NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tamu di Balik Kabut Glanzwald

Pagi di Glanzwald biasanya hanya diisi oleh suara gesekan dahan pohon pinus dan gemericik air sungai. Namun, hari ini, suasana paviliun utama terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Para pelayan tampak berlalu-lalang merapikan karpet beludru dan memastikan vas-vas kristal terisi dengan bunga-bunga segar yang baru saja dipetik Daisy dari taman.

Sebuah mobil limusin klasik berwarna perak meluncur pelan memasuki pelataran luas Eisenberg Manor. Daisy, yang mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang senada dengan warna mata suaminya meski ia tak akan mengakuinya pada siapa pun, berdiri di depan pintu besar dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang dikepang longgar ke samping, memberikan kesan wanita muda yang dewasa namun tetap lembut.

Pintu mobil terbuka. Ibu mertua Daisy, Duchess Helena, turun dengan keanggunan yang tak lekang oleh waktu. Wajahnya tegas, sangat mirip dengan Matthew, namun matanya memiliki binar yang lebih ramah. Di belakangnya, dua orang pengawal dengan hati-hati menurunkan sebuah kursi roda mekanik yang mewah.

Di atas kursi roda itu duduk sang Matriark keluarga Eisenberg—Nenek Matthew. Beliau tampak sangat tua, kulitnya seperti kertas perkamen yang halus, namun sepasang matanya yang tajam masih menunjukkan sisa-sisa otoritas seorang wanita yang pernah memimpin klan ini dengan tangan besi.

"Ibu, Nenek... selamat datang di Glanzwald," sapa Daisy lembut sembari membungkuk hormat.

Nenek Matthew memberi isyarat agar Daisy mendekat. Tangannya yang gemetar namun hangat meraih jemari Daisy. Beliau menatap wajah Daisy dengan sangat teliti, seolah sedang membaca sebuah naskah kuno.

"Jadi, ini mawar kecil yang berhasil membuat cucuku yang kaku itu akhirnya mau menandatangani surat nikah?" Suara sang Nenek parau namun penuh nada bercanda. "Maafkan aku, Sayang. Saat pernikahan kalian, aku hanya bisa berbaring di rumah sakit sambil mengutuk tubuh tuaku ini."

Daisy tersenyum tulus, rasa pemalunya sedikit mencair karena keramahan sang Nenek. "Yang penting Nenek sudah sehat sekarang dan bisa berkunjung ke sini."

Mereka menghabiskan sore di beranda yang menghadap ke arah taman dan hutan yang terhubung menjadi satu. Sambil menyesap teh Earl Grey, Helena bercerita banyak tentang masa kecil Matthew.

"Matthew itu persis ayahnya," ucap Helena sambil menatap ke kejauhan. "Dia tidak tahu cara bicara dengan wanita. Kami mendidiknya terlalu keras, Daisy. Terkadang aku menyesal, kami lupa mengajarinya bahwa hidup bukan hanya tentang memenangkan pertempuran, tapi juga tentang merasa nyaman di rumah."

Sang Nenek menimpali, "Jangan menyerah padanya, Daisy. Dia mungkin kaku seperti batu karang, tapi batu karanglah yang paling kuat melindungi pantainya dari badai. Aku tahu dia mengirimkan laporan militer yang membosankan padamu, kan?"

Daisy tertawa kecil, sedikit tersipu. "Begitulah, Nek. Isinya hanya koordinat dan status logistik."

Sang Nenek terkekeh hingga terbatuk pelan. "Itu caranya bilang dia selamat. Dia tidak tahu cara menulis puisi, tapi dia menyerahkan hidupnya untuk menjamin kau bisa tidur dengan tenang di paviliun ini."

Malam itu, kehadiran dua wanita hebat itu memberikan kehangatan baru di Eisenberg Manor. Daisy merasa diterima sepenuhnya, bukan hanya sebagai istri pajangan, melainkan sebagai bagian penting dari masa depan keluarga mereka.

Keesokan harinya, suasana Glanzwald berubah menjadi lebih ceria dan bising. Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Kali ini, tamu yang datang adalah Arthur, kakak laki-laki tertua Daisy, bersama istrinya, Sofia, dan putri kecil mereka yang berusia lima tahun, Lily.

"Aunty Daisy!"

Lily berlari kecil begitu turun dari mobil, gaun merah mudanya berkibar-kibar. Ia langsung memeluk kaki Daisy dengan erat. Daisy tertawa renyah, segera menggendong keponakan kesayangannya itu. Di mata Lily, Daisy adalah pahlawan karena dia tahu bibinya ini adalah orang hebat di balik lagu-lagu yang sering diputar di radio.

"Ya ampun, kau tumbuh sangat cepat, Lily," ucap Daisy sambil mencium pipi gembul keponakannya.

Arthur menghampiri adiknya dan memeluknya erat. "Bagaimana kabarmu di sini? Apakah Jenderal itu memperlakukanmu dengan baik sebelum dia pergi?"

"Dia baik, Kak. Hanya saja... ya, kau tahu sendiri pembawaannya," jawab Daisy sambil mengajak mereka masuk.

Sofia, kakak iparnya, tersenyum penuh arti. "Glanzwald sangat indah, Daisy. Suasananya begitu tenang. Pantas saja kau betah di sini sendirian."

Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di dermaga—tempat favorit Daisy. Arthur dan Sofia duduk di bangku kayu sambil mengawasi Lily yang asyik mengejar kupu-kupu di sekitar pohon ek besar.

"Kau tahu, Daisy," Arthur memulai pembicaraan dengan nada lebih serius. "Ayah dan Ibu selalu memantau perkembangan karirmu. Mereka bangga, tapi mereka juga khawatir kau terlalu asyik dengan duniamu sendiri di Paviliun ini. Dunia luar sedang mencarimu. Label musik dan penerbit komik terus menanyakan kapan 'The Muse' akan muncul ke publik lagi."

Daisy menyandarkan kepalanya di bahu Arthur, merasa seperti adik kecil lagi. "Aku sedang menikmati masa ini, Kak. Tanpa sorotan kamera, tanpa tuntutan wawancara. Di sini, aku hanya diriku sendiri. Dan jujur saja, kesendirian ini memberiku banyak inspirasi untuk lagu-lagu baru."

"Dan bagaimana dengan Matthew?" Tanya Sofia lembut.

Daisy terdiam sebentar, menatap aliran sungai yang tenang. "Dia akan pulang di musim panas ketiga. Masih satu tahun lagi. Terkadang aku merasa kesal padanya karena dia seolah menganggap pernikahan ini hanya tugas negara. Tapi, setelah bicara dengan Neneknya kemarin, aku mulai mencoba melihat dari sudut pandangnya."

Tiba-tiba, Lily berlari ke arah mereka membawa sebuah bunga liar berwarna kuning. "Aunty! Lihat, bunganya cantik seperti Aunty! Nanti kalau Uncle Jenderal pulang, aku mau kasih bunga ini supaya dia tidak galak lagi!"

Semua orang tertawa mendengar celoteh polos Lily. Daisy mengambil bunga itu dan menyelipkannya di telinga Lily.

Sore itu diakhiri dengan piknik kecil di bawah pohon ek. Suara tawa Lily yang melengking tinggi memecah kesunyian hutan pinus, memberikan energi baru bagi Daisy. Kehadiran keluarganya mengingatkannya bahwa meski Matthew tidak ada di sisinya saat ini, ia dikelilingi oleh cinta yang begitu besar.

Saat malam tiba dan keluarganya harus pamit pulang, Arthur membisikkan sesuatu pada Daisy. "Jangan terlalu menutup diri, Daisy. Jika kau merindukannya, katakan saja dalam suratmu. Gengsi tidak akan memenangkan perang di dalam hati."

Daisy hanya tersenyum tipis menanggapi nasehat kakaknya. Setelah mobil Arthur menghilang di balik kegelapan hutan, Daisy kembali ke meja kerjanya. Ia melihat vas bunga yang baru saja diisi ulang olehnya. Ia mengambil secarik kertas, pena di tangannya ragu sejenak, lalu ia mulai menulis.

Bukan tentang lirik lagu hits, bukan tentang skenario komik.

For Matthew...

Ia berhenti. Jantungnya berdebar. Sifat pemalunya kembali berperang dengan keinginannya untuk jujur. Akhirnya, ia hanya menulis satu kalimat pendek di bawah tanggal hari itu:

"Bunga-bunga di Glanzwald sudah bermekaran. Lily menunggumu membawa pulang kemenangan, dan aku... aku sedang belajar cara menyukai musim panas."

Ia melipat kertas itu kecil-kecil dan menyimpannya di laci meja Matthew, berharap suatu saat nanti sang Jenderal akan membacanya dan mengerti bahwa di balik kemandirian dan kesuksesan dunianya, ada seorang istri yang mulai menghitung hari menuju musim panas ketiga.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!