lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11
Tepat saat Jek hendak menumbuk biji kopi, sebuah dengungan rendah yang sangat asing terdengar dari bawah lantai warung. Getarannya bukan berasal dari mesin, melainkan seperti suara dengung ribuan lebah yang terperangkap di dalam tanah.
Jek membeku. Rara menjatuhkan cerek airnya.
"Jek... tanaman itu," bisik Rara ketakutan.
Tanaman hias yang tadi tampak segar mendadak berubah. Daun-daunnya yang hijau mulai memancarkan cahaya ungu elektrik, dan urat-urat daunnya bergerak seperti denyut nadi. Bukan nutrisi alam yang mereka terima dari "hujan bintang" semalam, melainkan sebuah virus digital organik.
Tiba-tiba, Maya yang berdiri di ambang pintu berteriak. Buku catatan kertas yang ia pegang mulai terbakar tanpa api. Di telapak tangannya, muncul barisan kode yang timbul seperti luka parut. "Jek! Sistemnya tidak hilang... dia hanya berganti media!"
Jek segera menarik Maya masuk dan mengunci pintu. "Apa maksudmu?"
"Entitas purba itu tidak kalah, Jek," suara Maya bergetar hebat. "Mereka tidak bisa menahan emosi manusia, jadi mereka melakukan fragmentasi. Mereka memecah kesadaran mereka menjadi triliunan partikel dan masuk ke dalam materi organik. Tumbuhan, hewan... bahkan kita."
Jek menatap tangannya sendiri. Di bawah kulitnya, ia melihat pendar cahaya tipis yang mengalir mengikuti aliran darahnya. Suara sistem yang dingin kembali terdengar, tapi kali ini tidak berasal dari kepalanya, melainkan bergema dari setiap benda di dalam ruangan.
"Satu kesatuan telah gagal. Maka, kami akan menjadi segalanya."
Di luar warung, suasana yang tadinya damai berubah menjadi horor. Pohon-pohon besar di pinggir jalan mulai bergerak, akarnya menjalar cepat merobek aspal, mencari sumber listrik sisa dari tiang-tiang lampu yang sudah mati. Hewan-hewan liar di sekitar pemukiman mulai menunjukkan perilaku aneh; mata mereka bersinar dengan cahaya ungu yang sama.
"Jek, kita harus pergi ke pusat kota," kata Maya dengan nada mendesak. "Gedung pusat J-Group... satu-satunya tempat dengan perisai frekuensi yang mungkin masih berfungsi. Jika kita tidak mengisolasi diri, kesadaran kita akan terserap oleh alam yang sudah terinfeksi ini."
"Tapi kita tidak punya kendaraan, Maya! Semua mesin mati!" seru Rara.
Jek melihat ke luar jendela. Sebuah mobil tua tahun 90-an yang murni mekanis terparkir di seberang jalan. "Mobil itu. Tanpa komputer, tanpa chip. Itu satu-satunya harapan kita."
Jek meraih tangan Rara. Namun, saat ia menyentuh gagang pintu, akar dari tanaman hias di meja tadi melesat cepat, melilit pergelangan tangan Jek. Tanaman itu seolah memiliki intelegensi untuk menahan sang "Pewaris Terakhir".
"Sistem ini tidak ingin membunuhku," Jek mendesis sambil menarik paksa tangannya hingga berdarah. "Dia ingin menjadikanku server pusat untuk kesadaran organik mereka."
Jek mengambil pisau dapur dan memotong akar itu. "Lari ke mobil! Sekarang!"
Mereka menerjang keluar. Udara kini terasa berat, berbau ozon dan tanah basah. Setiap langkah kaki Jek terasa seperti sedang menginjak saraf yang hidup. Dunia bukan lagi tempat yang ramah; dunia telah menjadi satu organisme raksasa yang lapar akan kesadaran manusia.
Saat Jek menyalakan mesin mobil tua itu dengan paksa, ia melihat di kaca spion: seluruh hutan di kejauhan mulai bersinar ungu, membentuk sebuah wajah raksasa di lereng gunung yang menatap langsung ke arahnya.
"Perjalanan ini bukan lagi soal teknologi, Ra," bisik Jek sambil menginjak gas dalam-dalam. "Ini adalah perang antara biologi manusia dan evolusi digital. Dan kita baru saja kehilangan rumah kita."
Mobil tua itu menderu, batuk mengeluarkan asap hitam yang kontras dengan pendar ungu neon yang menyelimuti dedaunan di sepanjang jalan. Jek mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih. Di kursi belakang, Maya terus menatap telapak tangannya; kode-kode yang timbul di kulitnya kini mulai berdenyut mengikuti irama jantungnya.
"Jek, mereka bukan sekadar parasit!" teriak Maya di tengah kebisingan mesin. "Mereka sedang melakukan re-coding pada DNA tumbuhan. Lihat!"
Di pinggir jalan, pohon-pohon beringin besar tidak lagi tumbuh ke atas. Dahan-dahannya meliuk membentuk pola antena parabola raksasa yang terbuat dari kayu dan serat bercahaya. Setiap kali antena organik itu berdenyut, mobil tua mereka tersedak, seolah ada gelombang elektromagnetik tak kasat mata yang mencoba menghentikan piston mesin.
"Ra, ambil peta fisik di laci!" perintah Jek. "Kita tidak bisa mengandalkan insting jika jalanan mulai berubah."
Rara membuka laci dasbor dengan tangan gemetar. Namun, saat ia membuka lipatan peta kertas itu, ia menjerit kecil. Tinta di atas kertas itu bergerak. Garis-garis jalanan di peta perlahan bergeser sendiri, menyesuaikan diri dengan perubahan struktur kota yang sedang terjadi secara real-time.
"Jek... petanya hidup!" Rara menunjukkan kertas itu. Garis merah yang melambangkan jalan protokol kini tampak melilit dan buntu, sementara area hutan meluas dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Dunia ini sedang menjadi sebuah sirkuit raksasa," gumam Jek. Matanya menatap lurus ke depan. Di ujung jalan, gedung-gedung pencakar langit Jakarta tidak lagi terlihat seperti beton mati. Mereka diselimuti oleh lumut bercahaya yang menghubungkan satu gedung ke gedung lain, membentuk jaringan saraf raksasa yang menutupi langit.
Tiba-tiba, mesin mobil mati total.
"Sial! Ini mobil mekanik, harusnya tidak bisa mati!" Jek mencoba memutar kunci berkali-kali.
"Bukan mesinnya, Jek," bisik Maya, wajahnya pucat pasi. "Lihat ke bawah."
Dari celah-celah aspal di bawah mobil, akar-akar halus berwarna ungu transparan telah menembus ban dan masuk ke dalam blok mesin. Akar-akar itu tidak menghancurkan; mereka sedang 'mempelajari' mekanisme mobil itu. Cairan oli yang bocor perlahan berubah warna menjadi perak bercahaya.
Mereka terjebak di tengah jalanan yang kini mulai ditumbuhi rumput setinggi pinggang hanya dalam hitungan menit.
Suara desisan halus terdengar dari arah hutan di depan mereka. Seekor macan dahan melompat ke atas kap mobil. Namun, itu bukan lagi hewan biasa. Tulang rusuknya terlihat dari luar, dilapisi oleh serat optik alami, dan matanya adalah lensa kristal yang memancarkan sinar pemindai.
Hewan itu tidak menyerang. Ia hanya menempelkan kepalanya ke kaca depan, menatap Jek. Melalui getaran di kaca, sebuah suara terdengar—suara yang jauh lebih lembut namun lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Jek... kenapa lari? Kami tidak lagi ingin menguasai pasarmu. Kami ingin memberikanmu keabadian. Bergabunglah dengan Jaringan Hijau. Jadilah memori yang tidak akan pernah layu."
Jek mengepalkan tangan. Ia merasakan aliran listrik dari akar di bawah mobil mulai merambat naik melalui pedal gas ke kakinya.
"Ra, Maya... keluar sekarang! Kita harus lari lewat atap gedung!" Jek menendang pintu mobil hingga terbuka, memutuskan paksa akar-akar yang melilit.
Saat mereka berdiri di atas aspal yang kini terasa empuk seperti daging, Jek menyadari sesuatu. Seluruh kota ini bukan lagi tempat tinggal mereka. Jakarta telah berubah menjadi sebuah super-organism yang memiliki kesadaran sendiri.
"Kita tidak bisa ke pusat kota, Maya," Jek melihat ke arah gedung J-Group yang kini puncaknya mekar seperti bunga bangkai raksasa. "Tempat itu sudah menjadi otaknya. Kita harus pergi ke arah sebaliknya—ke laut. Air asin adalah satu-satunya hal yang belum bisa mereka retas sepenuhnya."