Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Gus Haris
Setelah membaca surat dan melihat video dari Dika, Raina semakin sering terbangun tengah malam dengan air mata. Ia mencoba menyembunyikannya, tapi Gus Haris tahu. Setiap pagi ia melihat mata istrinya bengkak, senyumnya dipaksakan, dan bahunya sering terkulai ketika sedang mengajar santriwati kecil.
Gus Haris mulai merasa ada yang berubah di dalam dirinya.
Bukan marah yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang pelan, seperti bara api yang mulai membesar di dada. Ia muak. Muak karena Dika terus mengganggu kehidupan mereka dari jauh. Muak karena masa lalu istrinya yang seharusnya sudah tertutup masih terus dibongkar dan dijadikan senjata untuk membuat Raina menangis berulang kali.
Pagi itu, saat Raina sedang duduk di teras dengan mata kosong memandang kebun melati, Gus Haris duduk di sebelahnya. Ia tidak langsung memeluk. Ia hanya diam sejenak, lalu bicara dengan suara yang lebih rendah dan tegas dari biasanya.
“Raina… aku mulai lelah melihat kamu seperti ini.”
Raina menoleh, terkejut mendengar nada suaminya.
“Gue… gue minta maaf. Gue tahu gue terlalu banyak menangis akhir-akhir ini.”
Gus Haris menggeleng pelan. Rahangnya mengeras.
“Bukan kamu yang aku salahkan. Aku muak dengan Dika. Aku muak karena dia terus mengirim surat, video, dan kenangan yang membuat kamu sedih setiap malam. Kamu istriku. Kamu sudah berusaha sangat keras untuk berubah. Tapi dia terus datang seperti hantu yang tidak mau pergi. Aku sabar karena aku mencintai kamu. Tapi melihat kamu menangis karena dia… membuat aku marah.”
Raina menunduk. Air mata kembali menggenang.
“Gue takut lo akan bosan sama gue yang selalu bawa masalah ini.”
Gus Haris menggenggam tangan Raina, tapi genggamannya kali ini lebih kuat, lebih tegas.
“Aku tidak bosan sama kamu. Aku bosan dengan gangguan yang terus datang. Aku bosan melihat istriku yang seharusnya bahagia justru terus terluka karena masa lalu yang seharusnya sudah selesai.”
Ia diam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut tapi tetap tegas.
“Besok kita ke Surabaya. Kali ini aku tidak hanya akan diam dan mendengarkan. Aku akan bicara langsung dengan Dika. Aku akan bilang padanya untuk berhenti. Karena ini sudah bukan lagi tentang masa lalu kamu. Ini sudah tentang kehancuran rumah tangga kita.”
Raina mengangkat wajahnya. Ia melihat sesuatu yang baru di mata Gus Haris — kemarahan yang tertahan, tapi juga kasih sayang yang dalam.
“Gue… gue nggak mau lo bertengkar karena gue.”
Gus Haris mengusap pipi Raina dengan ibu jarinya.
“Aku bukan mau bertengkar. Aku mau melindungi kamu. Aku mau melindungi pernikahan kita. Kamu istriku. Dan sebagai suami, aku punya tanggung jawab untuk menjaga hatimu dari hal-hal yang terus menyakiti kamu.”
Malam itu, Raina mencoba mendekati Gus Haris seperti biasa. Ia duduk di pangkuan suaminya dan menciumnya pelan. Tapi Gus Haris merespons dengan lembut, tapi tidak dengan gairah yang biasa. Ia memeluk Raina erat, tapi tangannya terasa lebih protektif daripada penuh nafsu.
“Malam ini kita cukup peluk saja,” katanya pelan. “Aku ingin kamu istirahat. Besok kita butuh kekuatan.”
Raina mengangguk di dada suaminya, tapi hatinya terasa berat. Ia merasakan perubahan kecil di Gus Haris — suaminya yang biasanya sangat sabar mulai menunjukkan batas kesabarannya.
Keesokan paginya, sebelum berangkat ke Surabaya, Raina mencoba shalat Tahajud berdua lagi. Kali ini ia meminta Gus Haris menjadi imam, dan ia mengikuti di belakang dengan hati-hati. Saat suara Gus Haris membaca Al-Fatihah dengan tartil, Raina merasa air matanya jatuh lagi.
Setelah shalat selesai, Raina duduk di sajadah dan berbisik:
“Gue takut lo mulai muak sama gue karena terus bawa masalah Dika.”
Gus Haris duduk di sebelahnya. Ia mengusap punggung Raina, tapi suaranya kali ini lebih tegas.
“Aku tidak muak sama kamu. Aku muak dengan orang yang terus menyakiti kamu. Dan aku berjanji, di Surabaya nanti, aku akan bicara dengan Dika sebagai suami kamu. Bukan sebagai ustadz yang sabar. Tapi sebagai laki-laki yang tidak mau melihat istrinya terus menangis karena dia.”
Raina memeluk Gus Haris erat.
“Gue cinta sama kamu,” bisiknya.
Gus Haris membalas pelukan itu, tapi Raina bisa merasakan ketegangan di tubuh suaminya.
“Aku juga cinta sama kamu. Makanya aku tidak mau diam lagi.”
Di perjalanan menuju Surabaya, Raina memegang tangan Gus Haris sepanjang jalan. Tapi kali ini genggaman itu terasa berbeda — ada kemarahan pelan yang mulai tumbuh di hati suaminya yang biasanya sangat lembut.
Raina tahu, pertemuan kali ini akan berbeda.
Bukan lagi hanya tentang masa lalunya.
Tapi tentang batas kesabaran Gus Haris sebagai seorang suami.
Dan Raina takut, sekaligus lega, karena akhirnya ada seseorang yang mau marah demi melindunginya.