NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mafia
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Di bawah rindangnya pohon randu angker di sudut kampung, seorang pemuda bernama Langit tumbuh dewasa tanpa mengenal siapa orang tua kandungnya. Setiap senja, ia merenung di sana, merasa namanya seluas langit namun tak punya pijakan. Ia tak tahu, takdirnya sudah "terjerat" sejak hari ia ditemukan sebagai bayi di bawah pohon keramat itu oleh Nenek Wati.

Sembilan belas tahun kemudian, rahasia kelam masa lalu mulai terkuak, menyeret Langit pada sebuah pencarian identitas yang tak hanya mengancam hidupnya, tapi juga menguji perasaannya. Ketika ia dihadapkan pada sosok Intan, wanita yang sudah "terjerat" pernikahan namun begitu "layak diperjuangkan", akankah Langit mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan menemukan tempat sejatinya? Atau justru semakin dalam "terjerat" dalam takdir yang tak pernah ia minta?

Ikuti perjalanan Langit menemukan jati diri, cinta, dan rahasia yang terkubur di dalam novel TERJERAT.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13: TANGAN YANG TERGENGGAM, RAHASIA YANG TERSEMBUNYI

Sesampainya di sana, Pardi terpaku.

Rumah janda berusia 45 tahun itu ternyata ramai oleh tamu. Dan yang lebih membuat jantungnya nyeri, terlihat jelas sosok pria yang kini menjadi suami baru Omah ada di sana bercengkrama.

Pardi mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar, penuh keputusasaan.

Benar kata orang, "Hari sial tak ada kamusnya dalam kalender."

Mau cari pelampiasan pun gagal total. Pardi berdiri mematung di sana, frustrasi setengah mati, seolah semesta sedang benar-benar menjahatinya hari ini.

Nafsu yang sudah menggunung di kepala dan menekan di dada itu rasanya mau meledak kapan saja. Tak tahan lagi menahan gejolak yang tak kunjung reda, Pardi pun memutar badan dengan kasar.

"Sialan semua! Kalau manusia tak ada yang mau, biar alam saja yang melayaniku!" geramnya.

Tanpa pikir panjang, Pardi langsung berlari kencang bagai dikejar setan menuju arah kebun belakang desa. Kakinya bergerak cepat menembus semak belukar, matanya liar mencari-cari objek yang pas untuk pelampiasan sesaat.

Hingga akhirnya, matanya tertuju pada sebatang pohon pisang yang batangnya cukup kokoh dan tegak berdiri di sana.

"Hah... hah... ini saja dulu! Daripada aku meledak!"

Tanpa rasa malu dan dengan napas memburu, Pardi langsung membuat lubang di pohon pisang itu. Ia jadikan benda mati tersebut sebagai pengganti wanita yang ia incar sejak semalam.

Begitulah nasib lelaki bernama Pardi hari ini. Gairah yang tak bisa ditumpahkan pada istri, gagal pada janda, akhirnya tertumpah juga... pada sebatang pohon pisang yang tak bersuara.

"Tidak apa-apa Ngit, itu bukan salahmu. Suami Teteh aja cemburunya kebangetan. Lagian kan aku dan kamu tak punya hubungan apa-apa kok," ucap Intan mencoba menenangkan.

Ia menjulurkan tangannya, berharap Langit menyambutnya. Dan benar saja, pemuda itu dengan senyum manis menggenggam tangan wanita itu erat-erat. Mereka berjalan beriringan meninggalkan rumah, layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

'Tanggung... masa bodoh! Biarlah aku melanjutkan apa yang dituduhkan suamiku. Mungkin dengan begini rumah tanggaku cepat selesai. Kalau diterusin, yang ada makan hati terus,' batin Intan bergemuruh dahsyat. Tekadnya sudah bulat untuk membiarkan situasi berjalan sesuai tuduhan itu.

 

KEKHAWATIRAN NENEK WATI

Pemandangan itu tertangkap jelas oleh mata Nenek Wati yang sedang duduk di teras. Jantung wanita tua itu seakan berhenti berdetak sesaat.

Melihat cucunya bergandengan tangan mesra dengan wanita yang sudah bersuami, melihat cara mereka memandang satu sama lain yang terlihat begitu intim... Wajah Nenek Wati berubah pucat pasi. Tangannya yang keriput gemetar hebat memegang tongkat kayu.

'Ya Allah... apa yang sedang kalian lakukan ini?!' batinnya menjerit panik.

"Apa yang kau lakukan itu salah, Nak... sungguh salah besar," gumamnya pelan dengan suara bergetar. Kepalanya menggeleng-geleng kuat tak setuju. "Hidupmu berat nak Langit... jangan kau bawa wanita baik hati ini masuk ke dalam takdir gelap yang akan kamu jalani nanti. Kamu tidak tahu betapa mengerikannya musuh-musuhmu."

Nenek Wati segera memberi kode mata dan isyarat tangan pada Intan agar melepaskan tangan itu.

Intan mengerti maksud kode tersebut, namun baginya baju sudah terlanjur basah.

"Nenek... saat ini Langit adalah tamengku. Harap nenek mengerti posisi Teteh. Aku tahu ini salah, tapi aku ingin terlepas dari jeratan iblis bernama Jaji yang terus menyiksa batinku setiap hari."

"Tapi salah jalanmu itu, Nak!" potong Nenek Wati tegas, matanya menatap Intan dalam. "Kamu belum tahu takdir Langit itu seperti apa. Jika kamu menyeretnya masuk ke dalam masalahmu, atau bahkan terjebak hubungan seperti ini... Nenek jamin, hidupmu nanti akan jauh lebih perih, jauh lebih sakit, dan lebih menderita daripada sekarang ini."

"Aku akan menanggung resikonya Nek," jawab Intan bersikeras. "Walaupun Langit jadi tembok pelindung diriku, aku yakin tak akan terjadi apa-apa padanya. Aku tahu betul kelakuan suamiku, dan aku punya rencana agar dia tak menyentuh Langit sedikitpun."

Nenek Wati menghela napas panjang, napasnya terdengar berat dan penuh beban.

Bukan Jaji yang ia khawatirkan. Bagi Nenek, suami Intan itu hanyalah tumpukan sampah tak berarti di mata takdir cucunya. Yang benar-benar membuat bulu kuduknya meremang adalah orang-orang di masa lalu.

'Jika waktunya tiba... jika terungkap bahwa bayi yang dulu dibuang dan tidak diharapkan oleh dua keluarga besar itu masih hidup dan kini tumbuh dewasa... Maka mereka akan memburunya sampai ke lubang semut sekalipun. Mereka tak akan segan-segan melenyapkan siapa saja yang dekat dengannya, termasuk kamu Intan...'

Rasa takut itu begitu nyata. Dalam surat wasiat yang ditinggalkan ibu kandung Langit dulu, pesannya sangat jelas: "Jangan pernah mencari tahu siapa asal usulku. Biarkan anak hidup normal dan sederhana, jauh dari konflik keluarga."

Hati nurani Nenek Wati bimbang setengah mati. Namun saat ia melihat kedipan mata Langit yang meminta izin dan keyakinan, ia pun pasrah.

"Baiklah... Jika itu memang harus begitu alurnya, Nenek tidak akan memaksa. Hanya satu pesan Nenek: Hati-hati dan segera urus masalahmu dengan suamimu. Jika dia bersikeras tak mau melepaskan, ambillah jalan hukum. Bukti kekerasan dalam rumah tangga itu sudah sangat kuat, jauh lebih kuat daripada tuduhan dia selingkuh," saran Nenek bijak.

"Terima kasih banyak Nek... Terima kasih untuk segalanya," ucap Intan membungkuk hormat, matanya kembali berkaca-kaca.

"Ya sama-sama. Besok temenin Nenek pergi ke Bank ya," titah Nenek Wati. Ia lalu menengok ke arah cucunya. "Hanya itu jalan satu-satunya saat ini. Tidak apa-apa kan cucuku? Untuk saat ini permasalahan Teh Intan lebih penting daripada menunggu tiga bulan seperti yang kamu bilang.

Langit terdiam sesaat. Sebenarnya ia sangat bersikeras agar tabungan pensiunan Neneknya jangan disentuh dulu. Ia ingin berjuang sendiri membahagiakan wanita tua itu. Tapi melihat kondisi Teh Intan yang mendesak, ia pun mengalah.

"Tidak apa-apa Nek... Tapi usahakan jangan sampai habis pencairannya ya. Ambil seperlunya saja, sesuai kebutuhan Teh Intan," jawab Langit lembut.

Intan yang berdiri di samping mereka tersentak. Ia menangkap jelas pembicaraan tentang pencairan uang untuk membantunya menyelesaikan masalah.

"Nek jangan... Jangan macam-macam! Aku punya simpanan kok!" buru-buru Intan menyela.

Namun Nenek Wati langsung memotong cepat dengan nada tegas.

"Uangmu itu untuk bertahan hidup kamu dan kedua anakmu nanti! Permasalahan hukum dan perceraianmu biar Nenek yang membereskan! Jangan dibahas lagi!"

Hancur sudah pertahanan diri Intan. Kebaikan, ketulusan, dan rasa sosial yang begitu tinggi dari Nenek Wati membuat jantungnya terasa copot.

'Apakah ini yang dinamakan keluarga? Apakah ini kasih sayang sesungguhnya?'

Air mata bahagia itu mengalir deras membasahi pipi. Tiba-tiba kedua anak kembarnya menghampiri dan memeluk kakinya.

"Bunda jangan nangis... Tunggu kami berdua besar ya! Nanti akan kami hajar Papa jahat itu!" teriak anak-anak polos itu.

Mereka pun sadar, ayah mereka lah sumber dari semua air mata ibunda.

Intan segera mengusap air matanya dan tersenyum.

"Bunda menangis bukan karena Ayah nak... Bunda menangis bahagia karena bisa tinggal berdekatan dengan Nenek Wati dan Om Langit yang baik hati."

"WAIT...!!"

Tiba-tiba Langit berseru kaget, matanya membelalak seolah teringat sesuatu yang sangat penting atau mendengar suara aneh.

Sontak saja Nenek Wati dan Intan langsung menengok serentak ke arah bocah itu, begitu juga dengan kedua anak kembar yang menatap bingung.

 

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

 

Bersambung...

Bersambung.

1
Guru
yaaa lagi dong 😭😭😭
Robet
gasspoll
Robet
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
belum tahu dia siapa Langit🤣🤣🤣
Guru
licik juga ya si young li
Robet
meleleh hati aku🤭🤭
Guru
si jui belum modar🤣🤣🤣
Guru
ini paling bahaya tuh Thor si dewi
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
hukuman nya terlalu ringan, tapi itu juga bagus sih
Guru
Tanggung jawab semakin besar saat ini
Guru
Pulang nya gak ke kampung kak
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Jabir jabir
Kar
😭😭😭😭😭😭😭😭
Kar
hahaha🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ampun
Kar
sangat pantas teh intan😭😭😭
Kar
apa yang di tanam itu yang di tuai oleh langit, semangat thor
Kar
Nah kan sakit jadinya🤣🤣🤣
Kar
wkwkwk ampun saja itu kelakuan mereka berdua. 🤣🤣🤣🤣
Kar
Kenapa Jabir tak berani melawan bara, bukankah perusahaan dan keluarganya nomor satu di Asia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!