Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capter 9 - Hari yang Menyesakkan
Langit sudah mulai berubah jingga ketika Isya pulang dari taman.
Langkahnya ringan menyusuri jalan kecil menuju rumah.
Sesekali ia tersenyum sendiri mengingat percakapannya dengan Ayin tadi.
Tak lama kemudian ia sampai di depan rumah.
“Assalamu’alaikum…”
Isya membuka pintu perlahan.
Biasanya saat jam seperti ini Ba’da sudah ribut memanggilnya dari dalam rumah, atau nenek sedang duduk di kursi sambil merapikan sesuatu.
Namun kali ini… Sunyi.
Isya melangkah masuk.
“Nek…?”
“Ba’da…?”
Tidak ada jawaban.
Ia melihat ke dapur, ke kamar, bahkan ke halaman belakang.
Tetap tidak ada siapa-siapa.
Alis Isya sedikit berkerut.
“Loh… kemana mereka?”
Rumah kecil itu terasa jauh lebih sepi dari biasanya.
Isya berdiri di ruang tengah dengan sedikit bingung dan rasa khawatir yang mulai muncul di hatinya.
Isya keluar ke depan rumah, matanya menyapu gang kecil yang biasanya ramai dengan suara anak-anak.
Namun kali ini terasa sepi.
Tiba-tiba terdengar langkah dari arah samping.
“Assalamu’alaikum, Sya,”
sapa bibi tetangga dengan napas sedikit terburu.
Isya menoleh.
“Wa’alaikumussalam… eh bibi?”
Bibi berdiri di depan rumah bersama anaknya.
Wajahnya terlihat sedikit cemas.
“Ada apa, Bi?”
Bibi langsung berkata dengan nada serius.
“Nak Isya… tadi nenekmu pergi ke sekolahnya Ba’da.”
Isya langsung terkejut.
“Hah? Ke sekolah Ba’da? Kenapa, Bi?”
Belum sempat bibi menjelaskan, anak bibi yang berdiri di sampingnya tiba-tiba berkata polos,
“Soalnya tadi di sekolah Ba’da ada ribut-ribut, Kak…”
Bibi menoleh sebentar ke anaknya, lalu kembali menatap Isya.
“Iya… memang ada kejadian di sekolah Ba’da.”
Isya menelan ludah. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
“Ba’da… dia nggak apa-apa kan, Bi?”
Bibi terlihat ragu sejenak, seolah ingin menjelaskan sesuatu, tapi akhirnya hanya berkata pelan,
“Mungkin isya kesana dulu lihat apa yang terjadi…”
Mata Isya langsung melebar.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mengambil sandalnya.
“Bi… Isya ke sekolah dulu ya!”
Belum sempat bibi menjawab, Isya sudah berlari keluar dari halaman rumah.
Langkahnya cepat menyusuri jalan.
Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran.
Ba’da.
Isya berlari keluar dari rumah tanpa banyak berpikir.
Langkahnya cepat menyusuri jalan kecil di kampung itu.
Angin sore menerpa wajahnya, tapi ia tidak peduli.
Di kepalanya hanya ada satu nama.
Ba’da.
“Nggak apa-apa kan dia…?”
Ucap Lirih isya
Isya terus berlari.
Napas Isya mulai terengah.
Beberapa orang yang berpapasan dengannya sempat menoleh heran.
Isya yang biasanya berjalan lembut kini berlari dengan wajah penuh cemas.
Dalam hatinya ia terus berdoa.
“Ya Allah… tolong jaga Ba’da…”
Kakinya terus melangkah lebih cepat.
Ia teringat wajah adiknya yang sering membuatnya kesal.
Anak kecil yang suka malas bangun pagi.
Yang sering memanggilnya nenek lampir.
Namun justru itu yang membuat hati Isya terasa hangat.
“Ya Allah… jangan sampai Ba’da kenapa-kenapa…”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia bahkan tidak sadar air mata tipis mulai jatuh di pipinya.
Langkahnya tidak berhenti.
Jalan menuju sekolah Ba’da terasa lebih jauh dari biasanya.
Di kejauhan, bangunan sekolah dasar itu mulai terlihat.
langkah Isya mulai melambat.
Bukan karena ia ingin berhenti.
Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah.
“Haah… haah…”
Ia menunduk sebentar sambil mengatur napasnya.
Saat itu seseorang mendekatinya.
“Isya.”
Isya mengangkat wajahnya.
Di depannya berdiri Bu Devi, salah satu guru di sekolah Ba’da.
Melihat keadaan Isya yang berkeringat dan terengah-engah, Bu Devi langsung memahami.
Dengan nada tenang ia berkata,
“Ba’da ada di ruang kepala sekolah.”
Isya langsung terdiam sesaat.
“Di… ruang kepala sekolah, Bu?”
Bu Devi mengangguk pelan.
“Iya. Nenekmu juga ada di sana.”
Jantung Isya kembali berdebar keras.
Tanpa menunggu lama, ia segera berdiri tegak.
“Terima kasih, Bu…”
Isya langsung berlari masuk ke dalam sekolah.
Langkahnya kembali dipercepat.
Perasaannya semakin tidak menentu.
Karena sebentar lagi…
Ia akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Ba’da.
Langkah Isya cepat menyusuri lorong sekolah.
Jantungnya berdegup keras.
Ketika sampai di depan ruang kepala sekolah, pintunya sedikit terbuka.
Dari dalam terdengar suara orang berbicara dengan nada tinggi.
Isya langsung membuka pintu itu.
Di dalam ruangan terlihat nenek duduk di kursi, wajahnya tampak cemas.
Di sampingnya Ba’da berdiri dengan kepala tertunduk, bahunya gemetar menahan tangis.
Di depan mereka berdiri seorang anak laki-laki lain bersama orang tuanya.
Sementara di belakang meja, ibu kepala sekolah duduk mencoba menenangkan suasana.
Namun suasana ruangan itu sudah sangat panas.
Orang tua anak itu berbicara dengan nada marah.
“Anak ini benar-benar keterlaluan!”
Tangannya menunjuk ke arah Ba’da.
“Anak nakal seperti ini seharusnya tidak dibiarkan di sekolah!”
Isya yang baru masuk langsung menatap ke arah mereka.
Dadanya terasa sesak melihat adiknya berdiri sambil menangis.
“Ba’da…”
Ba’da menoleh.
Melihat kakaknya datang, tangisnya justru semakin pecah.
“Kak…”
Isya berjalan mendekat dengan langkah cepat.
Biasanya ia adalah gadis yang lembut dan tenang.
Namun saat melihat adiknya dimarahi seperti itu, wajahnya berubah tegang.
Ia berdiri di depan Ba’da seolah melindunginya.
Dengan suara lembut namun tegas ia berkata,
“Maaf, Bu… tapi jangan langsung menuduh adik saya seperti itu.”
Orang tua anak itu langsung menatap Isya dengan kesal.
“Menuduh? Anakmu ini jelas-jelas membuat masalah!”
Isya menahan napasnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Wanita itu langsung mulai menjelaskan dengan emosi.
“Anakmu memukul anak saya pakai sapu di kelas!”
Isya terdiam.
Namun wanita itu belum berhenti.
“Belum lagi vas bunga di kelas sampai pecah gara-gara dia!”
Wajah Isya mulai berubah.
“Buku anak saya juga dicoret-coret olehnya!”
Tangis Ba’da semakin keras.
Namun keluhan itu masih berlanjut.
“Dan yang paling parah, kaca ruang kelas sampai pecah karena ulahnya!”
Ruangan menjadi hening setelah itu.
Semua mata tertuju pada Ba’da yang masih menangis.
Isya berdiri diam.
Kata-kata itu seperti menghantam hatinya satu per satu.
Ia menatap adiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Ba’da…?”
Namun Ba’da hanya menangis tanpa bisa berkata apa-apa.
Tangisnya semakin kuat.
Setiap keluhan yang disebutkan tadi seperti menusuk hati kecilnya.
Melihat itu, hati Isya terasa teriris.
Perlahan ia berlutut di depan Ba’da.
Lalu ia menarik adiknya ke dalam pelukannya.
“Sudah… sudah…”
Suara Isya bergetar.
Ba’da menangis sejadi-jadinya di pelukan kakaknya.
Nenek yang melihat itu tidak kuasa menahan air mata.
Tangisnya ikut pecah.
Suasana ruangan itu berubah menjadi sangat pilu.
Bahkan beberapa orang yang melihatnya ikut merasa iba.
Ibu kepala sekolah akhirnya berdiri dan mencoba menenangkan keadaan.
“Sudah… sudah dulu semuanya.”
Beliau berbicara dengan nada lebih lembut.
“Kita semua sedang emosi sekarang.”
Ia menatap ke arah Isya dan Ba’da yang masih berpelukan.
“Sebaiknya anak ini ditenangkan dulu.”
Kemudian ia berkata lagi,
“Isya, kamu bawa Ba’da dulu ke ruang kelas yang kosong. Biarkan dia tenang sebentar.”
Isya mengangguk pelan.
Sambil masih memeluk Ba’da yang terisak, ia berdiri perlahan.
Tangannya menggenggam tangan adiknya dengan lembut.
Lalu mereka berjalan keluar dari ruang kepala sekolah.
Menuju sebuah kelas yang sedang kosong.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘