"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Suara kambing
"Bapak mau kemana?" tegur Putri jika melihat Agus akan keluar dari dalam rumah.
"Kambing kita terus berisik seperti itu jadi Bapak ingin melihat dulu ke sana." Agus mengambil senter karena mereka memang memiliki kambing sebanyak lima ekor.
"Tapi kalau bapak pergi ke sana maka pasti keluar dari rumah." Putri sudah cemas dengan hal itu.
"Enggak apa apa, kamu tunggu saja di dalam ya karena bapak yang akan melihat soal kambing itu." Agus berusaha tersenyum kepada sang anak.
"Paling kambing kita hanya lapar saja, Pak." ujar Putri karena dia ingin menghalau agar Agus tidak keluar dari rumah ini.
"Ya maka nya Bapak akan melihat dulu keadaan yang di kandang sana, sekalian memberi mereka makan." jawab Agus.
Putri menarik nafas panjang Karena Agus begitu keras kepala dan dia tetap ingin melihat kambing yang ada di kandang sana, memang sejak tadi kambing itu tidak mau berhenti berteriak dari dalam kandang sehingga membuat Agus resah dan ingin melihat.
Padahal jarak dari rumah dan kandang itu lumayan juga dan mereka yang paling penting harus keluar dari dalam rumah ini, sementara itu himbauan dari Pak RT mereka disuruh tetap diam di dalam rumah walau apa saja yang terjadi, sebab itu semua demi keselamatan nyawa mereka sendiri.
Namun Agus tidak bisa bertahan karena menurut dia kambing itu sangat berharga dan dia takut bila ada orang yang mencuri kambing tersebut, padahal dengan adanya himbauan dari Pak RT itu sudah pasti membuat para warga tidak akan ada yang berani keluar dan sudah pasti maling juga tidak berani untuk beraksi di desa Bondowoso ini.
Tapi tetap saja Agus tidak percaya dan ingin memastikan terlebih dahulu bahwa kambing ia tetap aman dan tidak ada yang hilang, padahal resiko yang harus dihadapi adalah nyawa ini bisa melayang dari dalam tubuh karena dia harus keluar dari dalam rumah dan mungkin saja nanti akan bertemu dengan sesuatu.
Oleh sebab itu sejak tadi Putri terus melarang agar Agus tidak usah keluar dari dalam rumah ini, namun apa daya orang tua tersebut tetap saja lebih berat kambing dan merasa kambing itu sangat berharga untuk mereka, untuk orang yang bisa dikatakan kurang mampu maka satu kambing saja sudah begitu berharga dan tidak ingin hilang.
Sedangkan juragan Sarbeni yang kaya raya seperti itu saja tidak terima bila salah satu kambing milik dia yang di gembala oleh para anak muda bisa hilang, jadi jelas aja Agus merasa tidak terima dan Dia memutuskan untuk keluar dari rumah malam ini hanya demi kambing dia.
Pekat nya malah membuat perasaan Agus juga merinding tidak karuan namun dia tetap berusaha untuk berjalan menuju kandang kambing itu, Putri mengintip dari dalam rumah karena dia juga tidak tega namun untuk menemani dia pun tidak berani serta tadi Agus menekankan agar dia tetap diam di dalam rumah saja.
Jadi Putri hanya bisa mengintip dan berdoa di dalam hati agar Agus selamat sampai nanti masuk ke dalam rumah lagi, jantung berdebar keras karena perasaan takut itu semakin kental di dalam diri Agus dan dia merasa sambaran angin yang ada di sekitar sini seolah memberi tanda bahwa nyawa Dia sebentar lagi akan lepas.
"Dingin sekali, apa para kambing itu kedinginan sehingga mereka terus saja mengembek." Agus berkata sendirian.
Wuusssshhh.
"Huh angin nya kencang sekali malam ini, apa akan turun hujan ya?" Agus menatap langit yang pekat Karena Dia mengira hujan akan segera turun.
Mbeeeeeeek.
Mbeeeeeeek.
"Kalian Kenapa kok terus berisik seperti itu? padahal makanan juga banyak ini." Agus berbicara kepada sang kambing sambil melihat pakan yang masih sangat banyak.
Mbeeeeeeek.
Mbeeeeeeek.
"Dingin ya, tunggu sebentar biar tak hidupkan dulu api ya agar kalian merasa hangat." Agus terus berbicara kepada kambing itu seolah mereka paham dengan ucapan dia.
Mbeeeeeek.
"Tenang dulu, satu kandang berisik semua begini apa ya tidak mengganggu nanti kalau ada yang mendengar suara kalian." Agus berusaha menenangkan kambing tersebut.
Duuuk.
Duuuk.
"Loh kok malah mengamuk seperti itu." ujar Agus dan menarik kepala kambing bandot yang paling besar.
Mbeeeeeeek.
Wuuussssh.
"Angin apa kok sekencang itu?!" Agus berbalik karena ada sambaran angin di punggung dia.
Saat Agus menoleh ke belakang dan dia menyadari ada seseorang yang berdiri di balik pohon pisang itu, sekujur tubuh dia merinding karena sosok tersebut terlihat begitu hitam pekat seolah sama sekali tidak memiliki bagian tubuh yang terang atau bahkan sosok itu sama sekali tidak terlihat wajah nya.
Greeeeeep.
"Eeeghhhk!" Agus kaget karena leher dia di cengkeram oleh seseorang.
"Heheeeee.....
"Eeeeg..le..lepaskan aku!" Agus berusaha untuk membuang tangan tersebut namun ternyata kekuatan lawan begitu kuat.
"Matiiiiiii.....
"To....tolong....putri tolong Bapak." Agus ingin berteriak agar sang anak bisa mendengar suara dia saat ini.
Namun karena kondisi leher sedang tercekik seperti itu maka tentu saja Agus tidak bisa berteriak sama sekali, bahkan sekarang untuk menarik nafas saja dia sudah tidak sanggup sehingga ketakutan itu semakin nyata dan kambing yang ada di dalam kandang seketika terdiam seolah mereka juga begitu ngeri melihat pemandangan yang ada di depan mata.
Crooooossssh.
"Eeeghhh!"
"Matiiiiii.....
"Apa ini memang akhir hidup ku?" batin Agus yang merasakan sakit luar biasa pada bagian perut yang sudah di tembus tangan.
Srooooot.
"Hihihiiiii.....
Isi perut milik Agus segera keluar dari dalam sana ketika tangan berkuku panjang itu menarik secara paksa dan sekarang sudah terburai keluar, Agus masih bernyawa sehingga dia masih sempat merasakan sakit yang luar biasa pada bagian tubuh ini dan sesaat kemudian dia tumbang di atas tanah.
Darah tegar membasahi tanah tersebut bersamaan dengan bayangan itu juga menghilang dari pandangan mata, meninggalkan Agus yang sedang sekarat dan Tak lama kemudian dia memang meninggal dunia karena tidak mungkin bisa bertahan dengan keadaan parah seperti itu.
"Kenapa Bapak lama sekali, padahal kambing sudah pada diam?" Putri gelisah menunggu di dalam rumah.
"Lima menit lagi kalau dia tak kunjung muncul maka aku harus segera menyusul ke kandang sana, bismillah semoga tidak ada apa-apa." tekad Putri sambil mengambil senter.
Sebab dia juga tidak bisa hanya menunggu di dalam rumah ini saja tanpa melakukan pergerakan, sebab sudah sejak awal tadi dia merasa tidak enak bila sampai keluar dari rumah malam ini, Agus yang keras kepala dan lebih mementingkan kambing Dia memutuskan untuk keluar dan sekarang justru mengalami nasib begitu buruk.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻