Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Satu Peluru.
Bab 10 Satu Peluru.
Malam turun pelan di ruang kerja Bram. Lampu temaram menyisakan bayangan panjang di dinding. Ia duduk tanpa ekspresi, jemarinya bertaut di atas meja kaca.
Seorang pria berdiri di depannya.
“Laporan terbaru, Pak. Gadis itu masih dalam pengawasan. Percobaan kedua gagal.”
Tatapan Bram terangkat pelan. “Siapa yang menggagalkan?”
“Seorang pemuda. Nama: Alvaro Mahendra.”
Ruangan seketika terasa lebih berat.
Bram berdiri. Langkahnya mendekati jendela. Nama itu tidak asing.
Mahendra. Darah yang seharusnya sudah tidak mengganggu jalannya.
“Pastikan kau tidak salah.”
“Tidak, Pak. Sudah diverifikasi.”
Bram terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya bergerak tipis.
“Kalau begitu, kita tidak lagi berburu satu orang.”
Pria di depannya menunggu perintah.
“Masukkan namanya. Prioritas.”
“Baik, Pak.”
“Habisi semua yang membawa nama itu.”
Instruksi selesai. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada kemarahan. Keputusan diambil seperti membalik halaman.
Malam itu, daftar kematian bertambah satu nama.
Di kamar, Alvaro menatap layar laptop yang penuh dokumen lama. Arsip kebakaran rumah sakit dua puluh tahun lalu. Catatan kematian sopir ambulans. Berita singkat tentang saksi yang hilang.
Semua garis merah yang ia tarik di papan kecil mengarah ke satu nama: Bram.
Ia menyandarkan punggung ke kursi. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu rapi.
Kenapa setiap jejak selalu berhenti di titik yang sama?
Ia menutup mata sesaat. Pikirannya kembali ke wajah Alisha yang pucat malam itu. Tangannya yang gemetar ketika hampir ditarik paksa ke mobil.
Perasaan tak nyaman muncul lagi.
Seolah ia berdiri di tengah pusaran yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor tak dikenal.
Jangan ikut campur kalau ingin tetap hidup.
Alvaro membaca tanpa berkedip. Ancaman langsung.
Ia mengetik balasan singkat.
Datang sendiri kalau berani.
Tidak ada jawaban.
Ia tahu sejak malam itu, dirinya sudah diperhatikan.
Sore berikutnya, Alisha berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan langkah cepat. Ia mencoba terlihat biasa. Sejak kejadian terakhir, ia selalu merasa ada mata mengikutinya.
Sebuah motor berhenti di sampingnya. Pria dengan jaket rapi turun sambil membawa map cokelat.
“Alisha Pratiwi?”
Alisha berhenti.
“Saya dari pihak sekolah. Ada berkas yang harus ditandatangani orang tua.”
Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia ragu. Pria itu terlihat meyakinkan.
“Kenapa tidak lewat wali kelas saja?”
“Ini mendadak. Diminta langsung.”
Tangannya hampir menerima map itu ketika suara lain terdengar.
“Alisha.”
Alvaro berdiri beberapa meter dari sana. Tatapannya tajam ke arah pria itu.
Pria tersebut langsung berubah sikap. Tangannya mencoba menarik pergelangan Alisha.
“Masuk mobil!”
Alisha berteriak. Map jatuh ke tanah.
Alvaro bergerak cepat. Ia menarik pria itu hingga terhuyung. Pukulan pertama mendarat di rahang. Pria itu membalas, lebih kasar dari sebelumnya.
Perkelahian berlangsung singkat tapi keras. Dua orang lain keluar dari mobil hitam di ujung jalan.
Alvaro menyadari situasinya berbahaya. Ia meraih tangan Alisha.
“Lari!”
Mereka berlari ke arah keramaian. Teriakan siswa lain membuat para pelaku mundur. Mobil hitam itu melaju cepat meninggalkan lokasi.
Alisha terengah. Tubuhnya gemetar hebat.
“Aku hampir masuk mobil itu…”
Alvaro memegang bahunya agar ia tetap fokus. “Kamu aman sekarang.”
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Ketakutan yang ia simpan sejak kejadian pertama pecah begitu saja.
Alvaro memeluknya sebentar, mencoba menenangkan. Ia tidak peduli tatapan orang sekitar.
Di kejauhan, seseorang menurunkan kamera setelah memotret momen itu.
Satu klik cukup.
Malamnya, foto itu sampai di meja Bram.
Ia memperbesar gambar di layar tablet. Seorang pemuda memeluk gadis yang menjadi targetnya.
Bram tersenyum tipis.
“Hubungan mereka dekat.”
“Ya, Pak. Sumber kami menyebut pemuda itu sering terlihat bersama.”
“Bagus.”
Ia meletakkan tablet di meja.
“Kalau begitu kita tidak perlu bersusah payah mencari dua tempat.”
Pria itu mengangguk.
“Satu peluru bisa menyelesaikan dua masalah.”
Bram memandang foto itu sekali lagi. Tidak ada rasa ragu.
“Awasi terus. Tunggu momen yang bersih. Saya ingin hasil akhir tanpa saksi.”
Di rumah besar keluarga Mahendra, Helena berdiri di depan jendela dengan gelisah. Perasaan buruk menghantuinya sejak pagi.
Ragendra masuk ke ruang kerja sambil membawa laporan keamanan.
“Ada pergerakan mencurigakan di sekitar Alvaro,” katanya tegas.
Helena menoleh cepat. “Apa maksudnya?”
“Beberapa orang tak dikenal terlihat mengikuti mobilnya.”
Wajah Helena memucat. Rahasia yang ia simpan bertahun-tahun terasa semakin berat.
“Kita harus beri tahu dia,” ucapnya pelan.
“Belum saatnya.”
“Kalau terlambat?”
Ragendra terdiam. Ia sadar ancaman ini tidak biasa.
“Saya akan tambah pengawalan. Tidak ada yang menyentuh anak saya.”
Helena menunduk. Kalimat itu menusuk hatinya. Anak yang mana?
Ia hampir membuka suara. Hampir mengaku tentang bayi yang tertukar.
Langkah kaki pelayan terdengar mendekat. Momen itu hilang.
Detektif Damar menatap dua foto yang tergeletak di mejanya. Satu foto Alisha. Satu lagi Alvaro.
Ia menyandingkan keduanya.
Nama keluarga berbeda. Latar belakang berbeda. Satu titik sama: mereka sama-sama mengarah ke kasus dua puluh tahun lalu.
“Ini bukan penculikan biasa,” gumamnya.
Motifnya lebih dalam. Terlalu rapi untuk sekadar uang tebusan.
Ia menatap papan investigasi di dinding. Garis-garis yang ia tarik mulai membentuk pola menyeramkan.
Seseorang sedang membersihkan jejak masa lalu.
Jika dugaannya benar, target berikutnya bukan hanya Alisha.
Ia meraih ponsel, hendak menghubungi Alvaro. Panggilan tidak terjawab.
Perasaan tak enak merambat di dadanya.
Waktu terasa semakin sempit.
Malam larut. Alisha duduk di kamar dengan lampu redup. Kejadian sore tadi terus terulang di kepalanya.
Tangannya masih terasa ditarik paksa.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia menelan ludah sebelum membuka pesan.
Suka pahlawanmu?
Napasnya tercekat.
Pesan kedua masuk.
Kali ini bukan cuma kamu yang mati.
Jari-jarinya gemetar. Layar kembali menyala.
Sebuah foto terlampir.
Foto dirinya yang sedang dipeluk Alvaro sore tadi. Wajahnya terlihat jelas. Wajah Alvaro juga.
Air mata kembali jatuh.
Pesan berikutnya muncul.
Satu peluru. Dua nyawa.
Alisha menjatuhkan ponsel ke kasur seolah benda itu membakar tangannya.
Ancaman itu bukan lagi bayangan.
Bukan lagi percobaan.
Mereka sudah tahu. Sudah mengawasi. Sudah menghitung.
Di tempat lain, Bram menatap jam di pergelangan tangannya.
Perburuan memasuki tahap akhir.
Malam semakin sunyi.
Dua nama telah resmi berada dalam daftar yang sama.
#Bersambung