Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Sebenarnya perhatian ?
Dubai.
Burung berkicau terdengar nyaring dan saling sahut . Fajar baru saja beranjak meninggalkan pagi, menyisakan terik yang terasa suam suam kuku di waktu yang masih terbilang sangat pagi, jam tujuh.
Di jam itu, Azima sudah berada di dalam kendaraan mewah dengan Ayyazh yang fokus dengan kemudi. Mobil yang membawa Azima pagi ini sama persis dengan mobil milik A, hanya berbeda di warna saja.
" Kita akan pulang ke mansion."
Dua jam lalu, tepat setelah shalat subuh di laksanakan secara berjamaah, Ayyazh mengucap kalimat itu. Jika di hitung hitung, mungkin itu kalimat kedua yang di ucapkan Ayyazh untuk Azima pertanda jika interaksi di antara mereka sangat lah minim.
Begitupun di dalam mobil dengan dua seater itu. Tidak ada suara yang terdengar terkecuali deru mesin kendaraan yang menjadi hiburan aneh untuk Azima.
( Tidak lama aku sariawan gara gara tidak pernah bicara ). Gerutu Azima .
Belum juga cukup seminggu pernikahan nya, Azima sudah mulai jenuh dan bosan dengan situasi yang ada.
( Ternyata , diam nya lebih parah dari pada mas A. Lalu, bagaimana caraku menangani keadaan ini ?)
Azima di buat mati kutu. Ke mana mulut berbisa yang dia miliki selama ini? Ke mana keberanian nya berbicara selama ini ? Ataukah sebenarnya, Azima tidak se ekstrovert yang di kenal banyak orang?
Sejak menikah, kosa kata nya semakin habis terkikis .
Jujur saja, ia ingin sekali keluar dari mobil, naik kendaran umum mungkin lebih baik. Setidaknya, ia tidak seperti patung di samping Ayyazh . Pun ia merasa perjalanan terlalu lama. Padahal, jalanan sangat lebar dengan kemacetan yang hampir tidak ada, bahkan kemampuan menyetir Ayyazh sudah mirip pembalap F1 namun mereka belum juga tiba.
Azima frustasi. Bernafas wajar saja terasa susah.
Ia berniat memecah kesunyian dengan bertanya kapan mereka tiba, tapi urung di lakukan begitu mobil berbelok ke sebuah jalan besar .
Azima memindai sekeliling di mana ia merasa tempat ini terasa tidak asing.
Benar saja, jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju ke mansion A, Emirates Hills.
( Mungkinkah ia tinggal di kompleks ini juga?)
Berkendara sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka tiba di sebuah mansion mewah, terletak paling sudut dan berjarak cukup jauh dari mansion lainnya.
Emirate Hills merupakan hunian komunitas perumahan mewah tertutup dan elit di Dubai dan sering dijuluki sebagai "Beverly Hills-nya Dubai". Hunian mewah ini dikenal paling eksklusif bagi kaum kaya raya dan investor kelas atas.
Jadi jika Ayyazh memiliki salah satu di antaranya, itu sangat wajar.
Keduanya keluar dari dalam mobil, seorang pria berjas dan wanita paruh baya menyambut Ayyazh dan Azima.
" Selamat datang tuan, selamat datang nona. " Sapa keduanya hampir bersamaan.
Pria berjas itu, Azima kenal. Dia adalah pria yang berbicara dengan Ayyazh saat penerbangan dari Indonesia ke Dubai.
Dan yang satu nya lagi, terlihat begitu ramah, ia tersenyum pada Azima.
" Silahkan, nona muda. " Ajak nya.
" Terima kasih. "
Azima melangkah mengikuti wanita paruh baya tadi.
" Ini kamar anda, nona. Tuan Ayyazh sudah menyiapkan semua keperluan anda. " Ucapnya sembari menunjukkan tempat ia menyusun semua perlengkapan Azima. " Jika masih ada yang nona butuhkan, sampaikan saja pada saya."
" Ini sudah cukup. Terima kasih banyak. "
" Sama sama , nona. Oiya, nama saya Mahra. Saya adalah kepala pelayan di mansion ini. Dan apapun yang nona perlukan, silahkan hubungi saya. "
" Terima kasih , Mahra."
" Jangan terlalu sungkan , nona. Saya permisi. Jika ada kebutuhan mendesak, nona bisa menekan bel yang di sana." Tunjuk Mahra di sebuah dinding dekat walk in closet .
Azima mengangguk.
Mahra pergi, tinggallah dia seorang diri.
Di banding kamar nya di Magnolia, mungkin sekitar 2 atau 3 kali lipat lebih luas kamar nya sekarang. Netra amber itu kembali menscan setiap jengkal isi dari lemari dan perlengkapan lainnya.
Dari dalam lemari kaca, Azima meraih satu lembar abaya berwarna hitam dengan hiasan Swarovski di kedua lengan. Kemudian menempelkan abaya itu di tubuh nya.
" Ini pas. Bagaimana mungkin dia tau ukuran ku? " Azima masih di liputi kebingungan sebelum ia menatap lemari di sisi kanan . Berjejer alas kaki berbagai jenis, heels , wedges, sneakers, hingga sendal teplek bernilai jutaan. Belum lagi tas branded merek designer ternama dunia, seperti Gucci, Prada, LV, channel, dan masih banyak lagi.
Azima mengambil heels berwarna broken white, lalu mencoba nya. Terkejut, ia sampai menutup mulut menggunakan kedua tangan nya. " Apa dia seorang cenayang? Bagaimana bisa ia mengerti dan paham selera ku? "
Azima sangat tidak menyukai sepatu yang mencerminkan keanggunan seorang wanita. Semisal heels jenis Stiletto yang tumitnya runcing dan sangat tinggi. Ia lebih menyukai kitten heels atau pun block heels di mana bagian tumit nya berbentuk kotak hingga tumpuan menjadi lebih stabil. Dan yang ia coba sekarang adalah jenis block heels kesukaan nya.
Belum habis sampai di situ, Azima berjalan ke meja rias. Ia menyaksikan sederet skincare yang ia gunakan sehari hari, mulai dari perawatan wajah, rambut hingga kulit, semua sama persis dan masih ada beberapa tambahan masker wajah dan perona bibir berwarna lembut lain nya.
Panik, bukan di sebabkan karena hal yang menakutkan, Azima di buat terdiam sejenak dengan sambutan nya hari ini.
" Tunggu..." Ia setengah berlari ke walk in closet setelah mengingat sesuatu. Azima membuka laci, ia pun mengeluarkan sepasang pakaian dalam wanita. " Sial.....apa dia sudah mencuri pakaian dalam ku ? Bagaimana ....bagaimana mungkin bisa sedetail ini ? " Azima mendudukkan tubuh panik nya di sebuah kursi stool berbusa nyaman dengan sepasang pakaian dalam di genggamannya.
Ia mengedarkan pandangan mengelilingi ruang ganti . Tidak ada satupun yang kurang , semua tersedia lengkap sesuai style seorang Azima.
Setelah netra nya berputar-putar, akhirnya dia menemukan keganjalan dan kekurangan dari lemari itu.
" Mana pakaiannya? Kenapa ruangan sebesar ini, isinya hanya pakaian ku saja? Jangan jangan....."
Azima berdamai dengan keterkejutan nya, ia beranjak dan pergi ke sebuah ruangan di mana ia bisa menemukan Mahra.
" Ada yang bisa saya bantu, nona? " Tanya Mahra. Ia sedang memantau chef memasak sebelum Azima muncul di depan pintu dapur .
" Mmmm...Tidak ada, Mahra. "
Pertanyaan Azima untuk Mahra buyar seketika saat wangi masakan menguar dan bertengger di hidung mancungnya .
Azima membuka pintu dapur, dapur di mansion Ayyazh mirip seperti dapur restoran mewah, didesain dengan alur kerja efisien, menggunakan material stainless steel tahan karat , higienis dan awet, serta peralatan kelas atas. Area mencakup hot kitchen seperti kompor dan oven, cold kitchen, pastry, dan sistem ventilasi canggih, memastikan operasional cepat dan terorganisir.
" Nona muda." Mahra mencoba menahan Azima yang hampir melangkah masuk.
" Iya, kenapa?"
" Maaf, tapi nona muda di larang masuk ke area kotor ini."
" Area kotor?" Kening Azima mengernyit. ( Kotor dari mana nya? bersih begini. ) Batin Azima keheranan.
" Tuan muda berpesan agar nona tidak menginjakkan kaki di dapur. Jika ingin makan sesuatu, sampaikan saja pada saya. Nanti akan saya suruh chef memasaknya untuk anda. "
( What? Apa dia jelmaan mas Arga? ) Azima tertawa dalam hati. Ia mengingat sepupu nya , Safa. Arga akan mengamuk dan tidak segan segan mengganti chef di mansion nya jika mengetahui Safa masuk ke dapur .
" Dasar pria aneh _ " Gumam Azima lalu pergi meninggalkan dapur. Ini hari pertama, jangan membuat kekacauan , begitu pikirnya.
Indra penciumannya masih menangkap sesuatu berbau harum dari dalam kitchen.
( Rendang nya wangi sekali.)
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣