Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Macam Kumbang kerak bumi
Proses transisi menuju Pendekar Bumi mencapai puncaknya.
Di dalam tubuh Tian Shan, sumsum tulangnya mulai berpijar dengan warna perak metalik, menyerap esensi logam dari inti tanah.
Namun, di saat beban seberat gunung itu nyaris meremukkan kesadarannya, makhluk di kegelapan hutan memutuskan untuk menerjang.
WHOSH!
Sebuah bayangan hitam melesat secepat kilat, membelah kabut malam.
Itu adalah Macan Kumbang Kerak Bumi, seekor monster ranah ketiga yang memiliki kemampuan memanipulasi bayangan.
Cakarnya yang sepanjang belati, terlapisi oleh energi bumi yang padat, mengincar leher Tian Shan yang tampak tak berdaya dalam meditasinya.
Tian Shan tidak membuka mata, namun jari tangannya bergerak menyentak senar kecapinya yang tergeletak di sampingnya.
JREENG!
Gelombang suara berbentuk sabit perak meledak keluar, menghantam dada sang macan di udara.
Benturan itu menghasilkan suara dentuman logam yang memekakkan telinga.
Sang macan terpental, namun ia segera berputar di udara dan mendarat dengan anggun, cakarnya menggores tanah hingga dalam.
Sang macan menggeram rendah, suaranya menggetarkan udara. Ia menyadari bahwa manusia di depannya bukanlah mangsa biasa.
Dengan satu hentakan kaki, tanah di bawah Tian Shan mendadak mencuat ke atas, membentuk pilar-pilar tajam yang hendak menusuknya.
Tian Shan membuka matanya. Pupil peraknya berkilau tajam. Meskipun tubuhnya terasa seberat ribuan ton akibat proses kenaikan ranah, ia justru memanfaatkan gravitasi tersebut. Ia menghentakkan kakinya ke tanah.
BOOM!
Tekanan gravitasi yang sedang ia tanggung diproyeksikan keluar, meratakan pilar-pilar tanah tersebut menjadi debu dalam sekejap.
Tian Shan melesat maju—setiap langkahnya meninggalkan retakan dalam di tanah—dan menghujamkan tinjunya yang kini sekeras baja perak.
Sang macan menghilang ke dalam bayangan dan muncul kembali di belakang Tian Shan, mencoba merobek punggungnya.
Namun, Tian Shan telah memprediksi hal itu. Ia memutar tubuhnya dengan paksa, mengabaikan rasa sakit di persendiannya yang sedang bertransformasi.
Brak!
Lengan Tian Shan menangkis cakar sang macan. Percikan api tercipta saat kulit perunggu Tian Shan beradu dengan cakar monster itu.
Tian Shan tidak memberi ruang napas; ia meraih leher sang macan dengan tangan kirinya dan menghantamkan kepalanya ke dahi monster tersebut.
KRETEK.
Tulang tengkorak sang macan retak. Monster itu melolong kesakitan, melepaskan ledakan energi bayangan yang mendorong Tian Shan mundur beberapa meter.
Keduanya terengah-engah. Darah segar menetes dari sudut bibir Tian Shan, sementara sang macan mulai pincang dengan mata kiri yang tertutup darah.
"Kau cukup kuat untuk seekor binatang," ucap Tian Shan dingin. Suaranya terdengar berat, selaras dengan frekuensi bumi yang ia serap.
Sang macan mengumpulkan sisa energi terakhirnya, membentuk bola hitam pekat di depan mulutnya.
Ia bersiap untuk serangan bunuh diri. Namun, Tian Shan lebih cepat. Ia memetik tiga senar kecapinya sekaligus dengan teknik Resonansi Penjara Langit.
TRING! TRING! TRING!
Tiga garis energi perak melesat, membelit tubuh sang macan seperti rantai yang tak terlihat.
Semakin monster itu memberontak, semakin kuat energi itu menekan tulang-tulangnya.
Tian Shan berjalan mendekat, belati hitamnya sudah berada di tangannya, siap untuk mengakhiri hidup predator tersebut.
Ujung belati itu sudah menyentuh kulit leher sang macan yang gemetar. Monster itu menatap Tian Shan, bukan lagi dengan keserakahan, melainkan dengan ketakutan murni—ia melihat kematian yang absolut di mata perak itu.
Tian Shan terdiam sejenak. Ia melirik ke arah pondok Xinjiang yang masih tenang di bawah sana.
"Jika aku membunuhnya, esensinya akan terbuang percuma. Dan jika aku pergi, desa ini tidak akan memiliki pelindung yang setara dengan kekuatanku," batinnya.
Perlahan, Tian Shan menurunkan belatinya. Ia tidak menusuk, melainkan menempelkan telapak tangannya ke dahi sang macan.
Ia mulai merapalkan segel kuno yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya—Segel Perbudakan Jiwa.
"Aku memberimu pilihan," bisik Tian Shan, suaranya merasuk langsung ke dalam kesadaran sang macan. "Mati di sini sebagai bangkai yang membusuk, atau hidup sebagai bayangan pelindung bagi keluarga di bawah sana. Jika satu rambut pun dari mereka terluka, jiwamu akan meledak menjadi ribuan kepingan rasa sakit."
Sang macan, yang memiliki kecerdasan dasar, menundukkan kepalanya dalam-dalam di bawah tekanan aura Tian Shan. Ia memilih untuk tunduk.
Tian Shan melepaskan ikatannya. Energi perak masuk ke dalam jantung sang macan, membentuk tanda kontrak permanen yang bersinar sejenak sebelum menghilang.
Luka-luka pada tubuh monster itu mulai menutup seiring dengan aliran sedikit Qi murni yang diberikan Tian Shan.
"Pergilah ke bayangan pondok itu. Jangan pernah menampakkan diri kecuali ada ancaman yang tidak bisa mereka tangani. Kau adalah rahasia, dan kau adalah kematian bagi siapa pun yang berani mengusik mereka," perintah Tian Shan.
Tanpa suara, Macan Kumbang Kerak Bumi itu membungkuk sekali lagi, lalu menghilang ke dalam kegelapan, menyatu dengan bayangan di sekitar rumah Xinjiang.
Ia kini bukan lagi predator hutan, melainkan anjing penjaga paling mematikan di Lembah Teratai.
Tian Shan kembali duduk bersila. Cahaya perak di tulangnya meredup, menandakan keberhasilan sempurna transisinya menjadi Pendekar Bumi tahap awal.
Tubuhnya kini tidak lagi terasa berat, ia merasa selaras dengan bumi di bawah kakinya, seolah setiap getaran tanah adalah bagian dari inderanya.
Ia menatap ke arah pondok gurunya satu terakhir kali sebelum menutup mata untuk menstabilkan kekuatannya. "Tugas pertamaku selesai, Guru. Kau akan aman, meski aku tidak lagi berada di sisimu."
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa harapan baru di desa yang kini dijaga oleh monster bayangan.
lanjut thor💪