NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jari emas

Keesokan harinya, matahari menyelinap masuk melalui sela-sela tirai jendela dan memancarkan cahayanya ke arah Su Jinyu. Mata lentik itu perlahan mulai terbuka. Ia duduk perlahan, menggosok matanya dengan tangan mungil. Di usia 4 tahun, tangannya sudah lentik, berbeda dengan anak seusianya yang umumnya masih tembam.

"Ternyata itu bukan mimpi. Aku benar-benar bertransmigrasi," gumamnya sambil meregangkan kedua tangannya dan melakukan sedikit peregangan.

"Jinyu."

Sebuah suara muncul dari belakangnya. Ia mengira itu hanya halusinasi, namun saat menoleh ke belakang, matanya langsung berbinar.

"Yoyo! Kamu di sini!" pekiknya bahagia sambil memeluk ular berwarna perak itu.

Yoyo adalah ular mutasi dari dunia akhir zaman. Ia bisa mengecilkan dan membesarkan tubuhnya sesuka hati. Warna sisiknya perak berkilau dengan sepasang mata merah delima.

"Jinyu, akhirnya Shshsss~ aku menemukanmu Shshsss~" Yoyo melilitkan tubuhnya di lengan Jinyu, merayap naik hingga ke pangkuannya.

"Yoyo, aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi," kata Jinyu dengan nada dramatis sambil mengusap tubuh ular itu ke matanya, pura-pura menjadikannya sapu tangan.

Yoyo menampar tangan Jinyu menggunakan ekornya. "Jinyu, kamu terlalu dramatis Shshsss~. Seorang ratu kiamat dengan julukan ratu iblis terlalu dramatis Shshsss~. Setidaknya kamu tidak mati, kan Shshsss~?"

Jinyu hanya bisa mendengus. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Yoyo melingkar di lengannya sambil tangannya mengelus kepala ular itu lembut.

"Ngomong-ngomong, Yoyo, ini di mana? Aku tidak bisa merasakan kekuatanku, dan ruang dimensiku juga tidak bisa diakses."

Shshsss~

"Aku juga kurang tahu Shshsss~. Aku hanya mengikutimu saat melihat lingkaran hitam muncul di tubuhmu sebelumnya." Yoyo menikmati elusan pemiliknya.

Jinyu mengerutkan alisnya, berpikir. "Lingkaran hitam? Apakah itu seperti sebuah portal yang menarik jiwaku?"

Shshsss~

"Sepertinya begitu Shshsss~. Namun sekarang kamu sudah bisa menggunakan kembali kekuatan dan ruang dimensimu."

Mendengar itu, mata Jinyu berbinar. Ia segera mengucapkan, "Masuk."

Seketika pemandangannya berubah. Ia kini berdiri di dalam ruang dimensinya. Hamparan luas terbentang di hadapannya: gunung menjulang di kejauhan, hutan hijau membentang, sebuah sungai jernih mengalir tanpa ujung terlihat. Di tepi sungai, pohon-pohon buah berjejer rapi. Berbagai macam tanaman tumbuh subur. Kawanan hewan ternak—sapi, babi, kambing, domba, kuda, ayam, itik—berkeliaran bebas. Bahkan di sungai itu, ia bisa melihat ikan air tawar dan ikan laut berenang berdampingan. Mungkin karena sungai ajaib ini, semua makhluk bisa hidup harmonis.

Di tengah semua itu, berdiri sebuah vila dua lantai yang mewah. Jinyu berjalan menuju vila itu dengan Yoyo tetap melingkar di lengannya, sesekali mendesis pelan.

Saat pintu vila terbuka, kemewahan menyambutnya. Ruang tamu luas dengan sofa empuk, televisi layar datar, dan beberapa pot tanaman kesukaannya: peony, bermekaran indah di sudut ruangan.

Ia melanjutkan langkah ke dapur. Kulkas dua pintu dengan panel sentuh di pintunya berdiri modern, sangat kontras dengan era 60-an yang serba terbatas ini. Saat ia membuka pintu kulkas, semua bahan makanan tersusun rapi dan lengkap.

"Oh, kukira makanan akan habis," gumamnya lega. Ia menutup kulkas dan keluar dari dapur.

Jinyu menuju tangga, bukannya naik, ia malah turun ke ruang bawah tanah. Ruangan yang awalnya gelap gulita langsung terang benderang saat pintu terbuka. Di dalamnya, rak-rak besar tersusun rapi sesuai kategori. Sebelah kanan: bahan makanan pokok. Bagian tengah: semua rempah-rempah dan bumbu masakan. Sebelah kiri: alat-alat dapur, dari pisau hingga wajan, semuanya berkilau.

Ia melangkah lebih dalam. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, sebuah pintu lain muncul. Begitu terbuka, ruangan serupa dengan rak-rak berbeda terlihat.

Sebelah kanan: senjata api. QBZ-191, QBZ-192, QBU-191, QCQ-171, AK-47, dan berbagai pistol, dari sniper hingga sidearm jarak dekat, tersusun rapi.

Sebelah kiri: senjata tajam. Berbagai jenis pedang yang ia kumpulkan dari berbagai dunia—dunia akhir zaman, dunia paralel—semuanya berjejer dengan gagah.

Bagian tengah tetap kosong sebagai jalan. Jinyu terus melangkah ke ruangan berikutnya. Pola yang sama: rak sebelah kanan dan kiri. Kali ini berisi berbagai macam tanaman herbal, dari yang langka seperti ginseng ribuan tahun hingga tanaman obat biasa.

Ia terus maju hingga mencapai ruangan terakhir. Saat pintu terbuka, ruangan itu bahkan lebih terang dari sebelumnya. Generator surya berjejer rapi, berbagai teknologi tinggi dari masa depan tersimpan di sini.

"Hm, ternyata semuanya tidak hilang. Baguslah." Ia berbalik dan berjalan pergi. Begitu ia melewati pintu-pintu itu, satu per satu lampu meredup dan pintu tertutup rapat.

Ia naik ke lantai dua. Hanya ada dua pintu di sini: ruang kerja dan kamar tidurnya. Ruang kerja masih sama seperti dulu: meja mewah dan berwibawa di sudut, rak buku penuh dokumen dan arsip pribadi. Ia hanya melirik sekilas, lalu berbalik menuju kamar.

Kamar tidurnya luas, dengan tempat tidur king-size yang empuk. Di atas kepala tempat tidur, tergantung sebuah foto besar: dirinya dengan rompi peluru hitam, rambut panjang terikat ekor kuda, mata tajam menatap kamera, dan seekor ular perak melingkar di lehernya.

"Hm, gambar yang dibuat Qingqing ternyata masih ada," gumamnya sambil mengelus dagu, mengenang ajudan setianya.

Ia berbalik menuju cermin panjang di sudut kamar. Menatap bayangannya sendiri: tinggi 1,2 meter, rambut sebahu berwarna cokelat terang, mata cokelat keemasan seperti elang. Di usia 4 tahun, tubuh ini jauh di atas rata-rata. Pasti gen orang tua asli pemilik tubuh ini sangat istimewa.

"Jinyu Shshsss~, menurut data yang aku kumpulkan, pemilik tubuh yang kamu tempati ini memiliki gen naga dan gen asing," kata Yoyo sambil menggesekkan kepala kecilnya ke pipi Jinyu.

"Aku juga berpikir begitu. Sudahlah, yang penting aku di sini bisa damai tanpa beban. Yoyo, kamu tetap di sini untuk menjaga tempat ini. Jangan keluar tiba-tiba, mengerti?" kata Jinyu sambil mengusap kepala ular itu dengan jarinya.

Shshsss~

"Baiklah."

Jinyu menanggalkan ular itu dari lehernya dan menurunkannya di lantai. "Jangan lupa jaga barang-barang berkilauku. Aku pergi dulu. Bye. Keluar."

Seketika ia menghilang dari ruang dimensi dan kembali ke kamar kecil di rumah keluarga Su.

Jinyu membuka mata. Ia masih terbaring di ranjang lipat, selimut hangat menyelimuti tubuhnya. Dari luar, terdengar suara Ibu Liu sedang menyiapkan sarapan di dapur, sesekali terdengar suara wajan dan minyak mendesis.

"Yoyo ikut," bisiknya dalam hati. "Setidaknya aku tidak sendiri."

Ia merasakan kehangatan di dadanya—sebuah ikatan batin yang sudah lama tidak ia rasakan. Yoyo memang selalu setia, bahkan melewati batas waktu dan dimensi.

Dia kembali berbaring di tempat tidurnya dan menarik selimut. Belum sampai beberapa menit...

"JINYU! BANGUN! AKU PUNYA KEJUTAN!"

Su Weimin menerobos masuk tanpa mengetuk, membawa serta udara dingin dan semangat berlebihan. Di tangannya ada sesuatu yang digenggam erat.

Jinyu membuka mata dengan malas. Jam berapa ini? Di dunia akhir zaman, ia biasa bangun sesuai keinginan—tidak ada yang berani membangunkannya paksa.

"Kakak ketiga," gumamnya dengan suara serak, "jangan teriak, berisik tau."

Weimin mengernyit bingung. "Kok kamu bicara seperti orang tua? Sudah ah, lihat ini!" Ia membuka genggamannya. Di telapak tangannya, seekor belalang sembah hijau bergerak lamban.

Jinyu menatap belalang itu. Lalu menatap Su Weimin. Lalu kembali ke belalang.

"Kau membangunkanku... untuk menunjukkan belalang?"

"Iya! Bagus, kan? Aku tangkap di kebun belakang. Nanti kita kasih makan, ya! Aku mau lihat dia makan jangkrik."

Jinyu menghela napas panjang. Ia merindukan masa lalu, saat ia bisa membakar musuh dengan sekali pandang dan tak ada bocah 10 tahun yang berani membangunkannya untuk urusan belalang.

Tapi...

Saat melihat mata Weimin yang berbinar-binar antusias, sesuatu dalam dirinya melunak. Mungkin ini bukan kehidupan yang buruk. Mungkin menjadi anak kecil dan bermain belalang tidak terlalu buruk.

"Iya, nanti kita kasih makan," katanya akhirnya.

Weimin berjingkrak kegirangan. "Asyik! Aku suka punya adik perempuan!"

Ia berlari keluar kamar, berteriak pada ibunya bahwa Jinyu setuju main belalang. Jinyu mendengar Ibu Liu tertawa kecil, lalu berseru, "Jangan lupa cuci tangan setelah pegang serangga!"

Jinyu duduk di ranjang, menatap sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela kecil. Debu-debu menari-nari dalam cahaya. Dari luar, terdengar suara ayam berkokok dan orang-orang mulai beraktivitas.

"Ini rumahku sekarang," gumamnya.

Dan entah mengapa, meski aneh dan asing, ia merasa... hangat.

Mungkin hidup di masa lalu tidak seburuk yang ia kira.

Mungkin... ini bukan hukuman, tapi kesempatan kedua.

Di dapur, Ibu Liu menyiapkan sarapan sambil bersenandung kecil. Jinyu berjalan masuk, masih setengah mengantuk, dan duduk di kursi kayu.

"Sudah bangun, Nak? Aku buatkan bubur ayam, pakai sisa ayam kemarin. Mau?"

Jinyu mengangguk.

Saat Ibu Liu menyendok bubur ke mangkuk, Su Weiguo masuk dengan seragam kerjanya. Ia menyambar sepotong singkong rebus, lalu menepuk puncak kepala Jinyu pelan.

"Jaga diri, Adik kecil."

Jinyu menatapnya pergi dengan perasaan campur aduk. Keluarga ini... mereka semua begitu alami dalam menunjukkan kasih sayang. Tak ada yang pura-pura.

Mungkin, pikirnya sambil meniup bubur panas, mungkin ia bisa terbiasa dengan ini.

Mungkin.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!