Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lebih berani ke dalam ruang rehabilitasi medik yang luas dan tenang.
Ambar sudah tampak jauh lebih segar; gaun rumah sakitnya telah berganti dengan setelan kasual yang rapi, meski selang infus masih menyisakan bekas kecil di punggung tangannya.
Ia berdiri setia di samping ranjang khusus terapi, matanya tak lepas dari sosok suaminya.
Baskara menarik napas panjang.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya bahkan sebelum latihan fisik dimulai.
Rasa nyeri pascaoperasi masih berdenyut, namun api kemarahan terhadap Jayden dan janji untuk melindungi Ambar menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan tekadnya.
"Pelan-pelan, Baskara. Fokus pada saraf di ujung jarimu," instruksi Om Edward yang berdiri di ujung kaki ranjang bersama seorang fisioterapis senior.
Ambar menggenggam jemari tangan Baskara, memberikan dukungan moral yang tak terucapkan.
"Kamu pasti bisa, Bas. Ingat apa yang kita bicarakan semalam? Tentang masa depan kita."
Baskara memejamkan mata erat. Ia memusatkan seluruh konsentrasi pada kaki kanannya yang selama ini terasa mati rasa.
Di dalam benaknya, ia memerintahkan otot-ototnya untuk bereaksi.
Detik-detik berlalu dengan ketegangan yang menyesakkan.
Tiba-tiba, jempol kaki kanan Baskara bergerak—sebuah gerakan kecil, hampir tak terlihat, namun bagi mereka yang ada di ruangan itu, itu adalah sebuah mukjizat.
"Dia bergerak! Bas, kakimu bergerak!" seru Ambar dengan suara tertahan, air mata kebahagiaan kembali menggenang di pelupuk matanya.
Baskara membuka mata, napasnya tersengal seolah baru saja berlari maraton.
Sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya yang pucat.
"Aku merasakannya, Ambar. Rasanya seperti sengatan listrik kecil."
Om Edward mengangguk puas sambil mencatat perkembangan itu di papan medisnya.
"Ini awal yang sangat bagus. Sarafmu merespons lebih cepat dari dugaan awal. Jika konsisten, dalam beberapa minggu kita bisa mencoba latihan duduk dan berdiri."
Di tengah suasana haru itu, Thomas muncul di ambang pintu ruang terapi.
Wajahnya datar, namun ia memberikan kode rahasia melalui tatapan matanya kepada Baskara.
Sepertinya ada perkembangan baru mengenai pengejaran Jayden yang tidak ingin ia bicarakan di depan Ambar yang baru saja pulih.
Baskara menangkap kode itu. Sambil tetap menggenggam tangan Ambar, ia membisikkan sesuatu.
"Istirahatlah sebentar di kantin, Sayang. Biarkan aku melanjutkan sesi ini dengan Om Edward. Aku ingin memberikan kejutan kecil untukmu nanti sore."
Begitu pintu ruang terapi tertutup rapat dan langkah kaki Ambar menjauh, suasana hangat seketika berubah menjadi dingin dan mencekam.
Thomas melangkah mendekat, mengeluarkan sebuah ponsel retak yang terbungkus plastik klip bening dari saku jasnya.
"Tuan, tim pembersih menemukan ini di sela-sela tumpukan palet di gudang oksigen. Ini ponsel milik Jayden," lapor Thomas dengan suara rendah yang tajam.
Baskara menerima ponsel itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa terapi, namun matanya berkilat penuh amarah.
Ia melihat sederet pesan singkat di aplikasi terenkripsi yang masih terbuka.
"Habisi dia malam ini. Jangan sampai gagal lagi seperti di gudang. Jika dia mati, aku akan memastikan pengacaraku mengeluarkanmu dari lubang tikus itu dan memberimu tiket ke luar negeri."
Baskara mendesis, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol.
"Clara? Dia bekerja sama dengan Clara yang ada di penjara?!"
Thomas mengangguk pelan, wajahnya tanpa ekspresi namun memancarkan aura membunuh.
"Benar, Tuan. Sepertinya Clara masih memiliki akses komunikasi rahasia melalui salah satu oknum penjaga penjara yang disuapnya. Dia menjanjikan sisa aset tersembunyinya kepada Jayden jika Jayden berhasil melenyapkan Anda."
Baskara tertawa pendek, sebuah tawa dingin yang terdengar seperti gesekan logam.
"Luar biasa. Dua pecundang yang saling memanfaatkan untuk menghancurkan hidupku. Mereka tidak sadar sedang menggali kuburan mereka sendiri."
Ia mengembalikan ponsel itu kepada Thomas dengan kasar.
"Thomas, hubungi kepala penjara tempat Clara mendekam. Katakan padanya, jika dia tidak ingin jabatannya hilang besok pagi, pindahkan Clara ke sel isolasi bawah tanah tanpa cahaya dan tanpa kontak manusia selama sisa hidupnya. Sita semua alat komunikasinya!"
"Siap, Tuan. Lalu bagaimana dengan Jayden?" tanya Thomas.
"Dia sudah putus asa. Orang yang putus asa akan melakukan kesalahan besar," ucap Baskara sambil menatap kakinya yang mulai bisa bergerak.
"Biarkan dia merasa menang sejenak. Aku ingin dia mengira aku sudah lemah, sampai saatnya nanti aku berdiri di hadapannya dan menghancurkan setiap tulang yang ia miliki."
Tepat saat itu, terdengar suara ketukan di pintu. Ambar kembali membawa segelas jus jeruk segar untuk suaminya.
Thomas segera menyembunyikan ponsel itu dan kembali ke posisi siaga, sementara Baskara mengubah raut wajahnya menjadi lembut kembali dalam hitungan detik.
Lampu neon yang berkedip-kedip di sel isolasi bawah tanah menjadi satu-satunya saksi kehancuran Clara.
Ruangan sempit tanpa jendela itu terasa seperti peti mati beton.
Begitu pintu besi berat itu terkunci rapat dari luar, Clara menjerit histeris, memukul-mukul dinding hingga jemarinya berdarah.
"Lepaskan aku! Baskara! Aku tahu kau yang melakukan ini! Aku akan membunuhmu dan jalang itu!" raung Clara, namun suaranya hanya memantul di dinding dingin yang bisu.
Semua alat komunikasi rahasianya telah disita, dan pelindungnya di penjara telah diseret oleh unit internal.
Rencana busuknya untuk menghabisi Baskara melalui tangan Jayden kini berbalik menjadi neraka pribadinya.
Sementara itu, di ATM rumah sakit dimana Jayden menendang mesin besi itu dengan kalap.
Layar menunjukkan pesan yang sama untuk kelima kalinya: AKUN DIBLOKIR.
"Sialan! Baskara benar-benar menutup semua jalan napasku!" desis Jayden.
Nafasnya memburu, matanya merah karena kurang tidur.
Ia tahu, tanpa uang dan tanpa dukungan Clara, ia hanyalah tikus yang menunggu waktu untuk dijepit.
Namun, saat ia melangkah gontai melewati koridor menuju kantin, langkahnya terhenti.
Di salah satu sudut kantin yang agak sepi, ia melihat sosok yang sangat ia kenali. Ambar duduk sendirian, sedang menikmati semangkuk sup hangat dengan tenang.
Thomas tidak terlihat di sampingnya—mungkin sedang mengurus administrasi atau berjaga di depan ruang terapi Baskara.
Sebuah ide gila nan keji muncul di benak Jayden. Jika aku tidak bisa membunuh naganya, aku akan mencuri jantungnya.
Dengan cepat, Jayden menyambar jas putih dokter yang tergantung di ruang ganti staf yang tidak terkunci.
Ia mengenakan masker bedah dan kacamata frame hitam, menutupi wajahnya yang penuh kebencian.
Di sakunya, ia sudah menyiapkan sebuah jarum suntik berisi obat bius dosis tinggi yang ia curi dari troli darurat tadi malam.
Ambar sedang menyuap makanannya saat ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Ia mengira itu Thomas atau perawat yang ingin memeriksanya.
"Permisi, Nyonya Ambar, ada pemeriksaan rutin singkat..." ucap sebuah suara yang sengaja dibubuhkan nada berat.
Belum sempat Ambar menoleh sepenuhnya, sebuah sengatan tajam terasa di pangkal lehernya.
Cairan dingin merambat cepat ke pembuluh darahnya.
"Bas... ka..." gumam Ambar lirih. Pandangannya berputar, sendok di tangannya jatuh berdenting ke lantai, dan sedetik kemudian tubuhnya terkulai lemas.
Jayden dengan sigap menangkap tubuh Ambar sebelum terjatuh dari kursi.
Dengan akting yang sangat meyakinkan, ia membopong Ambar seolah-olah sedang menolong pasien yang pingsan mendadak.
"Tolong beri jalan! Pasien ini mengalami serangan jantung mendadak! Saya harus membawanya ke ruang darurat sekarang!" teriak Jayden kepada beberapa pengunjung kantin yang menoleh kaget.
Orang-orang memberinya jalan dengan wajah panik, tanpa menyadari bahwa di balik masker medis itu, Jayden sedang tersenyum penuh kemenangan.
Ia melangkah cepat menuju lift barang, membawa Ambar menuju mobil curian yang sudah ia siapkan di lantai parkir terbawah
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰