Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejaring dan Langkah Baru
Fajar kembali menyapa dengan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela rumah profesor. Aroma kopi hitam dan roti bakar menyelusup perlahan ke hidung, mengisi ruang kerja yang penuh dengan kertas dan peralatan laboratorium. Di meja, laptop profesor menampilkan gambar-gambar dari kartu memori drone Budi, sementara catatan dan peta berserakan di sekelilingnya. Suara burung merpati di atap berpadu dengan bunyi mesin printer yang mengeluarkan laporan penelitian.
Tento, Perikus, dan Budi duduk melingkar, menyuapkan potongan roti ke mulut sambil memandangi layar. Profesor Dimas mengklik beberapa folder, membuka rekaman audio dan video. Mas Jati, jurnalis yang mereka percaya, terhubung melalui panggilan video; wajahnya tampak di layar kecil di sudut meja, matanya terlihat lelah namun bersemangat. “Video dari drone kalian luar biasa,” katanya dengan suara serak. “Aku sudah mengirim sebagian ke redaksi internasional yang bekerja sama dengan kami. Mereka akan verifikasi dengan sumber-sumber lain. Tapi yang paling penting, kalian menangkap percakapan tentang Nusa Kambangan. Itu mengejutkan.”
Perikus mengangguk sambil menelan roti. “Kami juga tidak menyangka. Kami kira mereka kirim B16 ke Kalimantan saja. Ternyata ke pulau penjara. Apa mereka punya lab di sana?” tanyanya.
Mas Jati menghela napas. “Tidak banyak yang tahu apa yang terjadi di balik tembok penjara itu. Tapi ada rumor penjara khusus tempat narapidana kelas berat dibuat coba-coba. Jika mereka menyuntikkan cairan B16 ke narapidana, mereka bisa punya tentara yang tidak punya empati. Ini gila,” katanya. “Saya akan menulis draft lebih lengkap. Tapi kalian harus terus kumpulkan bukti. Kita butuh data internal perusahaan. Kita butuh nama-nama. Dan kita harus memastikan keselamatan saksi. Aku juga sedang menghubungi Lembaga Perlindungan Saksi.”
Profesor menutup panggilan, lalu menatap mereka. “Kita sudah punya catatan dari Pakde, flashdisk Rina, dan video ini. Langkah berikutnya adalah mencari tahu jadwal pengiriman ke Kalimantan dan Nusa Kambangan lebih rinci,” katanya. “Saya punya kenalan di Semarang yang ahli peretas. Dia bisa membantu kita memeriksa sistem pengiriman. Namanya Maya. Dia mantan mahasiswa saya, sekarang bekerja di komunitas hacker etis. Kalian harus menemuinya.”
Tento ingat nama itu. “Maya yang dulu ikut demo menolak RUU pendidikan? Yang rambutnya biru?” tanyanya. Profesor mengangguk. “Ya. Dia berbeda, tapi jenius. Dia bisa akses sistem logistik yang mungkin kita butuhkan. Namun, dia tidak gampang percaya. Kalian harus meyakinkan dia.”
Mereka memutuskan berangkat hari itu juga. Semarang terletak sekitar tiga jam perjalanan dari Malang. Mereka memilih naik kereta untuk menghindari perhatian di jalan raya. Mereka berkemas cepat: memasukkan laptop kecil, catatan, flashdisk cadangan, baju ganti, kamera jam, serta makanan ringan. Rina berdiri di depan pintu, menyalami mereka satu per satu. “Kalian hati-hati,” katanya. “Aku akan tetap di sini membantu Pak Mahmud menjaga saksi. Aku ingin berguna.”
Perjalanan ke stasiun diawali dengan tawa Budi yang menceritakan bagaimana ia pernah mencoba melamar menjadi nelayan karena ingin dekat dengan laut, namun malah mabuk laut setelah lima menit. “Aku memutuskan melukis ikan saja,” candanya. Di stasiun, mereka membeli tiket kereta ekonomi, sama seperti perjalanan ke Yogyakarta. Mereka berdiri di peron, menatap kereta yang datang perlahan. Suasana stasiun ramai oleh pedagang roti bakar, ibu-ibu dengan keranjang buah, dan anak-anak yang bermain kejar-kejaran. Bau minyak pelumas dan nasi uduk bercampur memenuhi udara.
Kereta bergerak meninggalkan Malang. Pemandangan berganti dari rumah-rumah ke sawah, lalu hutan jati. Mereka duduk berhadapan dengan seorang bapak berusia enam puluhan yang membawa karung penuh hasil bumi. “Mau ke Semarang juga, Nak?” tanya bapak itu. “Saya mau antar mangga ke pasar sana.” Ia bercerita panjang tentang musim panen, harga pupuk, dan perjuangan petani melawan hama. Mereka mendengarkan, merasa bersyukur atas percakapan sederhana di tengah misi besar mereka. Suara roda besi di rel menjadi pengiring percakapan, menenangkan.
Sesampainya di Semarang, mereka disambut udara panas khas kota pesisir. Bau asap kendaraan dan aroma lumpia goreng dari penjual pinggir jalan memenuhi hidung. Mereka memesan taksi online ke kafe kecil di daerah Kota Lama, tempat pertemuan dengan Maya disepakati. Kafe itu berada di bangunan kolonial dengan tembok putih kusam, jendela besar kayu, dan lantai bercorak hitam putih. Di dalam, suasana modern; lampu-lampu gantung, tanaman hijau di sudut, dan musik indie yang mengalun pelan. Pengunjung sibuk dengan laptop, menyeruput kopi.
Di sudut kafe, seorang perempuan dengan rambut pendek berwarna biru duduk sendiri, menatap layar laptop yang penuh kode. Kacamata bulatnya memantulkan cahaya dari layar. Jaket kulit hitam, kaus merah, dan sepatu boots membuatnya terlihat nyentrik di antara pengunjung kafe. Dia sedang meminum kopi hitam tanpa gula. Mereka mendekat. “Maya?” tanya Tento hati-hati.
Perempuan itu mengangkat kepala, menatap mereka dengan tatapan tajam. “Tento?” Ia tersenyum tipis. “Sudah lama. Dengar-dengar, kamu jadi Detektif sekarang?” candanya. Ia melihat Perikus dan Budi. “Si gemuk rokok, dan... pelukis yang hobi pakai bawang? Kalian benar-benar tim yang aneh.”
Mereka tertawa. “Kami butuh bantuanmu, Maya,” kata Perikus. “Ada konspirasi besar. Perusahaan makanan kaleng menyuntikkan cairan B16 ke karyawan dan mungkin narapidana. Kami butuh data pengiriman ke Kalimantan dan Nusa Kambangan. Kami dengar kamu bisa menembus sistem mereka.”
Maya menyandarkan tubuhnya, memandang mereka. “Kalian gila, tahu? Kalian melawan korporasi berkuasa,” katanya. “Tapi aku suka orang gila. Dan aku benci ketidakadilan. Ceritakan semuanya.” Mereka menceritakan perjalanan mereka dari awal: paket misterius, pabrik, laboratorium gelap, ruang pendingin, Profesor Dimas, pasien di klinik, Rina, Pakde, port Surabaya, drone, Nusa Kambangan. Maya mendengarkan tanpa menyela, matanya melebar sesekali.
Setelah selesai, Maya menutup laptopnya. “Oke, aku tertarik. Aku bisa coba akses sistem logistik mereka melalui jalur belakang. Tapi aku butuh waktu. Aku harus memastikan jejakku tidak terdeteksi. Aku juga akan cari tahu siapa pemimpin proyek B16. Aku dengar rumor, salah satu anggota dewan direksi adalah mantan aktivis juga, yang berbalik arah,” katanya. “Namanya Widya. Dulu dia mahasiswa keras kepala, sekarang dia duduk di DPR dan punya saham di perusahaan. Mungkin kalian kenal.”
Tento mengerutkan kening. “Widya? Dia dulu senior kita di kampus. Sering memimpin demonstrasi. Aku ingat, dia pernah memarahi rektor karena korupsi. Aku tidak percaya dia terlibat,” kata Tento, terasa berat. “Kalau ini benar, artinya pengkhianatan lebih dalam dari dugaan.”
Maya mengangkat bahu. “Kekuatan mengubah orang. Tapi kita tidak boleh menuduh tanpa bukti. Aku akan cari datanya.” Ia membuka laptop, jari-jarinya menari di atas keyboard seperti pianis. Teks kode mengalir di layar, jendela terminal dibuka. Ada belasan tab, grafik network, dan script Python. “Aku masuk ke server logistik pelabuhan. Aku melihat file manifest. Ada catatan pengiriman B16. Destinasi: K3, Nunukan, Nusa Kambangan. Nomor kontainer: 45-1786, 45-1790, 45-1822. Nama pengirim: PT Farma Vita. Ada tanda tangan digital Widya. Ini bukti,” katanya, menatap mereka dengan serius. “Aku akan unduh file. Tapi setelah ini, aku akan diserang balik. Kalian harus membawa datanya ke tempat aman.”
Maya memasukkan file ke USB, memberikan kepada Tento. Ia juga mengirim salinan ke server aman milik jurnalis. “Aku akan hilang dari radar beberapa hari. Kalian tidak boleh menghubungiku lewat ponsel. Kalian pulang lewat jalur berbeda. Pastikan tidak ada yang mengikuti. Dan satu lagi, hati-hati. Jika Widya benar terlibat, ini jadi lebih politis,” katanya. “Gunakan data ini dengan bijak.”
Mereka berterima kasih. Mereka tahu, langkah Maya sangat berisiko. Mereka meninggalkan kafe, naik becak ke stasiun kereta. Sepanjang jalan, pedagang lumpia berteriak menawarkan dagangan, penjual arum manis membuat gula berputar menjadi kapas halus, dan tukang parkir bersiul memanggil mobil. Semarang tetap hidup, meski di bawah permukaannya, konspirasi besar sedang diputar.
Kereta kembali ke Malang malam hari. Mereka duduk di gerbong, melihat pemandangan kota berubah menjadi desa gelap. Budi menulis sesuatu di buku sketsanya. “Aku akan menggambar kisah kita. Ini akan jadi karya seni yang mengguncang,” katanya sambil tertawa. Perikus memejamkan mata, mendengarkan suara rel. Ia memikirkan Widya. “Bagaimana bisa orang berubah begitu jauh?” katanya. “Dulu dia berteriak soal keadilan. Sekarang mungkin dia menjual manusia.” Tento tidak menjawab. Ia memandangi refleksi dirinya di jendela, melihat matanya sendiri penuh tanya. “Orang yang paling berbahaya adalah yang pernah kita percayai,” pikirnya.
Di stasiun Malang, suasana lebih lengang karena sudah larut. Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan panjang. Mereka berjalan keluar, hati-hati. Di luar stasiun, angin malam dingin menusuk. Mereka berhenti sebentar di warung kopi 24 jam untuk minum jahe hangat. Warung itu sepi, hanya ada satu dua pengunjung. Mereka menyusun rencana: besok, mereka akan bertemu Profesor Dimas untuk memberikan data. Setelah itu, mereka harus memikirkan langkah ke Nusa Kambangan. Mereka juga harus memulai kampanye publik: menulis di media sosial, menyiapkan poster, dan mungkin mengorganisir diskusi publik. Mereka tahu, perlawanan bukan hanya tentang menyelusup; ini juga tentang suara publik.
Mereka tiba di rumah Profesor hampir tengah malam. Rumah itu gelap, hanya lampu kecil di teras yang menyala. Profesor menunggu di ruang tamu, dengan secangkir teh di tangannya. “Bagaimana?” tanyanya pelan. Mereka memberi flashdisk dari Maya. Wajah profesor berubah, antara kagum dan khawatir. “Ini lebih besar dari dugaan. Nama-nama ini... termasuk politisi, pejabat, polisi. Saya kenal beberapa. Ini berarti ada jaringan korupsi. Kita harus sangat hati-hati.”
Mereka duduk, membicarakan strategi. “Langkah pertama, kirim data ini ke Mas Jati. Ia akan memastikan publikasi di media internasional. Jika publik dunia tahu, tekanan akan meningkat. Kedua, kita harus mempersiapkan diri untuk ke Nusa Kambangan. Tapi itu berbahaya. Pulau itu dijaga ketat. Kita tidak bisa masuk sembarangan,” kata profesor, menatap peta. “Ada jalur tidak resmi yang digunakan nelayan untuk memancing. Mungkin kita bisa menyamar sebagai kelompok seni atau tim medis. Kita harus merencanakan dengan matang.”
Perikus tersenyum. “Kita bisa jadi kelompok kesenian. Budi bisa melukis, aku bisa pakai sarung dan jadi penari reog. Kamu bisa jadi dalang, Ten. Kita datangi penjara untuk menghibur narapidana,” candanya. Mereka tertawa, membayangkan hal itu. Namun, ada ide di balik tawa: berpura-pura jadi kelompok seni tradisional yang mengadakan pentas di penjara bisa menjadi alasan masuk. Mereka mengingat, di beberapa penjara, acara hiburan memang diadakan untuk narapidana.
“Tertawa boleh, tapi aku pikir ide itu tidak buruk,” kata profesor akhirnya. “Ada program kerja sama seni di penjara. Jika kalian bisa masuk sebagai bagian dari program, kalian bisa mengamati apa yang terjadi. Tapi kalian butuh surat resmi atau rekomendasi. Atau kalian bisa menciptakannya dengan bantuan kawan di DPR yang masih bersih.”
Budi mengangkat tangan. “Aku punya teman yang bekerja di Lembaga Kesenian Daerah. Aku bisa minta surat rekomendasi untuk pameran lukisan di penjara. Tapi kesempatan hanya satu. Kita harus memanfaatkan dengan baik. Kalian siap?”
Tento menatap sahabatnya. “Kita akan melakukan apa saja. Ini mungkin gila, tapi ini kesempatan. Kita akan membawa kamera kecil, catatan, dan hati yang kuat. Kita harus menyelamatkan mereka,” jawabnya. Ia merasakan campuran takut dan semangat. Bayangkan mereka tampil menari dan menyanyi di depan narapidana sambil menyelusup ke laboratorium rahasia; absurditas ini justru membuatnya yakin. “Dalam hidup, terkadang yang paling absurd adalah yang paling efektif… bahasanya begitu.” gumamnya sambil tersenyum.
Malam semakin larut. Mereka beristirahat beberapa jam sebelum memulai hari baru. Saat mata mulai terpejam, pikiran mereka melayang ke masa lalu: ketika mereka masih mahasiswa, berteriak di tengah kerumunan, percaya bahwa perubahan itu mungkin. Sekarang, mereka bukan lagi mahasiswa di tengah kerumunan, tapi orang dewasa yang menghadapi konspirasi dalam kegelapan, disertai soto, bawang, dan tawa. Namun, semangat itu masih sama: semangat untuk keadilan, semangat untuk sesama, dan semangat untuk tidak menyerah. Besok, babak baru akan dimulai, menuju pulau yang menyimpan rahasia. Mereka tidur dengan perasaan campur aduk… takut, semangat, lelah, dan lucu. Mereka tahu, perjalanan mereka baru setengah jalan.