NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan yang Mengigit

Setelah konfrontasi di asrama, Raina pulang dengan tubuh lelah tapi pikiran yang berputar kencang. Malam itu, ia duduk sendirian di belakang rumah kecil mereka, memandang kebun melati yang sudah mulai tumbuh. Angin malam membawa bau tanah basah, tapi hidungnya malah mencium bau asap knalpot dan suara tawa geng motor dari masa lalu.

Kenangan itu datang tiba-tiba, seperti pisau yang tajam.

Dulu, di sebuah gang sempit di Surabaya, hujan deras turun saat Raina berusia 18 tahun. Ia basah kuyup, jaket kulit hitamnya menempel di tubuh, rambut pendeknya meneteskan air. Dika berdiri di depannya, memegang helm motor, matanya penuh api yang sama dengan Raina saat itu.

“Lo selalu bilang lo bosan di rumah,” kata Dika saat itu, suaranya keras menembus suara hujan. “Lo bilang lo mau hidup bebas. Kenapa lo masih ragu? Malam ini kita balap lagi. Lo dan gue, seperti biasa. Lo juara kecil gue.”

Raina ingat ia tertawa keras, lalu memeluk Dika erat di pinggir jalan. Bukan karena cinta, tapi karena rasa bebas yang membuatnya merasa hidup. Mereka balap motor sampai subuh, minum kopi hitam di pinggir jalan tol, dan Raina pulang ke rumah dengan bau alkohol samar di baju. Orang tuanya marah besar malam itu, tapi Raina hanya tertawa dan bilang “gue masih muda, Pa.”

Sekarang, duduk di belakang rumah pesantren, Raina merasa mual. Kenangan itu yang dulu terasa manis, kini terasa seperti racun yang lambat-lambat meracuni kehidupannya yang baru.

Gus Haris keluar dari rumah dan duduk di sebelahnya tanpa bicara. Ia hanya menunggu.

Raina akhirnya bicara dengan suara rendah, hampir berbisik.

“Gue ingat malam itu, Haris. Malam hujan deras di Surabaya. Gue peluk Dika di pinggir jalan karena gue merasa bebas. Gue merasa gue bisa lari dari segalanya. Gue nggak cinta sama dia. Gue cuma cinta sama rasa liar itu. Tapi sekarang… gosip itu bikin gue takut. Takut bagian gue yang dulu masih hidup di dalam gue. Takut suatu hari gue akan kangen rasa itu lagi dan ninggalin lo.”

Gus Haris diam sejenak, tangannya menyentuh punggung Raina dengan lembut.

“Ceritain lebih banyak,” katanya pelan. “Aku mau dengar semuanya. Bukan untuk menghakimi. Tapi supaya aku mengerti bagian mana yang masih sakit di hati kamu.”

Raina menarik napas dalam-dalam. Air mata mulai jatuh tanpa suara.

“Dika bukan pacar gue. Dia teman balap. Tapi dia yang selalu ada saat gue kabur dari rumah. Dia yang ajarin gue ngebut di jalan tol malam-malam. Dia yang bilang ‘lo terlalu liar buat kota ini’. Gue suka karena dia nggak pernah larang gue apa-apa. Berbeda sama lo… lo selalu kasih ruang, tapi lo juga kasih batas yang lembut. Gue takut gue nggak pantas dapet batas yang lembut itu.”

Gus Haris mendengarkan tanpa memotong. Saat Raina selesai, ia menarik Raina ke dalam pelukannya.

“Terima kasih sudah berani cerita,” katanya dengan suara rendah dan tenang. “Masa lalu kamu bukan aib yang harus disembunyikan. Itu bagian dari perjalanan yang membawa kamu ke sini. Aku tidak takut dengan Dika atau gosip itu. Yang aku takutkan adalah kamu yang masih memikul beban sendirian.”

Raina menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.

“Gue takut gosip ini akan terus tumbuh. Gue takut suatu hari lo akan bosan membela gue. Gue takut gue akan jadi beban buat lo di pesantren ini.”

Gus Haris mengusap rambut pendek Raina dengan lembut.

“Besok aku akan bicara dengan Kyai Zainuddin. Kita akan hadapi ini secara terbuka. Kamu nggak perlu sendirian lagi. Dan aku… aku nggak akan bosan. Karena aku mencintai Raina yang sekarang, yang berani menghadapi masa lalunya, bukan Raina yang sempurna.”

Malam itu, Raina tidur dengan kepala di dada Gus Haris, tapi pikirannya masih dipenuhi bayangan Dika dan suara knalpot motor di malam hujan Surabaya.

Ia tahu, masa lalu itu belum benar-benar selesai.

Dan besok, ia harus menghadapi lebih dari sekadar gosip.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!