NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Waktu adalah penyembuh segala luka. Begitulah pepatah kuno yang sering didengungkan oleh para resi di padepokan. Namun bagi Senopati Gatotkaca, waktu di Tegal Kurusetra tidak menyembuhkan apa pun; ia hanya membusukkan sisa-sisa kewarasannya hingga menjadi debu kematian yang kelam.

Tiga purnama telah berlalu sejak hari penyerahan di gerbang Swantipura. Tiga purnama sejak sayapnya patah dan hatinya dikubur hidup-hidup di bawah tumpukan salju abadi. Kini, hamparan padang Kurusetra yang membentang luas telah berubah menjadi neraka jahanam yang bocor ke dunia manusia.

Langit di atas Kurusetra tidak pernah lagi berwarna biru. Asap tebal dari ribuan api unggun, tumpukan kayu pembakaran mayat, dan debu pertempuran yang tak pernah surut, menggantung pekat membentuk kanopi duka yang mencekik paru-paru. Tanah yang dulunya merupakan padang rumput ilalang yang indah, kini telah berubah menjadi kubangan lumpur berwarna merah kecokelatan, direndam oleh jutaan liter darah manusia, kuda, dan gajah perang yang berbaur menjadi satu. Bau anyir darah, keringat, dan usus yang terburai menguar sangat tajam, sebuah aroma kematian yang membuat burung-burung nazar pun enggan terbang terlalu rendah.

Baratayuda telah meletus dengan kejamnya. Janji-janji diplomasi hancur, digantikan oleh bahasa pedang dan jeritan putus asa.

Di tengah lautan pembantaian itu, aliansi yang dibangun dengan air mata Dewi Pregiwa menunjukkan taring aslinya. Sepuluh ribu kavaleri lapis baja Kerajaan Swantipura—dengan lambang elang perak yang berkibar gagah di tengah kepulan asap—menjadi tembok pertahanan terkuat Amarta. Kuda-kuda raksasa dari dataran tinggi salju itu menerjang formasi gajah Astina tanpa rasa takut, menembus barisan musuh layaknya pisau panas yang membelah mentega.

Setiap kali Gatotkaca melayang di udara dan menatap ke bawah, melihat panji-panji elang perak Swantipura itu menelan korban di pihak Astina, dadanya terasa seperti diiris kembali oleh sembilu yang sama.

Itu adalah pasukan yang dibeli dengan kebebasan wanitanya. Setiap tebasan pedang kavaleri Swantipura yang menyelamatkan nyawa prajurit Amarta, adalah pengingat abadi bahwa Pregiwa sedang duduk di atas singgasana yang dingin di utara sana, mungkin sedang menangis, mungkin sedang dipeluk oleh pangeran bermata biru es itu.

Pengingat itu adalah bahan bakar yang mengubah Gatotkaca menjadi iblis yang sesungguhnya.

Sang Senopati Pringgandani tidak lagi memedulikan strategi pertahanan pasif. Ia menolak berada di barisan belakang. Sejak hari pertama sangkakala Kurusetra ditiupkan, Gatotkaca membuang seluruh tata krama pertempuran. Ia berubah menjadi malaikat maut yang mengamuk buta. Ia meluncur dari langit seperti meteor hitam, menghantam daratan hingga menciptakan kawah-kawah kematian.

Pagi ini, di sektor barat palagan, pasukan Kurawa mencoba menerobos sayap kiri pertahanan Pandawa. Ratusan kereta perang berbaja dari Astina melaju dengan kecepatan penuh, ditarik oleh kuda-kuda beringas yang dicambuk tanpa ampun.

Gatotkaca yang sedang mengudara langsung menukik turun dengan kecepatan yang menyobek gendang telinga.

*BUMMM!* Ia mendarat tepat di tengah-tengah formasi kereta perang Astina. Tanah Kurusetra meledak. Tiga kereta baja hancur berkeping-keping hanya oleh gelombang kejut pendaratannya. Tanpa memberikan musuh kesempatan untuk menarik napas, sang raksasa menerjang maju. Tangannya yang besar menangkap roda sebuah kereta perang yang sedang melaju, lalu dengan raungan murka yang menggetarkan langit, ia membalikkan kereta yang terbuat dari besi padat itu seolah kereta itu hanyalah mainan kayu, menimpa kusir dan prajurit di dalamnya hingga hancur.

Panah-panah musuh menghujaninya bagai badai lebah, namun semuanya memantul tak berguna saat mengenai kulitnya atau zirah Antakusumanya yang kini telah berubah warna menjadi merah kehitaman, kerak dari darah musuh yang berlapis-lapis. Gatotkaca sama sekali tidak menepis panah-panah itu. Ia membiarkan musuh menyerangnya. Di sudut terdalam akal sehatnya yang tersisa, ia sebenarnya *sedang* mencari rasa sakit.

Ia berharap ada satu ujung tombak yang cukup sakti untuk menembus jantungnya. Ia berdoa kepada dewa-dewa maut agar ada pusaka yang mampu merobek dadanya. Ia ingin merasakan kepedihan fisik yang sanggup menutupi kepedihan batinnya yang tak kunjung padam.

Namun para dewa menolak memberikan kemewahan itu kepadanya. Kulitnya terlalu tebal. Besi dari Kawah Candradimuka di dalam nadinya terlalu kuat. Ia dikutuk untuk terus hidup dan membunuh, sementara hatinya telah lama membusuk.

Gatotkaca meraih leher seekor gajah perang yang mencoba menginjaknya, mematahkan tulang leher hewan raksasa itu hanya dengan satu putaran brutal. Ia menyambar tubuh seorang senopati Astina yang mencoba melarikan diri, lalu melemparkannya tinggi ke udara hingga tubuh pria itu jatuh menghantam barisan tombak pasukannya sendiri.

Melihat kebrutalan absolut yang tak bisa dihentikan itu, mental pasukan Astina di sektor barat hancur lebur. Mereka membuang senjata mereka dan lari terbirit-birit, berteriak memanggil ibunda mereka. Pasukan Amarta bersorak-sorai memuja nama Gatotkaca, memanggilnya sebagai pahlawan, dewa penyelamat, perisai tak tertembus.

Tetapi Gatotkaca hanya berdiri di tengah genangan darah segar, menundukkan kepalanya dengan napas menderu berat. Suara sorakan pasukannya terdengar seperti dengingan nyamuk yang mengganggu telinganya. Hampa. Semuanya terasa begitu hampa.

Ia memejamkan mata, dan di balik kegelapan pelupuk matanya, ia tidak melihat kemenangan. Ia melihat senyum tipis Dewi Pregiwa di dalam gua Wanamarta. Ia merasakan kembali kelembutan tangan pualam itu mengusap rahangnya.

"Renggut aku, Batara Yamadipati..." gumam Gatotkaca lirih, berbicara kepada dewa maut dengan suara yang bergetar. "Aku sudah menyelesaikan tugasku... Aku sudah menjaga kehormatannya... Tolong, renggut aku dari padang pasir keputusasaan ini..."

Namun, dewa maut belum selesai bermain dengannya. Siksaan terbesarnya baru akan dimulai saat matahari terbenam.

Malam itu, Tegal Kurusetra melanggar aturan suci peperangan.

Sejak zaman leluhur, perang tidak pernah dilakukan di malam hari. Saat matahari tenggelam, senjata harus diturunkan. Namun keputusasaan Astina telah mencapai puncaknya. Dipimpin oleh Adipati Karna—ksatria sakti mandraguna dengan busur panah dewata yang kekuatannya setara dengan Arjuna—pasukan Kurawa melancarkan serangan kejutan besar-besaran di tengah malam buta.

Langit malam Kurusetra mendadak menyala terang benderang, bukan oleh cahaya bintang, melainkan oleh ribuan panah api yang dihujankan ke perkemahan Pandawa. Tenda-tenda terbakar. Prajurit-prajurit Amarta yang sedang terlelap tidur dibantai di atas peraduan mereka. Teriakan kepanikan, suara nyala api yang melahap kanvas, dan derap langkah kuda yang membabi buta menciptakan kekacauan berskala apokaliptik.

Gatotkaca, yang sedari tadi duduk mematung di atas bukit batu pengintaian, langsung melesat ke udara.

Dari ketinggian, ia melihat kengerian yang sesungguhnya. Adipati Karna sedang mengamuk di garis depan. Kereta perang Karna yang memancarkan cahaya silau menembus kegelapan malam, sementara busur pusakanya memuntahkan ribuan anak panah gaib yang meledak saat menyentuh barisan prajurit Amarta. Formasi perisai apa pun tidak berguna di hadapan Karna. Hanya dalam hitungan jam, sepertiga pasukan Amarta di sektor tengah telah musnah terbakar.

Tiba-tiba, suara terompet komando khusus berbunyi dari tenda pusat Pandawa. Tiga kali tiupan panjang yang diakhiri dengan nada melengking tinggi.

Itu adalah panggilan darurat tingkat tertinggi. Panggilan yang hanya ditujukan kepada satu orang. Panggilan untuk Senopati Gatotkaca agar segera menghadap ke tenda komando Sri Kresna.

Gatotkaca menukik turun dengan cepat, mendarat tepat di depan tenda raksasa berwarna putih emas yang kini dijaga dengan kepanikan luar biasa. Ia menyibak tirai tenda dan melangkah masuk.

Suasana di dalam tenda komando sama tegangnya dengan medan pertempuran di luar. Sri Kresna berdiri di depan meja peta strategi, wajahnya yang selalu tenang kini terlihat sangat serius. Prabu Puntadewa duduk dengan wajah pucat di sudut ruangan. Bima mondar-mandir dengan napas memburu, meremas-remas gada Rujakpolonya, sementara Arjuna berdiri mematung menatap peta dengan mata menyipit.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!