" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
EPISODE 13: TANGAN YANG TERGENGGAM, RAHASIA YANG TERSEMBUNYI
"Tidak apa-apa Ngit, itu bukan salahmu. Suami Teteh aja cemburunya kebangetan. Lagian kan aku dan kamu tak punya hubungan apa-apa kok," ucap Intan mencoba menenangkan.
Ia menjulurkan tangannya, berharap Langit menyambutnya. Dan benar saja, pemuda itu dengan senyum manis menggenggam tangan wanita itu erat-erat. Mereka berjalan beriringan meninggalkan rumah, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
'Tanggung... masa bodoh! Biarlah aku melanjutkan apa yang dituduhkan suamiku. Mungkin dengan begini rumah tanggaku cepat selesai. Kalau diterusin, yang ada makan hati terus,' batin Intan bergemuruh dahsyat. Tekadnya sudah bulat untuk membiarkan situasi berjalan sesuai tuduhan itu.
KECEWASAN NENEK WATI
Pemandangan itu tertangkap jelas oleh mata Nenek Wati yang sedang duduk di teras. Jantung wanita tua itu seakan berhenti berdetak sesaat.
Melihat cucunya bergandengan tangan mesra dengan wanita yang sudah bersuami, melihat cara mereka memandang satu sama lain yang terlihat begitu intim... Wajah Nenek Wati berubah pucat pasi. Tangannya yang keriput gemetar hebat memegang tongkat kayu.
'Ya Allah... apa yang sedang kalian lakukan ini?!' batinnya menjerit panik.
"Apa yang kau lakukan itu salah, Nak... sungguh salah besar," gumamnya pelan dengan suara bergetar. Kepalanya menggeleng-geleng kuat tak setuju. "Hidupmu berat nak Langit... jangan kau bawa wanita baik hati ini masuk ke dalam takdir gelap yang akan kamu jalani nanti. Kamu tidak tahu betapa mengerikannya musuh-musuhmu."
Nenek Wati segera memberi kode mata dan isyarat tangan pada Intan agar melepaskan tangan itu.
Intan mengerti maksud kode tersebut, namun baginya baju sudah terlanjur basah.
"Nenek... saat ini Langit adalah tamengku. Harap nenek mengerti posisi Teteh. Aku tahu ini salah, tapi aku ingin terlepas dari jeratan iblis bernama Jaji yang terus menyiksa batinku setiap hari."
"Tapi salah jalanmu itu, Nak!" potong Nenek Wati tegas, matanya menatap Intan dalam. "Kamu belum tahu takdir Langit itu seperti apa. Jika kamu menyeretnya masuk ke dalam masalahmu, atau bahkan terjebak hubungan seperti ini... Nenek jamin, hidupmu nanti akan jauh lebih perih, jauh lebih sakit, dan lebih menderita daripada sekarang ini."
"Aku akan menanggung resikonya Nek," jawab Intan bersikeras. "Walaupun Langit jadi tembok pelindung diriku, aku yakin tak akan terjadi apa-apa padanya. Aku tahu betul kelakuan suamiku, dan aku punya rencana agar dia tak menyentuh Langit sedikitpun."
Nenek Wati menghela napas panjang, napasnya terdengar berat dan penuh beban.
Bukan Jaji yang ia khawatirkan. Bagi Nenek, suami Intan itu hanyalah tumpukan sampah tak berarti di mata takdir cucunya. Yang benar-benar membuat bulu kuduknya meremang adalah orang-orang di masa lalu.
'Jika waktunya tiba... jika terungkap bahwa bayi yang dulu dibuang dan tidak diharapkan oleh dua keluarga besar itu masih hidup dan kini tumbuh dewasa... Maka mereka akan memburunya sampai ke lubang semut sekalipun. Mereka tak akan segan-segan melenyapkan siapa saja yang dekat dengannya, termasuk kamu Intan...'
Rasa takut itu begitu nyata. Dalam surat wasiat yang ditinggalkan ibu kandung Langit dulu, pesannya sangat jelas: "Jangan pernah mencari tahu siapa asal usulku. Biarkan anak hidup normal dan sederhana, jauh dari konflik keluarga."
Hati nurani Nenek Wati bimbang setengah mati. Namun saat ia melihat kedipan mata Langit yang meminta izin dan keyakinan, ia pun pasrah.
"Baiklah... Jika itu memang harus begitu alurnya, Nenek tidak akan memaksa. Hanya satu pesan Nenek: Hati-hati dan segera urus masalahmu dengan suamimu. Jika dia bersikeras tak mau melepaskan, ambillah jalan hukum. Bukti kekerasan dalam rumah tangga itu sudah sangat kuat, jauh lebih kuat daripada tuduhan dia selingkuh," saran Nenek bijak.
"Terima kasih banyak Nek... Terima kasih untuk segalanya," ucap Intan membungkuk hormat, matanya kembali berkaca-kaca.
RELA BERKORBAN
"Ya sama-sama. Besok temenin Nenek pergi ke Bank ya," titah Nenek Wati. Ia lalu menengok ke arah cucunya. "Hanya itu jalan satu-satunya saat ini. Tidak apa-apa kan cucuku? Untuk saat ini permasalahan Teh Intan lebih penting daripada menunggu jatuh tempo tiga bulan lagi kan?"
Langit terdiam sesaat. Sebenarnya ia sangat bersikeras agar tabungan pensiunan Neneknya jangan disentuh dulu. Ia ingin berjuang sendiri membahagiakan wanita tua itu. Tapi melihat kondisi Teh Intan yang mendesak, ia pun mengalah.
"Tidak apa-apa Nek... Tapi usahakan jangan sampai habis pencairannya ya. Ambil seperlunya saja, sesuai kebutuhan Teh Intan," jawab Langit lembut.
Intan yang berdiri di samping mereka tersentak. Ia menangkap jelas pembicaraan tentang pencairan uang untuk membantunya menyelesaikan masalah.
"Nek jangan... Jangan macam-macam! Aku punya simpanan kok!" buru-buru Intan menyela.
Namun Nenek Wati langsung memotong cepat dengan nada tegas.
"Uangmu itu untuk bertahan hidup kamu dan kedua anakmu nanti! Permasalahan hukum dan perceraianmu biar Nenek yang membereskan! Jangan dibahas lagi!"
Hancur sudah pertahanan diri Intan. Kebaikan, ketulusan, dan rasa sosial yang begitu tinggi dari Nenek Wati membuat jantungnya terasa copot.
'Apakah ini yang dinamakan keluarga? Apakah ini kasih sayang sesungguhnya?'
Air mata bahagia itu mengalir deras membasahi pipi. Tiba-tiba kedua anak kembarnya menghampiri dan memeluk kakinya.
"Bunda jangan nangis... Tunggu kami berdua besar ya! Nanti akan kami hajar Papa jahat itu!" teriak anak-anak polos itu.
Mereka pun sadar, ayah mereka lah sumber dari semua air mata ibunda.
Intan segera mengusap air matanya dan tersenyum.
"Bunda menangis bukan karena Ayah nak... Bunda menangis bahagia karena bisa tinggal berdekatan dengan Nenek Wati dan Om Langit yang baik hati."
"WAIT...!!"
Tiba-tiba Langit berseru kaget, matanya membelalak seolah teringat sesuatu yang sangat penting atau mendengar suara aneh.
Sontak saja Nenek Wati dan Intan langsung menengok serentak ke arah bocah itu, begitu juga dengan kedua anak kembar yang menatap bingung.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung...
Bersambung.