
Tiba-tiba—Cya menarik piring Rajendra ke arahnya.
Rajendra menoleh.
Cya sudah mengambil sendok. "Aaa…" ucap Cya ringan, menyuruhnya membuka mulut.
Rajendra ragu sesaat… tapi akhirnya menurut.
Suapan pertama masuk.
Aneh—yang tadinya tidak nafsu, justru perlahan muncul rasa lapar.
"Lagi," pinta Rajendra pelan. Kali ini, ia bahkan sudah membuka mulut tanpa diminta. Cya menahan senyum tipis, lalu kembali menyuapinya tanpa protes.
Di sisi lain meja, Bu Kiran dan Pak Mahardhika saling pandang.
Ada sesuatu yang mereka pahami… tanpa perlu diucapkan.
"Kalian berdua kelihatan serasi," ujar Bu Kiran akhirnya.
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah tajam.
"Sayangnya… ada orang lain di dalam rumah tangga kalian."
Hening.
Ucapan itu menggantung di udara dan langsung menusuk ke tempat yang paling dalam.
***
Setelah selesai makan malam, Rajendra akhirnya pulang ke rumahnya.
Awalnya ia bersikeras ingin tetap tinggal, namun setelah dibujuk oleh Cya, ia pun mengalah. Meski berat, Rajendra memilih kembali.
Begitu masuk ke dalam rumah, langkahnya langsung terhenti saat melihat Pak Sammy keluar dari dapur sambil membawa segelas air putih.
"Rajendra, kamu dari mana, Nak?" tanya Pak Sammy.
"Dari rumah orang tua aku, Pa," jawab Rajendra singkat.
Pak Sammy mengangguk pelan, lalu berdecak kecil. "Tumben."
Rajendra menghela napas. "Aku tadi mau jemput Cya… tapi nggak dibolehin pulang sama orang tua aku."
"Baguslah." Ucapan itu meluncur begitu saja.
Seketika Rajendra mengernyitkan keningnya, menatap Pak Sammy dengan penuh tanya.
"Papa kenapa ngomong kayak gitu?"
Pak Sammy tampak tersentak. Ia segera mengalihkan pandangan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah, enggak… maksud Papa…" Ia tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Bagus karena kamu mau jemput istri kamu. Papa kira kamu nggak terlalu peduli."
Rajendra hanya diam, masih memperhatikan ekspresi pria di depannya.
Pak Sammy kembali melanjutkan, berusaha menutup kegugupannya. "Soalnya tadi mamanya Aurel bilang, kamu kelihatan sibuk cari-cari Cya. Papa juga sempat kaget waktu tahu ternyata dia ada di rumah orang tua kamu. Tapi ya… Papa lega dengarnya."
Ucapan itu terdengar meyakinkan.
Dan entah karena lelah atau terlalu banyak pikiran, Rajendra tidak mempermasalahkannya lagi.
Ia hanya mengangguk pelan.
Pikirannya sudah terlalu penuh.
Tentang Cya…
Tentang orang tuanya…
Dan tentang orang tua Aurel yang masih tinggal di rumahnya.
Rajendra mengusap wajahnya kasar.
Bagaimana caranya membawa Cya kembali ke rumah itu tanpa harus mengusir orang tua Aurel?
***
Rajendra hari ini tidak ke kantor, ia tidak bisa fokus bekerja karena Cya masih berada di rumah orang tuanya. Rajendra berniat pergi ke teras, tetapi sebelum sampai ke sana, pintu rumahnya sudah diketuk dari luar. Kebetulan ia memang ingin keluar, jadi tanpa menunggu lama, Rajendra langsung membuka pintu.
Bella yang berdiri di depan pintu langsung mematung begitu melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.
"Okta?" Rajendra tanpa sadar memanggilnya dengan sebutan itu.
"Rajendra?" Bela tak kalah terkejut.
"Kamu ngapain di rumah aku?" tanya Rajendra, mengernyitkan kening menatap Bella yang terlihat tegang.
Bella meneguk ludahnya kasar sebelum menjawab, "Aku lagi cari Cya."
Rajendra semakin bingung. "Kamu kenal sama Cya?"
"Iya, aku kenal. Memangnya kamu ada hubungan apa dengan Cya?"
"Cya itu istri baru aku."
"Oh, jadi kamu suaminya Cya? Dia sering cerita sama aku soal suaminya. Aku enggak nyangka suaminya Cya itu kamu."
"Cya sering cerita tentang aku?"
"Sering banget. Hampir setiap kami ketemu, dia selalu cerita soal kamu."
"Tapi Cya enggak pernah cerita kalau dia kenal kamu."
"Mungkin kamu enggak tahu aja. Dia taunya nama aku Bella, bukan Okta."
"Oh..." Rajendra mengangguk pelan. "Aku baru ingat kalau nama lengkap kamu Bella Oktarina."
"Nah, iya."
"Jadi yang ke rumah aku beberapa hari lalu terus lari-lari itu kamu?"
"Iya, itu aku. Waktu itu aku lagi bikin kue, jadi buru-buru pulang karena takut gosong. Oh iya, kamu lihat aku waktu itu?"
"Iya, tapi aku enggak sempat lihat muka kamu." Rajendra menghela napas pelan. "Aku juga enggak nyangka kamu bisa kenal sama Cya."
"Aku juga enggak nyangka bisa berteman sama istri baru kamu... tapi aku senang." Bella tersenyum tipis.
Rajendra menatapnya dalam. "Kamu enggak marah?"
"Buat apa aku marah? Justru aku senang kalau kamu juga senang." Bella berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati, "Tapi kayaknya Cya enggak bahagia ya dijodohkan sama kamu."
Kening Rajendra kembali berkerut. "Kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
"Karena Cya yang cerita sendiri. Katanya kalian dijodohkan, dan... katanya dia enggak cinta sama kamu."
Ucapan itu terasa seperti menusuk dada Rajendra. Ia terdiam. "Ya... kami memang dijodohkan," jawabnya pelan.
Bella menatapnya lekat-lekat. "Tapi kamu? Kamu cinta sama dia?"
Rajendra kembali terdiam.
Biasanya, pertanyaan seperti itu sangat mudah ia jawab. Ia hanya perlu mengatakan bahwa ia tidak mencintai Cya.
Namun sekarang... entah kenapa, kata-kata itu terasa sangat sulit keluar dari mulutnya.
Apakah ia masih tidak mencintai Cya?
Atau justru... perasaannya sudah berubah tanpa ia sadari?
"Enggak usah kamu jawab pertanyaan aku. Mungkin itu terlalu kurang ajar. Dari ekspresi kamu, aku sudah bisa menebak bagaimana perasaan kamu."
Rajendra hanya bergumam menanggapi ucapan Bella.
"Oh iya, Cya mana?" tanya Bella. Ia sedikit mencondongkan kepalanya ke samping, mencoba melihat ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Cya.
"Dia ada di rumah orang tuaku."
"Kok dia ke sana pagi-pagi banget?"
"Cya menginap di sana."
"Yah... padahal aku pengen main sama dia."
"Aku juga," gumam Rajendra tanpa sadar.
Bella menganga. "Aku enggak salah dengar? Cowok dingin kayak kamu mau main sama cewek polos dan cerewet kayak Cya?"
"Cya itu beda."
"Beda gimana?"
"Dia berhasil membuat aku gak jadi cowok dingin di hadapan dia."
"Jangan bilang kamu udah jatuh cinta sama dia?" Jari telunjuk Bella terangkat, menunjuk ke arah wajah Rajendra, nyaris menyentuhnya.
"Eh, Bella." Tiba-tiba Bu Riska muncul dan berdiri di samping Rajendra, membuat Rajendra batal menanggapi ucapanBella. Ia juga tidak terlihat kaget melihat Bella dan Bu Riska memang saling mengenal.
"Iya, Tante."
"Masuk, nak. Rajendra ada tamu kok enggak diajak masuk?"
"Lupa, Mah."
"Ya sudah, Bella, masuk yuk."
"Iya, Tante, terima kasih. Tapi aku ke sini cuma mau cari Cya. Katanya dia enggak ada."
"Iya, dia enggak ada. Kemarin dia pergi ke rumah orang tua Jendra, sampai-sampai Jendra kelimpungan mencarinya."
Rajendra langsung menatap Bu Riska dengan tajam. Ia tidak suka Bu Riska membeberkan urusan rumah tangganya di depan orang lain, meskipun orang itu adalah Bella.
"Ya ampun, memangnya Cya enggak bilang waktu dia mau pergi?"
"Kalau dia bilang, Rajendra enggak mungkin kelimpungan cari dia. Kemarin dia cuma berangkat ke kampus, tapi enggak pulang-pulang."
"Ya ampun, kasihan Rajendra."
"Aku enggak apa-apa, kok. Lagipula aku sudah tau di mana Cya, dan aku sudah memastikan dia aman. Jadi aku enggak perlu khawatir lagi."
serena sahabat nya aja ga peduli sm cya jngn d jadikan shabat klonkyk gitu jempaskan saja seperti bella