NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sore itu, langit Jakarta berubah menjadi abu-abu pekat, seolah ikut merasakan firasat buruk yang mulai merayap di hati Davino. Sejak pembicaraannya dengan Alvin di depan rumah tadi pagi, perasaan Davino tidak tenang. Ia terus menatap jam dinding di ruang kerjanya. Maura seharusnya sudah sampai di rumah satu jam yang lalu setelah kelas tambahannya selesai.

​"Alisa, apa Maura ada menghubungimu?" tanya Davino sambil melangkah turun ke ruang tengah.

​Alisa yang sedang membaca buku medis di sofa mendongak, wajahnya ikut menegang melihat ekspresi Davino. "Tidak ada, Mas. Tadi dia cuma kirim pesan jam dua siang bilang kalau dia baru selesai kelas. Ada apa?"

​Davino tidak menjawab. Ia segera merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi nomor adiknya. Hanya suara operator. Ia mencoba sekali lagi, lalu beralih ke pelacak GPS yang tersembunyi di tas kuliah Maura—sebuah langkah pencegahan yang diam-diam ia lakukan minggu lalu.

​Titik merah di layar ponsel Davino berkedip di sebuah lokasi yang tidak seharusnya: sebuah kawasan pergudangan tua di Jakarta Utara, jauh dari rute pulang kampusnya.

​"Sial!" umpat Davino pelan.

​"Mas, ada apa? Maura kenapa?" Alisa berdiri, mendekati Davino dengan tangan gemetar.

​Sebelum Davino sempat menjawab, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Davino segera mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.

​"Halo, Kapten Davino Narendra," suara itu berat dan parau, terdistorsi oleh alat pengubah suara. "Adikmu manis sekali. Tapi sayangnya, dia sedikit terlalu banyak tahu karena kecerobohan teman mantannya."

​"Di mana Maura? Jika kamu menyentuhnya, aku bersumpah—"

​"Jangan mengancam, Kapten. Kamu tidak dalam posisi untuk itu," suara itu tertawa dingin. "Kami punya Maura. Dan kami punya informasi bahwa istrimu, dokter cantik itu, sedang menunggumu di rumah. Pilih satu, Kapten. Datanglah ke alamat yang aku kirimkan sendirian dalam tiga puluh menit, atau aku akan mengirimkan potongan jari adikmu sebagai kenang-kenangan."

​Sambungan terputus. Davino merasa dunianya seolah runtuh, namun insting polisinya segera mengambil alih. Ia berbalik menatap Alisa.

​"Alisa, dengar aku," Davino memegang kedua bahu Alisa dengan kuat. "Maura diculik. Mereka ingin aku datang sendirian. Aku harus pergi sekarang."

​"Aku ikut, Mas! Aku dokter, kalau Maura terluka—"

​"Tidak! Itu terlalu berbahaya. Mereka mungkin juga mengincarmu," potong Davino tegas. "Aku akan memanggil pasukan untuk menjagamu di sini. Tetap di dalam rumah, jangan buka pintu untuk siapa pun."

​"Mas Davino, tolong... bawa Maura pulang dengan selamat," tangis Alisa pecah. Ia memeluk suaminya dengan erat, sebuah tindakan spontan yang lahir dari rasa takut kehilangan yang luar biasa.

​Davino tertegun sejenak, ia membalas pelukan itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain memeriksa senjatanya. "Aku janji. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya."

​Davino mengendarai mobil jipnya dengan kecepatan gila-gilaan menembus kemacetan Jakarta. Di telinganya, earpiece terus terhubung dengan Alvin yang sedang melacak posisi cadangan.

​"Vin, tim sudah bergerak di radius satu kilometer. Tapi mereka punya penembak jitu di atap gudang. Kamu jangan masuk lewat pintu depan," instruksi Alvin.

​"Aku tidak punya waktu, Al! Mereka mengancam akan menghabisinya dalam tiga puluh menit!" Davino berteriak gusar.

​Sesampainya di lokasi, sebuah gudang tua yang tampak rapuh dan berkarat, Davino mematikan mesin mobilnya. Ia keluar dengan senjata tersampir di pinggang dan satu pistol di tangannya. Suasana sangat sunyi, hanya suara tetesan air dari atap yang bocor.

​Davino merayap masuk melalui celah di samping gudang. Begitu sampai di dalam, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Maura terikat di sebuah kursi kayu di tengah ruangan yang luas. Mulutnya dilakban, dan wajahnya lebam. Di belakangnya, seorang pria bertopeng memegang pisau komando yang ditempelkan tepat di leher Maura.

​"Letakkan senjatamu, Kapten! Atau dia mati sekarang juga!" teriak pria itu.

​Davino perlahan menurunkan senjatanya ke lantai. "Aku sudah di sini. Lepaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan kasus Black Cobra."

​"Dia ada hubungannya karena dia adalah adikmu! Kamu menghancurkan hidup pimpinan kami, dan sekarang kami akan menghancurkan apa yang paling kamu cintai," pria itu menekan pisaunya, membuat garis merah tipis mulai muncul di leher Maura.

​Maura meronta, matanya yang penuh air mata menatap kakaknya dengan ketakutan luar biasa.

​"Tunggu!" teriak Davino. "Kalian ingin aku, kan? Ambil aku. Lepaskan gadis itu. Dia hanya mahasiswa, dia tidak tahu apa-apa!"

​Tiba-tiba, dari kegelapan di atas, sebuah cahaya lampu sorot menyala terang ke arah Davino. "Selamat datang di eksekusi pribadimu, Kapten."

​Terdengar suara pelatuk senjata yang ditarik. Davino tahu ia terjebak. Namun, di saat yang kritis itu, sebuah ledakan kecil terjadi di sisi kiri gudang—tim Alvin telah merobek barikade.

​Dor! Dor!

​Tembakan dilepaskan. Davino segera berguling ke balik tumpukan drum minyak. Ia membalas tembakan ke arah pria yang memegang Maura. Peluru Davino mengenai bahu pria itu, membuatnya terjatuh dan melepaskan pisaunya.

​"Maura!" Davino berlari secepat kilat.

​Pria itu, meski terluka, mencoba meraih senjatanya kembali. Davino tidak memberinya kesempatan. Ia menerjang pria itu dan mereka terlibat perkelahian tangan kosong yang brutal. Davino memukul dengan kemarahan yang sudah di ubung-ubung kepala. Setiap pukulan adalah balasan atas air mata Maura.

​"Vin! Awas!" teriak Alvin dari kejauhan.

​Seorang penembak jitu dari atas melepaskan tembakan ke arah Davino. Peluru itu menyerempet lengan atas Davino, namun ia tidak peduli. Ia berhasil melumpuhkan pria di depannya dan segera memotong tali yang mengikat Maura.

​"Kak Davino..." tangis Maura pecah saat lakbannya dilepas. Ia langsung ambruk di pelukan kakaknya.

​"Sstt... sudah, Kakak di sini. Maura aman sekarang," bisik Davino, suaranya bergetar karena emosi. Ia menggendong Maura ala bridal style, melindungi kepala adiknya dengan dadanya saat tim Satgas mulai membersihkan sisa-sisa musuh di dalam gudang.

​Jika Davino terlambat satu menit saja, pisau itu mungkin sudah merobek nadi leher Maura.

​Malam itu, rumah sakit darurat di markas Satgas menjadi tempat perlindungan mereka. Maura sedang dirawat karena syok dan luka memar. Alisa, yang bersikeras datang setelah mendapat kabar Maura selamat, kini sedang duduk di samping tempat tidur Maura, memegang tangan gadis itu yang masih gemetar.

​Davino berdiri di luar ruangan, lengannya yang terluka sudah dibalut perban. Ia menatap melalui kaca jendela kecil, melihat Alisa yang sedang menenangkan adiknya.

​Alisa keluar dari ruangan beberapa saat kemudian, wajahnya tampak sangat lelah namun lega. Ia mendekati Davino.

​"Dia sudah tidur. Aku memberinya penenang ringan," ucap Alisa. Ia menatap perban di lengan Davino. "Mas terluka."

​"Ini cuma luka gores, Alisa," jawab Davino datar, namun matanya tidak bisa berbohong bahwa ia sangat terguncang.

​Alisa tidak memedulikan bantahan Davino. Ia menarik tangan Davino lembut menuju kursi panjang di koridor. Ia mengeluarkan peralatan medis sederhana yang selalu ia bawa. Dengan telaten, Alisa memeriksa kembali balutan perban Davino.

​"Terima kasih, Mas," bisik Alisa tanpa mendongak. "Terima kasih sudah membawa Maura kembali. Kalau tadi Mas... kalau tadi sesuatu terjadi pada kalian berdua, aku tidak tahu harus bagaimana."

​Davino menatap puncak kepala Alisa. "Itu tugas utamaku, Alisa. Melindungi keluarga."

​Alisa mendongak, matanya bertemu dengan mata Davino. "Maura itu adikmu. Tapi dia juga sudah menjadi bagian dari hidupku selama dia di rumah itu. Kita adalah keluarga, Mas. Meskipun hanya di atas kertas."

​Davino terdiam. Kata 'keluarga' itu terasa sangat berat namun manis di saat yang bersamaan. Ia menyadari bahwa ancaman ini tidak akan berhenti di sini. Musuh sudah tahu titik lemahnya.

​"Kita tidak bisa kembali ke rumah itu untuk sementara," ucap Davino. "Kalian berdua akan tinggal di safe house milik Polda mulai malam ini. Penjagaan akan diperketat sepuluh kali lipat."

​Alisa mengangguk. Ia tidak membantah kali ini. Kejadian hari ini menyadarkannya bahwa dunia Davino bukan sekadar sandiwara atau protokol kaku—itu adalah dunia antara hidup dan mati.

​"Mas..." Alisa memegang tangan Davino yang tidak terluka. "Jangan pernah pergi sendirian lagi seperti tadi. Janji?"

​Davino menatap tangan Alisa yang menggenggamnya. Ada kehangatan yang menjalar, mengalahkan rasa sakit di lengannya. "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak pergi, Alisa. Tapi aku janji akan selalu kembali."

​Di kejauhan, Alvin memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Ia tahu, kejadian penculikan Maura ini adalah katalisator yang akan mengubah hubungan kedua orang itu selamanya. Sandiwara itu mungkin masih ada, tapi tembok di antara mereka telah runtuh bersamaan dengan ledakan di gudang tua itu.

​Namun, di kegelapan malam, sisa-sisa kelompok Black Cobra sedang berkumpul kembali. Kegagalan hari ini bukan akhir bagi mereka, melainkan awal dari dendam yang lebih besar. "Kapten Davino sudah menyelamatkan adiknya," bisik seseorang di balik bayang-bayang. "Mari kita lihat apakah dia bisa menyelamatkan istrinya saat kita menyerang jantung pertahanannya."

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!