NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: KABUT HITAM DI BALIK TOPENG PERAK

Matahari sore menyiram taman belakang mansion utama keluarga Ryker dengan warna keemasan. Bau daging panggang dan aroma parfum mahal memenuhi udara. Namun, bagi Alurra, udara di sini terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang berjalan di dasar rawa yang penuh lumpur pengap.

Nael turun dari mobil dengan raut wajah yang lebih kaku dari biasanya. Bahunya tegang, dan binar matanya yang biasanya tenang kini terlihat suram, tertutup oleh kegelisahan yang mendalam.

Alurra merasakan itu. Ia meremas jemari Nael, lalu perlahan pupil mata ungunya melebar, memancarkan pendar cahaya tipis yang hanya bisa dilihat oleh makhluk langit. Sontak, pemandangan pesta mewah itu berubah total di mata Alurra.

"Nael..." bisik Alurra, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena ngeri.

Di mata ajaibnya, Alurra tidak melihat gaun desainer atau setelan jas mahal. Ia melihat Kabut Hitam.

Hampir setiap orang di pesta itu diselimuti oleh uap hitam yang pekat dan busuk. Kabut itu melilit leher mereka, keluar dari mulut saat mereka tertawa palsu, dan merayap di sela-seli jemari saat mereka berjabat tangan.

"Kenapa... kenapa tempat ini penuh asap kotor?" Alurra mendekat ke telinga Nael, suaranya setajam silet. "Pangeranku, orang berbaju biru di sana, hatinya penuh ulat hitam. Dia sedang membayangkan cara mencuri hartamu."

Nael tersentak, ia melirik paman keduanya yang sedang tersenyum ramah dari jauh. Nael mengetik di ponselnya: "ITU PAMAN SAYA. DIA MEMANG SERAKAH. ABAIKAN SAJA."

"Bukan cuma dia, Nael!" Alurra semakin protektif, ia melingkarkan tangannya di pinggang Nael seolah ingin memagari pria itu dari polusi aura tersebut. "Lihat wanita bertopi besar itu. Kabut di wajahnya berwarna merah darah, dia penuh dendam. Dan bapak tua di sana... auranya seperti bangkai yang membusuk!"

Alurra bergidik. Sebagai makhluk yang terbiasa dengan cahaya murni langit, melihat aura manusia di pesta ini membuatnya mual.

"Tidakkah makhluk Bumi ini takut?" gumam Alurra pedih. "Bumi kalian sedang menangis, Nael. Kabut-kabut hitam dari hati kalian ini melemahkan napas bumi. Bagaimana bisa kalian hidup dalam kegelapan yang aur-auran begini?"

Tiba-tiba, sesosok pria mendekat. Kabut hitam di sekelilingnya bukan lagi sekadar uap, melainkan pusaran badai yang sangat pekat hingga wajahnya hampir tak terlihat di mata Alurra.

Itu adalah Jayden Ryker.

"Sepupuku tersayang, Nael! Akhirnya kau datang," Jayden menyapa dengan suara bariton yang dibuat seakrab mungkin.

Alurra langsung berdiri di depan Nael, matanya berkilat ungu tajam. "Jangan mendekat, Ular Hitam! Baumu paling busuk di sini! Kabut di kepalamu sudah menutupi akal sehatmu!"

Jayden tertawa, meski matanya menyipit bingung. "Haha! Nona Alurra selalu punya cara bicara yang... unik. Kabut apa yang Anda maksud? Apa saya lupa memakai parfum?"

Alurra menarik napas dalam, ia membisikkan sesuatu ke telinga Nael tanpa melepaskan pandangannya dari Jayden. "Nael, orang ini... dia bukan cuma ingin hartamu. Kabut hitam di tangannya sudah berbentuk rantai. Dia ingin mengikatmu, menjatuhkanmu ke lubang yang sangat dalam. Dia adalah pemimpin dari semua kegelapan di taman ini."

Nael merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tahu Jayden licik, tapi deskripsi Alurra tentang "rantai" membuat jantungnya berdegup kencang. Ia segera mengetik di ponselnya: "JAYDEN, KAMI HANYA SEBENTAR DI SINI. JANGAN MULAI MACAM-MACAM."

"Aku tidak melakukan apa-apa, Nael. Aku hanya ingin menawarkan minuman," Jayden menyodorkan segelas cairan merah gelap.

Alurra menepis gelas itu hingga jatuh ke rumput. "Jangan minum itu! Cairan itu sudah bercampur dengan aura dengki darinya. Kau bisa sakit perut tujuh turunan!"

Jayden terdiam, rahangnya mengeras. Kesabarannya mulai habis. "Nona Alurra, Anda benar-benar perlu belajar tata krama manusia."

"Dan kau perlu belajar mencuci hatimu!" balas Alurra bar-bar. "Bagaimana bisa kau berdiri tegak sementara beban hitam di pundakmu begitu berat? Bumi ini akan marah, Jayden! Suatu saat, tanah yang kau injak akan terbuka dan menelan semua kabutmu!"

Nael melihat suasana semakin panas. Beberapa tamu mulai menoleh ke arah mereka. Ia segera menarik bahu Alurra, memberikan isyarat bahwa mereka harus menyingkir.

Sambil melangkah pergi, Alurra terus berbisik pada Nael, "Nael, jangan lepaskan tanganku. Kabut mereka mencoba menyentuh jasmu. Mereka iri karena kau adalah satu-satunya orang di sini yang auranya masih berwarna perak meski sedikit suram. Mereka ingin mengotori warnamu!"

Nael hanya bisa terdiam, memegang erat tangan kecil Alurra. Di tengah kerumunan manusia-manusia berkuasa yang beraura hitam pekat itu, Nael baru menyadari bahwa Alurra bukan sekadar pelindung fisik, tapi juga kompas moralnya di tengah hutan belantara keluarga Ryker.

"Ayo pulang, Nael," ajak Alurra lirih, matanya tampak lelah karena terlalu banyak melihat kegelapan. "Aku tidak tahan di sini. Aku ingin pulang ke rumahmu, tempat yang auranya masih bisa kuhirup tanpa rasa sesak."

Nael mengangguk mantap. Ia tidak butuh pesta ini. Ia hanya butuh bidadari berisik ini untuk tetap berada di sampingnya, menjaga warna jiwanya agar tidak ikut berubah menjadi hitam.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!