Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meluluhkan Hati Marco
Begitu mereka melangkah masuk melewati pintu besar, suasana rumah yang megah itu terasa sangat berat. Di ruang tengah, Marco dan Jino duduk di sofa dengan televisi yang menyala, namun tatapan Marco kosong tertuju pada layar, sementara Jino hanya memainkan botol minuman di tangannya. Mereka jelas sedang menunggu.
Melihat kedatangan Liam dan Cassie, Marco langsung berdiri. Gerakannya sangat kaku dan penuh tekanan. Ia tidak mengeluarkan satu kata pun, hanya memberikan kode dengan kepalanya ke arah lantai atas—ruang kerja. Sebelum beranjak, Marco sempat melirik Cassie sekilas. Tatapan itu dingin dan penuh penilaian, membuat Cassie merasa seperti kerikil kecil yang baru saja mengacaukan mesin besar.
"Masuklah, Liam," suara Marco terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Cassie berdiri mematung di dekat pintu dapur, merasa bersalah. Ia tahu Marco kesal karena Liam telat untuk urusan penting hanya demi dirinya.
Jino, yang menyadari wajah pucat Cassie, mendekat dengan senyum santainya yang biasa. Ia mencoba menghibur gadis itu. "Hei, jangan diambil hati. Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Sepertinya Marco sangat tidak menyukaiku, ya?" bisik Cassie pelan.
Jino tertawa kecil sambil menepuk bahu Cassie. "Marco memang tidak suka pada semua orang, Cassie. Jangan khawatir."
Setelah itu, Jino sedikit berlari kecil menyusul Liam dan Marco yang sudah menaiki tangga. Cassie menghela napas panjang, lalu segera menuju dapur untuk menepati janjinya, memasak makanan yang bisa meredam emosi pria-pria di atas.
***
Pintu ditutup rapat. Marco langsung berbalik menghadap Liam dengan rahang yang mengeras.
"Masalah pengirimannya sudah bisa diselesaikan, Jino berhasil menahan mereka di perbatasan. Tapi ini soal prinsip, Liam," ujar Marco dengan nada yang lebih tajam dari biasanya. "Kau tidak pernah seperti ini. Sejak kapan seorang perempuan menjadi prioritas di atas keamanan operasional kita?"
Marco berjalan mendekat, menatap Liam dengan tatapan penuh kekecewaan. "Dulu, saat kau masih bersama Amanda... Tidak peduli meskipun kau sedang tidur bersama Amanda, tidak peduli kalian sudah mencapai puncak atau belum. Saat kami menghubungimu, kau langsung datang. Sangat profesional."
Liam terdiam. Ia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan punggungnya sambil menatap langit-langit. Kenangan tentang Amanda terlintas sejenak. Dulu dia memang sedingin itu. Pekerjaan adalah segalanya.
"Sekarang? Kau mematikan ponsel selama dua jam hanya untuk menonton film bodoh di bioskop?" Marco mendengus sinis. "Kau mulai kehilangan kendali, Liam."
Liam menyadari kesalahannya. Ia tidak mencoba membela diri dengan alasan konyol. Ia tahu di dunia yang mereka jalani, satu kesalahan kecil bisa berarti jeruji besi atau kematian.
"Kau benar," jawab Liam tenang. Ia menegakkan duduknya dan menatap Marco serta Jino dengan serius.
"Terima kasih sudah membereskan kekacauanku kali ini. Dan aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Aku tidak akan membiarkan perasaan pribadi merugikan perusahaan lagi."
Jino yang bersandar di pintu hanya bersiul pelan. "Bagus kalau begitu. Karena kalau kau telat lagi, aku tidak yakin bisa terus-terusan merayu orang perbatasan dengan wajah tampanku ini."
Liam mengangguk singkat. Meskipun ia sudah meminta maaf, dalam hatinya ada sesuatu yang terasa berat. Ia baru saja berjanji untuk tidak membiarkan Cassie mengganggu pekerjaannya, tapi aroma parfum gadis itu yang masih tertinggal di mobilnya seolah mengejek janji yang baru saja ia buat.
***
Meja makan besar itu kini dipenuhi dengan berbagai hidangan yang aromanya memenuhi seisi ruangan. Cassie bekerja ekstra keras malam ini. Ia memasak daging panggang dengan saus rahasia, sup kental yang hangat, dan beberapa hidangan pendamping yang tertata rapi. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar "gangguan", tapi seseorang yang bisa memberikan kenyamanan di rumah itu.
Jino turun lebih dulu dengan gaya santainya yang biasa, seolah ketegangan di ruang kerja tadi tidak pernah terjadi.
"Wah, baunya sampai ke lantai atas! Cassie, kau benar-benar ingin membuat kami semua terkena diabetes karena terlalu banyak makan enak ya?"
Namun, suasana kembali membeku saat langkah berat Marco dan Liam terdengar menuruni tangga. Marco berjalan lurus, wajahnya masih sedingin es, berniat melewati ruang makan begitu saja menuju pintu depan.
Cassie meremas jemarinya, jantungnya berdegup kencang. Sebelum Marco sempat menjauh, ia memberanikan diri melangkah ke depan jalur pria itu.
"Marco, tunggu!" seru Cassie pelan namun tegas.
Marco berhenti. Ia menatap Cassie dengan mata tajamnya yang tanpa ekspresi, membuat nyali Cassie hampir menciut.
"Aku... aku ingin minta maaf," ucap Cassie sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Aku tahu aku salah karena memaksa Liam menemaniku tadi. Tolong jangan terlalu kesal pada Liam, dan... tolong jangan terlalu membenciku. Aku janji ini tidak akan terulang lagi."
Cassie menarik napas panjang, lalu menunjuk ke arah meja makan dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Aku sudah masak makanan yang sangat spesial. Aku yakin, kalau kau mencicipinya sedikit saja, rasa kesalmu padaku dan Liam pasti akan hilang. Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku lewat makanan ini."
Marco tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama, suasana menjadi sangat hening. Marco kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Liam yang berdiri beberapa langkah di belakang Cassie.
Liam tidak bicara. Ia hanya menatap Marco dan memberikan anggukan kepala yang sangat tipis.
Marco menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit turun. Ia melirik meja makan, lalu kembali menatap Cassie.
"Aku tidak suka membuang-buang waktu," gumam Marco, suaranya tetap berat tapi ketajamannya sudah berkurang. "Tapi karena baunya cukup masuk akal... aku akan mencobanya."
"Yesss!" seru Jino sambil menarik kursi untuk Marco. "Ayo duduk, Kawan. Jangan biarkan makanan ini dingin."
Liam berjalan mendekat, melewati Cassie dan sempat menyentuh bahunya sekilas, sebuah isyarat bahwa Cassie telah melakukan hal yang benar. Mereka berempat akhirnya duduk bersama di meja makan.
Saat Marco menyuapkan potongan daging pertama ke mulutnya, Cassie menahan napas, memperhatikannya seperti juri di acara masak. Marco mengunyah pelan, terdiam sejenak, lalu kembali menyuap tanpa berkata apa-apa. Meski tidak ada pujian verbal, fakta bahwa Marco terus makan dengan lahap sudah cukup menjadi jawaban bagi Cassie.
"Lihat kan? Aku bilang juga apa," goda Jino sambil menyenggol lengan Marco. "Marahnya hilang, kenyangnya datang."
Liam yang sejak tadi diam, akhirnya melirik Cassie dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Jangan besar kepala dulu, Cassie. Besok masih ada banyak debu yang harus kau bersihkan."
Cassie hanya menjulurkan lidahnya tipis ke arah Liam, merasa sangat lega karena setidaknya malam ini, perang dingin di rumah itu telah berakhir berkat masakannya.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭