Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Sinar matahari pagi yang cerah menyambut kepulangan Zavier dan Zaheera dari rumah sakit. Aroma tanah basah sisa hujan semalam dan udara segar khas pedesaan seolah menjadi penyambut alami bagi pasangan pengantin baru itu. Mobil hitam milik Gus Azlan berhenti tepat di depan gerbang kayu jati ndalem.
Turun dari mobil, Zavier tampak sangat berbeda dari dua hari yang lalu. Wajahnya tidak lagi pucat pasi; justru kini rona segar terpancar dari pipinya. Matanya berseri-seri, mencerminkan energi yang entah datang dari mana—mungkin dari perhatian penuh Zaheera selama di ruang perawatan. Ia melangkah tegap, seolah dehidrasi dan anemia akut yang hampir membuatnya pingsan di tangga tempo hari hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat.
Sambil menunggu Azlan membukakan bagasi untuk mengambil tas pakaian mereka, Zavier berdiri di samping Zaheera. Tanpa rasa canggung, seolah lupa bahwa mereka sedang berada di halaman pesantren yang menjunjung tinggi tata krama, tangan Zavier melingkar di pinggang istrinya. Jemarinya secara refleks mengelus pelan pinggang Zaheera, sebuah kebiasaan lama yang kini ia bawa ke tanah suci ini.
Zaheera sempat tersentak, wajahnya merona merah. Ia mencoba melepaskan tangan suaminya dengan sikutnya, namun Zavier justru semakin mengeratkan rangkulannya, bahkan menarik tubuh Zaheera agar lebih menempel padanya.
Di ambang pintu ndalem, Abi Luqman dan Umi Hannah berdiri menyambut. Bukannya marah melihat pemandangan "tidak tahu malu" dari putra bungsunya, mereka justru hanya saling pandang dan tersenyum simpul. Bagi mereka, melihat Zavier dan menantu barunya secepat itu jatuh cinta dan lengket adalah sebuah berkah, mengingat awalnya mereka sempat khawatir tentang adaptasi Zaheera di lingkungan pesantren.
Gus Azlan keluar dari balik bagasi mobil dengan dua tas besar di tangannya. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depannya: Zavier yang sedang asyik membelai pinggang Zaheera sementara sang istri tampak malu-malu kucing.
Azlan menghela napas panjang. Wajahnya yang kaku semakin mengeras. Ia meletakkan tas-tas itu di atas ubin teras dengan dentuman yang cukup keras, menarik perhatian semua orang.
"Zavier," suara Azlan terdengar berat dan penuh wibawa. "Bisakah kamu menjaga keromantisanmu itu hanya di dalam kamar saja? Apa kamu tidak punya rasa malu sedikit pun pada Abi dan Umi yang berdiri di sana?"
Zaheera langsung menunduk, berusaha melepaskan diri dari dekapan Zavier, namun Zavier tetap bertahan. Ia justru menatap kakaknya dengan senyum jenaka yang menantang. Sifat jahilnya kembali muncul ke permukaan, apalagi sekarang ia merasa sudah memiliki "benteng" yaitu statusnya sebagai suami sah.
"Hanya rangkulan kecil, Mas. Kan sudah halal," jawab Zavier santai, tangannya masih enggan beranjak dari pinggang Zaheera. Kemudian, ia menambahkan kalimat yang membuat suasana seketika membeku. "Makanya, Mas Azlan... cepat-cepatlah menikah. Biar tahu rasanya punya sandaran yang empuk begini, jadi tidak marah-marah terus."
Deg.
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Azlan. Langkahnya terhenti. Ia menatap dalam ke mata adiknya—mata yang baru saja dengan beraninya menyuruh sang kakak untuk segera mengakhiri masa lajangnya.
Umi Hannah dan Abi Luqman juga ikut terdiam. Selama ini, topik pernikahan Azlan adalah hal yang sangat sensitif di keluarga mereka. Sebagai putra sulung, Azlan seharusnya sudah menikah sejak bertahun-tahun lalu, namun ia selalu menolak setiap kali ada Ning dari pesantren besar yang datang untuk bertaaruf.
Azlan tidak membalas ucapan Zavier dengan kemarahan seperti biasanya. Ia justru terdiam cukup lama, menatap hamparan sawah di kejauhan dengan tatapan yang mendadak kosong. Ketegasannya seolah luntur sesaat, digantikan oleh gurat kesedihan yang sangat halus, yang hanya bisa ditangkap oleh mata seorang ibu seperti Umi Hannah.
Bukannya Azlan tidak ingin menikah. Bukannya ia terlalu sibuk dengan urusan santri dan kitab kuning. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling rahasia, Azlan sedang menunggu.
Ada satu nama yang terkunci rapat di dalam doanya. Seseorang yang ia temui di masa lalu, seseorang yang mungkin tidak pernah menyadari bahwa setiap langkah Azlan di pesantren ini adalah untuk menjaga diri demi sebuah pertemuan kembali yang entah kapan akan terjadi. Seseorang yang keberadaannya masih menjadi misteri, bahkan bagi Zavier sekalipun.
"Sudah, jangan bicara sembarangan, Zavier. Masuklah, bawa istrimu istirahat," ucap Azlan akhirnya, suaranya kini terdengar lebih rendah dan sedikit hampa. Ia menyambar tas pakaian itu lagi dan melangkah masuk mendahului mereka tanpa menoleh lagi.
Zavier mengernyitkan dahi. Ia merasakan ada yang aneh dengan reaksi kakaknya. "Mas Azlan kenapa, Zee? Tumben tidak mengomel panjang lebar," bisiknya pada Zaheera.
Zaheera hanya menggeleng pelan. "Mungkin ucapanmu tadi terlalu menyinggung perasaannya, Mas. Kamu sih, tidak bisa melihat situasi."
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Umi Hannah segera memeluk Zaheera dengan hangat. "Syukurlah kalian sudah pulang. Kamar sudah Umi rapikan lagi, harum melati yang baru sudah dipasang. Beristirahatlah dulu."
Saat mereka berjalan menuju tangga, Zavier melihat Azlan duduk di ruang kerjanya yang terbuka, menatap sebuah buku kecil yang terselip di antara kitab-kitab besarnya. Zavier menyadari, sekeras apa pun kakaknya, ada sisi manusiawi yang Azlan sembunyikan dengan sangat rapi.
Namun, rasa ingin tahu Zavier segera tertutup oleh aroma parfum Zaheera yang kembali menggoda indra penciumannya. Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Zavier segera menarik Zaheera masuk dan mengunci pintu.
"Akhirnya... hanya berdua lagi," gumam Zavier sambil menyandarkan punggungnya di pintu, menatap Zaheera dengan tatapan yang kembali "haus".
Zaheera tertawa kecil, ia melepaskan jilbab marunnya dan menyampirkannya di kursi. "Mas, tadi kamu benar-benar keterlaluan pada Mas Azlan. Kamu tidak takut dia makin curiga soal kita?"
Zavier melangkah mendekat, memerangkap Zaheera di antara kedua lengannya yang bersandar pada meja rias. "Biarlah dia curiga, asal dia tidak tahu detailnya. Sekarang, Mas tidak mau bahas Mas Azlan atau siapa pun. Mas cuma mau membayar waktu dua malam yang terbuang sia-sia di rumah sakit itu, Sayang."
Zaheera merona merah, ia menyentuh dada Zavier yang kini berdegup kencang. Di balik tembok kamar yang kokoh, mereka kembali merajut kisah baru mereka. Sebuah kisah yang meski berawal dari lumpur hitam di kota, kini perlahan mulai tumbuh menjadi bunga yang indah di bawah naungan doa-doa Abi dan kesucian pesantren.
Sementara di ruang kerja sebelah, Gus Azlan masih terdiam, mengusap pelan sebuah foto lama yang ia simpan di dalam bukunya, membisikkan satu nama yang menjadi rahasia terbesarnya sepanjang hayat.