Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Enzo Bucelli.
Nama itu tidak perlu diperkenalkan panjang lebar. Orang-orang di dunia bawah yang mendengarnya sudah tahu siapa dia. Di lorong-lorong gelap pelabuhan, di ruang VIP kasino mewah, bahkan di ruang rapat para penguasa bisnis bayangan, nama itu selalu disebut dengan nada yang sama, hati-hati dan penuh rasa takut.
Enzo merupakan salah satu pemimpin mafia paling ditakuti di dunia. Namanya beredar dari Eropa sampai Asia, dari pelabuhan gelap sampai gedung-gedung kasino mewah. Tidak ada yang tahu pasti seberapa luas kekuasaannya, tetapi semua orang tahu satu hal, siapapun yang melawannya biasanya tidak akan hidup lama.
Ia bukan hanya dikenal karena kekayaannya. Namun karena caranya menghukum pengkhianat. Dingin, cepat, dan tanpa ampun.
Malam itu kota diselimuti udara dingin. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas aspal yang masih sedikit basah oleh hujan sore tadi.
Sebuah mobil hitam mewah melaju dengan tenang di jalan yang mulai sepi.
Di kursi kursi pengemudi duduk seorang pria, mengenakan jas hitam mahal yang pas di tubuhnya. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, rahangnya tegas, dan wajahnya memancarkan aura dingin yang membuat orang enggan menatap terlalu lama.
Enzo baru saja pulang dari kantornya.
Sepanjang perjalanan, Enzo hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Pikirannya dipenuhi berbagai urusan bisnis malam ini, pengiriman barang dari pelabuhan, pertemuan dengan beberapa mitra lama, dan laporan tentang kelompok kecil yang mencoba bermain di wilayahnya.
Hal-hal seperti itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun tiba-tiba…Sebuah mobil hitam muncul dari persimpangan depan.
Lalu satu lagi dari arah samping.
Screeech!
Mobil yang Enzo kemudikan langsung mengerem mendadak.
Dua mobil berhenti tepat di depan mereka. Dan dua mobil lain menutup jalan dari belakang.
Enzo di kepung.
"Shittt....."
Umpat Enzo, namun dia sudah lebih dulu memahami situasinya.
Matanya menyipit sedikit, mencoba menghitung seberapa banyak musuh yang menghadangnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Enzo membuka pintu mobil.
Udara malam langsung menerpa wajahnya.
Beberapa pria keluar dari mobil yang menghadang. Wajah mereka tertutup sebagian oleh bayangan malam, tetapi senjata di tangan mereka terlihat jelas.
Pisau.
Belati.
Dan beberapa tongkat besi.
Jumlah mereka tidak sedikit, Lebih dari lima puluh orang.
Salah satu dari mereka tertawa pelan.
"Jadi ini Enzo Bucelli."
Tidak ada jawaban.
Enzo berdiri tegak di samping mobilnya, menatap mereka satu per satu dengan tatapan dingin.
Seolah yang berdiri di hadapannya hanyalah sekumpulan serangga.
Namun pria-pria itu tidak gentar. Mereka sudah datang dengan tujuan jelas.
"Bos kami mengirim salam," salah satu dari mereka berkata sambil memutar belati di tangannya.
"Katanya… malam ini kau harus mati."
Enzo akhirnya tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti senyum seseorang yang merasa bosan.
"Kalian terlalu banyak bicara."
Kalimat itu baru saja selesai keluar dari bibirnya ketika salah satu pria langsung menyerang.
Gerakannya cepat.
Wuzzhh....
Belati mengarah lurus ke dada Enzo. Namun refleks Enzo jauh lebih cepat.
Ia menangkis tangan pria itu dan memutar tubuhnya, menghantam siku ke rahang penyerangnya. Pria itu langsung terhuyung sebelum jatuh ke aspal.
Dua pria lain langsung menyerang bersamaan.
Suara benturan terdengar di jalan yang sunyi.
Enzo bergerak dengan efisien dan mematikan. Setiap pukulan yang ia lepaskan tepat mengenai titik vital.
Satu orang tumbang, lalu satu lagi juga ikut tumbang. Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Serangan datang dari berbagai arah.
Sebuah tongkat besi menghantam bahunya cukup keras hingga tubuhnya sedikit oleng. Belati lain nyaris mengenai lehernya.
Enzo masih melawan. Namun kali ini lawannya benar-benar siap. Dua orang menahannya dari belakang. Satu orang lain menyerang dari depan.
Dan saat itulah—
Sret!
Sebuah belati tajam merobek perutnya.
Napas Enzo tertahan sejenak. Rasa panas menjalar cepat di perutnya. Darah mulai merembes keluar membasahi kemeja putihnya di balik jas hitam.
Pria yang menusuknya tersenyum puas.
"Bahkan monster seperti kau bisa berdarah juga rupanya."
Namun mereka melakukan satu kesalahan.
Mereka mengira Enzo akan jatuh begitu saja. Padahal pria itu justru semakin berbahaya ketika terluka.
Dengan sisa tenaga yang ada, Enzo menghantam kepala salah satu pria yang menahannya ke belakang. Cengkeraman mereka langsung terlepas.
Ia menendang keras penyerang di depannya hingga pria itu terpental ke kap mobil.
Tanpa menunggu lebih lama, Enzo berlari. Kabur dari mereka semua. Dia tidak mau mati konyol.
Para penyerang langsung menyadari.
"Kejar dia!"
Suara langkah kaki menggema di jalan gelap.
Namun Enzo sudah lebih dulu masuk ke gang sempit di antara gedung-gedung tua. Napasnya mulai berat, dan setiap langkah membuat luka di perutnya terasa semakin perih.
Darah menetes di sepanjang jalan.
Namun ia tetap berlari.
Ia tahu satu hal.
Jika tertangkap sekarang…
semuanya akan berakhir.
Lampu-lampu kota terlihat berputar samar di matanya karena kehilangan darah.
Namun entah bagaimana, ia berhasil keluar dari gang itu dan mencapai jalan lain yang lebih ramai.
Tubuhnya mulai goyah. Tangannya menekan luka di perutnya yang terus berdarah.
Namun Enzo masih berusaha menahannya. Ia menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengejarnya lagi.
Dia merasa lega, matanya yang dingin kini dipenuhi sesuatu yang lebih gelap, yaitu amarah.
Karena satu hal yang pasti, seseorang telah mencoba membunuhnya malam ini.
Dengan langkah tertatih, Enzo berjalan menyebrang jalan, karena sudah tidak kuat dia asal masuk saja ke dalam mobil seseorang yang berhenti di lampu merah.
*****
Keesokan paginya, cahaya matahari perlahan merayap masuk melalui celah tirai jendela kamar rawat. Sinar hangat itu jatuh tepat ke wajah seorang wanita yang tertidur di kursi di samping tempat tidur pasien.
Evelyn melenguh pelan. Alisnya sedikit berkerut ketika cahaya itu mengganggu tidurnya. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan terang pagi yang perlahan memenuhi ruangan.
Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar kembali.
Evelyn membuka matanya lebih lebar sambil merenggangkan kedua tangannya. Otot-otot di punggung dan lehernya terasa kaku karena posisi tidur yang tidak nyaman sepanjang malam.
"Ah… pegal sekali…" gumamnya pelan.
Barulah ia benar-benar sadar di mana dirinya berada.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, jas dokternya bahkan masih tersampir di sandaran kursi. Rambutnya sedikit berantakan karena tidur tanpa persiapan.
Semalaman dia tertidur di kamar rawat itu. Menemani pria asing yang ia selamatkan dari luka tusuk.
Ingatan tentang malam sebelumnya perlahan kembali, bagaimana pria itu masuk kedalam mobilnya dengan tubuh penuh darah, bagaimana ia harus segera melakukan penanganan darurat agar pria itu tidak kehilangan terlalu banyak darah.
Evelyn menoleh ke arah tempat tidur pasien.
Namun detik berikutnya matanya langsung membesar. Tempat tidur itu kosong.
"Eh"
Belum sempat ia selesai berpikir, suara gagang pintu yang bergerak terdengar dari sisi ruangan.
Evelyn langsung menoleh cepat.
Di sana, pria itu sudah berdiri di dekat pintu kamar. Tubuhnya yang tinggi tampak tegap meskipun ia baru saja menjalani perawatan serius semalam. Ia bahkan sudah mengenakan kembali kemeja yang sudah robek dan jas hitamnya, meski perban masih melilit di balik pakaiannya.
Tangannya sudah memegang gagang pintu, seolah siap keluar kapan saja.
"Hai, kau mau kemana?" seru Evelyn spontan.
Pria itu berhenti. Ia menoleh sedikit ke arah Evelyn. Tatapannya dingin, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit meski luka di perutnya pasti belum sepenuhnya stabil.
"Pergi," jawabnya singkat.
Satu kata.
Tanpa penjelasan.
Tanpa nada ragu.
Evelyn langsung berdiri dari kursinya. "Kamu belum sembuh," ujarnya cepat. "Kamu harus dirawat dulu beberapa hari sampai lukanya kering."
Sebagai dokter, ia tahu betul kondisi pria itu. Luka tusuk yang cukup dalam seperti itu tidak bisa dianggap sepele. Jika bergerak terlalu banyak, jahitannya bisa terbuka kembali dan pendarahan bisa terjadi lagi.
Namun pria itu hanya mengendikkan bahunya dengan acuh. Seolah perkataan Evelyn sama sekali tidak penting.
Tangannya kembali menekan gagang pintu.
Sikap itu membuat alis Evelyn langsung berkerut kesal.
"Hei!"
Evelyn tidak menyerah. Ia segera beranjak dari kursinya dan berjalan cepat menghampiri pria itu. Langkahnya tegas meskipun tubuhnya masih sedikit lelah karena kurang tidur.
Ia berdiri tepat di depan pintu, seakan menghalangi jalan keluar.
"Kembali ke tempat tidur," katanya dengan nada tegas.
Pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa sunyi.
Evelyn tidak tahu siapa pria ini sebenarnya. Ia bahkan belum mengetahui asal usulnya.
Namun satu hal yang jelas. Sebagai dokter, ia tidak bisa membiarkan pasiennya pergi dalam kondisi seperti itu.
"Kembali," ulang Evelyn.
Ketika pria itu tetap diam dan tidak bergerak, Evelyn menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Atau aku akan berteriak." Ancaman itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Pria itu langsung memicingkan matanya. Tatapannya berubah sedikit tajam.
Ia menatap Evelyn dari ujung kepala sampai kaki, seolah sedang menilai sesuatu yang aneh. Di dalam pikirannya, situasi ini terasa hampir tidak masuk akal.
Seorang wanita kecil di hadapannya…baru saja mengancamnya.
Dia, yang bahkan orang-orang bersenjata sekalipun sering ragu untuk menatap langsung ke matanya.
Sudut bibir Enzo sedikit terangkat. Bukan karena senang. Lebih seperti seseorang yang merasa situasi ini… lucu.
Ia melangkah mendekat satu langkah ke arah Evelyn.
Tubuhnya yang jauh lebih tinggi membuat bayangan besar jatuh menutupi wanita itu.
"Kau serius?" tanyanya pelan.
Nada suaranya rendah dan tenang, tetapi ada sesuatu yang membuat udara di ruangan terasa sedikit menegang.
Namun Evelyn tidak mundur sedikitpun, dia seakan menantang pria itu. Tatapannya tetap lurus menatap mata pria itu.
"Aku dokter," jawabnya. "Dan kamu pasienku."
Ia menunjuk ke arah tempat tidur di belakangnya.
"Jadi kembali ke sana."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Enzo masih menatap wanita itu dengan mata menyipit, mencoba memahami apakah dokter ini benar-benar tidak tahu siapa dirinya… atau dia memang cukup berani untuk menentangnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… Enzo merasa sedikit tertarik.
Karena biasanya…tidak ada orang yang cukup berani berdiri di depannya seperti itu.
"Cepat kembali" galak Evelyn.
Enzo seakan terhipnotis dengan wajah galak Evelyn, dia dengan patuh naik ke atas ranjang dan kembali merebahkan tubuhnya di sana.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐