Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. C!uman Rido dan Embun
Pria itu menjadi kesal karena tidak mendapatkan tanggapan dari sang gadis di depannya itu, kemudian dia berkata sekali lagi “Heii cantik, sendirian saja disini, kau lagi menunggu saya ya?”.
Dengan berat hati embun menarik napas sangat dalam dalam, kemudian dia ingin menjawab pertanyaan dari sosok itu, namun tiba tiba terdengar suara bariton “dia sedang menungguku! Kenapa? Apakah kau keberatan?” Rido sambil berjalan dengan kursi rodanya dari arah pintu masuk perusahaan.
Sontak semua orang memandang arah suara bariton tersebut yang terdengar sangat tegas, yang membuat sang sosok pria itu merasa nyalinya seakan ciut.
“Ohh, ternyata tuan Rido Prasetio, apakah nona ini benar benar menunggu anda?” ucap pria itu sambil menggerak gerakan jempol tangannya kearah embun.
“ternyata tuan Arion, anak haram sekaligus pewaris keluarga Giawa! Menurutmu, istriku tidak benar benar ingin menungguku? Hem” ucap Rido tegas dengan cara tatapan dinginnya, yang membuat Ario menjadi geram sampai sampai dia mengepalkan tinjunya dengan sangat keras.
“Hahaha! Tuan Muda Prasetio ternyat suka rumor juga ya! Sampai sampai dia membual tentang status saya sebagai anak haram di keluarga Giawa! Hahaha” timpal Arion dengan tertawa terbahak bahak yang Nampak seolah olah sedang dipaksakan.
Kemudian dia melanjutkan kata katanya “Apakah tuan Muda Prasetio merasa sudah sangat hebat dari saya? Hahaha, Ingatlah Tuan Muda Prasetio, bahwa selamanya kau akan terus berada di atas kursi roda itu, dan tidak mungkin ada seorang perempuan malampun yang ingin menjadi istrimu, kecuali kalau tidak ingin hanya bertujuan mendapatkan kekayaan keluargamu!”.
“gadis manis ini tidak mungkin akan memilihmu yang mati diatas kursi roda, pastilah dia memandangmu dengan sangat jijik dan ingin muntah, benarkah gadis manis” ucap Arion dengan nada mengejek sambil dia melihat kearah embun yang sedang menatap omelannya itu.
“Kenapa kau sangat yakin? kalau saya menganggap suami saya seperti itu! Asal Tuan ketahui, Suami saya sangat jauh lebih baik sikapnya darimu, suami saya sangat sopan dia tidak pernah mengganggu wanita yang bukan miliknya” balas embun dengan nada terdengar tegas dan menohok, sambil dia berjalan kearah Rido yang sedang menatap Arion dengan tatapan membunuh.
Embun memegang tangan suaminya ketika dia sudah sampai di samping sang suami, mereka saling mengeratkan genggaman tangan mereka, yang membuat Rido jedag jedug dan dan jemarinya berkeringat ringan.
Rido memandang embun ketika wanita itu membelanya di depan orang banyak, hatinya seakan sedang di hantam oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan sendiri.
Arion menatap lawannya dengan sangat terkejut, dia seakan sedang bemimpi di siang bolong, karena dia beranggapan kalau Rido tidak akan pernah ada wanita yang akan mendekatinya, karena mengingat kondisi Rido saat ini.
“Hahahaa,, Kalian pikir saya akan percaya begitu saja? Hah! Kepalsuan sekarang ini sudah merajalela kemana mana, ibarat se ekor babi yang dibilang haram, tapi pajaknya tidak pernah dianggap haram oleh Pejabat kota medan, begitulah kalian dihadapanku” ujar Arion dengan sangat ketus, dia dipenuhi ketidak percayaan tentang apa yang sedang dilihatnya saat ini.
Tanpa aba aba dan peringatan, Rido langsung meraih kepala embun yang sedang berdiri disampingnya, dengan hitungan detik kepala embun sudah sejajar diwajah Rido, dengan posisi embun langsung berbalik dan dia terjatuh di atas pangkuan sang pangeran, karena dia tidak bisa menahan kuda kudanya, berhubung serangan dari Rido sangatlah tiba tiba dan sangat cepat.
Embun dan Rido saling bertatapan dan di penuhi dengan keheningan, mereka saling memandang antara satu dengan yang lain ibarat Komplek Perusahaan itu sedang hanya mereka berdua yang menjadi penghuninya, sehingga dengan tanpa di sadari Rido sudah melabuhkan C’umannya di B’bibir Embun dengan sangat lembut, yang membuat mata embun menjadi lebar bagaikan lebarnya lapangan bola kaki.
Embun dalam sekejab menjadi kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali, dia ibarat sedang tersengat arus listrik yang 900 kv, sementara sipelaku dengan tenangnya dia sedang berusaha melancarkan aksinya untuk mejulurkan L’dahnya kedalam celah B’bir lembut itu.
Berys seakan sedang berada didalam gunung es batu, dia menjadi membeku menyaksikan adegan romantis yang kini terpampang dengan sangat jelas didepannya.
Semetara Ario menatap pihak lain dengan tatapan membunuh, rahangnya mengeras bagaikan batu gunung eferest, dia mengepalkan tinjunya dengan sangat erat.
“Heeii! Kalian memang sudah gila ya? Apakah kalian tidak bisa mencari Hotel? atau kalian lebih baik kembali kedalam perusahaan kalian, disana kalian bebas melakukan apa yang ingin kalian lakukan, jangan kira dunia ini hanyalah milik kalian berdua” teriak Arion dengan sangat geram dipenuhi dengan rasa cemburuan.
Arion langsung membalikan badannya dan langsung meninggalkan tempat itu, dia masuk kedalam mobil mewahnya dan menutupnya dengan sangat keras “Bruuk”.
“Sial! Sial! Sial! Kenapa si pecundang itu bisa mendapatkan gadis cantik itu?” geram Arion ketika sudah berada di dalam bangku mobilnya.
“Arg, sialan! Akan kuusahakan supaya mereka bisa berpisah, dan wanita itu akan kurebut untuk kujadikan sebagai budakku” gumam Arion dengan senyuman seringaian liciknya. “Ayoo kita jalan, kita ke club saja” titah arion kepada sang supirnya.
“siap Bos” sahut sang supir.
“brruumm” suara knaplot resing mobil arion bergerumuh, ketika pedal gas telah ditekan dan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang tidak bisa di bayangkan oleh langit.
Kembali di kursi roda, embun langsung tersadar ketika dia mendengar suara mobil yang telah berlalu pergi, begitu juga dengan si pelaku yang kembali memasang datanya, dia pura pura seakan akan tidak mengetahui apa yang telah ia perbuat barusan.
Embun melepaskan badannya dari dalam dekapan sang suami, dia langsung berdiri dan merapikan pakaian yang tidak berantakan itu, karena dia juga merasa sangatlah malu saat ini.
Embun melihat di sekelilingnya, tatapannya jatuh kepada sosok yang sedang menatap mereka berdua.
“Maaf Nona, saya tidak melihat apa apa” Ucap Berys yang langsung membalikan tubuhnya melihat kearah jalanan umum.
“maaf tuan muda, saya minta maaf, saya benar benar tidak sengaja” ucap Embun dengan membungkuk di depan Rido, yang membuat Rido menjadi salah tingkah dengan perilaku sang istri, karena yang seharusnya yang meminta maaf adalah dirinya, karena dia sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Untuk apa kamu meminta maaf, anggap saja ini adalah termasuk sebagai tanggungjawab kepada bawahan dan atasan” sahut Rido dengan datanya.
“Ternyata manis juga ya” gumam Rido lirih, yang masih bisa didengar oleh embun.
“Apanya yang manis?” Tanya embun menatap penasaran kepada Rido.
“Ohh tidak ada, saya mau kita pergi sekarang” jawab Rido dengan ketusnya, seketika dia langsung menekan tombol on di kursi rodanya yang membuat kursi rodanya langsung bergerak berjalan kearah depan.
“huufft dasar manusia kulkas, pura pura saja tidak tau apa yang telah ia perbuat!” kesal embun yang langsung mengikuti jejak sang suami yang sedang pergi.
Sementara Berys hanya menggelengkan kepalanya, dengan senyuman merekah terpancar dari sudut bibirnya, ketika dia melihat tingkah aneh dari sang tuan muda dan istrinya, sehingga dia langsung mengikuti langkah kedua orang itu.
Bu wina menyambut embun dengan sangat perasaan bahagia, ketika embun sudah sampai di depan pintu mansion utama prasetio.
“eh, bi wina! Ternyata sudah pulang?” seru embun yang langsung berlari kearah bu wina, dan gadis kecil itu langsung berhambur kedalam pelukan wanita paruh baya itu, bu wina menyambut pelukan gadis kecil utama dengan perasaan sangat bahagia dan adem.