satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Satria
Keesokan harinya, Pak Karno mengumpulkan warga di alun alun desa, jika kemarin mereka berkumpul karena adanya harimau yang masuk ke kampung, sekarang mereka akan mencari Satria yang hilang sejak kemarin Kabar hilangnya Satria telah menyebar dengan cepat, dan semua orang yang mengenal Satria turun mencari keberadaan Satria
Niken di dampingi oleh 4 pengawal , matanya sembab karena sejak menerima telpon dari Hadi menangis tak henti, Hadi dan Bimo juga tak kalah khawatir
" Nak Hadi, sebelumnya apa nak Satria pernah berkata sesuatu?" Tanya Pak Karno
" sehabis kita turun gunung kemarin, Satria bilang ingin mencari tempat yang sepi, seperti goa atau apa, pak" Jawab Hadi
" Kalau gitu kita fokuskan arah pencarian ke goa goa yang ada di sekitar gunung saja" putus pak Karna setelah mendapat informasi dari Hadi, mereka memulai dari Goa Saung karena disana bisa jadi Hadi terjebak oleh air pasang yang menutup mulut goa hingga terjebak di dalam sana
Di sepanjang jalan Niken terus berdoa agar Satria selamat dan segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat.
"Kita bagi menjadi beberapa kelompok ya, supaya pencariannya lebih luas dan cepat," usul Hadi dengan suara yang berusaha tetap tenang, meski di dalam hatinya ia sama cemasnya dengan yang lain.
"Kita bagi dua kelompok, sebagian menyusuri sungai, dan sebagian memeriksa celah-celah bebatuan, Jangan sampai ada yang terlewat"
" Baik" semua setuju mereka langsung membagi menjadi dua kelompok Hadi dan Bimo berjalan berdampingan dengan Niken, memastikan gadis itu tidak terpisah dan tetap dalam keadaan aman
Mereka memeriksa setiap sudut yang memungkinkan, menyusuri semak belukar yang lebat, memeriksa celah-celah bebatuan, hingga menyusuri pinggiran sungai yang airnya jernih mengalir deras.
kelompok Hadi masuk ke dalam Goa Saung, mereka memeriksa setiap sudut ruangan dan lorong yang ada. Namun, selain dinding batu yang berkilauan dan suara tetesan air, tidak ada tanda-tanda keberadaan Satria sama sekali. Mereka keluar dari goa itu dengan perasaan kecewa.
" coba kita cari di air terjun Sembilan Putri," ajak Bimo sambil mengusap peluh di dahinya. "Biasanya tempat itu sering dikunjungi orang untuk beristirahat, siapa tahu Satria ada di sana."
Mereka segera berangkat menuju ke Ke Air Terjun Sembilan Putri,sedangkan kelompol kedua mencari di sekitar Air Terjun Way Talas
Air Terjun Sembilan Putri berada di wilayah desa Canti, Saat mereka berada di sana mereka segera mencari keberadaan Satria, namun mereka tak juga mendapatkan petunjuk apapun
Hadi menatap kosong pada air terjun 9 putri, tiba tiba saat itu ia melihat 9 wanita seperti Bidadari berdiri di air terjun itu, ia ternganga, Bimo yang melihat temannya bengong sambil menatap kosong ke arah air terjun itu langsung menepuk keras punggung Hadi
" Plaaak"
" Nyebut woi, jangan sampai kesurupan!" tegur Bimo
" Astagfirullah hal azdiiiim" Hadi yang tersadar segera beristigfar,
" Nak Hadi kenapa, apa ada yang di lihat di sini?" seorang Warga yang cukup tua bertanya pada Hadi
" Paman aku melihat ada 9 wanita cantik berdiri di sana?" ucap Hadi sambil memonyongkan bibirnya ke arah air terjun, ia tak berani menunjuk karena jika benar ada penghuni di sana dan merasa di tunjuk dia bisa sial, telunjuknya bisa bengkak tanpa sebab ( menurut cerita orang tua hadi)
" jangan takut, mereka penjaga Mata Air Suci gunung Rajabasa, mereka tak akan mengganggu jika kita tak merusak alam" sahut lelaki itu
" ooh, jadi nama Air Terjun ini di ambil dari keberadaan mereka?" tanya Bimo
" Iya, dulu di sekitar sini ada seorang Pertapa Sakti tinggal, Ki Mahesa Cakti namanya, ia mempunyai sembilan putri yang sangat cantik, Ki mahesa selalu menegaskan agar menyayangi alam. Menurut Ki Mahesa Cakti, jika kita menjaga alam maka alam juga akan menjaga kita. ke sembilan putri itu sering berada di ceruk ini, untuk mandi dan berdoa, namun suatu hari ada pemburu yang tersasar memasuki tempat ini, melihat kecantikan 9 putri itu, pemburu itu menjadi gelap mata
Ia mendekat untuk mendapatkan salah satu putri itu
Kesembilan putri terkejut. Ketakutan menyelimuti mereka. Dengan suara gemetar, mereka berseru, “Wahai Yang Maha Kuasa, lindungilah kami dari niat jahat manusia!”
Seketika, Gunung Rajabasa bergetar. Langit yang cerah berubah kelabu. Angin menderu membawa amarah alam. Dari tebing batu, air memancar deras, jatuh bertingkat-tingkat, terbelah menjadi sembilan aliran air yang mengaum bersamaan.
Dalam cahaya putih menyilaukan, kesembilan putri lenyap menyatu dengan alam, dipercaya diangkat menjadi penjaga mata air suci Gunung Rajabasa. Sang pemburu terhempas oleh derasnya air, tersungkur, lalu lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu dengan penyesalan mendalam.
Tak lama kemudian, Ki Mahesa Cakti tiba. Di hadapannya kini berdiri air terjun bertingkat sembilan, mengalir abadi dengan suara lirih seperti doa yang tak pernah putus.
Dengan air mata membasahi wajahnya, sang pertapa bersujud. “Jika ini kehendak-Mu, jadikanlah anak-anakku penjaga alam, agar manusia belajar tentang batas dan kesucian.”
Sejak itulah, tempat tersebut dikenal sebagai Air Terjun Sembilan Putri. Masyarakat Desa Canti meyakini, air terjun ini bukan sekadar keindahan alam, melainkan peringatan abadi, bahwa alam harus dihormati " lelaki tua itu memandang airterjun setelah selesai bercerita,
" Air terjun yang indah dengan segala rahasianya, namun kita bharus kembali mencari , jangan terlalu lama di sini" ucap Niken mengingatkan
Hadi dan bimo mengangguk
" sekarang kita ke mana?' tanya Bimo,
" Tinggal arah puncak gunung yang belum kita jelajahi" ucap Hadi
" Ayo kita kesana" Niken langsung berjalan mendahului mereka
Perjalanan menuju puncak gunung terasa semakin berat dan melelahkan. Jalan yang dilalui semakin curam dan sempit, ditumbuhi semak belukar yang semakin lebat. Mereka harus berjalan dengan hati-hati, sesekali memotong ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan. Udara di bagian atas ini terasa semakin dingin dan tipis, namun semangat mereka untuk mencari tidak pernah surut sedikit pun.
Setelah berjalan berjam-jam, akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan kecil yang agak lapang di tengah hutan. Tempat itulah yang menjadi lokasi pertarungan antara Pak Harya, harimau, dan Satria kemarin sore. Begitu memasuki area itu, mereka bisa melihat tanda-tanda pertarungan yang masih terlihat jelas.
Tanah di sekitarnya terlihat rusak, banyak bekas pijakan kaki yang dalam, dan daun-daun serta ranting pohon berserakan di mana-mana. Niken yang melihat pemandangan itu langsung berhenti melangkah, jantungnya berdegup kencang dengan firasat buruk.
"Ini... ada bekas pertarungan di sini," gumam Bimo sambil berjongkok memeriksa tanah di sekelilingnya.
Hadi segera ikut berjongkok, matanya mengamati setiap detail yang ada di tanah itu. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di antara semak belukar. Ia mengambil benda itu, lalu menunjukkannya kepada yang lain dengan tangan yang gemetar.
"Ini... ini milik Satria!" seru Hadi dengan suara yang tercekik.
Benda itu adalah potongan dari bending pemberat yang dipakai Satria. Potongan kainnya yang terbuat dari plastik tebal masih terlihat jelas, dan di dalamnya masih tersisa butiran pasir serta serpihan timah yang berhamburan. Potongan ini adalah sisa dari bending yang dilempar Satria untuk menahan tembakan Pak Harya kemarin.
Melihat benda itu, air mata Niken yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia berlutut di tanah, memegang potongan bending itu dengan tangan gemetar, lalu menangis tersedu-sedu.
"Satria... apa yang terjadi denganmu." isak Niken dengan suara yang parau.
Belum lagi kesedihan mereka reda, mata Bimo menangkap dua benda lain yang tergeletak tidak jauh dari sana. Ia mengambilnya satu per satu. Yang pertama adalah sebuah proyektil peluru yang sudah penyok, dan yang kedua adalah bekas tapak kaki yang sangat besar di tanah yang lunak.
"Lihat ini... ada selongsong peluru, dan juga tapak kaki yang sangat besar ini" kata Bimo sambil menunjukkan benda-benda itu.
Semua orang segera mendekat untuk melihat. Mereka tertegun melihat ukuran tapak kaki yang sangat besar itu. Jelas sekali, itu adalah tapak kaki seekor harimau yang berukuran besar. Tapaknya dalam dan lebar, menunjukkan bahwa hewan itu memiliki bobot dan kekuatan yang luar biasa.
" ini seperti tapak Harimau yang kemarin di kebun Coklat," gumam salah seorang warga dengan wajah pucat pasi.
Mendengar kata-kata itu, hati Hadi dan Bimo terasa seperti diremas-remas. Mereka saling berpandangan, dan dari tatapan mata mereka, sama-sama terlihat kekhawatiran yang memuncak. Jika di tempat ini ada jejak pertarungan, ada bekas tembakan, ada barang milik Satria, dan juga ada tapak harimau yang besar, maka dugaan yang muncul di benak mereka adalah sesuatu yang sangat buruk.