NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pesanan mereka datang dengan presentasi yang sangat artistik di atas piring porselen putih yang lebar.

Lintang memandang potongan daging wagyu yang tebal itu, lalu melirik deretan pisau dan garpu di samping piringnya dengan raut bingung.

Jati yang menyadari hal itu segera mendekatkan kursinya.

"Sini, Mas ajari. Pegang pisaunya di tangan kanan, telunjukmu tekan di bagian atas sini supaya tenaganya kuat. Garpu di tangan kiri untuk menahan dagingnya," ucap Jati lembut sambil membimbing tangan Lintang.

Lintang mengikuti instruksi Jati dengan telaten. Begitu potongan daging pertama masuk ke mulutnya, matanya membelalak.

"Mas, ini dagingnya langsung lumer. Enak sekali," bisiknya kagum.

Sambil menikmati hidangan mewah itu, suasana menjadi semakin hangat.

Mereka mulai bertukar cerita masa kecil yang selama ini terkubur oleh kesibukan masing-masing.

"Mas Jati, dulu sekolah di mana?" tanya Lintang penasaran.

Jati terdiam sejenak, mencoba menggali ingatan masa kecilnya.

"Mas dulu sekolah di SD Internasional di kawasan Menteng, Sayang. Tapi kalau libur, Mas sering diajak kakek ke rumah lama yang ada di desa, di daerah pinggiran yang masih banyak pohon besarnya."

Mendengar kata "pohon besar", Lintang mendadak berhenti mengunyah.

Ia menatap wajah Jati dengan saksama, seolah mencari potongan puzzle yang hilang.

"Rumah kakek yang ada pohon beringin besar di depan gerbangnya itu, Mas?" tanya Lintang dengan nada bicara yang berubah antusias.

Jati menganggukkan kepalanya pelan, "Iya, betul. Kamu tahu dari mana?"

Lintang tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas.

"Jangan-jangan, Mas ini anak laki-laki yang dulu nekat naik pohon jambu karena mau ambil layangan, tapi pas sudah di atas malah menangis tidak bisa turun?"

Jati tersedak air minumnya. Wajahnya yang biasanya dingin mendadak bersemu merah karena malu.

"Tunggu, bagaimana kamu bisa tahu kejadian memalukan itu?"

"Mas benar-benar lupa sama aku?" Lintang meletakkan garpunya, matanya berbinar.

"Aku anak perempuan yang pakai pita kuning, yang ambil tangga di gudang belakang rumah kakek Mas dan bantu Mas turun. Aku yang nolong Mas waktu itu, sebelum Mas ditarik pulang sama pengasuh Mas."

Jati terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari istrinya.

Ia menaruh pisau dan garpunya, lalu menatap Lintang dalam-dalam.

Ia mencoba memutar kembali memori dua puluh tahun yang lalu.

Bayangan seorang anak perempuan kecil yang pemberani dan berkulit sawo matang mulai muncul di benaknya.

"Pita kuning..." gumam Jati pelan.

"Lintang,.jadi anak kecil yang galak tapi baik hati itu kamu?"

Jati terpaku di kursinya. Suara denting sendok dan hiruk-pikuk restoran mewah di sekelilingnya seolah lenyap seketika.

Matanya menatap Lintang tanpa berkedip, mencoba mencocokkan wajah cantik di depannya dengan bayangan bocah perempuan kecil berkuncir kuda yang dulu begitu berani memanjat tangga hanya demi menolongnya.

"Jadi,.itu kamu?" bisik Jati dengan suara yang bergetar karena emosi yang tak terduga.

"Anak kecil yang memarahiku karena aku menangis di atas pohon jambu?"

Lintang tersenyum manis, sebuah senyum yang kini terlihat sangat akrab di mata Jati.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lintang membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah dompet kain usang yang ia simpan di selipan terdalam.

Dari dalam dompet itu, ia mengeluarkan sesuatu yang sangat rapuh namun dijaga dengan sangat baik.

Itu adalah sebuah cincin yang terbuat dari jalinan tangkai daun kering yang sudah mengeras dan berwarna kecokelatan.

"Mas memberikan ini padaku sebelum Mas pulang ke kota. Mas bilang, 'Jangan hilang ya, nanti kalau aku sudah besar aku akan cari kamu untuk ganti dengan cincin sungguhan'," kenang Lintang sambil meletakkan cincin daun itu di atas meja marmer.

Jati menyentuh cincin daun itu dengan ujung jarinya yang gemetar.

Ia tidak menyangka janji masa kecil yang ia ucapkan sambil terisak malu itu ternyata dianggap begitu berharga oleh Lintang selama belasan tahun.

Di saat Lintang dihina, dibuang oleh Derry, dan dianggap tidak berharga, wanita ini tetap menyimpan kepingan janji dari masa kecil mereka.

Jati meraih tangan Lintang dan menggenggamnya dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi.

"Lintang, aku tidak pernah membayangkan takdir akan seindah ini," ucap Jati dengan tatapan mata yang mendalam dan penuh haru.

"Dulu, saat aku masih kecil dan tak berdaya, kamu menyelamatkanku dari atas pohon itu."

Jati mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Lintang, membuat rona merah kembali muncul di pipi istrinya.

"Dan sekarang, setelah aku dewasa dan kehilangan harga diriku karena kecelakaan itu, kamu datang lagi untuk menyelamatkan hidupku, bahkan menyelamatkan 'senjataku' hingga aku kembali menjadi laki-laki seutuhnya."

Jati mengecup punggung tangan Lintang dengan takzim.

"Ternyata kamu memang dikirim Tuhan untuk menjadi malaikat pelindungku, dulu dan sekarang."

Lintang menunduk malu, namun hatinya terasa sangat penuh.

"Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah bisa benar-benar membenci takdirku, Mas. Karena ternyata, setiap luka membawaku kembali pada Mas."

Jati tersenyum, lalu ia meraba saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

"Janji bocah kecil di bawah pohon jambu itu hari ini Mas tunaikan sepenuhnya."

Jati membuka kotak beludru kecil itu dengan perlahan.

Di dalamnya, sebuah cincin dengan berlian berbentuk pear-cut yang sangat langka berkilau indah, menangkap pantulan cahaya lampu kristal restoran.

Berlian itu tampak begitu murni, seolah memancarkan cahaya dari dalamnya sendiri.

Jati mengambil tangan kanan Lintang, lalu dengan gerakan lembut namun pasti, ia menyematkan cincin mewah itu di jari manis istrinya—tepat di samping jalinan tangkai daun kering yang tadi mereka letakkan di meja.

"Mas, ini pasti mahal," ucap Lintang tertahan. Matanya terpaku pada kilauan berlian di jarinya yang tampak begitu kontras dengan kulitnya yang sederhana.

"Cincin ini terlalu indah untuk saya, Mas."

Jati menggelengkan kepalanya.

Ia menatap Lintang dengan tatapan paling tulus yang pernah ia miliki.

"Harganya tidak sebanding dengan kesabaranmu menjagaku selama ini, Lintang. Dan harganya jauh lebih murah dibandingkan nilai cincin daun yang kamu simpan selama dua puluh tahun itu," bisik Jati.

Jati menggenggam tangan Lintang, mengangkatnya sedikit seolah ingin menunjukkan pada dunia siapa wanita di hadapannya.

"Dulu aku hanya anak kecil yang ketakutan, dan kamu adalah pahlawanku. Sekarang, aku adalah pria yang akan memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi. Cincin ini adalah simbol bahwa kamu bukan lagi wanita yang bisa dihina. Kamu adalah satu-satunya ratu di hidupku, di rumahku, dan di masa depanku."

Lintang merasakan matanya memanas. Bukan karena kemewahan benda di jarinya, tapi karena pengakuan Jati yang begitu menghargainya sebagai manusia.

Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun hidup bersama Derry.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menemukan aku kembali," isak Lintang haru.

Jati tersenyum tipis, lalu mengusap air mata di pipi Lintang.

"Jangan menangis di depan makanan enak, Sayang. Habiskan makanannya, karena setelah ini..." Jati menggantung kalimatnya dengan nada menggoda. "...kita punya janji untuk merayakan kesembuhanku lagi di apartemen."

Lintang tersipu malu, namun ia mengangguk

mantap.

Kebahagiaan yang ia rasakan malam ini seolah menghapus semua memori kelam tentang keluarga Derry dan pengkhianatan Mila

Begitu pintu apartemen terbuka, aroma harum semerbak langsung menyambut indra penciuman mereka.

Jati membimbing Lintang menuju kamar utama, dan saat pintu terbuka, Lintang terpaku di ambang pintu.

Seluruh ruangan itu telah berubah. Kelopak bunga mawar merah dan putih bertebaran di atas tempat tidur king size mereka, membentuk simbol hati yang sempurna.

Lilin-lilin aromaterapi menyala di sudut-sudut ruangan, memberikan pendar cahaya yang hangat dan sensual.

Balon-balon berwarna rose gold melayang lembut di langit-langit, menciptakan suasana yang begitu magis.

"Mas, ini cantik sekali," bisik Lintang takjub.

"Kapan Mas menyiapkan semua ini?"

Jati memeluk Lintang dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum.

"Tadi siang, saat kita tidur, Mas diam-diam mengirim pesan pada tim dekorasi. Mas ingin malam pertama kita sebagai pasangan yang sudah direstui orang tua menjadi tak terlupakan."

Lintang berbalik, menatap Jati dengan tatapan lembut. Mengingat janji mereka tadi, ia pun bertanya pelan, "Apa Mas masih perlu terapi lagi malam ini?"

Jati tersenyum tipis, sebuah binar penuh gairah terpancar dari matanya.

"Iya, Sayang. Mas-mu ini masih sangat butuh pijatan tangan kamu. Saraf-saraf ini perlu dipastikan benar-benar bangun sepanjang malam."

Lintang mengangguk patuh dan hendak beranjak mengambil minyak zaitunnya, namun tangan Jati menahan lengannya.

"Tapi ada satu syarat untuk terapi malam ini," bisik Jati dengan suara rendah yang serak.

"Tidak usah pakai kimono atau baju apa pun ya, Sayang..."

Mata Lintang membelalak kecil, wajahnya seketika merona merah hingga ke telinga.

"Mas Jati,.mulai nakal ya sekarang," protesnya malu-malu sambil memukul pelan dada bidang suaminya.

Jati tertawa rendah, suara tawa yang terdengar sangat bahagia dan penuh kemenangan.

Ia mengangkat tubuh Lintang dengan mudah ke dalam gendongannya, membawanya menuju hamparan kelopak mawar di atas tempat tidur.

"Bukan nakal, Lintang. Mas hanya ingin merayakan kesembuhan ini dengan cara yang paling jujur bersamamu. Karena bagi Mas, setiap inci tubuhmu adalah obat terbaik yang pernah ada."

Malam itu, di tengah keharuman bunga segar dan cahaya lilin yang temaram, terapi cinta mereka berlanjut jauh lebih dalam, mengukuhkan ikatan yang bermula dari sebuah pohon jambu di masa kecil hingga menjadi penguasa hati di masa dewasa.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!